QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
membantu


__ADS_3

"aku langsung pulang. Ada hal yang harus ku urus" ucap Queen setelah mobil sampai didepan mansion milik Darren.


Darren yang pada awalnya hendak membuka pintu mobil mengurungkan niatnya. Menoleh kearah kekasihnya duduk. "apa yang akan kamu lakukan?"


"hanya menyelesaikan kerjaan mendadak" ucapnya sembari mengangkat ponsel. Setelah tadi dihubungi oleh seseorang kepercayaannya.


Darren menghela nafasnya panjang. Padahal ia masih ingin bersama dengan Queen. "ayo biar kutemani"


Queen menggeleng. Lalu mengelus lengan kekar Darren dengan pelan "tidak usah. Kamu istirahat saja. Agar lekas membaik. Jangan lupa setelah mandi minta maid untuk mengganti perbannya. Ah-- jangan maid, lebih baik dad atau mom mu saja" ucapnya panjang lebar.


"kenapa tidak boleh maid yang menggantinya?"


Queen mendekatkan tubuhnya kearah Darren, lalu mendekatkan wajahnya didekat telinga. "karena aku tidak rela jika ini" tangan Queen dengan iseng mengusap perut sixpack Darren. Otot perut Darren sungguh begitu menggodanya "dilihat oleh wanita lain"


Darren memejamkan matanya. Bagaimana bisa gadisnya ini berbuat seperti itu. Dia bisa saja tergoda dan tidak tahan saat hembusan nafas Queen mengenai telinga miliknya. Apalagi tangannya mengusap perutnya. Meski hanya diluar kaos yang ia kenakan tetap saja ia merasa panas. Udara didalam mobil seketika terasa berubah atmosfir. Darren adalah pria normal. Jadi reaksinya ini memang wajar.


Queen menjauhkan tubuhnya dari Darren. Dengan wajah yang polos menatap wajah Darren yang sedikit memerah akibat ulahnya barusan "hehehe lucu sekali wajahnya. Apa aku keterlaluan ya?"


Berdehem untuk menguasai diri agar tidak terkekeh melihat wajah blushing seorang Darren. Pria dingin ini ternyata bisa merona saat ia goda seperti ini. Sangat menggemaskan sekali. "kalau begitu keluarlah. Aku sudah ditunggu seseorang" dengan tidak berperasaan mengusir Darren dari mobil miliknya. Setelah ia membuat seorang Darren tak berkutik oleh tindakan spontan yang ia lakukan.


Darren menghela nafasnya panjang sekali untuk menahan sesuatu yang menggebu. Setelah bisa menguasai diri Darren menatap manik cantik milik Queen "apa kamu tidak mau melakukan sesuatu?" tanya Darren .


Queen yang mendapatkan pertanyaan seperti itu menyernyit karena tidak paham akan apa yang dibicarakan oleh Darren. Atau lebih tepatnya berpura-pura polos karena sejujurnya Queen tidak sepolos itu "melakukan hal apa?"


Darren menatap kearah bibir ranum Queen yang berwarna pink muda, tangannya terulur untuk mengusap bibir tersebut.


Queen menelan ludah, benar kan yang ia pikirkan. Menghela nafasnya panjang lalu menghadap kedepan. Meski mereka berada didalam mobil, tapi beberapa orang penjaga yang berdiri didepan pintu masuk akan bisa melihatnya dari kaca depan.


"mereka tidak akan melihat" ujar Darren yang tahu keraguan Queen mengenai anak buahnya.


Kalaupun para anak buah Darren melihat, mereka semua akan berpura-pura buta karena mereka semua masih sayang akan nyawanya.


"besok sa-"


Belum sampai berucap. Darren lebih dulu menarik tengkuk Queen. Menabrakkan bibirnya kebibir Queen. Melum-at bibir manis yang sekarang menjadi candunya itu dengan penuh kelembutan. Queen memejamkan matanya, ia menerimanya karena Queen merasa Darren menciumnya tanpa didasari oleh naf-su belaka. Darren menciumnya dengan lembut dan berperasaan. Tidak menuntut akan hal lainnya setelah ini.

__ADS_1


Setelah puas bermain-main. Darren melepaskan pagutan tersebut. Mengusap pelan bibir yang basah dan kenyal yang baru saja ia cium itu. Tangannya beralih pada rambut Queen yang menjuntai kedepan. Menyelipkan anak rambut tersebut kebelakang telinga "berhati-hati lah saat berkendara"


Queen tersenyum dan mengangguk.


Setelah keluar dari dalam mobil. Darren mengusap bibirnya sendiri sembari tersenyum. Ia memperhatikan mobil Queen yang semakin menjauh.


"maaf tuan"


Darren seketika merubah raut wajahnya saat seseorang memanggilnya. Ia membalik tubuhnya dan menatap tajam seorang pria yang berdiri dihadapannya sekarang.


Pria itu menunduk takut saat tatapan mata dingin Darren terasa begitu menakutkan. Ia bahkan sekarang sedikit gemetaran karena Darren menatapnya dengan begitu menusuk. "tu-tuan besar memanggi anda. Ada yang akan beliau bicarakan mengenai Black Hold"


Darren berjalan meninggalkan pria yang masih menunduk setelah berucap. Dia akan segera menemui kakeknya sekarang.


"huuhhh" pria yang tadi menghadap Darren menghela nafasnya panjang. Berada didepan tuannya itu sungguh membuat jantungnya terasa hampir meledak. Dia benar-benar takut sekali. Apalagi tatapan mata tuan Darren menurutnya seperti bisa membuatnya mati berdiri jika berlama-lama menatapnya. "tuan memang sangat mengintimidasi. Aku sampai gemetaran sampai sekarang" batinnya sembari mengangkat kedua tangannya.


**


.


.


Sebenarnya mom Valey hanya ingin memberikan tanggung jawab pertama kali pada Queen. Dan Queen menerimanya dengan senang hati. Meski ia sudah bekerja diperusahaan raksasa, Queen masih mengelolanya sampai sekarang. Bahkan sekarang butik ini sudah membuka cabang diberbagai kota besar dinegara ini.


Empat tahun terakhir setelah ia memegang butik tersebut, Queen sudah bisa mengembangkan butik itu dengan begitu pesat. Hal itu membuat kedua orang tuanya merasa bangga tentunya.


Tadi salah satu managernya memberitahu dirinya jika ada dua orang wanita yang berkelahi didalam butik dan membuat kekacauan. Mereka berdua saat ini berada di ruangan keamanan butik untuk menyelesaikan masalah.


Kenapa manager menghubunginya? karena mereka berdua bersikeras untuk saling lapor kepolisi, takutnya nantinya akan berimbas pada butik. Jadi manager memilih untuk segera menghubungi Queen untuk menyelesaikan masalahnya.


Sesampainya didepan butik. Queen segera masuk kedalam butik kemudian berjalan menuju keruang keamanan.


Saat membuka pintu, gadis itu sedikit terkesiap melihat wanita paruh baya yang ia kenali tengah duduk dengan raut wajah memberengut. "aunty"


Wanita paruh baya itu terkesiap saat Queen memanggilnya. Ya wanita itu adalah mom Emily. Mom dari calon suaminya. Calon mertuanya kelak.

__ADS_1


"Queen?" ucap mom Emily tak kalah terkejut.


Queen dapat melihat wajah cantik wanita paruh baya itu mendapatkan luka cakar dibeberapa titik. Lalu rambutnya juga berantakan.


Queen menoleh kearah wanita paruh baya yang lainnya. Kondisinya juga tak kalah berantakan dengan mom Emily.


"kenapa kau menatapku begitu hah?! hey manager bodoh! mana bos mu?! kenapa lama sekali sih! aku adalah member tetap disini. Aku mau wanita itu mempertanggung jawabkan semuanya! aku sudah lelah berada disini dari tadi" keluh wanita itu dengan begitu arogant. Kalau saja tasnya tidak disita oleh penjaga butik ia sudah menelfon pengacaranya untuk menjebloskan wanita yang berebut baju dengannya itu kepenjara.


Queen menghela nafasnya kasar mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Dia menjentikkan jarinya pada wanita yang tadi berdiri tak jauh dari kedua wanita tersebut. "jelaskan identitas nya!"


"baik nona"


"kau yang merebut baju yang sudah aku pilih tadi. Kau memang tidak memiliki adab dan etika ya. Aku rasa kau ini berasal dari kolong jembatan!"


Queen yang sedang berbicara dengan managernya menoleh kearah mom Emily saat wanita paruh baya itu membalas ucapan lawannya itu. Dia menarik sudut bibirnya mendengar ucapan mom Emily tak kalah pedas dari wanita itu. Queen menyukai gaya mom Emily yang berani dan tidak lemah. Jika didengar dari ucapan mom Emily, wanita paruh baya itu tidak bersalah. Karena ia hanya mempertahankan miliknya.


"kolong jembatan?! cih..awas kau nanti setelah suamiku datang aku akan memenjarakanmu! kau dengar ya! tidak ada satu barang pun yang tidak bisa kudapatkan! jadi karena kau mau berebut denganku, akan kubuat kau menyesal!""


"disini kalau ada yang mau dipenjara itu adalah kau! kau simulut cabai memang pantas membusuk dibalik jeruji besi"


"sialan! kau mau kepukul hah?!" wanita itu berdiri dari duduknya bersiap untuk menyerang mom Emily.


Queen yang melihat mom Emily hendak diserang, ia segera berlari mendekat. Queen menarik tangan wanita itu. Kemudian mengapit leher wanita paruh baya itu diantara lengan dan ketiaknya.


"hey kau bocah busuk! lepaskan aku! kau tidak diajari oleh orang tuamu untuk menghormati orang tua hah?!" pekik wanita itu sembari meronta.


plak


Dengan santai Queen menepuk mulut wanita paruh baya itu. Hal itu membuat mom Emily terkejut.


"kau! kau beraninya memukulku! tunggu sampai suamiku datang menjemput. Dia akan memberikanmu perlajaran yang setimpal"


"memang aku melakukan apa nek? aku hanya memukul lalat yang hampir masuk kedalam mulutmu ini. Tahu saja ada mulut sampah disini" ucap Queen dengan santai. Kalau soal menghina dan melawan dengan kata-kata Queen jagonya. Jadi dia tidak akan kalah jika diajak berdebat.


Mata mom Emily membola mendengar ucapan Queen barusan. Sangat tidak sopan tapi entah kenapa Mom Emily tidak merasa hal itu perbuatan yang keterlaluan. Karena ia merasa jika gadis ini tengah membela dan membantunya.

__ADS_1


__ADS_2