QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
31. Bertemu perempuan


__ADS_3

Jalanan tampak sangat sepi, hanya ada beberapa mobil yang melintas di jalan itu. Pantas saja, karena jam sudah menunjukan pukul 01.30 WIB.


Gadis itu mendorong kopernya, dia menangis sambil mencoba berpikir malam ini dia akan tidur dimana. Bisa saja gadis yang tak lain adalah Queen itu menelpon Dea, tapi dia tidak mau merepotkan siapa-siapa.


Kembali ke rumah Mamanya? Dia ingat bahwa rumah itu sudah di jual, dan dia juga trauma untuk ke sana. Berkali-kali kepala Queen menengok kebelakang untuk memastikan bahwa Kenan tidak mengikutinya. Dan untungnya cowok itu tidak mengikuti Queen.


"Queen harus kemana?"gumamnya lemah.


Kakinya sudah sakit karena berjalan cukup jauh dari Apartmen Kenan. Gadis itu terduduk di trotoar jalan, tubuhnya kedinginan tapi dia terlalu malas untuk mengambil jaket di kopernya.


Queen merenung. Dia memejamkan matanya sambil menangis ketika ingat bagaimana Kenan menciumnya dengan kasar dan menyentuh daerah yang sama sekali belum di sentuh oleh orang lain. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Queen ketakutan, gadis itu takut dengan sikap Kenan yang seperti itu.


"Mama, Queen pengen ketemu Ma. Queen pengen ikut Mama aja kesana, Queen takut sendirian di sini Ma. Kenan jahat sama Queen, cowok itu hiks hiks cowok itu nyentuh Queen paksa Ma. Ma Queen gak kuat sendirian di dunia ini, dunia ini kejam Ma. Queen pengen sama Mama, Queen mau Mama,"racaunya sambil menangis.


"Papa... Papa juga jahat Ma! Kenapa Papa gak mau ketemu Queen? Kenapa dia cuma nelpon Queen? Kenapa dia gak dateng pas Mama sama Queen butuh sosok Papa? Kenapa dia gak ada waktu Queen lagi rapuh, lagi butuh pelindung? Kenapa?"


Dia merindukan Papanya, dia merindukan Mamanya. Sekarang gadis itu merasa dia hanya seorang diri di dunia yang kejam ini. Dia sendirian.


"Lo orang apa hantu?"


Queen terdiam dari tangisnya, gadis yang sedang menunduk itu perlahan mengangkat wajahnya ketika sebuah suara serak milik wanita bertanya. Matanya mengerjap ketika melihat sosok gadis yang lebih tua darinya tengah menatap Queen dengan bingung. Gadis itu berdandan menor dengan pakaian sangat minim.


"Te-Teteh orang bukan?"tanya Queen balik.


Gadis berambut panjang itu mendelik kesal. Dia ikut duduk di samping Queen dengan kaki jenjang yang sengaja di biarkan memanjang ke depan. Toh jalanan sedang sepi ini.


"Lo gak liat kaki gue napak?"tanyanya sinis.


Queen terdiam, gadis itu menatap orang di sampingnya dengan polos.


"Teteh juga gak liat kaki aku napak? Aku juga bawa koper dan tas, berarti aku bukan hantu Teh."


Gadis itu menaikan alisnya sambil mengangguk pelan, matanya yang di lapisi soflent berwarna abu tua menyelidik penampilan Queen dari atas sampai bawah.


"Lo ngapain malam-malam begini di jalanan? Terus bawa koper segala lagi,"tanyanya kepo.


Queen menunduk. Dia bingung harus menjawab bagaimana pada gadis yang baru di kenalnya ini. Masa iya dia harus bilang bahwa dia bertengkar dengan pacarnya lalu pergi dari Apartmen. Kan gak lucu.


"A-aku emm... gak bisa jawab sekarang alasannya kenapa."


"Di usir dari rumah?"tebak gadis itu yang membuat kepala Queen menggeleng cepat.


Hening. Tidak ada yang berbicara di antara mereka. Entah kenapa Queen merasa nyaman ketika bersisian dengan orang asing seperti ini.


"Nama lo siapa?"tanya gadis itu tanpa melirik Queen. Matanya fokus menatap jalanan di depan.


"Nama aku Queen, Teh. Kalau Teteh siapa?"


"Nama gue Rere."


Hening lagi, mungkin Rere ini bukan tipe orang yang suka berbicara. Atau mungkin Rere tidak ingin berbasa-basi kepada orang yang baru di kenalnya.


"Lo orang Bandung asli?"tanya Rere sambil menatap wajah lugu gadis di sebelahnya.


"Iya. Aku orang Bandung asli. Teteh bukan orang Bandung asli ya?"

__ADS_1


Mata Rere mengerjap pelan, keningnya mengerut.


"Lo kok tau? Cenayang lo?"


Queen tertawa pelan, dia menghapus sisa air mata di pipinya.


"Bukan Teh. Cuma aku nebak aja, eh bener ternyata! Aku sih nebak dari cara ngomong Teteh. Orang Jakarta ya?"tebak Queen lagi yang membuat Rere mengangguk sambil berdecak kagum.


"Sodara Roykosapi ya, lo?"


Queen tertawa lagi. Dia merasa terhibur dengan adanya Rere di sini.


"Si Teteh ngabanyol wae,"ujar Queen pelan.


Rere tersenyum tipis, tangannya dia masukan ke dalam jaket crop yang dia gunakan untuk menutupi bagian atas dress mininya yang memang rendah di bagian dada. Mata gadis itu memperhatikan penampilan Queen yang berantakan.


Gadis jago menebak itu memiliki wajah cantik dan manis, bibirnya tidak terlalu tipis namun sexy. Rambutnya tidak terlalu panjang, tubuhnya pendek namun tidak gendut. Pakaiannya hanya memakai celana pendek di padu kaos kebesaran berwarna abu yang Rere tebak milik seorang pria. Mata Rere sedikit terpaku di leher Queen yang terdapat beberapa tanda kepemilikan disana, dia juga baru menyadari bahwa mata serta bibir Queen bengkak.


"Lo abis di perkosa siapa?"


Queen tersentak kaget, dia menatap bingung gadis yang baru di kenalnya.


"Maksud Teteh?"


"Leher lo pada merah semua tuh,"katanya sambil menatap leher Queen.


Queen meraba lehernya, keningnya mengernyit dalam. Dia tidak mengerti dengan maksud Rere.


"Merah? Merah kenapa sih, Teh?"tanya Queen bingung.


"Lupain aja lah. Eh iya! Lo gak ada tujuan gitu? Lo mau tidur di mana?"


Mata Queen mengerjap, dia juga bingung ingin kemana dan tidur dimana malam ini. Menginap di hotel uangnya jelas tidak cukup, sementara mencari kos-kosan, dia tidak tahu kos-kosan di daerah sini.


"A-aku gak tau, Teh. Bingung mau tidur dimana malam ini,"ucapnya lirih.


Rere meringis dalam hati. Dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam sudah hampir menunjukan pukul 2 pagi, dan gadis itu tidak tahu akan kemana. Hati kecilnya mendadak terasa tercubit.


"Ikut gue aja yu! Lo bisa tinggal di kontrakan gue, yah meskipun kontrakannya gak bagus tapi setidaknya lo bisa istirahatin tubuh.Lumayan jauh sih dari sini, cuma tenang! Gue bawa motor yang di parkir di toko sana."


Queen tersenyum senang. Dia dengan tanpa berpikir mengangguk cepat dan mengikuti langkah Rere. Sebenarnya Queen ingin bertanya soal dandanan Rere, tapi dia tahan dulu. Dia ingin cepat mengistirahatkan tubuhnya, dia juga besok tidak akan pergi ke sekolah. Queen akan menghubungi wali kelasnya dan berasalan izin pergi.


Mereka berhenti di depan toko yang sudah tutup, disana terdapat motor matic berwarna biru. Mata Queen bisa melihat ada beberapa gelandangan yang tertidur lesehan di lantai toko. Andai dia tidak bertemu Rere, mungkin dia juga akan seperti mereka.


"Buru naik Queen, ngantuk nih gue!"suruh Rere yang sudah berada di atas motornya.


Queen mengangguk, gadis itu menyimpan kopernya di depan motor dan dia duduk di belakang Rere. Motor melaju membelah jalanan kota Bandung yang sangat sepi. Lalu tak lama motor itu masuk ke dalam gang kecil di pinggiran jalan yang baru Queen sadari dekat dengan sekolahannya.


Gang yang di lalui Queen sangat temaram, di tambah ada beberapa roda pedagang kaki lima yang di simpan di samping gang sehingga membuat gang ini semakin sempit. Beberapa kali gang ini berbelok-belok. Kening Queen mengernyit ketika melihat ada segerombolan laki-laki dari yang seumuran Queen hingga yang lebih tua sedang berkumpul di pos kecil, bau minum serta rokok menyambut pernafasan Queen ketika motor Rere di hadang seseorang.


"Woy, Re! Baru balik lo?"tanya seorang pria yang Queen tebak berumur 25-an. Pria itu berkulit coklat, tubuhnya tegap dan tatapannya sangar.


"Iya! Minggir lo, gue capek."


"Capek? Yah padahal gue pengen ngabisin waktu berdua sama lo di kontrakan, gue bayar kok."

__ADS_1


"Nanti aja."


"Oke si–eh siapa tuh di belakang lo? Kok cantik?"


Rere mendelik sebal, gadis itu menatap tajam pria bernama Adi yang tak lain adalah sahabatnya sejak ia menginjak kota Bandung beberapa tahun yang lalu.


"Dia temen gue, jangan ganggu dia. Bilangin sama temen-temen dan anak buah lo itu,"jawab Rere tajam.


Adi mengangguk dengan bibir yang di tarik ke bawah, matanya memperhatikan penampilan Queen yang berantakan namun... sexy dimatanya. Pandangannya teralihkan pada Rere yang sudah cemberut, Adi terkekeh pelan lalu memajukan wajahnya dan mengecup bibir Rere dengan gemas. Hal itu tak luput dari pandangan Queen, dia jelas terkejut dengan apa yang di lihatnya. Dia sedikit bingung ketika Rere hanya diam.


"Udah mau subuh, sana lo istirahat. Jangan lupa besok malam ya,"ucap Adi sambil tersenyum manis.


Rere hanya berdehem lalu menjalankan motornya. Tak lama motor Rere berhenti tepat di depan kontrakan lima pintu. Kontrakan ini memiliki teras. Rere turun dari motornya dan Queen pun ikut turun, dia membawa kopernya lalu menunggu Rere yang sedang membuka pintu.


Pandangan Queen menyapu sekitar. Kontrakan ini ada di ujung gang, tak banyak rumah disini. Hanya sepertinya kontrakan banyak. Gang ini sedikit kumuh dengan penerangan cahayanya yang minim.


"Masuk Queen. Sorry kalau suasana kontrakannya sempit."


Queen tersenyum, dia masuk ke dalam kontrakan setelah membuka flat shoes hitam miliknya lalu menyimpannya di rak sepatu seperti apa yang Rere lakukan. Pandangannya menyapu kontrakan Rere yang tidak besar namun cukup untuk tiga orang. Ada satu pintu yang Queen yakini adalah kamar. Ruang tamu kontrakan Rere terdapat satu sofa untuk dua orang dan meja kecil di hadapannya. Ada tv juga lemari kecil di depan sofa. Queen mengikuti langkah Rere yang ternyata ke dapur.


Dapur kontrakan Rere kecil, ada kulkas satu pintu juga kompor dan lemari makanan. Lalu Queen mulai memperhatikan Rere yang menuangkan air minum ke gelas dan menyodorkannya pada Queen. Queen menerimanya sambil mengucapkan terimakasih.


"Malam ini lo tidur sama gue aja, kasur gue cukup nampung buat kita berdua kok."


"Iya Teh. Nuhun,"gumam Queen yang di angguki Rere.


"Yaudah yu masuk kamar,"ajak Rere sambil berjalan di ikuti Queen.


Kedua gadis itu memasuki kamar Rere, lagi-lagi Queen mengedarkan pandangannya. Kamar Rere lumayan besar, terdapat toilet kecil di dalam kamar ini. Ada satu lemari baju di sudut kamar, ada juga meja rias kecil di samping lemari yang menghadap ke jendela. Di tengah-tengah ruangan ada kasur lumayan besar, cover bad nya bermotif bunga dengan warna merah yang sexy. Di tembok ada beberapa beberapa bingkai foto Rere yang terlihat sangat cantik. Ada juga foto-foto Rere dan pria yang mencegat mereka tadi.


"Ngelamun terus lo!"


Queen terlonjak kaget dan Rere menertawakan hal tersebut.


"Ih si Teteh mah ngagetin aja,"gerutu Queen dengan bibir mengerucut.


"Ya maaf. Abis lo ngelamun aja dari tadi, liatin apa sih?"


"Ini laki-laki yang tadi cium Teteh ya?"tanya Queen sambil menunjuk bingkai foto Rere dan Adi. Di foto itu Rere terlihat mencium pipi kiri Adi, dan tangan Adi yang merangkul bahu Rere.


"Yoi! Kenapa?"


"Gak papa sih. Kalian cocok,"jawab Queen sambil tersenyum.


Rere mendengus, sudah banyak yang berbicara seperti itu kepadanya. Sebenarnya status Rere dan Adi hanya sebatas teman, tapi entah kenapa banyak yang menebak bahwa mereka berpacaran.


"Kita cuma temen."


"Temen? Tapi kok tadi laki-laki itu cium Teteh?"tanya Queen penasaran.


"Au ah! Udah gue mau mandi, lo terserah deh mau ngapain. Tidur juga boleh, anggap aja gue temen lama yang udah lamaaa banget gak ketemu sama lo."


...||||...


Rere baik banget wkwk, jarang jarang loh ada orang baik di jaman sekarang.

__ADS_1


__ADS_2