
Queen meregangkan tubuhnya yang terasa lelah. Tangannya menepuk tangan Darren yang sejak masuk kedalam mobil terus melingkari perutnya. Pria dingin itu hanya diam saja meski didalam mobil sempat terjadi percekcokan antara kedua saudara Queen, dia tidak terlalu peduli dan memilih untuk melendoti kekasihnya saja.
Meski mendengus, Darren tetap melepaskan pelukannya. Dia juga meregangkan tubuhnya sebentar sebelum kembali memfokuskan perhatian pada Queen lagi.
"Kamu mau pulang atau masuk dulu?" tanya Queen. Darren memang memiliki tempat tinggal dinegara ini karena memiliki kontrak kerja dengan perusahaan milik calon mertuanya. Darren membeli mansion agar memudahkannya saat ia berada dinegara ini.
"Aku hanya mau bersama denganmu" ucap Darren.
Gerald dan Gerrell memutar bola matanya mendengar ucapan pria dingin yang saat ini terlihat kembali seperti gurita dengan melingkari tubuh kakaknya.
Kalau saja kakaknya terlihat keberatan, Gerrell atau Geraldpun akan dengan senang hati menyeret pria itu menjauhi tubuh kakaknya. Namun saat melihat kakaknya juga kelihatannya tidak keberatan, kedua pemuda itu memilih untuk segera keluar dari dalam mobil. Meninggalkan pasangan yang selalu mengumbar kemesraan padahal didalam mobil itu masih ada adik-adiknya yang masih dibawah umur.
Sungguh tidak tahu malu, begitulah arti dari sorot mata keduanya sebelum keluar mobil tadi.
"Aku mau menyapa orang tuamu dulu. Dan aku juga mau membahas sesuatu yang penting nanti."
Queen mengangguk "kalau begitu ayo kita turun"
Darren menggeleng dan malah mendekatkan wajahnya kearah wajah Queen.
Hal itu cukup mengagetkan bagi Queen, dia mendorong wajah itu pelan "ayo keluar" ucapnya dengan gugup. Berada didekat Darren selalu membuat jantungnya berdisko ria. Apalagi wajah mereka sangat dekat yang mana hal itu membuat wajah Queen tiba-tiba saja terasa memanas.
Darren memegang tangan Queen yang berusaha menjauhkan wajahnya. Kemudian dia menatap netra cokelat milik kekasihnya dengan tatapan lembut. Darren menarik kedua sudut bibirnya saat merasakan kegugupan gadisnya "wajahmu merah" ucap Darren mulai menggoda.
Queen mendengus dan memalingkan wajahnya. Dia merasa malu dan ingin sekali mendorong tubuh besar yang menghimpitnya ini akan tetapi kekuatannya kalah jauh sehingga ia hanya bisa pasrah.
Darren menarik dagu Queen agar gadisnya ini menatap manatanya lagi "Sayang.. Aku sangat mencintaimu"
blusshh ...
Wajah Queen terasa semakin panas saat kata cinta terlontar dari mulut Darren. Hatinya seperti hampir meledak.
Darren hampir tertawa melihat reaksi Queen, dia akan semakin membuat Queen tidak berkutik. Darren semakin melebarkan senyumnya yang membuat Queen semakin jatuh pada pesona pria tampan ini.
"Kenapa kamu hanya diam? tidak membalasnya?" tanya Darren, hidung mereka sudah menempel karena Darren semakin mengikis jarak keduanya.
"Aku--"
Belum sempat Queen berbicara, Queen membelalakkan matanya karena sesuatu yang basah menempel pada bibirnya. Saat keterkejutannya berakhir, Queen memejamkan matanya saat Darren mulai menciumnya dengan lembut.
Cukup lama Darren mel-lu-mat bibir manis yang sudah menjadi candunya. Cukup lama bibir mereka saling bertemu dan pada akhirnya dengan perasaan tidak rela Darren menjauhkan wajahnya. Menatap wajah semereh tomat milik Queen kemudian mengusap bibir berwarna pink yang baru saja ia nikmati.
__ADS_1
Ketika melihat Queen sudah kembali tenang Darren berucap "Ayo keluar"
Queen mengangguk dan membuang nafasnya panjang sekali. Setelah merapikan rambutnya Queen dan Darren akhirnya keluar dari dalam mobil. Mereka berjalan seirama memasuki tempat tinggal Queen.
Terdengar suara berisik dari dalam mansion saat keduanya sudah sampai didepan pintu.
**
Gerald dan Gerrell berjalan bersama masuk kedalam mansion. Sesekali Gerrell yang penasaran menoleh kearah mobil "apa tidak papa kakak ditinggal sendirian?"
Gerald angkat bahu cuek "Kalau kamu mau melihat mereka mengumbar kemesraan sana masuk kedalam mobil lagi"
Gerrell tentu saja tidak mau, dia yang masih cukup polos itu tidak mau sampai otaknya rusak melihat pasangan tersebut "nggak mau"
"Sayangku..."
Kedua pemuda itu menoleh kesumber suara dimana mom Valey tampak berbinar melihat kedatangan kedua puteranya. Dan mom Valey segera menubruk tubuh anaknya yang sangat ia rindukan "Lama sekali kamu perginya Rel.." keluh mom Valey.
"Aku disini mom"
Mom Valey menoleh kesamping dan mendapati wajah jengkel Gerrell lalu mendongak. Dapat ia lihat sepasang mata tajam seperti milik suaminya "oh Gerald, kok kamu yang ada diperlukan mom?" ucapnya sedikit cengo.
"ya Tuhan.. Mom semakin pikun" ujar Gerrell dengan suara mengejek.
"Apa mom merindukanku?"
Mom Valey menggeleng kemudian tatapan matanya berubah tajam "Kenapa kau kabur bocah sialan?!"
plak plak plak
Mom Valey memukuli tubuh anaknya dengan brutal.
"aduh mom.. jangan mom sakit" keluh Gerrell sembari menghindari pukulan yang datang bertubi-tubi padanya.
Gerald yang melihat hal itu memilih untuk pergi ke kamarnya.
"Gurumu sampai menjenguk seseorang kerumah sakit karena katanya ada yang lagi sakit parah" sindir mom Valey pada anaknya dan hanya di balas senyum bodoh.
"dan akhirnya dia mengeluh pada mom lama sekali. Kamu itu malu-maluin " ucap mom Valey penuh amarah, karena ia harus meminta maaf pada wali kelas Gerrell karena anaknya yang telah berbohong perihal sakitnya.
"hehehe.. maafin aku mom. Aku hanya lelah dengan semua pelajaran itu. Aku ingin refreshing sebentar"
__ADS_1
Mom Valey hanya mendengus, lalu melipat tangannya didepan dada. Setelah melampiaskan amarahnya dengan memukuli Gerrell hatinya lumayan lega "Eh.. Dimana kakakmu?" tanya mom Valey yang menyadari ketiadaan Queen.
"ada dibelakang. Lagi pacaran" ucap Gerrell dengan malas.
Mom Valey hanya menoleh kearah pintu lalu kembali fokus pada Gerrell. Lalu tiba-tiba menjulurkan tangannya.
"apa?" tanya Gerrell dengan menyernyit karena tidak mengerti.
"Mana oleh-oleh untuk mom?"
Gerrell meringiskan giginya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau sampai tidak ada oleh-oleh mom akan menggantungmu dipohon" ancam mom Valey, sebenarnya dia tidak benar-benar mengharapkan oleh-oleh dia hanya suka saja menjahili anaknya ini.
"nggak ada mom. Maafin Gerrell yang tampan ini ya?" ucap pemuda itu sembari mengusal dilengan mommy nya. Dia akan bersikap baik dan penurut agar momnya tidak lagi marah.
"cih.. Kamu memang bukan anak yang berbakti"
Gerrell semakin mengusal, dia tersenyum imut agar momnya tak lagi marah.
"aish.. baiklah mom tidak akan marah"
Gerrell tampak girang dan kemudian melepaskan lengan momnya "Momku memang yang paling pengertian." Gerrell kecup sekilas pipi milik momnya.
"Oh iya mom aku sangat lelah , aku kekamar dulu ya?" tanya Gerrell sembari memperlihatkan raut wajah memelas, dia juga berpura-pura menguap agar mom nya kasihan.
Mom Valey mengangguk "Mandi air hangat dulu sebelum tidur, kamu bauk taik" ucapnya penuh perhatian namun diakhiri ejekan.
"Moooom" rengek Gerrell sembari menjejakkan kakinya kelantai. Dan mom Valey hanya tertawa.
"sudah sana... katanya mau tidur"
Gerrell mengangguk dan segera pergi .
Saat Gerrell menjauh, Mom Valey menatap puterinya yang baru saja masuk kedalam mansion. Tatapan matanya yang tadi usil berubah.
Mom Valey menatap anaknya yang digandeng oleh seorang pria tinggi dan tegap. Sorot mata keduanya terlihat begitu bahagia.
Pria yang menggandeng dengan posesif tangan anaknya itu memiliki penampilan yang luar biasa.
Tubuhnya tegap dan besar sehingga menggambarkan jika dia bisa melindungi tubuh kecil puteri tercintanya. Wajahnya juga sangat tampan sehingga mom Valey mengerti kenapa anak perempuannya sampai tergila-gila dengan pemuda asing ini.
__ADS_1
Tatapan mata Darren setajam silet , namun saat bersama dengan Queen terlihat pendar lembut yang menguar dan senyum tipis muncul sekilas yang menandakan jika ia begitu mencintai gadis yang saat ini digenggamnya. Tatapan itu mirip sekali dengan tatapan suaminya.
Melihat hal itu hati mom Valey terharu dan dia terlihat begitu emosional. Dia rasanya ingin menangis melihat keserasian keduanya.