QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
78. Apartemen


__ADS_3

Di hari Minggu ini Queen memilih untuk menonaktifkan ponsel agar bisa bersantai di apartemen tanpa gangguan dari siapa pun.


Setelah dari Senin sampai Sabtu selalu disibukkan dengan kegiatan di luar, Queen ingin mengistirahatkan tubuhnya sendiri dengan tidak melakukan apa pun.


Alunan musik dari speaker bluetooth terdengar mengenakkan telinganya. Sudah lama sekali Queen tidak mendengar musik, padahal dulu dia merupakan seseorang yang sangat mencintai musik.


Musik juga lah yang mempertemukan dia dengan Kenan.


Sembari bernyanyi pelan, Queen tetap fokus untuk memotong bawang putih dan kawanannya. Dia ingin memasak nasi gila, itu pun resepnya diberitahukan oleh Kenan kemarin malam.


Saat asyik memasak, lagu ternyata sudah berganti ke lagu Impossible. Hal itu sedikit membuat Queen terlempar ke masa-masa sekolah.


Dia tersenyum tipis saat mengingat bahwa lagu ini adalah lagu yang dibawakan oleh Kenan saat masa MPLS sedang berlangsung. Dia dipaksa untuk tampil di depan murid baru oleh teman-temannya.


Suara Kenan itu ... indah, Queen harus mengakuinya.


"Aw!" Queen memekik saat dia tak sengaja menyenggol spatula sampai terjatuh dan mengenai kakinya.


Perempuan itu meringis lalu mematikan kompor. Dia beralih untuk menyalakan keran, berharap air dapat mengobati rasa panas yang kini menjalar di kakinya.


Ting Nong!


Bel berbunyi, Queen mengernyitkan dahi. Siapa pula yang datang ke apartemen nya di hari Minggu begini?


Dengan susah payah, Queen pun berjalan ke pintu. Dia membukanya, lalu terkesiap saat melihat tubuh jangkung Kenan yang tepat berada di hadapannya.


"Aku gak lagi nerima tamu," ucap Queen.


"Tapi aku mau datang bertamu."


Queen berdecak pelan, dia melipat kedua tangannya di dada. "Aku lagi mau sendiri."


"Tapi aku lagi gak mau kamu sendirian."


Queen menghela napas, lalu berlalu ke dalam apartemen diikuti oleh Kenan.


Mungkin karena melihat cara berjalannya yang agak berbeda, Kenan menyusul langkah Queen dan memegang lengan perempuan itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Kok jalannya gitu?" tanya Kenan dengan heran.


Queen menunduk untuk melihat kakinya. "Aku lagi masak, terus spatula nya jatuh kena kaki."


Kenan terlihat panik, dia sampai berjongkok untuk memeriksa kaki Queen yang memang terlihat merah dan basah. Kepala Kenan pun mendongak yang disambut oleh senyum Queen.


"Odol ada gak?" tanyanya.


Queen mengangguk dan Kenan pun mengambil odol di kamar mandi. Dia mengoleskan itu ke kaki Queen.


"Lain kali hati-hati, jangan ceroboh."


Queen hanya berdehem, tetapi sedetik kemudian dia dibuat heran karena Kenan berlalu ke dapur.


"Aku aja yang masak, ya? Kamu duduk gih," titah lelaki itu.


"Terserah kamu, deh."


Kenan hanya terkekeh pelan, sadar bahwa Queen sedikit bt akibat dia yang datang ke apartemen. Sebenarnya Kenan sudah mengirimkan pesan terlebih dahulu dan mengatakan bahwa dia akan datang ke tempat Queen, tapi sepertinya perempuan itu tidak mengaktifkan data di hp nya.


Kenan pun memilih melanjutkan pasakan Queen yang tertunda.


Queen meski pun sudah terangsang akan cumbuan Kenan, tetapi dia lah yang menghentikan semuanya. Queen masih menahan diri dan tidak membiarkan Kenan bertindak semakin jauh.


Jika dibilang kecewa, ya Kenan memang kecewa. Tetapi, di satu sisi dia juga tidak mau melakukan itu jika Queen sendiri belum siap.


Setelah nasi gila sudah siap untuk dimakan, Kenan menghampiri Queen yang ternyata sedang duduk di sofa sembari menonton televisi yang menggambarkan kartun Upin dan Ipin.


"Seriously, Queen. Kamu masih nonton bocah kembar itu?" Kenan bertanya dengan nada geli.


Dia memberikan sepiring nasi gila kepada Queen yang langsung sumringah. Perempuan itu mengucapkan terima kasih sembari mulai makan.


"Gak ada tontonan yang menarik, jadi yaudah aku nonton mereka aja. Lagian seru kok."


Kenan tertawa meledek, tetapi dia pun turut hanyut menonton Upin dan Ipin.


Saat tengah asyik menonton ponselnya yang berada di saku celana berdering. Kenan merogohnya dan menaikkan satu alis sebelum mengangkat panggilan tersebut.

__ADS_1


Queen sih hanya fokus makan dan menonton telivisi, meski telinganya mendengarkan pembicaraan Kenan.


"Ada apaan?"


"Dih, gue lagi sibuk."


Queen mulai melirik kepo ke arah Kenan. Tumben sekali bahasa cowok itu santai kepada si penelepon.


"Sialan lo. Yaudah, gue otw ke sana deh. Ganggu aja lagian."


Setelahnya Kenan pun mematikan sambungan dengan wajah yang terlihat dongkol, mau tak mau Queen pun bertanya.


"Ada apa?"


"Tegar sama yang lain ajak aku main PS."


Queen bingung. "Tegar?"


"Temen aku dari SMA itu loh, Queen."


Seketika mata Queen pun membulat dan kepalanya mengangguk pelan. "Oh ... Kak Tegar. Ingat-ingat. Masih temenan ternyata."


Queen pikir mereka sudah tidak berteman. Syukur deh kalau pertemanan mereka awet.


"Aku gak mau pergi. Aku mau sama kamu," ucap Kenan dengan wajah yang masih terlihat kesal.


"Kamu harus pergi, temen-temen kamu nungguin. Lagian gak bosen apa? Kita udah barengan mulu akhir-akhir ini."


"Ya aku gak bosen."


"Tapi sayangnya aku bosen."


Kenan terlihat makin kesal, tetapi dia tidak protes. Lelaki itu mau tak mau harus pergi meninggalkan Queen di sini.


"Yaudah, aku pergi dulu buat main sama temen-temen."


Merasa senang bahwa Kenan izin kepadanya, Queen mengangguk sembari tersenyum tulus.

__ADS_1


Dia memejamkan mata saat Kenan mengecup dahi serta bibirnya meski sekilas. Lalu senyumnya semakin mengembang saat Kenan mulai berjalan untuk pergi dari apartemen nya.


__ADS_2