
"tuan.. titik keberadaan nona sudah berhenti" ucap Jonathan yang sejak tadi memperhatikan gps yang terpasang dicincin milik Queen melalui iPad yang ia pegang. Dia memperlihatkan layar iPad dihadapan Darren.
Darren yang tengah duduk disofa menoleh, mereka tengah berada didalam sebuah pesawat pribadi setelah tadi dijemput dipulau terpencil dimana Queen berada.
Pria tampan itu sejak tadi hanya diam dengan tatapan mata lurus kedepan. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Darren, karena diwajahnya tak menampakkan sebuah emosi apapun. Yang ada hanya wajah datar dan dingin, bahkan sekarang sepertinya wajahnya bertambah dingin saja setelah tadi Louis berhasil kabur.
Tangan Darren meraih iPad yang ada ditangan Jonathan. Memperhatikan dengan wajah serius dimana letak keberadaan Queen saat ini. Alisnya beberapa kali menyernyit saat mengetahui dimana tempat tersebut.
"sepertinya itu adalah sarang para bandit" ucap Jonathan yang menyadari tempat tersebut adalah sarang atau markas para bandit dan penjahat berkumpul. Bahkan ada beberapa mafia yang selalu memakai jasa mereka. Dan sepertinya Louis dan Tristan tak sesederhana itu.
Matanya semakin menajam dan seringai kecil muncul dibibir Darren. Pria itu menoleh kearah Jonathan membuat asistennya itu terkesiap karena mendapati wajah menakutkan Darren.
Atasan Jonathan itu seperti seorang psikopat saat menatapnya. "astaga.. hampir saja jantungku rontok!" pekik Jonathan dalam hati. Dia juga mengusap tengkuknya yang terasa merinding melihat tatapan Darren saat ini.
Jonathan memilih untuk mengalihkan pandangannya kesamping, rasanya jantungnya terasa lemah saat berhadapan dengan Darren yang seperti ini, dia merasa terintimidasi oleh sorot mata tajam Darren.
Darren mengusap rahangnya pelan, dia kembali menyeringai "Baji-ngan ini telah mempersiapkan segalanya setelah memutuskan untuk berkhianat. Telefon Kristoffer untuk menyiapkan anak buah untuk mengepung tempat ini"
Jonathan mengangguk mendengar suara rendah Darren. "baik tuan" setelah berucap seperti itu Jonathan langsung menghubungi tangan kanan tuan Darren, dia akan segera memberitahukan segala yang telah ia ketahui.
Sedangkan Darren kembali seperti sebelumnya. Diam dan menatap keluar jendela.
**
Darren memilih untuk menggunakan mobil untuk menuju ketempat dimana kekasihnya disandera. Perjalanannya kemungkinan memakan waktu dua jam karena markas yang digunakan oleh para bandit itu ternyata adalah tempat yang cukup terpencil.
Disebuah desa kecil yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Mereka membaur dengan masyarakat disana agar tak ketahuan.
__ADS_1
Selama perjalanan Darren hanya diam sembari mengusap-usap pistol miliknya.
Tak satu katapun keluar dari mulutnya padahal disana ada Gerrell dan Edgar yang terus berbincang. Mereka berdua bahkan tidak sungkan untuk tertawa terbahak saat apa yang mereka ucapkan terasa mengocok perut.
Jonathan bahkan sampai geleng kepala mendengar kegaduhan yang ada dikursi paling belakang. Mereka sungguh keterlaluan
, namun untuk menegur merekapun ia tak memiliki hak. Karena tuannya hanya diam, dia juga pada akhirnya memilih untuk diam.
Gerrell dan Edgar semakin asik bergurau. Setelah dua hari berkenalan, mereka terlihat semakin dekat karena karakter keduanya yang mirip sehingga mereka menjadi satu frekuensi. Yang satu terus melempar candaan dan yang satunya juga tak mau kalah.
Mereka berdua memang tidak tahu situasi sama sekali.
Bukankah seharusnya mereka tegang saat ini? karena mungkin mereka bisa saja kehilangan nyawa karena tempat yang akan mereka sergap adalah sarangnya para penjahat. Begitulah arti dari tatapan mata Jonathan yang sesekali menolehkan kepalanya kebelakang.
Darren menoleh saat bahunya dicolek dari belakang. Dia tertegun sebentar saat menatap iris mata yang sama persis dengan milik kekasihnya "apa?" tanyanya dengan suara rendah.
"kau tegang sekali tuan? makanlah cokelat ini" ujar Gerrell sembari mengulurkan tangan yang berisi satu bungkus cokelat.
"ini bisa merilekskan dirimu loh.. aku juga makan tadi. Entah dapat dari mana bocah ini" ucap Edgar yang ikut menimbrung.
"aku memang selalu membawa disaku. aku suka makanan manis" ucap Gerrell dengan suara santai.
Darren menghela nafasnya lalu mengambil cokelat tersebut. Dia memperhatikan makanan manis tersebut tanpa membukanya.
"coklat dapat menstimulasi produksi endorfin loh.. senyawa di otak yang dapat membuat seseorang merasa bahagia. Selain itu, coklat juga mengandung serotonin, kandungan antidepresan alami yang dapat meningkatkan mood" ujar Gerrell menjelaskan pengetahuannya tentang makanan manis tersebut.
"buat apa bahagia disitusai saat ini?" tanya Darren sembari menoleh kearah Gerrell.
__ADS_1
"Paling tidak kau bisa meningkatkan moodmu. Moodmu buruk sekali setelah kehilangan kekasih" gerutu Gerrell yang langsung diiyakan oleh Edgar.
"kenapa kau tak khawatir? Kekasihku adalah kakakmu loh. Kau bahkan masih bisa tertawa seperti orang bodoh" ucap Darren sarkasme. Dia menatap mata Gerrell lurus-lurus.
Gerrell memutar bola matanya jengah "aku mengkhawatirkan kakakku sudah pasti. Apa tidak terlihat dari wajahku?" ujarnya sembari menunjuk wajah tampan nya.
"tidak" jawab Darren dengan jelas dan tegas. Dia memang tidak melihat kekhawatiran sedikitpun diwajah itu.
"hahaha.. kau benar tuan"
plak
Gerrell menepuk bahu Darren sedikit keras sembari tertawa.
Namun saat melihat aura membunuh dari Darren , Gerrell segera menarik tangannya kembali saat Darren menatapnya semakin dingin. "ck. aku mengkhawatirkan kakakku kok. Tapi hanya sedikit"
"Why?"
"Karena aku lebih mengkhawatirkan musuhmu.. Aku yakin sekali, musuhmu saat ini sedang kerepotan" ucapnya sembari tersenyum penuh arti.
Darren menyernyitkan kening, melihat reaksi
itu Gerrell kembali tertawa "sudahlah tuan.. jangan dipikirkan. Kakakku tidak selemah kelihatannya. Kau tahu itu kan?"
Darren menghela nafasnya panjang lalu kemudian kembali memutar tubuhnya. Darren kembali menatap kedepan. Benar apa yang Gerrell ucapkan. Queen memang bukan gadis yang lemah, bahkan ia sendiri melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana gadis itu melawan musuhnya. Dia akan bisa melindungi dirinya sendiri.
Darren menatap keluar jendela mobil. Pohon-pohon lebat mulai terlihat karena mereka sudah keluar dari area perkotaan. Rasanya udaranya juga berubah menjadi lebih sejuk. Darren membuka jendela mobilnya kemudian menghirup udara dengan panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Dia membuka bungkus cokelat pemberian Gerrell dan kemudian memakan isinya.
__ADS_1
Memakan makanan manis disitusai seperti sekarang tidak buruk juga. Moodnya kembali tertata dan pikiran rasionalnya yang tadi tertutup kekhawatiran hilang secara perlahan.
"aku berharap kamu baik-baik saja" satu doa dan keinginan Darren terucap dihati yang sejak tadi gusar.