
Kania terus tersenyum saat melihat Queen sudah terlihat baik-baik saja. Terhitung sudah dua minggu gadis itu menetap di kediaman Badesta, Kania dan Bagas tidak merasa keberatan. Kania senang Queen menetap di sini walaupun hanya sementara, dia merasa memiliki anak perempuan dengan begitu.
Dan dua minggu ini juga Queen belum kembali masuk ke sekolah seperti biasa, gadis itu masih merasakan kepedihan yang mendalam dengan kepergian Ibunya, tapi Queen berusaha terlihat baik-baik saja di mata semua orang.
"Tante! Liat nih Kenannya yang gak bisa diem,"adu Queen yang menghampiri Kania dengan wajah cemberutnya.
Kania mengerutkan keningnya, wanita itu menatap kearah belakang Queen yang ternyata ada Kenan. Kedua remaja itu terlihat acak-acakan dan ada beberapa daun yang menempel pada rambut Queen.
"Kok di rambut kamu ada daunnya, sayang?"tanya Kania sambil berdiri dan mengambil beberapa daun di rambut Queen.
"Ulah Kenan nih Tan,"jawab Queen sambil menarik bibir bawahnya.
"Aku cuma bercanda, Queen. Jangan cemberut gitu dong,"ujar Kenan sambil tersenyum geli.
"Mana ada bercanda yang sampai naro daun di rambut aku? Terus juga ngejar aku sampai jatuh ke rumput, gelitikin aku sampai rasanya aku mau pipis. Terus yang parahnya, kamu nyabut bunga melati yang deket pohon–"
"Apa!? Nyabut bunga melati?"tanya Kania terkejut.
Kenan menelan ludahnya, dia bersembunyi di belakang tubuh Queen. Kania terlihat terkejut, ya iyalah! Orang bunga kesayangannya di rusak oleh anaknya.
"Kenapa, Tan?"tanya Queen polos.
"Benar Kenan metik bunga melati milik Tante?"tanya Kania memastikan.
Queen mengangguk. "Bener, Tan! Dia banyak banget metik bunganya, eh udah bunganya di petik, Kenan malah masukin semua bunganya ke kolam berenang, katanya biar airnya wangi. Dia juga tadi berniat nyeburin Queen ke kolam."
Mata Kania sudah melotot, wanita itu berkacak pinggang sambil menatap anaknya yang bersembunyi di belakang tubuh pacarnya.
"Ngapain kamu berdiri di belakang Queen?"tanya Kania kesal.
Kenan gelagapan, dia sebenarnya ingin sekali melakban mulut Queen sekarang juga. Jika sudah berurusan dengan bunga kesayangan, Mamanya ini akan sangat marah dan susah di bujuk.
"I-ini em.. Ken lagi bersihin bagian belakang baju Queen yang kotor,"bohongnya sambil menepuk-nepuk bagian belakang baju Queen.
"Ken sakit, ih! Kamu nepuknya kekencengan,"omel Queen sambil berusaha menjauhi Kenan, tapi cowok itu malah merangkul lehernya dari belakang.
"Kamu bener ngerusak tanaman Bunda?"tanya Kania galak.
"Hah? Ngerusak? Ng-nggak kok! Queen ngarang nih Bun, orang Kenan gak ngerusak tanaman Bunda kok."
Mata Queen membulat, dia terkejut mendengar jawaban Kenan yang tentunya berbohong. Jelas-jelas mata Queen melihat bagaimana Kenan memetik bunga-bunga melati milik Kania yang sangat indah.
"Ken gak boleh boh–"
"Bunda, Kenan sama Queen ke atas ya! Kita mau nonton film!"
__ADS_1
Kania mengerjapkan matanya, dia menatap aneh anaknya yang sedang membawa Queen berlari ke arah lift. Untung saja kaki Queen sudah baik-baik saja.
"Dasar anak Bagas."
...||||...
Queen duduk di kursi yang berada di balkon kamar Kenan, matanya menatap hamparan rumput luas di bawah sana. Malam ini cuaca lumayan dingin, tapi gadis yang memakai sweater milik Kenan yang kebesaran di tubuhnya itu malah berdiam diri sambil menikmati cuaca dingin.
Queen merindukan Mamanya, gadis itu rindu suara Mamanya. Dia rindu segala hal tentang Yuna. Dia berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke pinggiran balkon, tangannya dia simpan di pembatas balkon. Kepalanya menengadah ke langit malam yang terlihat mendung, matanya memanas ketika mendengar suara-suara di masa lalunya.
"Mama, Queen itu artinya apa?"tanya Queen kecil sambil memandangi dirinya di cermin besar yang berada di kamar milik Yuna serta Papanya.
Yuna tersenyum hangat, tangan kanannya mengelus perut yang sudah membuncit. Ya, Yuna tengah hamil dan kini usia kandungannya menginjak 7 bulan.
"Queen itu artinya ratu, sayang!"jawab Yuna riang.
Queen yang masih berusia 8 tahun pun membinarkan matanya, dia berjalan ke arah Mamanya yang tengah duduk di kasur. Queen duduk di sisi Mamanya dengan senyum lebar yang tersungging di bibirnya.
"Berarti Queen itu ratu ya, Ma?"tanya Queen polos.
"Ya sayang, Queen itu ratunya Mama sama Papa."
Mata Queen semakin berbinar, dia bertepuk tangan senang.
"Makasih Mama! Makasih udah ngasih nama yang sangat indah buat Queen,"ujar Queen kecil sambil mengecup pipi Mamanya.
"Lagi pada apa nih kumpul-kumpul?"tanyanya sambil berjalan menghampiri sosok dua wanita yang sangat di cintainya.
Queen melompat ke pangkuan Papanya sambil berusaha mengambil boneka teddy bear tersebut, tapi Papanya malah menyerahkan bonekanya pada Yuna.
"Kok di kasih Mama sih, Pa?"tanya Queen heran.
"Emang kenapa? Orang Papa beli boneka itu buat Mama kok,"jawab Papanya sambil terkekeh geli.
Bibir Queen mengerucut, dia kira bonekanya untuk Queen.
"Queen gak di beliin, Pa?"tanya Queen pelan.
Yuna tertawa melihat ekspresi Queen yang sedang merayu Papanya. Wanita itu merasa gemas sendiri dengan tingkah anaknya. Sementara Papa Queen hanya menipiskan bibirnya, dia sebisa mungkin menahan tawa yang siap menyembur akibat melihat ekspresi Queen.
"Queen mau?"tanya Papanya.
"Mau dong, Pa!"
"Cium dulu,"suruh Papa Queen sambil menyodorkan pipi kanannya kedepan Queen.
__ADS_1
Dengan semangat Queen pun mencium pipi kanan Papanya, dia juga mencium pipi kiri Papanya dan kening Papanya. Jelas hal itu membuat Papa dan Mamanya bertambah gemas dengan Queen.
"Udah, sekarang beliin Queen boneka!"seru Queen sambil tersenyum lebar.
Papa Queen tersenyum, dia mengambil boneka tedy bear yang tadi di berikan ke Yuna. Dia menyodorkan bonekanya pada Queen yang terlihat bingung.
"Ambil sayang, dan ucapkan terimakasih sama Papa kamu,"suruh Yuna lembut. Tangannya mengusap rambut belakang Queen.
"Itu kan boneka punya Mama, kenapa di kasih ke Queen?"
Papa Queen tersenyum lebar, dia mengacak gemas puncak kepala Queen lalu mencium pipi anaknya dengan gemas.
"Itu punya kamu baby girl! Tapi Papa pura-pura ngasihnya ke Mama,"ucap Papanya gemas.
"Kenapa?"
"Supaya kamu cium Papa dulu,"jawab Papanya.
Kening Queen mengerut. Dia memeluk boneka tedy bearnya dengan erat.
"Queen bakal cium Papa meskipun Papa gak minta buat di cium sama Queen kok. Asal Papanya jangan sibuk kerja terus, dan jangan tinggalin Queen lagi ke luar kota."
Papa Queen menatap anaknya, lalu dia menatap Yuna yang tersenyum manis padanya. Pria tampan itu memeluk anak dan istrinya, dia mengecup kening Yuna lalu memeluk wanita itu erat.
"Jangan tinggalin kita ya David,"bisik Yuna di telinga David.
"Papa gak akan tinggalin kalian, tertuma kamu Queen. Selamanya Papa akan bersama kalian terus."
Air mata Queen mengalir deras, dia merindukan masa-masa itu. Dia merindukan masa dimana Mamanya masih ada dan selalu bersikap lembut pada Queen. Dia rindu Papanya yang entah dimana saat ini, dia rindu Papanya.
Papanya berbohong, dia mengingkari janjinya. Katanya pria itu akan terus bersamanya dan Yuna, tapi apa? Pria itu pergi meninggalkannya dan Yuna. Dia pergi setelah tahu bahwa Yuna keguguran karena Queen.
"Papa bohong sama Queen,"lirih gadis itu sambil terisak.
Gadis itu tersentak kaget saat ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya, dia mendongak lalu menemukan mata hitam dan tajam yang sedang menatapnya lembut.
"Kenan,"gumanya.
Kenan hanya berdehem, cowok itu membalikan badan Queen lalu memeluk tubuh kecil pacarnya. Matanya terpejam saat mendengar tangisan pelan Queen yang menyayat di hati.
"Aku kangen Mama, Ken. Aku kangen Papa."
Kenan terpaku di tempatnya. Ternyata diam-diam Queen merindukan Papanya.
...||||...
__ADS_1
Hayoloo, Queen kangen Papanya yang belum siap ketemu dia🌝