
"jadi ini tempatnya?" tanya Darren dengan menatap jengah Queen karena sebenarnya ia dibawa menuju ke rumah sakit.
Tadinya ia kira, Queen akan mengajaknya kencan. Padahal ia sudah melewatkan pekerjaannya hanya untuk pergi bersama dengan Queen pagi ini.
Darren bisa menebak jika gadis ini pasti akan mempertemukannya dengan pemuda yang semalam ia pukuli sampai tak sadarkan diri.
"ya.. ayo keluar"
Darren menahan tangan Queen saat gadis ini hendak keluar dari dalam mobil.
"kenapa?"
Queen menyernyit mendengar pertanyaan Darren, lalu ia menghela nafasnya dengan panjang "kamu tahu kan aku membawamu kemari untuk melakukan apa?"
Darren angkat bahu "mana aku tahu" ucapnya terdengar acuh tak acuh.
Queen kembali menghela nafasnya panjang "sayang~" panggil Queen saat Darren melengos.
Darren kembali menatap Queen "jangan menggodaku!"
Queen tersenyum dan memukul lengan Darren dengan pelan "sayang. Aku hanya mengajakmu kemari untuk menemui Bara. Tolong berdamailah dengan dia. Kami tidak memiliki hubungan apapun sayang, jadi minta maaflah padanya karena semalam kamu telah memukulinya sampai hampir membuatnya mati"
"kalau aku tidak mau?"
"minta maaf tidak akan membuatmu rendah sayang, justru itu akan membuatmu terlihat keren karena kamu mau mengakui kesalahan"
"tapi aku memang tidak bersalah! dia menatapmu dengan pandangan yang mendamba! apa aku harus menahan diri saat melihat kekasihku ditatap oleh pria lain dengan tatapan seperti itu?"
Queen menunduk, sekarang ia jadi merasa bersalah "apa aku yang salah?" tanyanya dengan suara yang lemah dan sedikit parau.
Sebenarnya ia hanya ingin melihat Darren berdamai dengan pemuda yang memang tidak ada artinya untuknya. Queen hanya menganggap Bara sebagai temannya saja. Tidak lebih dari itu.
Darren yang tadi berapi-api kembali padam saat melihat Queen yang tampak sedih "ayo"
Queen mendongak "kemana?"
"melihat kondisi pemuda itu! tapi sayang, aku tidak berjanji untuk meminta maaf padanya!" ucapnya dengan penuh tekanan. Darren tentu saja tidak akan Sudi untuk melakukan hal itu, kalaupun ia mau menemui Bara itu semata hanya untuk melihat bagaimana hasil karyanya semalam.
Apa wajahnya masih bisa dikenali lagi atau tidak.
Queen mengangguk dan segera keluar dari dalam mobil, dia menggenggam tangan Darren karena tadi ia dapat melihat kilat amarah dimatanya.
Setelah menanyakan pada resepsionis. Darren dan Queen pergi menuju lift karena Bara berada dilantai tiga. Sesampainya dilantai tiga, Queen dan Darren mencari ruangan yang dihuni oleh Bara.
Setelah ketemu, mereka berdua berdiri didepan pintu. Queen melirik sekilas wajah Darren hanya untuk memastikan ekspresi wajahnya saja. Tapi seperti biasa, tak ada ekspresi lain selain datar dan dingin.
__ADS_1
Queen tidak bisa mengira apa yang dipikirkan oleh Darren, tapi ia harap prianya ini tak lagi menganiaya Bara nantinya.
tok tok tok
Queen mengetuk pintu, saat mendengar sahutan dari dalam Queen membuka pintu perlahan. Bara ternyata berada didalam ruangan VIP saat dilihat dari desain dan luasnya ruangan ini.
"Karren" pekik Bara dengan semangat saat melihat Queen yang datang mengunjunginya. Tapi saat melihat siapa yang ada dibelakang Queen membuat tatapan mata Bara berubah menjadi tajam.
"siapa dia sayang? apa kekasihmu?" tanya seorang wanita paruh baya, sepertinya itu adalah mom nya Bara.
"bukan! dia kekasihku!" Darren segera menjawab dengan cepat sembari merangkul bahu Queen.
Queen menoleh dan menatap tajam Darren, tapi yang ditatap hanya acuh. Bahkan ia tidak membalas tatapan mata Queen saat ini.
"oh bukan ya? mom kira kekasihmu Bar.."
"bukan tante, kami temannya"
"oh teman Bara, kalau begitu bisakan kamu menjaganya sebentar nak? Tante mau membeli sesuatu diminimarket depan"
"tentu.." ucap Queen sembari tersenyum ramah.
Selepas kepergian mom Bara, ruangan ini sunyi karena tak ada obrolan sama sekali .
"apa kau tidak berniat menawari kami minuman?" tanya Queen agar suasananya sedikit mencair.
Queen merasa sangat bersalah saat melihat wajah Bara yang biasanya tampan berubah menjadi sangat mengerikan. Wajahnya bengkak dan dibeberapa sudut membiru. Seperti dikedua mata dan kedua sudut bibir Bara. Keadaannya sungguh memprihatinkan.
"oh maaf.. kalian bisa ambil diatas meja. Maaf aku tidak bisa melayani kalian karena lukaku sangat parah" ucap Bara sembari melirik Darren yang sedari tadi diam berdiri dibelakang Queen yang saat ini tengah duduk disisi tempat tidur.
Tatapan mata pria itu masih sama, sangat menakutkan. Jika dilihat dari caranya menatap dirinya, dia sama sekali tidak merasa bersalah telah membuatnya terbaring dirumah sakit.
"maaf"
"kenapa kamu minta maaf Karren? kamu tidak bersalah disini"ucap Bara dengan lembut.
Hal itu membuat Darren mengepalkan tangannya. Merasa geram dan marah.
"itu salah--"
"salah dia sendiri!" potong Darren. Ucapannya membuat Queen mendongak keatas agar ia dapat melihat wajah Darren.
Bara menatap sinis Darren saat mendengar ucapan pria ini.
"walau ini salahmu aku akan membayar semua tagihan rumah sakit! jadi sayang, ayo kita pergi" ucap Darren sembari menarik tangan Queen agar segera pergi. Bisa gawat kalau kesabarannya habis nanti.
__ADS_1
"Tapi kita disuruh untuk menjaganya sebentar sayang"
"dia bukan anak kecil!"
Darren menarik tangan Queen untuk keluar dari dalam ruangan ini.
Queen menoleh dan menatap tidak enak pada Bara.
"kalau saja aku memiliki uang cash.. aku akan melemparkannya ke wajahnya yang menyebalkan itu!" batin Darren yang masih merasa jengkel. Dia terus menarik tangan Queen.
Queen juga hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan Darren, dari pada ia yang nantinya kesakitan.
"apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanya seseorang. Hal itu membuat Darren menghentikan langkahnya, dia sedikit terkesiap melihat siapa yang saat ini tengah berjalan mendekati mereka berdua.
"mom" ucap Queen saat orang yang tadi bertanya pada mereka adalah mom Valey.
"apa yang kalian lakukan disini?" tanya mom Valey lagi karena mereka berdua belum menjawab pertanyaannya.
"kita hanya mengunjungi teman" ucap Queen dengan wajah yang ceria seperti biasanya.
Valey menoleh kearah pintu dimana tadi Queen dan Darren keluar "kalian teman Bara?"
Queen mengangguk ragu.
"jangan bilang jika kau yang memukulinya!" tuduh mom Valey, dia menatap tajam puterinya lalu menarik telinga Queen. "apa yang kau lakukan padanya Queen? kau membuat wajah seorang pemuda sampai mengerikan seperti itu"
"Aw aw aw.. sakit mom, bukan aku" pekik Queen sembari menahan tangan mommy nya.
"jangan mengelak lagi, sudah beberapa kali kau menghajar pemuda sampai babak belur seperti itu!"
"jangan aunty, itu ulahku bukan Queen" ucap Darren yang tampak panik saat melihat Queen kesakitan, mau ia banting tapi wanita paruh baya ini adalah calon mertuanya. Jadi satu-satunya cara ia hanya bisa memohon.
"ternyata kau yang melakukannya?"
"aw aw aw" pekik Darren karena sekarang iapun dijewer oleh mom Valey.
"hahahaha.. sakit kan sayang? itulah yang kurasakan setiap kali aku nakal" ucap Queen sembari tertawa saat melihat Darren yang kesakitan.
"kalian berdua diam! ikut mom kelantai lima sekarang!" ucap mom Valey dengan tegas, dia melepaskan kedua telinga anak dan calon menantunya itu. Lalu ia berjalan dengan anggun menuju lift.
"mom mu sangat mengerikan" bisik Darren, didekat telinga Queen.
"Bahkan daddy saja takut sekali jika mom marah. Jadi kita harus berhati-hati dalam bicara nanti" bisiknya lalu ia menarik tangan Darren agar momnya tidak kembali murka.
**
__ADS_1