
"Ken udah kenyang ih!"
"Makan dikit lagi aja, Queen."
"Dikit apanya? Kamu beliin nasi goreng lagi buat aku ini ih!"
"Queen biar cepet sembuh."
"Aku udah sembuh kok."
Kenan berdecak kesal, punggung tangan kanannya dia simpan di atas dahi Queen.
"Tuh kan! Ini masih anget sayang,"ucap Kenan gemas.
Queen mendelikan matanya dan memilih untuk memainkan ponselnya yang sudah lumayan lama terbengkalai. Gadis itu kesal pada Kenan. Bagaimana tidak? Dari tadi pagi cowok itu sudah sangat overprotectif padanya. Harus memakai jaket tebal, harus meminum air putih dan harus makan minimal dua piring.
"Queen turutin aja napa?"sahut Dea lelah.
Sedari tadi teman-teman mereka hanya diam sambil memperharikan interaksi sepasang kekasih yang baru akur lagi itu. Mereka tersenyum geli ketika melihat Kenan yang berusaha membujuk Queen agar makan banyak.
"Dea perut gue udah kenyang banget ini, bisa-bisa gendut deh nanti!"ketus Queen sambil menepuk-nepuk perutnya yang terasa kembung.
Tegar terkekeh geli,"biarin atuh Queen! Biar Ade Utunnya sehat di dalem sana."
Semua tertawa mendengar candaan Tegar, tapi tidak dengan Kenan dan Queen yang hanya diam dengan memandang Tegar datar.
"Apaan sih lo gak jelas,"ucap Kenan datar.
"***** Tegar, Tegar! Sekalinya ngebanyol garing amat ya!"cibir Verrel yang membuat Tegar mendengus sebal.
"Garing apaan? Kalian ketawa gitu,"balasnya sambil tersenyum miring.
"Kita ketawa karena cuma mau buat lo seneng aja Gar, kasian kalau gak ada yang ketawain candaan lo."
Semuanya kembali tertawa mendengar perkataan Andra. Tapi kening Queen mengernyit, tumben Andra ikut bercanda bersama teman-temannya?
"Kak Andra kok tumben ikut nimbrung? Biasanya diem aja loh,"tanyanya aneh.
Andra tersenyum tipis, cowok itu menatap Dea yang juga sedang menatapnya. Kenan menyeringai lalu berbisik pelan di telinga Queen.
"Andra lagi seneng Queen. Seneng karena udah jadiin Dea pacarnya kemarin."
__ADS_1
"APA?"
Mata Queen membulat dan mulut gadis itu sedikit terbuka. Dea yang melihat reaksi Queen hanya bisa mendengus sebal, dia sudah menebak jika reaksi Queen akan seperti ini jika gadis itu tahu Andra sudah menembaknya semalam.
"Awas laler masuk Queen!"ucap Verrel yang membuat mulut Queen terkatup.
Mata gadis itu mengerjap-ngerjap, dia menatap wajah Andra dan Dea bergantian.
"Ini seriusan?"tanyanya pelan.
"Yaiyalah serius! Masa bohongan sih,"jawab Dea.
"Ah, selamat ya! Langgeng pokoknya, gue seneng banget ya ampun. Akhirnya De cita-cita lo pengen jadi pacarnya Kak Andra kesampaian juga!"ujar Queen heboh.
Pipi Dea bersemu merah, dia melirik Andra yang sedang menyeringai ke arahnya. Ah dasar mulut Queen ember! Andra jadi tahu kan bahwa Dea sudah lama menganggumi cowok itu?
"Queen diem elah, tu mulut minta di lakban?"sahut Kenan sambil membungkam mulut Queen dengan tangannya.
"Lakban pakek bibir, biar enak ya gak?"goda Verrel yang membuat Kenan menatapnya tajam.
"Velel mah gak pernah di jaga da mulutnya teh ya."
...||||...
"Aku kangen Mama kamu Ken,"ucap Queen membuka pembicaraan.
Kenan tersenyum, cowok itu sedikit merapatkan tubuhnya pada tubuh Queen ketika ada pejalan kaki yang berlawanan arah dengan mereka. Jalan gang ini hanya cukup untuk tiga orang dan sebenarnya motor pun bisa masuk. Tapi motor Kenan besar, jadinya cowok itu hanya menitipkannya di warteg.
"Nanti kita telpon Mama ya."
Queen tersenyum senang sambil mengangguk semangat. Sudah lumayan lama dia tidak berbincang dengan Kania yang sekarang tengah di Kroasia.
Akhirnya mereka sampai di kontrakan Rere, pintunya terbuka dan ketika mereka masuk ternyata Rere sedang bersantai di sofa sambil menonton tv, di paha gadis itu ada kepala Andra. Rupanya Andra sedang terbaring dengan paha Adi sebagai bantalannya.
"Teteh, Queen pulang!"
"Iya tau,"balas Rere sambil tersenyum ke arah Queen dan Kenan.
"A Adi kenapa gak tidur di kamar aja, Teh?"tanya Queen sambil berjalan ke arah kamar, sedangkan Kenan duduk di sofa kecil lainnya.
"A Adi mau sekalian modus Queen."bukan Rere yang menjawab, melainkan Kenan.
__ADS_1
Rere mendengus sebal, matanya mendelik sebal pada Kenan yang tersenyum mengejek kepada Rere. Rupanya Kenan adalah tipe cowoo yang menyebalkan, tapi cowok itu juga baik meskipun terkadang jutek.
"Heran, si Queen kenapa mau sama cowok modelan kayak lo sih, Ken?"tanya Rere dengan kepala menggeleng pelan.
Kenan tersenyum sombong, jari-jarinya tergerak untuk menyisir rambut berantakannya ke belakang hingga membuat Rere lagi-lagi mendelik sebal.
"Gue ganteng, baik, idaman lagi. Wajar aja Queen kalau suka sama gue."
Sedangkan di kamar Rere saat ini Queen sedang merebahkan tubuhnya, gadis itu sudah berganti pakaian dengan kaos lengan pendek dan celana di atas lututnya.
Tubuhnya lelah karena beraktivitas di sekolah dan otaknya terasa panas karena terus di pakai untuk memikir. Saat ini Queen tengah memainkan ponselnya, dia menghiraukan keadaan Kenan di luar yang sedang mengobrol dengan Rere.
Saat tengah asik menggulir-guli layar ponselnya tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor asing. Kening gadis itu mengernyit dan dengan penasaran dia membuka pesan tersebut.
089********
Papa tunggu besok sore di danau dekat rumah kita dulu, Queen. Papa harap kamu datang karena Papa butuh berbicara dengan kamu.
Tubuh Queen mematung? Matanya tetap menatap pesan masuk yang baru di terimanya itu, di dalam hati dia terus membaca berulang kali pesan tersebut yang ternyata dari... Papanya?
"Queen kamu tidur?"
Queen tersentak kaget, gadis itu mematikan ponselnya lalu menyimpannya di nakas. Dia menatap Kenan yang sedang menatapnya di ambang pintu kamar.
"Gak tidur kok, tapi ini engh...aku udah mau tidur."
Kepala Kenan mengangguk, cowok itu berjalan mendekati Queen dan berjongkok di samping tempat tidur, berhadapan dengan wajah Queen. Ibu jari Kenan mengelus pipi Queen dengan pelan hingga membuat kedua sudut bibir Queen terangkat.
"Istirahat ya, aku ada urusan dulu. Kabarin aku terus nanti , oke? Besok aku jemput buat ke sekolah lagi,"ucap Kenan pelan.
Queen mengangguk sambil berdehem singkat, setelahnya dia memejamkan mata saat Kenan mengecup kening dan pipinya.
"Aku pergi dulu sayang,"pamitnya lalu meninggalkan Queen sendiri di kamar Rere.
Sepeninggalan Kenan, gadis itu termenung sambil menatap tembok di samping pintu. Posisi tidurnya miring. Tak terasa air mata keluar dari matanya, tak ada isakan hanya ada air mata.
Papanya kembali tapi kenapa rasa kecewa itu hinggap di hati Queen? Bukannya ia merindukan sosok Papanya?
...||||...
Queen bakal ketemu Papa-nya atau nggak?
__ADS_1