
Matahari bersinar terang dan menyilaukan mata Queen yang baru saja terbangun dari tidurnya, gadis itu menutupi matanya dengan tangan kanan. Dia duduk, lalu mengedarkan pandangannya. Apartmen Kenan.
"Perih,"lirihnya ketika merasakan kedua matanya perih karena banyak menangis kemarin.
Dengan menghela nafas pelan, gadis itu merogoh tas selempangnya tapi dia baru menyadari sesuatu. Siapa yang menyelimuti serta memberinya bantal? Perasaan semalam dia tidak memakai selimut serta bantal! Matanya menatap pintu kamar Kenan yang tertutup rapat, apa cowok itu yang menyelimuti serta memberikannya bantal?
Sambil tersenyum tipis, Queen kembali merogoh tasnya. Ternyata gadis itu mengambil sebuah ikat rambut berwarna hitam, lalu dia menggulung asal rambutnya ke atas.
"Aku harap kamu udah gak marah setelah aku jelasin semuanya hari ini Ken,"gumamnya pelan.
Queen membereskan selimutnya, dia melipatnya dengan rapih lalu membawanya ke kamar Kenan. Ternyata kamar Kenan tidak di kunci, saat masuk ke kamar cowok itu, Queen bisa melihat keadaan kamar Kenan yang temaram, dan juga Queen bisa melihat cowok itu yang masih tertidur dengan posisi tengkurap.
"Masih tidur ternyata,"bisiknya sambil berjalan lebih dalam memasuki kamar cowok itu yang lenggang karena tidak terlalu banyak barang.
Hanya ada satu king size, lemari besar, dan sofa tidak terlalu panjang di sudut kamar. Setelah menyimpan selimut ke dalam lemari dan mengambil salah satu kaos tebal milik Kenan, Queen pun masuk ke dalam kamar mandi dan menggosok giginya lalu mencuci wajahnya. Sebelumnya gadis itu meringis melihat keadaanya yang sangat berantakan dengan mata sembab.
"Serem banget sih tampang Queen,"ujarnya sambil mencebik kesal lalu keluar dari kamar mandi.
"Ngapain?"
"YA ALLAH!"
Nafas Queen memburu, gadis itu mengelus dadanya ketika melihat Kenan sudah terduduk di atas kasur dengan punggung yang menyender ke badan kasur.
"Kenapa?"tanya Kenan datar.
Queen berdehem, dia tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Oke, dia harus bersikap santai dan ceria kepada Kenan, dia harus menjelaskan semuanya!
Dengan senyum manis di wajahnya, gadis pendek itu berjalan ke arah Kenan dan ikut terduduk di samping Kenan.
"Pagi! Gimana tidurnya? Nyenyak gak, Ken?"
Aneh, itulah yang di rasakan oleh Kenan sekarang. Cowok itu memicingkan matanya sambil menatap Queen yang masih mengembangkan senyumnya.
"Kenapa?"tanya Kenan mengulang kembali pertanyaannya.
Queen mencebik, cewek itu memajukan bibir pink alaminya beberapa centi kedepan. Jika saja hubungan mereka dalam keadaan normal, mungkin Kenan tidak akan menahan tangannya untuk tidak menekan bibir yang mengerucut itu sekarang juga.
"Kok kamu gak neken bibir aku pake tangan kayak biasanya? Biasanya kan kalau bibir aku manyun kayak tadi kamu langsung nempelin telunjuk kamu di bibir aku, kok sekarang enggak sih, Ken?"tanya Queen merengek.
Kenan menelan salivanya, cowok itu sudah gemas dengan tingkah Queen yang berhasil membuatnya ingin tertawa dan memeluk erat gadis itu juga saat ini.
"Lo udah mandi?"tanya Kenan sambil mengalihkan pandangannya agar tidak menatap Queen.
Queen tambah mencebik ketika Kenan tidak ingin menatap wajahnya. Dia menarik dagu Kenan, memaksa cowok itu agar menatap ke arahnya.
"Belum, aku pinjem baju kamu ya!"
"Hm."
"Singkat banget, sih! Queen sedih," rengek Queen dengan menarik bibir bawahnya.
Demi apapun saat ini Kenan sudah mengigit lidahnya agar tidak tersenyum kepada sosok gadis menggemaskan yang masih memegangi dagunya ini.
"Mau apa?"tanya Kenan setelah berdehem.
"Mau jelasin semuanya sama kamu tentang kemarin malam."
__ADS_1
Kenan mendadak berdecak sebal, cowok itu melepaskan tangan Queen yang berada di dagunya.
"Gak."
"Ih harus mau!"
"Queen enggak!"
"Kenan..."
"Queen, gue gak mau."
"Harus mau, sayang!"
Hening, Kenan bahkan tidak mampu untuk mengontrol ekspresi tak percayanya. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika mendengar kata 'sayang' yang keluar dari bibir Queen.
"Apa tadi?"
"A-apa?"
Kenan menggeram pelan.
"Lo bilang apa tadi?"
Queen terdiam sejenak, gadis itu kemudian menyengir kuda.
"Harus mau, sayang! Kenapa emang?"tanya Queen polos.
Mata Kenan mengerjap, dia tidak tahu apa bahwa sekarang hatinya menghangat dan perasaannya sangat senang ketika Queen berbicara manis seperti itu?
"Gue ke kamar mandi,"ucapnya sambil beranjak dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi.
Queen beranjak dari kamar Kenan, dia keluar dari kamar cowok itu lalu berjalan ke arah jendela besar yang menampilkan suasana Bandung dari ketinggian ini. Gadis itu berdehem pelan sambil menengadahkan kepalanya ketika merasa bahwa matanya kembali memanas.
"Padahal Queen pengen jelasin semuanya ke Kenan. Queen pengen Kenan gak marah lagi sama Queen, tapi kenapa? Kenapa Kenan gak mau denger penjelasan Queen dan malah ngehindar? Queen kan mau akur lagi sama Kenan, Queen kan takut waktu Kenan bentak-bentak dan marah sama Queen. Queen kan sedih waktu inget kata-kata Kenan yang kecewa sama Queen, Queen gak mau Kenan kecewa sama Queen. Harus gimana lagi buat Kenan gak marah dan kecewa lagi sama Queen?"ucapnya lirih.
Gadis itu menyeka air mata yang lolos begitu saja keluar dari matanya. Dia tersenyum pelan lalu menengok kebelakang dan menatap pintu kamar Kenan yang tertutup, rupanya cowok tampan berambut pirang itu belum keluar juga dari kamarnya.
"Mendingan Queen pulang aj–ya ampun! Gawat! Mama marahin Queen gak ya nanti? Aduh, Queen takut! Ah tapi Queen pulang aja deh, dari pada nanti Mama marah karena Queen gak pulang semalam,"cerocosnya sambil berlari ke arah sofa dan memakai tasnya lalu memakai flat shoes-nya dan cepat-cepat pulang.
Mungkin juga Kenan butuh waktu untuk sendiri agar pikirannya lebih jernih. Queen yakin jika besok Kenan akan mendengarkan penjelasannya, semoga.
Setelah sampai di luar apartmen, banyak sekali mata yang menatap Queen secara terang-terangan. Queen sebenarnya risih, tapi ini salahnya karena tidak mengganti baju dengan baju yang Queen pakai kemarin, tapi baju kemarin sudah kotor dan lagi Queen sudah menyimpannya di keranjang pakaian kotor milik Kenan.
Kaos tebal Kenan yang di pakai oleh gadis itu hanya sebatas pahanya saja. Setelah menemukan taksi, Queen pun naik ke taksi itu dan menyebutkan alamat rumahnya.
...||||...
"Dapet uang berapa?"
Langkah Queen terhenti, gadis itu baru saja masuk dan sudah di beri pertanyaan ambigu yang di ajukan oleh Amar. Kening gadis itu mengernyit.
"Maksudnya, Om?"
Amar terkekeh sinis, pria paruh baya yang duduk di sofa rumahnya itu menatap Queen dari atas sampai bawah dengan pandangan sinis.
"Semalam kamu menginap di rumah pacarmu itu kan?"
__ADS_1
Mata Queen hampir saja keluar dari tempatnya, dia bingung kenapa suami Ibunya itu tahu tentang di mana dia menginap.
"Kaget gitu berarti tebakan saya memang benar,"ujarnya bangga.
"E-eh? Ng-nggak kok Om. Queen–"
"Berusaha mengelak?"
Queen terdiam, nafasnya mulai tidak teratur karena sudah tak nyaman berada di satu ruangan dengan Amar, apalagi mengobrol seperti ini. Matanya melirik kesana-kemari, dia mencari keberadaan Yuna.
"Saya butuh uang. Dan saya minta uang sama kamu,"katanya enteng.
Queen terkejut, gadis itu mengepalkan tangannya.
"Queen gak punya uang,"ujarnya seperti desisan.
Alis tebal Amar naik sebelah, pria brewokan itu tersenyum sinis sambil berdiri dari duduknya. Gaya tenangnya itu membuat tubuh Queen bergetar karena ketakutan, gadis itu juga sudah bersikap waspada.
"Oh ya? Saya tidak percaya tuh."
"Queen masih sekolah, belum kerja. Harusnya Om tahu kalau pelajar mana mungkin punya uang,"ucap Queen pelan.
"Pura-pura polos, anakku?"
Dalam hati Queen menjerit bahwa dia bukan anaknya dan gadis itu tidak sudi mempunyai Ayah seperti Amar.
"Maksud Om apa?"tanya Queen tidak mengerti.
Amar mengusap brewoknya, pria berbadan tegap itu berdehem pelan.
"Kamu pasti sudah di pakai oleh pacar kamu yang kaya raya itu."
"Queen gak ngerti apa yang Om ucapin,"desis Queen heran.
"Ayolah! Jangan sok polos dan tidak tahu apa-apa Queen. Kamu pasti sudah macam-macamkan dengan pacar kamu itu?"
Mata Queen terbelalak. Dia tidak menyangka bahwa suami Mamanya akan menuduhnya yang tidak-tidak seperti ini.
"Queen gak pernah macam-macan sama Kenan!"
"Tapi Kenan yang macam-macam dengan kamu kan? Jangan munafik Yuna kecil, kamu itu sudah mau di ajak menginap di apartmennya. Apalagi kalau di ajak macam-macam, pasti kamu menerima saja serta–"
"JAGA UCAPAN OM! Kenan gak pernah macam-macamin Queen! Cowok Queen itu brengsek tapi tetap menghargai perempuan, dia menghormati Queen dan menjaga Queen dengan sepenuh hatinya! NGGAK KAYAK OM! Om itu gak pernah ngehargain Mama–"
Plak!
Queen terdiam, mata dan mulutnya terbuka lebar ketika tangan besar milik Amar dengan tiba-tiba menampar pipinya. Gadis itu menatap Amar dengan tangan yang berada di pipi, Queen bisa merasakan ada rasa asin di mulutnya.
Seumur-umur, tidak ada yang pernah menamparnya termasuk Ayah dan Ibunya sendiri. Tapi Amar? Pria itu yang bukan siapa-siapanya dengan tega menampar pipi Queen dengan keras.
"Jaga nada ucapan kamu, ****** kecil!"
Queen menggeleng pelan, dia sebisa mungkin tidak menangis di hadapan Amar. Jadi ini rasanya di tampar? Jadi ini yang di rasakan Yuna jika Amar menamparnya? Perih, sakit.
"Om tau? Queen sangat membenci Om!"
...||||...
__ADS_1
Amar...ck, karakter dia yang bikin aku gak suka wkwk.