
Darren membuka matanya perlahan saat tak merasakan sakit pada tubuhnya. Padahal tadi dia kira jika dia akan mati setelah anjing sialan ini menembaknya tanpa ampun.
Matanya terbelalak melihat pria itu jatuh tersungkur dengan luka tembak tepat dikepalanya. Darren mendongak, matanya menyernyit saat melihat seseorang tengah berjalan mendekatinya. Karena lampu mobil yang mengarah padanya, ia tak terlalu melihatnya dengan jelas. Tapi yang Darren tahu dari gestur dan gerakannya dia adalah seorang wanita.
Setelah sampai dihadapan Darren, wanita itu berjongkok dan mengusap pipi Darren "are you oke?" ucapnya dengan lembut.
deg
Darren semakin terbelalak saat menyadari siapa wanita yang ada didepannya saat ini. Dia adalah kekasihnya? Queen?
Tangan Queen terulur untuk mengusap perut Darren yang terkena tembakan tadi "apakah sakit sekali?"
Darren hanya diam. Dia masih bingung akan keadaan yang tengah ia alami. Bagaimana bisa Queen ada disini? dan bahkan menolongnya?
Queen mengulurkan tangannya dan diterima dengan cepat oleh Darren. Queen membantu Darren untuk berdiri.
Queen merangkul Darren, dia melirik adik-adik nya yang memang ikut menemaninya untuk membantu Darren. Jangan lupakan pasukan bayangan yang ia bawa untuk membantunya juga "habisi mereka semua! sampai tak tersisa! aku mau mereka semua mati dengan mengenaskan!"
"baik kak"
Darren hanya bisa diam. Dia melihat wajah Queen yang berbeda kali ini. Aura yang ia keluarkan sungguh kuat dan dapat ia lihat bagaimana aura kepemimpinan juga keluar saat menyuruh adik-adiknya untuk membereskan semua musuhnya. Dan lagi Queen ternyata sangat kejam.
Darren melirik anak buah Queen yang cukup banyak itu mulai menyerang.
"masih kuat berjalan?"
"ya" jawab Darren seadanya. Dia terus saja memperhatikan wajah Queen yang tampak dingin. Biasanya Queen selalu tersenyum hangat padanya, tapi kali ini wajahnya mengetat, apakah dia marah?
Queen menoleh dan sedikit mendongak "kenapa melihatku seperti itu? apa ada kotoran diwajahku?"
Darren menggeleng "tidak"
Queen mendengus dan segera membatu Darren memasuki mobil. Setelah Darren sudah didalam, Queen membalik tubuhnya. Memperhatikan pasukan yang ia bawa sedang membereskan musuh Darren.
__ADS_1
Tatapan matanya bertemu dengan Gerald saat pemuda itu menoleh tanpa sengaja. Queen dan Gerald sama-sama mengangguk.
"kuserahkan tugas ini untuk kau pimpin!"
"baik kak"
Sepertinya hampir seperti itu arti tatapan kedua saudara itu.
Hal itu tak luput dari pengawasan mata Darren, dia melihat bagaimana Queen dan adiknya berkomunikasi menggunakan tatapan mata mereka. Apa mereka sedang berbicara dengan menggunakan bahasa telepati? Darren sungguh tak tahu.
Padahal yang sebenarnya, Queen dan Gerald serta Gerrell memiliki ikatan yang sangat kuat, mereka saling melindungi dan memahami satu dan lain. Hanya dengan tatapan seperti itu mereka akan paham apa yang dimaksudkan.
Queen segera masuk kedalam mobil, dia melihat wajah Darren yang terus saja datar. Sepertinya dia tak merasakan sakit, padahal Queen tahu sekali jika luka tembak itu cukup membuat seseorang pingsan. Tapi bukannya mengeluh Darren menahannya, sungguh Darren lelaki yang sangat kuat dan hebat.
Mobil membawa sepasang kekasih itu menuju rumah sakit Queen's Hospital. Tak ada obrolan sama sekali antara Darren atau pun Queen. Mereka membisu dengan pikirannya masing-masing.
Sesampainya dirumah sakit, beberapa dokter dan suster sudah stay menunggu kehadiran mereka. Darren langsung dibawa menggunakan brangkar dan membawanya kedalam ruang ICU.
Queen mengikuti Darren dan melihat bagaimana dokter melakukan penanganan pertama.
"ini harus segera dioperasi untuk mengangkat peluru yang bersarang didalam perut" ucap salah satu dokter yang memeriksa keadaan Darren kearah nona muda pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
"lakukan yang terbaik!"
"baik nona"
***
Gerrell menyikut lengan Gerald "ayo kita bertaruh"
Alis Gerald menyernyit mendengar ucapan saudara kembarnya ini "cih. seperti anak kecil saja!"
"takut ya? kau itu pria atau wanita? tidak jantan SMA sekali pasti wanita ya?"
__ADS_1
Mata Gerald menatap marah Gerrell saat Gerrell sengaja membuat kesabarannya habis, tingkah Gerrell ini selalu membuatnya kesal. Kalau sehari saja Gerrell tidak mengganggunya, Gerald akan sangat senang. Tapi adik nya ini selalu membuat masalah dan selalu memancing amarahnya "siapa yang kalah akan mencabuti rumput taman belakang!" ucapnya menyetujui ucapan Gerrell. Kalaupun tidak setuju pasti pemuda itu akan terus mengganggunya kan?
"deal" ujar Gerrell sembari berlari kecil hendak menghampiri musuhnya "aku akan melihat bagaimana seorang Gerald yang dingin ini mencabuti rumput, hahaha aku akan mentertawakan nya nanti"
Gerald menatap Gerrell dengan bengis "tidak akan pernah!" lalu dia mulai menghabisi orang-orang yang telah membuat kakaknya marah.
"uncle Jack! bantu kami menghitungnya!" pekik Gerrell membuat pria paruh baya itu mendengus tapi tetap menuruti kemauan tuan mudanya.
Gerald dan Gerrell tahu sekali jika Queen marah, melihat bagaimana keadaan tunangannya dikeroyok seperti tadi. Dan lagi dia sampai terkena tembakan senjata api. Karena hal itulah Gerrell dan Gerald tidak akan pernah berbelas kasih.
Meski kedua saudara kembar ini tidak menyukai Darren, tapi mereka akan membalaskan dendam kakaknya. Dendam Queen adalah dendam Gerald dan Gerrell juga.
**
Setelah selesai dengan pertarungannya, Gerrell tersenyum sembari mendekati Gerald "aku telah menghabisi 89 nyawa" ujarnya dengan bangga.
"uncle Jack, berapa skorku?"
Jacky menatap kedua tuan mudanya dengan pandangan yang sulit untuk dimengerti. Pria paruh baya itu sebenarnya merasa keturunan ketuanya sungguh sangat mengerikan saat membantai orang-orang tadi "anda menghabisi nyawa 120 tuan"
Mata Gerrell terbelalak begitupun dengan mulutnya yang menganga lebar sekali.
"segeralah pulang dan cabut rumput ditaman sampai bersih!"
puk puk
Gerald menepuk bahu Gerrell setelah berucap lalu Gerald pergi berlalu, ucapan yang menurut Gerrell terdengar seperti ledekan untuknya.
"uncle Jack! jangan-jangan kau berbuat curang ya? kau pasti disuap oleh Gerald kan?" Karena tidak terima telah kalah telak, Gerrell menyalahkan Jacky yang tidak tahu apa-apa.
Jacky hanya bisa mende-sah dan berusaha bersabar, sejujurnya jika saja Gerrell bukan tuan mudanya sudah dipastikan Jacky akan memukul mulutnya yang selalu berbicara seenaknya itu.
"hey jangan pergi uncle. Cepat katakan yang sejujurnya kalau kau disuap oleh Gerald!" Gerrell berubah merengek saat ucapannya diabaikan oleh Jacky.
__ADS_1
"pulanglah tuan muda untuk beristirahat! bukankah besok anda harus mencabuti rumput dimansion?" ucap Jacky diselingi seringai kecil.
Gerrell terkesiap, dia menatap cengo punggung tegap Jacky yang berjalan menjauhinya setelah mengatakan kata-kata ejekan "ahhkk-- kalian menyebalkan sekali" pekik Gerrell yang merasa kesal.