QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
pulang


__ADS_3

Queen menatap jendela pesawat yang menampilkan keindahan bumi dari udara. Awan-awan tampak indah karena cuacanya yang memang sangat cerah.


Tadi setelah Darren mengantarnya pulang selepas makan siang, Queen bergegas berkemas dan langsung pulang ketanah air menggunakan pesawat pribadi milik keluarganya setelah ditelepon oleh dad Arsen.


Ada sesuatu hal yang mendesak mengenai perusahaan Global Grup yang mengharuskannya datang segera, karena hal itu membuat Queen dan kedua adiknya harus pulang lebih awal.


"sampai jumpa lagi Paris" gumamnya pelan. Sungguh dia sebenarnya masih betah dan ingin lebih lama berada disana. Selain kotanya yang memang cantik, mungkin karena adanya Darren disana juga. Lelaki yang sudah berhasil menguasai hati dan pikiran nya.


"astaga.. aku malah lupa memberi kabar padanya" gumamnya lagi. Gadis itu menghela nafasnya panjang, siap-siap saja nanti dia akan kena marah Darren.


Queen memutuskan untuk menghubungi Darren nanti saja saat dia telah sampai mengingat sekarang ia sedang berada didalam pesawat, dan ponselnya memang sengaja ia matikan.


Queen mengusap wajahnya. Lalu beberapa saat kemudian gadis cantik itu menguap, rasanya ia sedikit mengantuk.


Queen menghempaskan tubuhnya kesandaran kursi, lalu menoleh kesamping "ahkk" pekiknya tiba-tiba saat melihat wajah Gerrell yang tengah ia jelekkan dengan mata melirik keatas dan bibir dia lebarkan menggunakan kedua tangannya. Lalu jangan lupakan lidahnya yang sengaja ia gerakkan kekanan dan kiri. Sungguh saat ini Gerrell tampak konyol dan jelek sekali.


Kantuk yang tadi sempat menderanya hilang seketika.


"hahaha.. kau terkejut kak?" tanya Gerrell sembari tertawa cekikikan saat melihat Queen yang terkejut. Puas sekali saat dia berhasil membuat kaget kakaknya yang sedari tadi dia perhatikan tengah melamun itu.


plak


"ah-- sakit" ujar Gerrell meringis saat keningnya ditabok oleh Queen dengan sedikit keras karena dia benar-benar merasa kesal.


"rasakan!!" ucap Queen dengan ketus. Dia menatap kesal adik konyolnya itu.


"ck... kau kenapa sih kak? sedang datang bulan ya?" gerutu Gerrell sembari mengusap keningnya yang terasa cukup sakit.


Queen menggeleng "aku belum datang bulan, bulan ini"


Gerrell membuka matanya lebar-lebar "kakak telat datang bulan?" tanya Gerrell yang memang mengetahui siklus datang bulan Queen. Bagaimana dia tahu? jawabannya karena saat datang bulan Queen selalu seperti seekor harimau yang siap menerkam. Siapa saja akan terkena omelannya.


Queen mengangguk.


"astaga... jangan-jangan kakak dung" ujarnya sembari mempraktekkan perut buncit menggunakan tangannya yang dia liukkan.


Queen menatap tajam Gerrell yang telah bicara sembarangan "mau kakak pukul lagi?!" ancam Queen sembari mengangkat tangan nya tinggi-tinggi.

__ADS_1


Gerrell memundurkan kepalanya, menghindari pukulan "tidak mau, jangan ya.. kakakku yang paling cantik" pemuda itu tersenyum manis dan menurunkan tangan Queen dengan perlahan.


Queen mendengus dan memilih untuk melihat keluar jendela saja. Malas sekali rasanya dia menghadapi adiknya yang tak punya akhlak itu.


"kau masih ingin disini kan?"


Queen kembali menoleh kearah Gerrell saat mendengar pertanyaan nya. "sok tahu!" ucap Queen dengan suara ketus.


"aku tempe lah!"


Queen mendengus mendengar jawaban random dari adiknya itu. Gadis itu malas untuk menjawab dan memilih untuk diam saja.


"benar kan? kau tidak rela jauh dari kekasihmu yang posesif itu? " ucapnya dengan santai. Tapi dari nada bicaranya terdengar sedang menyindir Darren yang memang memiliki sikap posesif yang berlebihan menurutnya. Dengan dirinya yang sudah jelas memiliki darah yang sama dengan Queen saja pria itu cemburu.


"kau memang benar-benar sok tempe!"


"pfftt" Gerrell hampir saja tertawa mendengar ucapan Queen "aku tempe sekali kalau kakak sudah jadi budak cinta sekarang"


Queen memutar bola matanya malas "bicara apa kau itu"


"aku bicara fakta, kalau kakak sekarang sudah terkena virus cinta. hahaha"


Gerrell membalik kepalanya saat sebuah tangan membekap mulutnya, dia mendorong tangan tersebut menjauh "bleh-bleh-bleh.. tanganmu asin sekali Rald" gerutu Gerrell sembari mengusap-usap mulutnya sendiri. Dia menatap tidak suka Gerald yang tengah menatapnya tajam.


"jangan ganggu kakak!"


Gerrell menatap tidak suka saudara kembarnya itu "kau tidur saja sana! ikut campur saja" gerutunya terdengar tidak suka.


"kenapa? aku hanya kasihan saja melihat kak Queen kau ledek sedari tadi." ucap Gerald sungguh-sungguh.


Queen menatap penuh haru Gerald "ini baru adikku" batinnya senang sekali saat Gerald perhatian padanya.


"asal kau tahu, kakak sedang sedih sekaligus khawatir jika kekasihnya yang jelek itu selingkuh saat ditinggal pulang, jadi hiburlah dia jangan malah diganggu!"


Queen terbelalak saat mendengar ucapan Gerald barusan "aku cabut kata-kata ku tadi" batinnya berteriak. Ingin sekali dia memaki adiknya itu. Tapi dia masih berusaha menahan amarahnya.


Gerald si pemuda tampan dan dingin itu memang sangat irit bicara, tapi sekalinya bicara bisa membuat siapa saja ingin sekali melemparinya batu, karena selain pedas dia juga selalu menyebalkan sekali. Seperti tadi contohnya.

__ADS_1


"buahahahaha" tawa Gerrell menggelegar setelah melihat wajah Queen yang semula senang berubah kecut. Sungguh kakaknya itu tampak lucu sekali.


"kalian berduaaaa... beraninya memprovokasi kakak!" pekik Queen sembari menatap marah kedua adiknya. Gadis itu berdiri sembari berkacak pinggang.


"gawat! kabur Rald" ujar Gerrell lalu dia lari bersama dengan Gerald, mereka menghindari amukan dari kakaknya. Mereka memilih untuk mengunci diri didalam kamar yang tersedia di privat jet tersebut.


Queen menggeleng melihat tingkah kedua adiknya, dia memilih untuk merebahkan tubuhnya diatas sofa yang sedang ia duduki. Setelah beberapa saat Queen akhirnya terlelap.


***


"kakak bangunlah!"


Queen mengerjapkan kedua matanya "hmm" jawabnya malas. Lalu Queen kembali memejamkan matanya yang terasa berat.


"bangunlah! kau tidur sudah seperti mayat!" ucap Gerrell sembari mengapit kedua pipi Queen dengan tangannya. Kemudian menggeleng-gelengkan kepala kakaknya agar segera terbangun.


"aku masih ngantuk Rel, jangan menggangguku"


"ck.. mengantuk kau bilang? kau bahkan tidak mau bangun saat dibangunkan untuk makan, kita sudah sampai loh"


"oh~"


Gerrell melepaskan pipi Queen lalu berdiri "tetaplah tidur kak! aku akan menyuruh ikan nila untuk membawa semua pakaianmu kemari, kau tinggallah disini" ucapnya karena sudah lelah membangunkan Queen.


Queen mengangkat kepalanya, seingatnya dia tidur di sofa, tapi sekarang dia sudah berada diatas tempat tidur "kalau sampai ikan itu menurutimu, akan ku goreng setelah sampai disini" ujarnya sembari berusaha duduk. Dia menguap dan meregangkan tubuhnya.


"cih.. kalau sampai tuan Darren melihatmu seperti ini dia akan lari" ucap Gerrell setelah melihat penampilan kakaknya yang berantakan.


"dia mencintaiku apa adanya tahu, dan kau tahu Rel, aku tetap cantik meski baru bangun tidur" ucapnya penuh percaya diri sembari mengibaskan rambut panjangnya kebelakang.


"terserahmu kak! cepat turun, kita sudah dijemput"


"mana Gerald?"


"sudah aku tendang keluar tadi.."


"oh~" Queen membulatkan mulutnya sembari mengangguk.

__ADS_1


"aisshh.. kenapa semua saudaraku seperti kerbau, menyebalkan sekali" gerutunya sembari berlalu. Dia yang sudah bangun sebelum pesawat landing bangun harus ekstra sabar saat membangunkan Queen dan Gerald.


Setelah Queen turun dari pesawat dan memasuki mobil. Tiga bersaudara itu pulang menuju mansion dalam satu mobil.


__ADS_2