QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
mengamuk


__ADS_3

Dan benar saja apa yang Gerrell ucapkan.. Saat ini markas tempat penyekapan Queen sedang dalam kondisi heboh karena gadis itu terus mengamuk.


Dia terus meminta sesuatu untuk diambilkan sehingga membuat para penjaga terus kewalahan.


"nona! tolonglah berhenti untuk mengamuk! dan jangan banting apapun lagi" bentak seorang pria yang menjaga Queen. Dia mulai kehabisan kesabaran.


"diam kau jelek! pria sejelek kau itu tak pantas berbicara padaku!"


pyaarr


Queen membanting vas bunga yang ada diatas meja.


"astaga nona.. itu harganya fantastis dan sangat disukai oleh tuan Luois! kau mau mati hah?!"


Queen tampak tak peduli. Dia yang merasa kebosanan mulai jengah dan memilih untuk mengamuk agar rasa kesalnya berkurang.


"apa nona tidak tahu jika saat ini nona sedang diculik? kenapa bertindak seperti ini?"


Queen menoleh setelah memecahkan vas tersebut. Lalu menatap pria yang tadi berbicara padanya "aku tidak peduli! aku mau alat lukis sekarang juga!"


"nona.. kalau nona terus seperti ini, aku akan mengikat dan menutup mulut nona menggunakan kain!" karena kesabarannya mulai menipis, pria itu sekarang mengancam.


"kau jahat sekali! apa kau tidak dengar apa yang dikatakan tiang jemuran tadi! "layani nona ini dengan baik asalkan dia tetap berada didalam kamar! " " pekik Queen semakin kencang sembari mengingatkan penjaga ini akan kata-kata Louis saat pria itu pergi.


"tapi ini keterlaluan sekali. Aku sudah tidak tahan lagi"


"breng-sek! aku bunuh diri saja kalau begitu.." Queen mengambil pecahan vas dan meletakkannya diatas tangan kiri. Tentu saja itu hanya gertakan semata. Queen tidak benar-benar mau menyakiti tubuhnya yang berharga.


"jangan!" pekik ketiga orang tersebut saat melihat gadis ini semakin tidak terkendali.


"maka dari itu, belikan aku alat lukis sekaraaaang!! " pekik Queen.


Para penjaga sampai menutup telinga mereka menggunakan tangan saat mendengar lengkingan suara menyakitkan itu. Kenapa juga boss mereka menyuruh menuruti segala yang gadis ini mau. Sungguh merepotkan sekali. "kau panggil tuan Luois cepat! bisa tuli aku lama-lama!"


Setelah dipanggil oleh salah satu pria, Louis pada akhirnya datang. Wajahnya yang tenang dan terlihat dingin itu menatap gadis yang sepertinya tampak kelelahan. Lalu ia mendengus kesal saat melihat kondisi kamarnya yang berantakan seperti kapal pecah.


"apa yang terjadi?"

__ADS_1


"nona ini meminta untuk dibelikan alat untuk melukis tuan.. padahal tadi dia sudah meminta berbagai buku yang harus kami ambilkan diruang membaca karena anda tidak memperbolehkan nona untuk pergi."


Louis menatap jengkel gadis tersebut.


"apa? aku hanya bosan didalam sini!" keluh Queen dengan wajah memberengut. Nafasnya masih naik turun akibat dari kelakuannya sendiri.


Louis mengambil satu botol air yang ada diatas nakas. Memberikan botol tersebut agar Queen lebih tenang. "bukankah kau sebelumnya begitu baik? kenapa sekarang mengeluarkan tantrum?"


Queen yang sudah meminum sedikit minuman tersebut menoleh jengah kearah Louis "tantrum? ck. kau kira aku bayi?!"


"lalu apa kalau bukan bayi? kau mengamuk seperti ini. Kau bahkan membuat kamar seperti kapal pecah!" keluh Louis yang merasa kepalanya juga hampir pecah melihat kekacauan yang dibuat oleh gadis ini.


"memangnya kau pernah melihat kapal pecah sebelumnya?"


Louis terdiam mendengar balasan gadis ini. Pria tampan itu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut saat menghadapi kepintaran gadis ini saat menyahut ucapannya. Dia sangat pintar membalikkan kata.


"apa kau mau aku kurung dipenjara lagi?" ucap Louis setelah beberapa saat.


Queen menggeleng "tentu saja tidak! aku tidak mau berada di ruangan lembab seperti itu lagi"


Queen berdecak kesal "apa kalian semiskin itu sampai tidak memberikan aku alat lukis? aku disini sandera yang berharga loh!"


"masalahnya toko yang menjual alat lukis jauh dari sini nona.." jelas seorang penjaga yang merasa sudah kelelahan meladeni kegilaan gadis ini.


"apa kalian tidak memiliki kendaraan?"


Louis menghela nafasnya panjang, mendengarnya. Ocehan gadis ini benar-benar menyebalkan sekali. "ambilkan milikku" akhirnya ia memilih menyerah.


Queen yang awalnya sedang menatap pria yang menjaganya menoleh kearah Louis "kau punya alat lukis ya tiang jemuran?"


"kau memanggilku apa?! dasar gadis idiot! aku memiliki nama. panggil aku Louis!"


Queen mengangguk"oh.. aku memanggilmu begitu kan karena aku tak tahu namamu. Dan aku juga bukan gadis idiot! aku memiliki nama. panggil aku Karren!" ucap Queen sembari meniru Louis.


"oh iya.. kamu memiliki alat lukis kan? mana? aku ingin sekali menggambar sesuatu "


"ambilkan diruang kerjaku!"

__ADS_1


Salah satu anak buah Louis mengangguk dan berucap baik sebelum pergi mengambilkan alat lukis milik tuannya.


Louis segera duduk disofa, dia menyuruh salah satu anak buahnya untuk memanggilkan maid untuk membersihkan kekacauan yang dilakukan oleh Queen. "aku heran sekali, kenapa Darren bisa menyukai gadis absurd dan idiot seperti mu! selain wajahmu, tak ada kelebihan lainnya."


Queen mendengus mendengar ucapan ketus Louis. Dia duduk disofa yang ada dihadapan pria ini "cih.. kau benar-benar menjengkelkan sekali"


"kau yang menjengkelkan! bahkan vas kesukaanku kau banting. Untung saja kau berharga, kalau tidak kau tak segan untuk membantingmu untuk melampiaskan kekesalan ku!"


Queen menyibak rambutnya kebelakang "aku memang berharga" ucapnya dengan raut wajah tengil.


"astaga.. menghadapi gadis liar seperti mu sungguh melelahkan" ucap Louis setengah mengeluh. Dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


Bukan maunya untuk meletakan Queen dikamarnya. Sesampainya dimarkas ini, Louis sudah menempatkan Queen didalam sel. Namun entah apa yang terjadi, gadis ini dengan mudah keluar dari sana.


Berjalan-jalan dan mengeksplorasi tempat ini. Bahkan gadis ini melihat latihan anak buahnya yang berada dibelakang markas. Betepuk tangan dengan heboh ketika ada yang membuatnya kagum.


Karena hal itu, Louis memilih untuk menempatkan Queen ditempat yang lebih baik, agar tidak berkeliaran lagi. Namun, tempat ini tak ada tempat yang layak selain kamarnya. Jadi dia memutuskan untuk menempatkan gadis ini disini.


Namun, bukannya bersyukur mendapatkan tempat yang lebih baik, malah ia berbuat ulah dengan memegang kata-katanya untuk membungkam mulut anak buahnya. Sungguh gadis yang cerdik dan licik.


Setelah beberapa saat menunggu. Mata Queen berbinar melihat alat lukis yang begitu lengkap ada dihadapannya. Dia menoleh kearah Louis "Louis. Kau senang melukis ya? kau memiliki alat selengkap ini ternyata"


Louis hanya diam dan mendengus.


"ck. Wajahmu terus mengkerut, awas penuaan dini" ucap Queen sembari tersenyum usil seperti biasanya.


"Diam atau aku akan membungkam mulutmu dengan kuas!"


Queen menutup mulutnya dengan tangan "oke. Aku diam" ucapnya terdengar tidak jelas. Dia mulai asik dengan peralatan yang ada didepannya.


Sedangkan Louis, dia terus memperhatikan gerak gerik gadis yang menjadi sanderanya.


Wajahnya jauh terlihat cantik saat diam, apalagi gerak-geriknya sangat anggun. Terlihat seperti gadis kaya yang terpelajar.


Hilang sudah aura liarnya, dia berubah menjadi gadis cantik yang tampak menawan.


"apa aku salah lihat? bagaimana bisa dia berubah begitu signifikan? apa dia itu bunglon ?" ucapnya dalam hati mengomentari perubahan sikap Queen saat ini. Dia tanpa sadar terus memperhatikan Queen yang tengah mencoret kan cat keatas kanvas.

__ADS_1


__ADS_2