
Keesokan paginya, Queen sedang duduk bersama dengan Gerald diruang makan.
Kedua saudara itu tengah menikmati sarapan dalam diam.
srek srek srek
Terdengar suara sandal bergesekan dengan lantai membuat kedua orang itu menoleh kesumber suara.
"Rel.. kau tidak jadi pulang?" tanya Queen saat melihat Gerrell berjalan kearah mereka dengan pakaian santainya. Bukankah kemarin Gerrell sudah dia usir?
Gerrell menggeleng "aku sudah minta maaf ke mom dan dad semalam, dan mereka memaafkan aku, aku juga meminta izin untuk tinggal disini dan pulang bersama dengan kakak"
"mom mengizinkan?"
Gerrell menyeret kursi dan segera dia duduki "tentu saja, aku kan anak kesayangan mom" Pemuda itu menatap kedua kakaknya yang tampak tidak mempercayai ucapannya "hey! ada apa dengan wajah kalian? kalian tidak percaya?"
"percaya" ucap Queen dan Gerald bebarengan. Mereka kembali fokus kemakanan masing-masing.
"percaya tapi wajah kalian seperti itu, menjengkelkan sekali" gerutu Gerrell, dia kemudian memilih untuk sarapan saja.
Setelah selesai sarapan, mereka bertiga duduk santai diruang keluarga. Meski mereka sedang bersama, tapi ketiganya tengah asik bermain ponsel masing-masing.
Gerrell yang merasa bosan meletakkan ponselnya diatas meja dan kemudian menggeser tubuhnya, dia menempel seperti cicak ketubuh Queen "kak"
Queen menoleh dan menatap jengah adiknya "apa?!"
"ck.. ketus sekali" gerutunya.
"jangan menempel begini bodoh! geseran dikit!" ucap Queen sembari menyenggol bahu Gerald dengan bahunya.
Gerrell menurut dan menggeser tubuhnya, memberi beberapa senti jarak diantara mereka "apa tuan Darren sibuk hari ini?"
Queen menatap curiga Gerrell, ada apa dengan dia? bukankah Gerrell sama dengan Gerald yang tidak menyukai Darren? kenapa tiba-tiba sekali Gerrell menanyakan hal ini?
"jangan menatapku begitu kak"
"kau mencurigakan Rel" ucap Queen dengan begitu jujur.
"masa?"
Queen mengangguk membuat Gerrell meringiskan giginya "mencurigakan bagaimana sih kak? aku hanya bertanya tentang priamu saja kok"
"priaku?" Queen mengulurkan tangannya kearah kening Gerrell, dia mengukur suhu adiknya "normal kok" ucapnya setelah menimbang-nimbang dengan suhu tubuhnya.
"ishh.. kakah sungguh sangat menyebalkan!" Gerrell bergeser menjauhi Queen dengan bibir mengerucut.
"bagaimana kakak tidak curiga, kau menanyakan tuan Darren secara tiba-tiba begitu! aku tentu terkejut karena aku melihat kalian berdua tidak pernah akur"
"sudahlah lupakan saja!" ucap Gerrell dengan ketus.
Queen mendengus tidak paham "dia kerja hari ini, jadi sibuk"
Gerrell tampak acuh tapi sebenarnya telinganya dia pasang baik-baik. Sebenarnya dia sangat ingin bertemu dengan Darren dan membahas akan apa yang tempo hari mereka bicarakan. Tentang dirinya yang akan dengan senang hati menerima uluran tangan Darren yang hendak mendukungnya masuk kedunia entertainer.
Gerrell menoleh kearah kembarannya yang juga sekarang tengah menatap curiga dirinya "apa? kau pikir aku pisang?!"
__ADS_1
Gerald melengos masam, dia memilih kembali bermain ponsel.
"kak, apa nanti malam tuan Darren ada niatan kemari?"
Queen angkat bahu "mana kakak tahu, kau kenapa sih sebenarnya?"
Gerrell menggeleng "aku hanya ingin mengajakmu berlatih memanah atau menembak, tidak lucu kan kalau dia tiba-tiba datang kemari tapi kakak tidak ada" ucapnya mengelak.
Queen berfikir sejenak, boleh juga ide Gerrell. Dia merasa bosan hanya rebahan saja seharian "idemu nggak buruk"
Gerrell tersenyum "gas kalau gitu kak"
Queen mengangguk lalu menoleh kearah Gerald. Begitupun dengan Gerrell.
"apa?" tanya Gerald saat menyadari kedua saudaranya menatapnya.
"kau ikut?" tanya Queen dan Gerrell hampir bebarengan.
Gerald menggeleng "no!"
"ck.. kakakmu itu nggak asik banget Rel" ucap Queen.
Gerrell mengangguk mengiyakan "iya, adikmu memang begitu kak! anti sosial dan nggak gaul sama sekali"
Gerald hanya acuh "pergi ya pergi saja!"
Gerrell dan Queen berdecih dengan kompaknya. "ayo tinggalkan dia. Biarkan dia kesepian sendiri dipenthose ini" ucap Queen, dia bergegas pergi untuk bersiap.
"ayo ikut saja Rald"
"disini banyak hantunya loh, nanti kau diganggu" ucap Gerrell berbisik.
Gerald menatap tajam kembarannya itu. Membuat nyali seorang Gerrell menciut.
"kyaaa... hantu kalah serem darimu Rald!" ucap Gerrell memekik sembari melarikan diri. Rasanya dia seperti sedang ditatap oleh dad-nya. Sangat menakutkan sekali.
*
*
Queen dan Gerrell akhirnya pergi pada sore harinya, karena tanpa Queen duga dia dihubungi oleh Devika asistennya, karena ada masalah yang mengharuskannya meeting mendadak. Dia meeting dengan cara conference karena Queen masih berada di Paris.
Karena masalahnya cukup rumit membuat Queen merasa lelah sekali. Tapi karena sudah terlanjur janji dengan adiknya pada akhirnya Queen mengikuti Gerrell. Mereka sekarang sedang berada disalah satu tempat latihan tembak taraf international.
"ayo kak" Seru Gerrell saat melihat Queen hanya duduk dikursi saja.
Queen menggeleng "kau saja! kakak malas"
Gerrell berdecak dan kemudian berjalan kearah tempat latihan.
Queen memperhatikan adiknya dengan seksama. Meski lelah dia ingin sekali melihat perkembangan menembak adiknya.
Setelah mengambil salah satunpistol yang tersedia. Gerrell mulai memasukkan beberapa butir peluru kedalam pistol yang dia pegang.
Krek krek
__ADS_1
Terlihat Gerrell sangat fokus menatap sasaran yang digantung didepannya. Lalu dia mengarahkan pistol tersebut kesasaran tembaknya.
dor dor dor
Gerrell menarik pelatuknya dan membidik sasarannya dengan tepat.
Prok prok prok
Queen memberikan apresiasi dengan bertepuk tangan dan bersorak saat Gerrell membidik dengan sempurna.
"aku keren kan?" tanya Gerrell sembari menyibakan rambutnya kebelakang, sembari tersenyum tengil.
"menyesal aku bertepuk tangan" ucap Queen ketus. Dia melipat tangannya didepan dada.
"hahaha.. terus bertepuk tangan kak! aku suka sekali"
Queen kembali mendengus, tapi saat Gerrell membidik dengan sempurna Queen tanpa sadar kembali bersorak.
Saat hari semakin gelap. Gerrell mengakhiri latihannya. Dia menghampiri kakaknya "kak aku kelaparan" keluhnya sembari mengusap perutnya. Beberapa kali perutnya berbunyi.
Queen mengangguk dan mengajak Gerrell pergi kesalah satu restoran yang dekat dengan tempat itu.
Setelah selesai makan keduanya memutuskan untuk segera pulang.
Queen yang memang mengendari mobil, sesekali melirik kaca spion yang ada disisi mobil.
"kak"
"hmm?"
"aku kok merasa sedari tadi ada yang mengikuti?" ucap Gerrell, dia menoleh kebelakang untuk memastikan jika mobil yang berjalan dibelakang mobil mereka memang benar terus mengikuti, setelah dia keluar dari restoran.
"sudah sejak kita keluar dari tempat latihan"
Gerrell menatap kakaknya terkejut "really? kok aku tidak ngeh?"
"mungkin karena kau kelaparan" sindirnya, karena saat lapar Gerrell memang selalu tidak bisa fokus.
Gerrell mengangguk membenarkan "tapi kakak kok tenang sekali?"
Queen menyeringai tipis "kau tahu aku lah Rel"
Gerrell mengangguk lagi, dia tahu sekali skill bela diri yang dimiliki oleh Queen. Selain itu Queen adalah gadis yang sangat kejam juga brutal saat berhadapan dengan musuh.
Jika dilihat dari luar memang wajahnya seperti malaikat, tapi berbeda jika Queen sedang berkelahi. Gadis itu berubah menjadi malaikan pencabut nyawa bagi siapa saja yang berani melawannya.
Queen akan berubah menjadi brutal dan membabi buta. "aku jadi kasihan pada mereka, mereka sepertinya salah mencari lawan. Percayalah.. kakakku ini akan menjadi dewi kematian untuk kalian semua" batin Gerrell sembari sesekali menolehkan kepalanya kebelakang. Lalu dia menatap kakaknya yang hanya diam saja sedari tadi, tapi bibirnya tampak menyeringai tipis.
Hal itu benar-benar membuat Gerrell takut sekaligus merinding.
"kau takut Rel?" tanya Queen dengan suara rendah dan menekan saat adiknya itu hanya diam.
"aku tidak takut pada mereka, justru aku takut padamu kak!"
"hahahaha" tawa Queen menggelegar. tawanya sungguh seperti seorang psycopath.
__ADS_1
Bukannya tenang saat mendengar Queen tertawa, Gerrell malah semakin takut dibuatnya.