
Kembali diruang kerja dad Arsen, sebelum Darren datang kekamar Queen.
Setelah menjelaskan jika Darren tidak pernah menyentuh Queen. Kedua pria yang memiliki mata sama-sama tajam itu hanya saling diam. Mereka hanya bertukar tatap saja selama hampir sepuluh menit.
Kedua nya larut akan pikirannya masing-masing.
Setelah cukup lama, tuan Arsen akhirnya menyudahi aksi tatap-tatapannya bersama calon menantunya, dia melengos sembari mendengus saat teringat lagi tentang anaknya yang telah direbut oleh pemuda yang ada dihadapannya saat ini. "entah apa yang Queen lihat darimu!" kata-kata menyebalkan mulai keluar dari mulut seorang Arsenio.
Namun kata-kata pedas itu sama sekali tidak mempengaruhi raut wajah Darren. Pemuda itu masih terlihat santai meski saat ini ia sedang berhadapan dengan calon mertua yang sepertinya akan sangat menyebalkan nantinya "Queen selalu menyukai wajahku yang tampan" ucap pemuda itu penuh percaya diri. Dia tidak sadar ucapannya membuat tatapan mata pria paruh baya yang ada dihadapannya semakin dongkol.
"Biasa saja. Wajah seperti ini sangat pasaran"
Wajah Darren sedikit merengut mendengar ucapan menjengkelkan dari calon mertuanya "hah... saya tidak bisa menang melawan ucapan anda" ucap Darren pada akhirnya, ia hanya bisa pasrah. Darren harus berfikir berkali-kali lipat saat hendak melawan kata-kata calon mertuanya ini, Darren takut jika pria paruh baya ini akan semakin mempersulit dirinya kedepannya.
Bukankah seharusnya Darren menjilatnya agar rencananya berhasil? Namun menjadi penjilat bukan gayanya.
Tuan Arsen hanya menunjukkan ekspresi bangga akan dirinya sendiri. Hal itu membuat Darren sedikit terperangah. Entah kenapa obrolan mereka malah menyimpang entah kemana. Padahal Darren hanya berniat untuk mengutarakan maksudnya yang ingin cepat-cepat menikahi Queen. "Tuan"
"apa" jawab tuan Arsenio dengan raut wajah datar kembali, dia sudah bisa menguasai wajahnya agar terlihat seperti biasanya.
Darren menelan salivanya pelan, dia tiba-tiba saja merasa gugup. Perasaan ini mirip pada saat ia hendak melamar Queen.
"Cepatlah bicara. Aku tidak punya waktu untuk menunggu ucapanmu" tuan Arsenio segera berucap. Sebenarnya dia sudah lelah setelah bekerja seharian dan dia ingin segera mandi. Dia juga sudah sangat merindukan istrinya.
"Saya akan segera menikahi Queen" ucap Darren dengan cepat.
"what?!" pekik tuan Arsenio. Dia terlalu shock mendengar penuturan pemuda yang saat ini terlihat gugup itu.
Melihat keterkejutan pria paruh baya itu membuat Darren takut, takut jika niatnya akan dihalangi.
Saat tengah memperhatikan wajah tuan Arsenio Darren terkejut saat melihat pria paruh baya itu memegang dadanya. Hal itu membuat Darren segera berdiri dan mendekati calon mertuanya "tuan anda tidak papa?" tanyanya khawatir. Dia memegang bahu tuan Arsenio. Menahan tubuh yang terlihat hampir merosot.
Setelah beberapa saat pria paruh baya itu dapat menguasai diri, dia menatap jengkel pemuda yang masih menunjukan wajah datar meski iris matanya terlihat bergetar.
"Kamu hampir membuat pria tua ini terkena serangan jantung nak"
__ADS_1
"maaf. Tapi apakah anda baik-baik saja? ayo saya gendong dan saya akan mengantar anda kerumah sakit" Darren yang terlalu panik segera mengulurkan tangannya hendak memegang kaki tuan Arsenio. Belum sampai memegang kaki calon mertuanya, tangannya sudah lebih dulu ditampik oleh pria paruh baya itu.
"Jauhkah tanganmu itu! Aku hanya terkejut bodoh!" tuan Arsenio mendorong tubuh Darren agar menjauh dari tubuhnya. "yang benar saja! kau mau menggendong aku seperti seorang gadis" ujarnya sembari mengusap bahu yang tadi dipegang oleh Darren. Kemudian membetulkan jas yang ia pakai.
Darren hanya berdiri sembari menatap bingung Tuan Arsenio, dia tadi memang hendak menggendong pria itu ala bridal.
"duduklah.."
Darren mengangguk, dia kembali duduk dan menatap pria paruh baya yang sepertinya bertambah kesal padanya.
Entah kenapa, apa yang ia perbuat selalu salah dimata tuan Arsenio. Dia yang terus ditatap oleh pria paruh baya itu hanya duduk dengan rasa sedikit canggung akibat kejadian absurd yang tidak sengaja terjadi.
"Kau mau menikahi Queen segera benar?"
Darren mengangguk dengan cepat "benar"
Tuan Arsenio menghela nafas pelan "kau tahu resiko menikah berbeda negara bukan? Kalian tidak akan bisa terus bersama karena kalian berdua memang memiliki tanggung jawab atas pekerjaaan"
"saya paham"
Tuan Arsenio berdecak "bagaimana kalau aku mencarikan gad-"
"kenapa? aku akan mencarikan gadis manis yang bisa terus mendampingi dirimu" ucap tuan Arsenio terdengar serius, padahal ia hanya ingin melihat bagaimana reaksi Darren.
"tidak bisa! saya sangat mencintai Queen seorang"
"cih.. kata-kata mu mirip seorang buaya"
Darren menggeleng "Saya serius tuan, Jadi kalau anda tidak menyetujui pernikahan ini. Saya akan membawa lari puterimu" ucapnya dengan diakhiri ancaman. Keluar juga sifat aslinya.
"hahahaha.. itupun kalau kau bisa" ucap tuan Arsenio dengan pandangan meremehkan. Walau bagaimana kekuatan yang Darren punya, dia tidak akan bisa bebas dinegara yang ia kuasai ini.
"Saya bisa membuktikan kata-kata ku" ucap Darren dengan penekanan disetiap kata.
Terdengar decakan kesal dari pria paruh itu. Ucapan pemuda itu benar-benar serius,apalagi tatapan matanya memancarkan ambisi yang begitu besar. Berhadapan dengan pemuda seperti ini Arsen merasa sakit kepala. "ck.. menyebalkan sekali"
__ADS_1
"jadi bagaimana tuan?"
"aku masih memerlukan bantuan Queen sebelum adik-adiknya bisa memikul tanggungjawab atas perusahaan atau dunia bawah"
Darren terdiam, dia sudah tahu mengenai hal ini karena Queen sudah memberitahu segalanya. "Saya tidak akan menghalangi Queen dan saya bisa ikut membatunya"
Jawaban tegas itu membuat tuan Arsenio terdiam, dia terus menatap pemuda yang sepertinya sudah sangat matang untuk mempersunting puteri kesayangannya.
Darren sendiri hanya diam, dia membiarkan tuan Arsenio berfikir.
"aih... Kalau kau sampai menyakiti Queen habis kau ditanganku!" ucap Arsenio pada akhirnya.
"jadi anda mengizinkan?" tanya Darren dengan mata berbinar. Dia bahkan melengkungkan bibirnya tanpa sadar.
"pikir saja sendiri!"
"Anda sudah mengizinkan. Kalau begitu saya akan segera mempersiapkan semuanya" kata Darren.
Alis Arsenio menyernyit "segera?"
"ya. Saya akan menikahi Queen satu bulan lagi"
"what?! Kau sudah gila nak" Arsenio menghela nafasnya panjang setelah berucap. Dia juga kemudian memijat pelipisnya yang terasa berdenyut mendengar ucapan Darren, rasanya terlalu terburu-buru sekali.
"Benar tuan. Saya sudah tergila-gila pada puteri anda" ucapnya dengan binar penuh cinta, dia menatap calon mertuanya dengan tatapan yang cukup lembut.
"Kau mau kemana?" tanya tuan Arsenio saat melihat Darren yang berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Saya mau mempersiapkan pernikahan, apalagi?"
"ya Tuhan! Sepertinya aku menyesal akan keputusanku tadi" ucap tuan Arsenio terdengar lelah. Dia menatap jengah pemuda yang tampak bersemangat itu. "Kenapa terburu-buru? Seperti tidak ada hari besok saja, pulang dulu sana!"
Darren berfikir sejenak. Benar juga apa yang tuan Arsenio ucapkan. Dia merasa lelah sekali setelah perjalanan jauh "baiklah.. Tuan bolehkah saya menginap disini?" ucapnya penuh harap.
"Jangan harap! Keluar kau sekarang juga!" tatapan membunuh tuan Arsenio langsung membuat Darren membeku. Dia selalu terkejut saat melihat tatapan penuh intimidasi tersebut.
__ADS_1
"Ah.. baiklah"
Tuan Arsenio yang melihat Darren menurut menyeringai, kemudian dia berdiri dan berjalan mendahului Darren. Hal itu membuat Darren menggelengkan kepalanya.