
Kenan keluar dari kamar mandi yang berada di kamarnya, dia baru saja selesai mandi. Rambut pirangnya sedikit basah dan cowok itu akhirnya menggosok-gosokan handuk yang melingkar di lehernya pada rambutnya.
"Queen kenapa belum ngabarin sih?"gumamnya sambil melirik ponselnya.
Queen tidak memberi kabar pada Kenan sejak gadis itu memutuskan sambungannya secara sepihak waktu tadi malam. Kenan mendesah pelan lalu memakai kaosnya dan melempar handuknya ke sofa kamar. Cowok itu menyisir rambutnya dengan asal.
Rencananya dia akan mencari tahu dimana rumah Papanya Queen sekarang, Kenan sangat penasaran mengapa Queen dan Rere bisa tinggal di rumah David.
Tok, tok, tok!
"Abang Ken! Abang Kenan buka pintunya Keano kangen!!!"
Kenan terdiam, dahinya mengernyit ketika mendengar teriakan dari luar kamarnya. Itu suara Adiknya, tapi kenapa Adiknya bisa berada di sini? Bukannya dia sedang berada di Kroasia?
"Abang, ih. Buka pintu Bang! Keano kangen, Keano bawa oleh-oleh buat Abang!"
Dengan rasa penasaran juga terkejut cowok itu membuka pintu kamarnya, dan kepalanya menunduk dengan mata membulat saat melihat sosok Keano yang tengah mengerucutkan bibir.
"Lah!? Napa lo eh maksud gu, ck! Maksud Abang kenapa kamu bisa ada di sini? Bukannya lagi ada di rumah Oma?"tanya Kenan beruntun.
Keano mendelikan matanya, bocah satu itu meninggalkan Kenan yang terbengong-bengong. Sebelum menyusul Keano yang ternyata ke bawah, Kenan terlebih dahulu masuk ke kamarnya untuk memakai jaket dan mengambil kunci motor.
Cowok itu akhirnya bergegas turun ke bawah rumahnya menggunakan lift, dia beberapa kali mencoba menelpon Queen tapi tidak di angkat. Setelah lift terbuka matanya terbelalak ketika melihat Ayah, Bunda dan Keano tengah berkumpul di ruang keluarga dengan tv yang menyala.
"Bun, Yah! Kalian kapan datengnya?"tanya Kenan sambil mencium tangan kedua orang tuanya lalu duduk di sofa single yang berada di sebalah kiri kedua orang tuanya.
"Kita dateng tadi malam Ken, eh kamunya udah tidur waktu kita pulang. Mama gak tega bangunin kamu,"jawab Kania sambil tersenyum.
Kenan mengangguk-anggukan kepalanya, cowok itu menatap Keano yang asik dengan mobil mainannya di lantai rumah. Katanya bocah itu akan memberikan oleh-oleh kepada Kenan? Tapi mana?
"Kean!"panggil Kenan hingga membuat Keano menatap ke arahnya dengan alis mengerut.
"Apa?"
"Mana oleh-oleh buat Abang?"
Keano mengerucutkan bibirnya, kening bocah itu juga mengerut. Dia sebal dengan Abangnya soal kejadian yang tadi, padahal Kenan hanya terkejut melihat kehadiran Keano.
"Udah hangus oleh-olehnya,"jawabnya ketus.
Mata Kenan membulat sedangkan kedua orang tuanya cekikikan mendengar jawaban Keano.
"Yaelah bocil dasar! Gak ada hangus-hangusan, mana oleh-oleh buat Abang?"tanya Kenan memaksa.
Mata Keano mendelik, bocah itu berlari ke pangkuan Papanya dan menatap Kenan dengan kesal.
"Kean bilang oleh-olehnya udah hangus ih!"ulang Keano kesal.
Kenan mendengus, cowok itu menatap Keano dengan sinis dan Adiknya itu membalas tatapan Keano tak kalah sinis.
"Oh ya Yah, Bun keadaan Oma di sana gimana? Katanya kalian mau di sana selama 2 bulan tapi kok udah balik aja?"tanya Kenan penasaran.
"Oma kamu sudah mendingan dan ada aunty kamu yang menjaga Oma di sana. Lagian Papa juga tidak bisa meninggalkan perusahaan di sini, dan juga Keano sekolah meskipun masih di Taman Kanak-Kanak tapi dia harus rajin sekolahnya,"jawab Bagas sambil mengelus rambut Keano.
"Syukur deh kalau Oma udah mendingan."
__ADS_1
"Eh kabar Queen gimana, Ken?"tanya Kania tiba-tiba.
"Dia baik, malah Queen lagi berbahagia."
"Bahagia? Karena apa?"tanya Kania antusias.
Kenan berdehem sebelum menceritakan apa yang dia tahu walaupun belum tahu banyak.
"Queen sekarang udah tinggal sama Om David lagi dan anak angkat Om David."
"Anak angkat!?"
Mata Kenan menatap bergantian raut terkejut yang terlihat di kedua wajah orang tuanya. Mereka pasti terkejut dengan Kenan yang menyebut 'anang angkat Om David'.
"Kamu serius? David mempunyai anak angkat?"tanya Bagas setelah kembali menguasai dirinya.
Kenan mengangguk, dia juga terkejut mendengar berita Rere yang akan di angkat menjadi anak David dari mulut Adi kemarin.
"Kok bisa ya?"tanya Kania heran.
"Kebetulan anak angkatnya itu udah akrab banget sama Queen, bahkan mereka udah kayak Adik dan Kakak sebelum ketemu sama Om David lagi."
Bagas mengangguk-anggukan kepalanya, mata pria itu memicing.
"Sepertinya Ayah akan mengobrol lebih lanjut lagi dengan David nanti,"gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Kania dan Kenan.
"Ah iya Yah, Bun Kenan mau nanya dong."
"Nanya apa sayang?"tanya Kania lembut.
...||||...
Queen mematut dirinya di cermin ketika dia baru saja selesai berdandan. Di Minggu pagi ini rasanya rumah sudah sepi saja, padahal banyak pelayan dan penjaga rumah. Rere sedang jalan bersama Adi yang menjemputnya pagi-pagi tadi sedangkan David sedang ada urusan dan pergi tadi pagi.
"Ih Queen kok ngerasa gak pantes ya pakek dress mahal yang di beliin sama Papa kemarin?"
Gadis cantik yang rambutnya di gerai itu menggerakan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, matanya tidak lepas melihat bayangan dirinya di cermin.
Tok, tok, tok!
Kening Queen mengerut, siapa yang mengetuk pintu kamarnya? Dengan sedikit penasaran gadis itu pun membuka pintu kamar dan saat itu juga terlihat salah satu pelayan wanita berkepala 3 yang sedang berdiri depan kamarnya.
"Ada apa ya, Bi?"
Wanita itu membungkuk hormat sebelum menjawab.
"Di ruang tamu ada yang mencari Nona Queen, tamu itu menunggu Nona."
"Tamu? Siapa Bi?"tanya Queen penasaran.
"Saya kurang tahu Nona, tapi dia laki-laki."
Kerutan di kening Queen semakin dalam, laki-laki? Apa... Kenan? Tapi dari mana Kenan bisa tahu alamat rumah David?
"Oh makasih Bi, Queen bakal ke ruang tamu sekarang."
__ADS_1
Wanita itu kembali membungkuk hormat serta tersenyum simpul.
"Sama-sama Nona, kalau begitu saya kembali bekerja lagi Nona."
Queen mengangguk sambil menutup pintu kamarnya, gadis itu berjalan ke lift yang berada di ujung lorong lantai dua rumah David.
Setelah lift berhenti di lantai satu akhirnya kaki Queen melangkah untuk ke ruang tamu. Selama di perjalanan menuju ke ruang tamu ada kira-kira lima pelayan yang sedang membersihkan perabotan yang di simpan di atas nakas dan meja.
"Kenan?"
Kenan mendongakan kepalanya, cowok itu tersenyum tipis kala melihat penampilan Queen yang sangat manis serta anggun di matanya.
"Cantik,"puji Kenan sambil berdiri dan menarik Queen ke dalam pelukannya.
Queen tersenyum tapi senyumnya pudar ketika tahu bahwa sekarang dia sedang berada di rumah David. Dengan segera Queen pun mendorong dada Kenan dan mengigit bibir bawahnya karena beberapa mata pelayan melirik ke arahnya.
"Kenapa sih?"tanya Kenan kesal.
Queen menarik lengan Kenan agar kembali duduk di sofa, gadis itu mendekatkan tubuhnya dengan Kenan.
"Aku malu ih! Lagian kamu peluk-peluk aku gak tau tempat banget, kalau ada yang ngadu sama Papa gimana coba?"bisik Queen gemas.
Kenan menaikan satu alisnya, cowok itu malah menyeringai dan dengan sengaja merangkul pinggang Queen dan mencium pipi gadis itu dengan gemas hingga membuat Queen memekik tertahan.
"Kenan ih..."
Kenan terkekeh puas, dia menjauhkan wajahnya dari pipi Queen lalu menatap gadisnya yang sudah cemberut.
'Maaf, maaf! Abisnya terlalu kangen sih sama kamu,"ucapnya di akhiri kedipan mata yang membuat Queen menahan senyumnya.
"Genit banget dih,"ejeknya sambil memalingkan wajah.
Kenan tertawa pelan lalu mengacak rambut Queen dengan gemas sebelum setelahnya dia menggenggam tangan Queen.
"Jadi... bisa ceritain awal mulanya?"tanya Kenan serius.
Queen menghela nafas sejenak lalu memiringkan posisi duduknya jadi menghadap ke arah Kenan. Dan mengalirlah awal mulanya mengapa Queen bisa tinggal di rumah ini.
"Jadi gitu Ken ceritanya. Lagian aku juga kan pengen ngerasain kasih sayang Papa aku lagi, cukup 8 tahun ini aku jauh dari Papa dan gak ngerasain kasih sayang yang nyata dari Papa."
Mata Queen berkaca-kaca, Kenan yang melihat mata Queen yang berkaca-kaca pun mengelus punggungnya dengan pelan.
"Pilihan dan keputusan kamu udah tepat Queen. Mama kamu juga pasti seneng di sana karena kamu udah ketemu sama Papa kamu lagi setelah sekian lama,"ujar Kenan sambil mengusap air mata yang jatuh ke kedua pipi Queen.
Queen mengangguk senang, iya! Pastinya Mamanya sangat senang di sana karena Queen dan David sudah kembali bersama.
"Aku pengen ke tempat pemakan Mama Ken, udah lama gak kesana."
Kenan diam sejenak lalu tersenyum sambil mengecup kening Queen cepat.
"Aku anter, ayo!"
...||||...
Uwuuu, sweet **banget:(
__ADS_1
Jangan lupa likenya di klik yaa, komennya juga di isi loh hehe**.