
..."Utuhnya sebuah hubungan itu salah satunya adalah dengan cara saling terbuka satu sama lain dan saling jujur satu sama lain."...
...||||...
"Queen, kok buru-buru banget sih lo?"
Queen menengokan kepalanya kepada Dea–sahabatnya yang saat ini sedang menatap Queen dengan bingung. Tidak biasanya Queen terlihat buru-buru seperti itu ketika mendengar bel pulang berkumandang.
"Aduh maaf banget, De. Gue buru-buru soalnya."
"Buru-buru mau kemana emang? Mau pacaran sama Kenan?"tanya Dea sambil membenarkan letak tasnya.
Kelas mereka sudah mulai kosong, bahkan hanya ada kedua gadis itu disana.
"Hm... gue mau pulang. Ada urusan,"jawabnya ragu.
Kening Dea mengernyit. Tidak biasanya sahabatnya itu terlihat ragu seperti ini, apalagi gerak-gerik Queen mencurigakan.
"Aduh pokoknya ini penting banget. Bye, Dea!"serunya lalu berlari keluar kelas.
Kening Dea semakin mengernyit, urusan apa yang tengah di urus oleh Queen sampai-sampai gadis itu buru- buru? Tidak mau ambil pusing, gadis bertubuh tinggi itu berjalan keluar kelas dengan santai. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat Kenan sudah berdiri di depan kelasnya dengan alis yang terangkat naik.
"Mana Queen?"tanya Kenan dengan nada datarnya.
"Lah? Queen kan udah pulang duluan. Gue kira dia pulang sama lo,"jawab Dea yang berhasil membuat Kenan terkesiap.
Gadis polos itu pulang duluan? Kenapa tidak menunggunya?
"Pulang duluan?"tanya Kenan memastikan.
Dea mengangguk. "Iya pulang duluan, katanya ada urusan penting."
Sial!
Urusan apa yang mengharuskan gadis itu tidak pulang bersamanya hari ini? Tapi Kenan rasa Queen pulang duluan bukan karena ada urusan, melainkan gadis itu pasti menghindarinya kali ini. Rupanya Queen bermain kucing-kucingan bersamanya. Apa Queen tidak tahu dengan sikapnya yang menghindari Kenan akan membuat cowok itu semakin curiga terhadapnya?
Kenan sadar Queen menghindarinya hari ini. Terbukti dari sejak istirahat tadi, Queen lebih memilih berdiam diri di toilet wanita bersama Dea sampai jam istirahat selesai.
"Udah, ah. Gue pulang duluan,"pamit Dea lalu berlalu dari hadapan Kenan.
...||||...
Kak Liam: abis maghrib aku jemput kamu di depan rumah ya, Queen.
Berkali-kali Queen membaca chat masuk dari Liam, gadis itu duduk dengan gelisah ketika pikirannya tertuju kepada Kenan yang seharian kemarin dia hindari. Bahkan Queen mengabaikan pesan dan telpon dari Kenan dari kemarin. Bukan apa-apa, hanya saja Queen tidak sanggup jika nanti Kenan tahu bahwa hari ini dia akan jalan bersama Liam, meskipun alasannya hanya untuk membalas budi.
"Kenan marah gak ya karena gak di angkat telponnya?"gumamnya gelisah.
Saat tengah gelisah, sebuah pesan masuk dari Kenan.
Kenan: buka pintu rumah kamu, aku ada di depan.
Mata Queen melotot ketika membaca pesan tersebut. Dia berdiri lalu mondar-mandir di lantai kamarnya yang kecil, gadis itu bertambah kalut.
"Maaf, Ken. Aku harus bohong sama kamu."
Jari-jari Queen bergerak lincah di atas layar ponselnya.
Queen: Hah? Kamu di depan rumah aku? Ih, Kenan ngapain? Queen lagi gak ada di rumah loh, Ken.
Tak lama ada balasan pesan masuk dari Kenan.
__ADS_1
Kenan: dmna?
Hampir saja Queen berteriak karena merasa bersalah telah berbohong kepada Kenan, untung saja dengan cepat dia menggigit bibir bawahnya.
Queen: Lagi nganter Mama ke tempat temennya.
Kenan: Dimana tempat temen Mama kamunya?
"Aduh Ken, kenapa kamu nanyanya detail banget sih? Queen kan bingung,"gumamnya cemas.
Queen: Di Soreang, jangan nyusul ya. Lagian Soreang jauh, kasian kamunya🧡
Queen menghela nafasnya. "Maafin aku ya, Kenan. Aku gak ada maksud buat bohongin kamu kayak gini."
Kenan: Oh.
Tanpa terasa hari sudah malam dan itu artinya sebentar lagi Liam akan menjemput Queen di depan rumahnya. Queen duduk tak tenang, gadis itu berkali-kali melirik ponselnya dengan gelisah. Rumahnya sedang kosong karena Mama serta Ayah tirinya sedang tidak ada di rumah.
Suara klakson mobil membuat Queen cepat-cepat berjalan keluar rumah. Gadis itu tersenyum canggung ketika melihat Liam baru saja keluar dari mobilnya, cowok itu terlihat tampan dengan pakaian casualnya.
"Udah siap?"tanya Liam dengan nada lembut.
Queen memaksakan senyumnya, gadis itu mengangguk.
"Btw, kamu tambah cantik malam ini,"puji Liam sambil tersenyum manis.
Queen hanya tertawa, gadis itu padahal hanya memakai dress berlengan panjang sebatas lutut. Mungkin jika Queen jalan bersama Kenan, cowok itu akan ngotot meminta Queen memakai celana saja dari pada dress.
"Makasih, Kak."
Liam tertawa, cowok itu tiba-tiba saja sedikit membungkukkan badan sambil mengulurkan tangannya kepada Queen yang hanya bingung menatap Liam.
"Ada apa, Kak?"
Queen hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, gadis itu menerima uluran tangan Liam. Keduanya berjalan ke arah mobil Liam yang terparkir di halaman rumah sederhana Queen. Mereka tidak tahu saja, bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi melihat interaksi di antara Queen juga Liam.
Tatapan matanya itu memang dingin, tapi tersirat ada kemarahan di sana. Tangannya yang memegang stir mobil pun terlihat mencengkram stirnya dengan kuat.
"Kamu bohong, Queen!"desisnya sambil mengikuti mobil Liam dari jarak yang cukup jauh.
Ternyata Liam membawa Queen ke Cafe, mereka mengobrol banyak tentang seputaran musik. Keduanya sesekali tertawa, dan sesekali juga tangan Liam mengelap ujung bibir Queen ketika ada saos atau apapun yang menempel di sudut bibir gadis itu.
Semua itu tak luput dari penglihatan Kenan yang memang sedang menguntit mereka, rahangnya mengeras ketika melihat tangan itu menyentuh gadisnya. Sebenarnya Kenan ingin sekali menghajar Liam saat ini juga, tapi dia tidak akan puas jika menghabisi Liam di sini.
Kenan berdiri ketika melihat kedua orang yang sedang di intainya sudah menyelesaikan dinner mereka. Kenan mengikuti kembali mobil Liam yang berjalan ke arah... Dago!? Mau apa cowok itu mengajak Queen ke Dago?
Sudah, Kenan sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dengan lihai cowok itu pun menancap gas untuk mendahului mobil Liam, dia menghadang mobil itu tepat di jalanan yang sepi dari ramai kendaraan. Dengan cepat cowok itu keluar dari mobil dan berjalan ke depan mobil Liam dengan seringaian yang kentara ketika melihat ekspresi Queen dan Liam yang terkejut.
"Turun!"serunya dengan pandangan yang tidak berhenti untuk menatap Queen.
Gadisnya itu sudah mengabaikannya selama seharian kemarin dan hari ini, gadis polosnya itu juga sudah menghindarinya dan sekarang tengah berjalan bersama cowok lain.
"TURUN GUE BILANG!"teriaknya sambil menendang badan mobil Liam.
Liam berdehem, cowok itu keluar dari mobil dengan sikap tenangnya. Berbanding terbalik dengan Queen yang sudah gemetaran, gadis itu berusaha untuk tetap turun dari mobil dan memandang Kenan dengan takut-takut.
"Kenan? Kok lo bisa–"
"Mergokin kalian lagi khianatin gue!?"sela Kenan
Mata Queen terbelalak, gadis itu dengan cepat berlari ke arah Kenan dan memegang tangan cowok itu tapi dia malah mendapatkan tepisan keras yang berhasil membuatnya menangis di detik itu juga.
__ADS_1
"Gak, Ken! Aku gak ngekhianatin kamu. Aku itu cuma mau–"
"Mau apa?"tanya Kenan tajam, dia tersenyum sinis ketika melihat wajah kebingungan Queen.
"Lo jangan salah paham dulu, Ken!"sahut Liam sambil menghampiri kedua pasangan yang hanya saling memandang dengan pandangan berbeda.
"Gue sama Queen cuma saling balas budi aja. Queen berniat balas budi sama gue karena–"
"BACOT LO, SETAN!"
Bugh.
"Kenan!"seru Queen ketika dengan tiba-tiba saja Kenan menendang perut Liam dengan keras sehingga mengakibatkan cowok itu jatuh.
Tidak cukup hanya di situ, Kenan pun mencekik leher Liam dan menghadiahi cowok itu dengan pukulan-pukulan di beberapa wajah serta perut. Queen hanya bisa menangis dan berusaha untuk mencegah Kenan yang semakin kesetanan.
"UDAH KEN, CUKUP!"teriak Queen sambil berlari memeluk Liam yang sudah tidak berdaya. Bukan tanpa alasan dia memeluk Liam, gadis itu hanya ingin melindungi Liam dari pukulan-pukulan yang siap di layangkan oleh kekasihnya lagi.
Queen sudah tidak tega ketika melihat darah mulai muncul dari hidung Liam, dan batuknya Liam pun mengeluarkan darah. Ini semua salahnya.
Nafas Kenan memburu, kemarahannya semakin memuncak ketika melihat Queen memeluk tubuh lemah Liam. Dengan penuh emosi dia menarik Queen lalu menjauhkannya dari jangkauan Liam yang tidur di aspal dengan mata sesekali terpejam dan terbatuk-batuk.
"Kenan apaan, sih!?"
" LO YANG APA-APAAN!"teriak Kenan tepat di hadapan Queen.
Gadis itu mematung, hatinya sakit ketika mendengar teriakan Kenan yang di tujukan kepadanya. Badan gadis itu bahkan bergetar.
"Kak Liam,"gumamnya menyerupai bisikan.
Nafas Kenan memburu, bahkan di saat-saat seperti ini Queen masih mementingkan Liam?
"Kak Liam hampir mati Ken,"bisiknya lemah.
Kenan tak memperdulikan bisikan lemah gadis itu, yang ingin dia lakukan sekarang adalah memasukan Queen ke dalam mobil dan membawanya pergi jauh dari jangkauan Liam.
"Lo nolongin dia, kita cukup sampai di sini Queen!"desis Kenan tidak main-main.
Bimbang, nyawa seseorang di pertaruhkan di sini. Jika Queen tidak menolong Liam, lalu siapa lagi yang akan menolong cowok yang setengah sekarat itu? Jika dia menolong Liam... selesai, hubungannya dengan Kenan akan berakhir begitu saja.
"Ken jangan gini,"isaknya. "Kamu gak setega itu, Ken."
"Gue kayak gini adanya, Queen. Gue jahat, gak berperasaan!"
"Tolongin Liam sekali ini aja, Ken!"
"Dan lo lebih milih kita putus? IYA!?"
"KEN JANGAN BENTAK AKU!"
"LO PANTES DI BENTAK, QUEEN! Apa lo gak mikir huh gimana sakitnya gue di bohongin lo? Gimana marahnya gue waktu lo ngehindarin gue dari kemarin? Dan apa lo gak mikirin perasaan gue waktu liat dengan mata kepala gue sendiri bahwa lo ngaku gak ada di rumah lagi nemenin Mama lo, tapi nyatanya lo jalan sama cowok lain selain gue!? Makan sampai cowok brengsek itu ngusap bibir lo, itu yang lo bilang nganter MAMA, HUH!? MIKIR GAK GIMANA SAKITNYA JADI GUE!?"
Queen hanya bisa menutup telinganya ketika Kenan terus mengeluarkan bentakan. Gadis itu semakin menangis karena takut, padahal Kenan tahu traumanya apa dan apa yang di takuti Queen.
"Sekarang masuk ke mobil atau kita putus, Queen."
Queen menangis, gadis itu menatap sekali lagi Liam yang juga menatapnya dengan pandangan sayu. Kali ini dia tidak bisa menolong cowok itu, dia tidak ingin hubungannya kandas.
Dengan cepat Queen masuk ke dalam mobil Kenan, dia mengabaikan Kenan yang sudah duduk di sisinya. Mobil mulai melaju dan perasaan Queen semakin tak menentu.
...||||...
__ADS_1
Part ini nguras emosi😂