
Alaia sakit dan Nanda dibuat sangat panik. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, sedangkan di rumah hanya ada dia bersama anak-anaknya saja.
Sedari tadi dia berusaha menghubungi Kenan, tetapi panggilannya sama sekali tidak diangkat oleh lelaki itu.
Nanda nyaris menangis ketika Alaia terus menangis dengan suhu tubuh yang tinggi, sedangkan Arthur ikut-ikutan rewel.
Jika ditanya mengapa dia tidak memanggil taksi saja, jujur Nanda trauma naik kendaraan umum. Dia pernah memiliki pengalaman buruk tentang hal itu yang membuatnya takut. Jadi, Nanda memilih untuk merawat Alaia sebisanya dan terus berusaha menelepon Kenan.
Lagipula di mana sih lelaki itu berada? Nanda pikir dengan keluh kesahnya kemarin, Kenan akan merenungkan kesalahannya dan tidak keluyuran lagi.
"Cepet sembuh ya, Aia." Nanda terus menggumamkan kata itu sembari mengelus kompresan di dahi anaknya. Lalu saat suara rengekan Arthur terdengar, Nanda memejamkan mata dan berusaha menguatkan dirinya sendiri.
"Arthur, sayang, tidur ya? Udah malam banget loh ini."
"Arthur gak mau bobo! Arthur pengen Papa! Arthur pengen Papa, Ma!"
Nanda sudah sangat pasrah sekarang. Dia dengan tidak enak hati, menghubungi ibu mertuanya. Mama Kania.
Deringan pertama tidak dijawab, begitupun dengan deringan kedua. Mungkin saja mertuanya sudah tidur, tetapi ini sudah sangat urgent. Nanda sudah tidak sanggup lagi.
Panggilan ke sepuluh, akhirnya terdengar suara dari seberang sana.
"Halo, Nan. Kenapa?"
Nanda berkaca-kaca. "Ma, maaf ganggu waktu istirahatnya ... tapi Nanda udah bingung banget, Ma."
__ADS_1
"Ada apa sayang?" Nada suara Mama Kania mulai terdengar panik.
Nanda menahan untuk tidak menangis saat ini. Dia tidak mau orang lain tahu bahwa kini dirinya sedang hancur dan berada di titik terendah. Apalagi ini mertuanya, Nanda tidak mau tambah membebani dia.
"Alaia sakit, badannya panas banget. Arthur rewel juga, Ma. Dia gak mau tidur. Nanda mau bawa Alaia ke Dokter, tapi Nanda takut buat pesan taksi. Apalagi ini udah malam banget, Ma."
"Astaga! Alaia sakit? Ya ampun, Mama pergi ke sana sekarang sama Papa ya? Kita ke Rumah Sakit aja."
Nanda menghela napas lega. "Makasih banyak ya, Ma. Maaf banget Nanda merepotkan malam-malam begini."
"Justru bagus kamu ngasih tau Mama, Nan. Gak kebayang kalau kamu gak hubungi Mama." Mama berhenti berbicara. "Eh, Kenan ke mana ya? Mama baru sadar, loh. Kalau ada dia, kamu gak akan bingung buat pergi ke Dokter."
Mata Nanda menatap wajah Alaia yang terlihat sangat tak nyaman. Tanpa sadar tetesan air mata mulai membasahi pipinya, tapi perempuan itu tidak terisak. Dia menangis dalam diam, dan itu sangat menyakitkan.
"Kenan ... dia lagi ke luar kota, Ma. Kemarin sih perginya."
Nanda menggigit bibir bawahnya, dia menatap ke langit-langit kamar. Berusaha mencari kekuatan di sana sebelum menjawab Mama Kania. "Gak tau juga deh, Ma. Mungkin resiko kerjaan."
"Sok sibuk Kenan tuh, wong kerjaannya kantoran yang jarang keluar kota gitu."
Nanda berusaha terkekeh meski hatinya terasa makin teriris sekarang.
"Ini Mama sama Papa lagi otw ke sana."
Itu lah ucapan terakhir sebelum mertuanya menutup telepon dan Nanda menyiapkan segala sesuatu untuk mereka pergi ke Rumah Sakit. Dia juga mengganti bajunya sendiri juga baju anak-anak dengan pakaian yang tebal karena cuaca di luar pasti sangat dingin.
__ADS_1
Nanda juga cuci muka dan memakai bedak untuk menyamarkan mata sembabnya.
Untung saja ada mertuanya.
...••••...
"Jadi Queen udah balik ke Jakarta?"
Kenan menyesap sampanye-nya sembari melirik Verrel yang baru saja bertanya. Saat ini mereka sedang ada di salah satu club ternama, dan yang kumpul adalah teman-teman Kenan sejak SMA.
Setelah bermain PS di tempat Tegar, Verrel mengajak mereka ke sini dengan dalih bahwa mereka perlu hiburan.
Kenan sih mau-mau saja, daripada dia pulang ke rumah lalu berujung mumet karena Nanda selalu mengeluh.
"Iya, dia balik." Ada senyum di bibirnya saat Kenan menjawab pertanyaan Verrel.
"Wah, bau-bau CLBK nya kuat banget anjir!" seru Tegar yang membuat mereka semua tertawa, kecuali Andra.
"Tapi pastinya lo sama Queen kan udah gak bisa bareng-bareng lagi. Secara lo udah punya kehidupan sendiri," kata Andra yang disetujui oleh dua curut yang tak lain adalah Tegar juga Verrel
Kenan menghela napas. Dia menatap satu persatu wajah teman-temannya.
"Kalau misal gue cerai sama Nanda, menurut lo pada gimana?"
Hening. Tidak ada yang menjawab karena mereka semua speechless. Ini permasalahan yang serius, menyangkut rumah tangga orang.
__ADS_1
"Wah, anjing sih kalau kata gue." Andra yang lebih dulu berkomentar, dia menyesap rokoknya sebelum menatap serius pada Kenan. "Bukannya apa-apa, gue tau gimana kisah lo sama Queen dari dulu. Dan gue emang dukung kalian, kan? Tapi keadaannya sekarang beda. Bukan cuma Nanda yang jadi tanggungjawab lo, Ken. Ya kalau cuma Nanda sih, mau lo cerai sekarang juga gue gak ngurusin. Tapi masalahnya lo udah punya anak. Kasian anak-anak lo yang masih kecil."
Lalu dengan kebegoannya, Verrel menyeletuk. "Tapi kan nanti anaknya bisa diurusin Queen."