
Ada yang beda dari Kenan.
Lelaki itu sejak datang ke apartemennya, ntah kenapa raut wajahnya seperti tengah dibebankan oleh pilihan yang berat. Queen sih tidak bertanya dulu, dia memilih untuk mendekap Kenan sampai lelaki itu sedikit santai dan balas memeluknya.
Mereka berpelukan di sofa untuk satu jam lamanya. Tanpa berbicara sama sekali. Tanpa beranjak kemana-mana. Hanya saling mendekap dengan mata terpejam. Mereka seolah membiarkan urusan yang seharusnya dipikirkan, ditunda terlebih dahulu lewat sentuhan itu.
Tangan Queen mengelus punggung tangan Kanan yang ada di perutnya. Dia menatap lantai dengan isi pikiran yang hanya diketahui oleh Queen sendiri.
"Maaf gak sempet bawa makanan buat kamu," gumam Kenan sembari mengecup kepala bagian belakang Queen.
Queen hanya bisa tersenyum tipis, memaklumi. "It's okay, aku gak butuh kamu bawain makanan buat aku. Aku cuma mau kamu datang ke sini."
Kenan terkekeh pelan, pelukannya pada Queen semakin erat. "Kangen, hm?"
Queen menengok sedikit ke belakang sampai membuat wajah keduanya sangat dekat. Mata Queen menjelajahi setiap inchi wajah Kenan, yang sangat sempurna.
Apakah Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan Kenan?
"I miss you, so much!"
Tanpa bisa ditahan, Kenan pun mengecup hidung Queen dengan gemas sampai si empunya terkekeh geli.
Tangan Kenan membalikan badan Queen agar menghadap ke arahnya. Kedua orang itu saling memandang dan tersenyum satu sama lain.
Lalu entah siapa yang memulai, keduanya berciuman. Queen hanya bisa melingkarkan tangannya di pinggang Kenan sembari membalas ciuman lelaki itu yang memabukkan.
Saat tangan Kenan menangkup pipi Queen, mengelusnya dengan lembut, dan lanjut beralih ke tengkuk perempuan itu untuk semakin menciumnya, Kenan bersumpah bahwa dia sangat mencintai Queen.
Setelah merasa cukup dan kehabisan napas. Keduanya memisahkan diri, tetapi masih saling berpelukan. Queen tertawa kecil, yang membuat Kenan kebingungan.
"Kenapa ketawa?" tanyanya penasaran.
"Tadi itu ... waw," jawab Queen sembari menatap ke langit-langit apartemennya.
"Kamu suka?"
Queen kembali menatap Kenan. Dia mengangguk semangat sementara senyumnya terus melebar. Kenan yang melihat pemandangan itu hanya bisa menyuarakan rasa kagumnya dalam hati.
__ADS_1
"Aku suka banget!"
"Kalau gitu aku cium kamu aja setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik."
Tanpa bisa ditahan, Queen pun tertawa sembari memukul pelan lengan Kenan yang kembali melingkari perutnya.
"Itu namanya berlebihan, gak baik tau. Aku suka dicium kamu, tapi ya gak setiap detik juga!" ucap Queen.
Hening. Keduanya kembali diam, namun bukan jenis diam yang canggung. Kenan sangat nyaman sekarang.
"Kamu laper gak, Ken?" Queen bertanya tanpa menatap Kenan.
"Laper. Kenapa? Kamu mau masak buat aku?"
Hidung Queen mengerut. Sepertinya itu bukan ide yang bagus. "Kita pesan online aja. Kamu mau apa?"
"Apa aja, bebas. Kamu maunya apa?"
Malah balik bertanya. "Aku dari kemarin pengen sayap mercon gitu. Enak deh, kayaknya. Apalagi kalau pake nasi inget."
"Kamu masak nasi?" tanya Kenan dengan mata sayunya yang menatap profil wajah Queen dari samping.
"Yaudah, pesen aja sayap merconnya. Uangnya nanti ambil di dompet aku, ya."
Queen hanya bisa mengiyakan, daripada nanti Kenan bt kalau Queen bilang dia akan bayar sendiri.
Setelah hampir setengah jam menunggu, akhirnya makanan yang diidamkan oleh Queen itu datang juga. Dia mengambil dompet Kenan dan membukanya, lantas dia pun terdiam sejenak ketika menemukan foto keluarga kecil Kenan yang terpampang di sana.
Mereka nampak sangat bahagia dengan senyuman lebar yang terpampang di masing-masing bibir mereka. Berusaha abai, perempuan itu mengambil uang 100 ribu dan menyimpan kembali dompet Kenan di meja.
Setelah selesai membayarnya, Queen pergi ke kitchen set. Dia mengambil mangkuk lumayan besar untuk menuangkan sayap merconnya. Setelah itu Queen mengisi nasi ke dua piring. Dia menyimpannya di meja berkaki pendek. Kenan sedang pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan tangannya.
Queen menyiapkan minum untuk mereka berdua. Lalu setelah selesai mereka mulai duduk berhadapan beralaskan karpet.
Baik Kenan mau pun Queen samaa-sama kepedasan. Dahi mereka dibanjiri keringat, tapi ntah kenapa mereka sama sekali tidak protes meski makanan itu sangat pedas.
"Gila! Pedes banget loh ini," ucap Kenan yang ternyata lebih dulu protes.
__ADS_1
Queen hanya cengengesan saja dengan bibir yang rasanya sudah jontor. Perempuan itu minum lalu mengibas-ngibaskan telapak tangannya ke depan wajah.
"Iya, ya. Pedes banget. Tapi enak, kan? Ntar aku mau coba cekernya, deh."
"Cekernya juga ada?"
Queen hanya mengangguk saja. Mereka pun menghabiskan makanannya.
Rasa pedas hilang karena keduanya minum susu yang ada di kulkas.
"Diem, Ken. Aku lagi cuci piring," kata Queen saat Kenan mendekapnya dari belakang.
"Abisan kamu cantik banget, aku gak bisa diem."
Queen terkekeh pelan. Tangannya aktif membilas piring serta mangkuk bekas mereka makan. Dia membiarkan tangan Kenan melingkari perutnya dan sedikit mengelus perut itu dari luar baju yang dikenakan Queen.
Lagipula posisi ini sangat nyaman.
"Queen." Kenan memanggilnya dengan nada suara rendah dan dalam.
"Hm?"
"Nikah sama aku, mau?"
Meski sangat terkejut sampai hampir saja Queen menjatuhkan piring di tangannya, tetapi rupanya sedetik kemudian perempuan itu berusaha tertawa.
"Jangan bercanda, Kenan. It's not funny," ucap Queen.
"Nggak ada yang lagi bercanda. Aku mau nikah sama kamu."
Queen menghentikan aktifitasnya. Dia membasuh kedua tangannya agar bersih sebelum berbalik menatap Kenan.
Keduanya berdiri berhadapan dengan tatapan yang sangat sulit dijelaskan.
"Nikah sama kamu dan jadi yang kedua?" Queen tersenyum. "Kamu tau sendiri, aku gak suka jadi yang kedua."
"Please, Queen."
__ADS_1
Tangan Queen bersilang di depan dada. "Aku juga mau nikah sama kamu. Tapi kamu ... pisah dulu sama Kak Nanda."