
Salah satu tempat favorit Queen adalah sungai Seine. Tempat indah itu akan jauh lebih menakjubkan saat senja seperti sekarang. Kemerlip lampu menyala dengan cantiknya membuat suasana menjadi hangat dan romantis.
Terlihat menara yang menjadi icon kota Paris yang bermandikan cahaya.
Beberapa orang tampak menikmati keindahan yang sama namun ditempat yang berbeda.
Senyum kecil tercetak dibibir manis Queen yang sedang menikmati keindahan yang ada didepan matanya.
"Kenapa?" suara berat seseorang membuyarkan lamunan Queen yang tampak berbinar menatap sekitar. Mood Queen jauh terlihat lebih baik setelah sampai ditempat ini.
Queen menoleh kesumber suara. Dimana Darren tengah berdiri dan menatap wajahnya dengan begitu intens. "apa?" tanyanya tidak terlalu paham akan pertanyaan singkat tersebut.
"Kenapa kamu sepertinya tidak mau menikah?" tanya Darren setelah beberapa waktu hanya diam dan memandangi wajah cantik gadis yang menurutnya sulit sekali ditebak isi hatinya.
"Siapa yang bilang?" tanya Queen agak heran. Padahal ia sama sekali tidak membicarakan hal ini.
"Tidak ada yang bilang. Tapi aku melihat sendiri kalau ekspresi wajahmu itu menunjukkan penolakan saat kakek membahas pernikahan. Apa kamu tidak mau bertanggung jawab setelah mendapatkan aku?"
Queen menatap malas Darren yang berbicara seenaknya. Apalagi ucapannya itu terdengar aneh sekali. Dia merasa jika dirinya seperti seorang baji-ngan yang berniat meninggalkan kekasih hati setelah berhasil mendapatkannya. Itu sungguh menyebalkan sekali "ck" gadis itu hanya berdecak kemudian menatap jengkel Darren.
"Kamu tidak akan lari dari tanggung jawab ini kan? Kamu tidak akan mencampakkan aku kan?" ujar Darren terdengar menyedihkan. Dia menatap Queen dengan wajah sendu.
Sekarang Queen benar-benar merasa jahat sekali. Darren yang biasanya dingin sekarang menunjukan emosinya. Dia terlihat sendu dan khawatir.
"berhenti bicara omong kosong"
"Bagaimana aku berhenti bicara? Kamu sepertinya bosan denganku." lagi. Darren mengeluh dengan wajah menyedihkan.
__ADS_1
Queen menghela nafas lelah mendengar keluhan tersebut, dia menatap irish yang sebiru laut itu dengan tatapan menenangkan "jangan berfikir berlebihan." ucapnya dengan lembut. Dia mengusap lengan Darren.
"Lalu aku harus berfikir bagaimana? kamu--"
Queen segera membekap mulut Darren dengan tangannya saat pria tampan ini hendak melanjutkan keluhannya. "Aku mencintaimu. Dengar?"
Darren mengangguk. Emosi yang tadi sempat menyeruak keluar perlahan menghilang digantikan dengan ekspresi tenang seperti biasanya. Meski terlihat tenang, tapi binar matanya berubah berbinar saat mendengar perkataan cinta dari mulut Queen.
Saat Queen menurunkan tangannya Darren kembali berucap "lalu tadi kenapa kamu sepertinya tidak ingin menikahi ku?"
Queen menghela kasar, Darren seperti seorang gadis yang takut ditinggalkan "Bukan seperti itu" Queen berjalan melangkah menuju pagar pembatas sungai, dia mendongak dan menatap cantiknya langit Paris yang berwana jingga. Seperti ada yang sedang dia pikirkan.
Melihat hal itu Darren mendekati Queen, dia berdiri disisi Queen dan menatap wajah cantik kekasihnya. Melihat berbagai emosi diwajah itu, Darren menyentuh kepala Queen dengan lembut. Hal itu membuat Queen menoleh.
"Aku memiliki tanggung jawab besar, aku memimpin perusahaan dan sudah diberi tanggung jawab besar didunia bawah"
Mendengar ucapan berat Queen, Darren mengetahui beban apa yang diemban dipundak kecil gadisnya ini. Queen bukanlah seorang tuan putri kaya raya yang hanya bisa berpangku tangan dan hanya bisa menikmati kemewahan, akan tetapi Queen mengemban tanggung jawab besar sebagai kakak pertama.
"Aku memiliki andil besar dalam memutuskan sesuatu, meski saat ini dad masih menghandle semuanya tapi aku juga sudah ikut berpartisipasi didalamnya. Adik-adikku masih terlalu kecil untuk menanggung tanggung jawab besar ini" Queen berhenti untuk menghirup nafas.
"Kalau aku menikah sekarang, aku tidak bisa bersama denganmu setiap saat.. Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik nanti" tambahnya dengan lemah, dia akhirnya menyampaikan apa yang menjadi kegundahan hatinya.
Darren menarik sudut bibirnya kemudian mengusap kepala Queen lagi "ternyata gadisku ini sangat bertanggung jawab"
Queen menikmati elusan tangan Darren, tangan pria tampan yang ada dihadapannya ini terasa hangat dan seperti bisa melindunginya. Dia merasa nyaman sekali diperlakukan lembut seperti ini.
Sedangkan Darren, dia hanya tersenyum kecil melihat raut wajah Queen yang sepertinya terlihat lega setelah menceritakan semuanya. Queen adalah gadis terkeren yang selama ini Darren lihat. Melihat bagaimana latar belakang nya , Queen tumbuh menjadi gadis sekeren ini. Darren rasa dia kembali jatuh cinta tanpa bisa ia cegah. Dengan perasaan meluap Darren menarik tubuh Queen masuk kedalam pelukannya.
__ADS_1
"i love you" bisik Darren pelan. Namun meski pelan Darren mengatakan dengan ketulusan hatinya, dia memang benar-benar mencintai gadisnya ini. Semakin lama mengenal Queen, Darren perlahan mengetahui bagaimana gadisnya ini. Dia semakin mengenal Queen dan Darren semakin jatuh cinta semakin dalam tanpa terkendali.
Queen yang tadi ngeblank akibat pelukan tiba-tiba Darren. Apalagi pernyataan cinta yang terdengar tulus itu membuat wajah Queen tiba-tiba saja terasa panas. Ucapan lirih itu sampai menuju hatinya dan membuat jantungnya berdetak berkali-kali lipat lebih kencang dari biasanya.
Dia mendongak dan melihat dagu sempurna serta bibir yang melengkung dengan begitu indah milik Darren. "sayang" panggilnya pelan.
"Aku mencintaimu Queen. Sangat" ujar Darren kemudian mencium kening Queen karena gadis itu masih saja mendongak. "Bagaimana kalau kamu membawaku pulang? Lalu kamu menikahiku? Kamu kaya raya jadi aku tidak akan takut untuk hidup susah"
plak
Queen menepuk dada Darren saat mendengar ucapan aneh dari mulut Darren, ternyata pria dingin ini bisa bercanda juga. "asal bicara saja. Bagaimana dengan pekerjaan mu disini?"
"Masih ada dad Edward dan kakek tua menyebalkan yang bisa menghandle semuanya. Kamu jangan khawatir" ucapnya dengan enteng.
"No. Kalau kamu tidak punya uang aku tidak mau menjadi istrimu!"
"oh astaga.. kamu ternyata gadis yang seperti ini ya?" ucap Darren terdengar tidak percaya.
"Tentu saja. Aku suka uang"
"Tapi meski aku tidak punya uang aku begitu tampan. Kamu tak akan rugi jika memelihara aku.Saat kamu pulang bekerja aku akan membuat matamu segar. Aku juga bisa melayani mu"
Queen terbahak mendengar ucapan nyeleneh Darren, dia memeluk tubuh besar Darren dengan erat.
Darren tersenyum mendengar tawa gadisnya. Wajah kalut dan tegang Queen sudah hilang sepenuhnya dan berganti kan tawa indah yang mekar diwajahnya yang cantik. Dia juga mempererat pelukannya "Aku mencintaimu"
"aku juga" jawab Queen tanpa keraguan.
__ADS_1
***
Sorry slow update