QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
plak


__ADS_3

Jane menunggu tante Emily dengan gelisan, kalau sampai wanita paruh baya itu sampai dan ternyata Queen dan pria itu sudah pergi bagaimana?"


Selang beberapa saat, mobil milik Emily akhirnya sampai dan menepi, parkir dibelakang mobil milik Jane.


"tante" pekik Jane, dia segera mendekati mom dari pria yang sedang dia incar.


Cium pipi kanan dan kiri sebagai salam pertemuan.


"apa yang membuatmu meminta tante datang Jane?"


Jane menoleh kesebrang jalan, dimana Queen sedang duduk menempel ketubuh seorang pria "lihatlah tante.. itu Karren kan?" ucapnya sembari menujuk "aku tidak sengaja melihatnya tadi"


Tante Emily menoleh kearah tangan Jane, dia menyernyit untuk menajamkan penglihatannya "mana Jane? tante tidak melihatnya"


"oh ya ampun, aku lupa jika tante Emily rabun jauh, ck.. merepotkan sekali"


"kacamata tante mana?" tanya Jane sok manis.


Tante Emily merogoh tas yang dia bawa, lalu saat benda yang dia inginkan ketemu, dia memakai kacamata tersebut "ya ampun, itu kan Queensha Karren Bramantyo!" ucapnya sedikit memekik dan secara tidak sadar memanggil nama lengkap Queen.


"siapa yang dia bilang tadi? kok namanya seperti tidak asing?" batin Jane, tapi setelah itu dia angkat bahu acuh.


"tante lihat kan? dia memang gadis yang tidak baik, bukannya dia kekasih Darren? eh- malah main belakang begini" ucap Jane, dia sengaja mengompori wanita paruh baya ini.


"yang benar saja! ternyata Karren gadis seperti ini" wanita paruh baya itu mulai terprovokasi.


"tante harus menjauhkan Darren dari gadis licik seperti dia tan"


Tante Emily menoleh, dia terprovokasi tapi masih bisa menimbang apa yang akan dia lakukan.


Dengan langkah pasti tante Emily hendak menyebrang jalan.


"tante mau kemana?"


"melihat Karren dan menanyakan siapa pria itu!" ucapnya dengan tegas.


"kalau begitu mari, aku juga akan ikut melabraknya" ucap Jane menggebu, Karena dia yakin sekali jika pria yang duduk bersama Karren adalah kekasihnya, melihat bagaimana mesranya mereka berdua tadi.


Lalu kedua wanita beda usia itu menyebrang jalan dan menghampiri Queen dan pria itu.


Suara gelak tawa sudah terdengar saat tante Emily mendekati Queen "apa benar anakku dipermainkan?" batinnya mulai pias. Walau bagaimana pun dia tetap akan tetap mendukung apapun keinginan puteranya. Tapi jika pilihan puteranya salah tentu saja mom Emily akan bertindak tegas.

__ADS_1


"wah wah wah.. siapa ini?" tanya Jane santai tapi sedikit ketus, dia menatap Queen dan pria yang ada disisinya dengan pandangan mencemooh.


Queen terkesiap saat melihat siapa yang datang "aunty" sapa Queen sopan.


"sedang apa kau disini?" tanya mom Emily, dia menatap sinis Queen dan pria yang masih asik duduk dengan santai itu.


"hanya jalan-jalan saja"


"apa Darren tahu kau pergi jalan-jalan?"


Queen menggeleng, bahkan seharian ini tidak ada kabar dari pria itu.


"tidak? benarkah itu adalah kekasih Karren yang lain?"


"kau bersenang-senang kan Karren?" tanya Jane, dia sesekali melirik pria yang tak lain adalah Gerrell itu dengan lirikan sinis.


Queen mengikuti arah pandang aunty Emily dan Jane "oh mereka salah paham rupanya" batin Queen yang sudah bisa menebak apa yang terjadi, pantas saja pandangan mata aunty Emily menjadi dingin lagi padanya.


"tentu saja aku bersenang-senang. apalagi aku pergi bersama orang yang sangat aku sayangi" jawab Queen.


"nah benar kan tante, Karren ini gadis yang tidak baik, bagaimana bisa dia memiliki dua pria sekaligus?" ucap Jane pada tante Emily.


"dua? hahaha kau bercanda nona Jane? aku bahkan masih memiliki dua pria lagi" ucap Queen santai.


"kenapa dia tenang sekali? apa yang terjadi sebenarnya?!" batin mom Emily saat melihat ketenangan Queen saat berucap, dia jadi ragu.


"kau memang jala**!! kau memiliki banyak pria dan masih mengincar Darren? kau memang wanita murahan!!"


braak


Jane dan mom Emily terkejut saat mendengar gebrakan dari pria yang tadi bersama dengan Queen.


"kenapa? kau tidak terima kekasihmu aku hina? kau harus membuka mata lebar-lebar jika wanita yang kau kencani ini adalah seorang pela*r!"


Gerrell yang sedari tadi diam dan menunduk segera mendongak, dia menatap tajam wanita yang dengan berani menghina kakaknya.


Gerrell berdiri dan mendekati Jane dengan aura membunuh yang sangat kuat. Taukah kalian jika seorang yang periang dan konyol akan sangat mengerikan jika sudah marah?


plak


Satu tamparan Gerrell layangkan pada pipi mulus Jane. Tidak peduli jika itu adalah seorang wanita. Yang terpenting adalah dia akan membereskan siapa saja yang menghina kakak yang paling dia sayangi.

__ADS_1


"ahhkk--apa yang kau lakukan?" pekik Jane, dia mengusap pipinya yang terasa panas. "aku memberitahumu dan mengingatkan bahwa wanita ini tidak baik untukmu! wanita yang sangat menjijikan!"


plak


"aahhkk" pekik Jane, dia jatuh tersungkur saat Gerrell menampar pipi Jane untuk yang kedua kalianya. Bahkan sekarang sudut bibir Jane berdarah.


"sialan sekali kau! aku hanya mengingatkanmu, kau malah memukul wanita! kau memang ba*ci"


Mom Emily melihat bagaimana Jane memaki dan menghina kedua orang yang ada didepannya. Bukankah yang dia tahu Jane itu adalah wanita lembut dan elegant? bagaimana bisa dia sebar-bar ini saat menghina Queen dan pemuda yang belum dia ketahui itu.


Gerrell yang semakin marah mencoba mendekati Jane.


"cukup Rel" cegah Queen, dia mencekal lengan Gerrell "kuasai dirimu Rel.. kakak tidak mau kau lepas kendali, setidaknya jangan disini" bisiknya kemudian.


"hey apa yang kalian ucapkan?! lihatlah tante mereka pasangan yang sangat arogan, tante jangan sampai mau menerimanya menjadi menantu! dia seorang playgirl" adu Jane pada tante Emily yang sedari tadi diam saja. Tidak ada reaksi yang berarti dari wanita paruh baya itu. Entah apa yang dia pikirkan.


"kau masih berani memakinya?!" pekik Gerrell kembali terpancing emosinya. Belum pernah ada yang menghina Queen sehingga dia sangat marah.


puk puk


Queen menepuk punggung Gerrell agar adiknya itu bersabar, dia juga tidak mau kalau sampai membangunkan mode iblis pada adiknya itu.


"tentu saja aku berani, kau bocah kurang ajar! akan kulaporkan kau pada pihak yang berwajib karena telah memukul seorang wanita lemah!"


"lemah kau bilang? bukankah mulutmu itu sedari tadi sangat gagah dan berani memakinya? mulutmu itu bau sampah!" ucap Gerrell sembari menatap sendu Queen lalu saat beralih menatap Jane dia kembali menajamkan tatapannya.


pffft


Disituasi seperti ini Queen malah hampir saja keceplosan tertawa. Untung saja dia segera melipat mulutnya kedalam.


"kau yang sampah, brengsek!!" umpat Jane tidak terima.


Mom Emily menghela nafasnya panjang, semakin lama Jane semakin menunjukan sifat aslinya.


"nona Jane, sebaiknya kau pergi sekarang atau dia semakin marah padamu dan aku tidak akan bisa menahannya lagi" ucap Queen pada akhirnya, dia sudah merasa puas saat melihat wajah Jane yang membengkak akibat pukulan keras dari Gerrell barusan.


"kau saja yang pergi, bawa pria sampahmu itu!"


"aku sudah tidak tahan lagi, cepatlah pergi nona Jane" ucap Queen, sebenarnya dia sedikit malu karena menjadi pusat perhatian orang-orang.


Jane merasa ciut, dia melihat tatapan mata pemuda itu masih sangat menyeramkan. Seperti bernafsu sekali ingin menghabisinya. Tentu Jane merasa takut.

__ADS_1


Queen yang merasa lelah melepaskan cekalan tangannya pada Gerrell.


"kyaaaa..." pekik Jane, dia lari terbirit-birit. Bahkan dia juga meninggalkan mom Emily. Jane sungguh-sungguh takut pada Gerrell.


__ADS_2