
Queen menerima pesan dari Kenan, dan dia lebih memilih untuk hanya membaca tanpa membalas pesan tersebut.
Dia sadar betul kalau sudah merenggut waktu Kenan dari keluarganya.
Queen merasa bersalah? Tidak. Sama sekali tidak ada rasa penyesalan dalam hatinya karena sudah merenggut waktu berharga Kenan.
Untuk kali ini biarkan Queen mengalah sebentar. Dia akan membiarkan Kenan mengurusi keluarga kecilnya terlebih dahulu, sebelum harus fokus lagi kepada dirinya.
Mata Queen menatap hamparan pemandangan Ibu Kota dari teras apartemen. Ada sedikit rasa damai yang masuk melalui celah-celah hatinya. Pikirannya melanglang buana.
Jika dipikir-pikir, Queen sama sekali tidak punya teman sekarang. Dulu, dia mempunyai Dea yang selalu siap berada di sisinya baik saat Queen sedang sedih atau pun senang. Tetapi, seiring berjalannya waktu pertemanan dia dengan Dea hanya menjadi sebuah sejarah.
Queen dekat dengan anak angkat Papa yang dulu sempat menolongnya sewaktu ada masalah dengan Kenan. Teh Rere saat ini sudah sangat sibuk mengurus rumah tangganya sendiri, belum lagi dia bekerja di perusahaan Papa. Maka hanya ada sedikit waktu yang bisa dia berikan untuk Queen.
Tetapi entah kenapa, kesepian ini justru membuat Queen merasa senang-senang saja.
Perempuan yang hanya memakai kemeja putih sebatas paha itu menghela napas pelan. Perutnya mulai keroncongan, dan dia mau tak mau turun ke bawah untuk mencari makanan.
Queen sedang menginginkan makanan yang dijual pedagang kaki lima. Untung saja di depan gedung apartemen-nya ada para pedagang kaki lima yang berjajar.
Perempuan itu hanya menampilkan wajah datar ketika beberapa pasang mata melirik ke arahnya dengan pandangan berminat.
Sebenarnya dia salah kostum, sih. Tapi Queen terlalu malas untuk ganti baju. Toh, dia hanya akan makan lalu setelahnya kembali ke apartemen.
Melihat ada pedagang satai, tanpa berpikir dua kali Queen langsung memesan dan memilih meja paling belakang, terkesan mojok.
Matanya menatap pada sekitar yang seolah sibuk. Banyak yang berlalu-lalang untuk mencari makanan. Ada juga pasangan yang saling menyuapi satu sama lain lalu tertawa, seperti mereka adalah manusia paling bahagia di bumi ini.
Queen hanya mengamati saja sampai seseorang yang tidak pernah dia duga, datang menyapa.
"Queen Lavinda?"
__ADS_1
Kepala Queen mendongak sebelum keningnya berlipat. Dia berpikir terlebih dahulu. Wajah dari orang yang menyapanya itu tidak asing. Queen seperti pernah melihatnya.
"Jangan bilang kalau lo lupa sama gue?" Orang itu bertanya dan tanpa dipersilakan, duduk di hadapan Queen.
"Sorry ... gue kayak pernah liat muka lo, tapi gue lupa."
Lelaki itu tertawa kecil sementara Queen semakin menyipitkan matanya. Dia sedang berusaha mengingat orang di hadapannya ini.
"Verrel, sahabat Kenan."
Mata Queen membulat. "Kak Verrel? Astaga, maaf banget. Muka sama badan lo agak berubah."
Verrel menyeringai. "Berubah jadi makin ganteng, kan?"
Harus Queen akui, iya. Lelaki itu terlihat semakin jantan dengan badannya yang tinggi juga tetap. Wajahnya tidak setengil dulu, kini malah terlihat sangat kalem. Meski Queen yakin sikap lelaki di hadapannya masih semenyebalkan dulu.
"Sendirian aja Queen?" tanya Verrel.
"Sama."
Obrolan mereka harus sedikit terhenti saat pelayanan membawakan pesanan milik Queen juga ... Verrel. Rupanya sahabat Kenan itu juga memesan makanan di sini.
"Lo tinggal di sekitar sini juga?" Queen bertanya sembari mulai menikmati satai nya.
"Enggak. Kebetulan gue lagi jalan-jalan aja, sih. Eh ketemu bidadari di sini."
Queen tersenyum sembari menundukkan kepalanya sekilas, hal itu terlihat manis untuk Verrel.
Queen ternyata sudah sangat berubah. Pantas Kenan kembali tergila-gila pada perempuan ini.
Lalu, mereka pun hanyut dalam obrolan ringan sembari menikmati satai di pinggir jalan yang ramai ini.
__ADS_1
...••••...
"Mending kamu pulang aja, istirahat."
Kenan menatap Nanda yang baru saja berbicara kepadanya. Perempuan itu tidak menatap ke arah Kenan, karena sibuk mengganti popok Alaia.
Anaknya masih harus di rawat, belum ada kabar kapan dia akan dipulangkan.
"Seharusnya aku yang bilang gitu ke kamu. You look so tired. Jadi sebaiknya kamu yang pulang terus istirahat," ucap Kenan sembari mendekat ke arah Bed Hospital. Bersebrangan dengan Nanda yang masih tidak mau menatapnya.
Mungkin perempuan itu sudah sangat marah dan berada di titik paling tinggi atas nama kecewa. Itu wajar.
"Aku gak mau ninggalin Alaia."
"Ada aku."
"Kamu bisa aja pergi nanti. Kamu kan sibuk akhir-akhir ini."
Hening cukup lama.
"Please, kamu pulang dan istirahat. Tolong bawain aku baju ganti sama laptop kalau ke sini lagi."
Nanda menghela napas. Dia menegakkan badannya lalu menatap Kenan dengan sangat datar.
Mau bagaimana pun dia tidak bisa menolak Kenan. Jadi lah perempuan itu pergi ke rumah terlebih dahulu untuk istirahat dan membawakan keperluan Kenan.
Arthur menginap di rumah Mama Kania dan Papa Bagas setelah bermain sebentar dengan Kenan. Anak sulungnya itu sangat bahagia kala bisa bermain bersama Papa nya lagi.
Setidaknya itu sedikit melegakan hati Nanda yang akhir-akhir ini selalu sakit karena merasa diabaikan.
Nanda menghela napas dan mendongak untuk melihat ke depan, tetapi sedetik kemudian dia tercekat dan bersembunyi di koridor yang lumayan ramai oleh para pengunjung dan perawat yang berlalu lalang.
__ADS_1
Itu Gara ... mantannya sekaligus ayah kandung Arthur, yang bahkan dulu tidak bertanggungjawab telah menghamilinya sampai Kenan turun tangan untuk rela bertanggungjawab.