QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
penjelasan


__ADS_3

"buahahaha" tawa Queen pecah saat melihat Jane lari ketakutan saat Gerrell kembali mencoba mendekat.


Bahkan wanita itu juga menabrak beberapa orang yang tadi menonton mereka. Sungguh lucu dan emnghibur sekali.


"jangan tertawa lagi kak! aku masih merasa kesal setengah mati" gerutu Gerrell.


Queen mengusap sudut matanya, dia melihat tangan adiknya yang masih terkepal erat. Menandakan bahwa adiknya memang sedang dalam kondisi marah.


Queen tersenyum, dia menepuk kepala Gerrell beberapa kali "terimakasih telah melindungiku tadi" ucapnya dengan tulus, dia mencubit kedua pipi Gerrell sehingga membuat pemuda itu malu.


"jangan lakukan itu!" meski sebenarnya dia senang- senang saja diperlakukan seperti itu, tapi ini didepan umum tentu Gerrell merasa malu.


"ayoyoyo ternyata masih punya urat malu" Queen msih asik mencubit pipi Gerrell, merasa gemas sekali pada adiknya yang tampan itu.


ehem


Queen terdiam, dia menoleh kesumber suara "ah aunty masih disini?" tanyanya dengan sedikit kikuk karena tidak menyadari kehadiran wanita paruh baya itu.


"cih.. kau kira aku ini batu?!" ketus menjawab, lalu mom Emily duduk dikursi taman yang sebelumnya Queen dan Gerrell duduki. Duduk dengan angkuh disana.


"aku kira bukan batu tapi patung"


"kaaau!!" pekik mom Emily merasa kesal saat Queen menjawab.


"hehehe.. tidak loh aunty, aku hanya bercanda" ucap Queen dengan meringiskan giginya "aunty dari mana? apa sedang berjalan-jalan?"


Mom Emily memutar bola matanya malas "hmm.. dan tadi tidak sengaja melihatmu sedang bermesraan dengannya! kau mau menjelaskannya?" ucapnya masih ketus, dia melirik Gerrell.


Gerrell menarik Queen agar mendekatinya "dia siapa? apa boleh aku hajar juga?" bisiknya pada Queen.


"jangan! dia mommy tuan Darren"


Mom Emily mendengus "aku dapat mendengar pembicaraan kalian, bocah bodoh!"

__ADS_1


Gerrell mengangguk, dia menatap wanita paruh baya itu dengan sengit saat melihat bagaimana arogannya wanita itu "cih.. pasti dia mempersulit kakak selama ini"


"ehem"


Kembali berdehem agar dua orang yang tadi sedang berbisik-bisik membicarakannya fokus lagi padanya.


Queen kembali mendekati mom Emily, dia tersenyum manis sekali.


"jangan tersenyum begitu kau! cepat jelaskan! apa benar kau memiliki banyak pria disisimu? lalu apa artinya Darren bagimu?"


Queen tergelak dan kemudian duduk disisi mom Emily.


Mom Emily menyernyit saat melihat gadis yang dengan berani duduk disisinya, padahal dia tampak galak sekali.


"aunty.. benar apa yang tadi aunty katakan, aku memiliki tiga pria yang sangat berarti untukku, ah tidak! sekarang menjadi lima orang" ralatnya.


Mom Emily kembali menajamkan pandangannya mendengarkan penuturan Queen.


"jangan marah dulu dong aunty! aku belum selesai menjelaskannya" ucap Queen dengan lembut, dia merebahkan kepalanya dilengan mom Emily membuat wanita paruh baya itu terkejut.


Queen kembali mengangkat kepalanya, dia akan bersikap manja pada wanita arogan ini agar cepat luluh "pria pertamaku adalah dadku lalu yang kedua adalah kedua adikku yang tampan, salah satunya adalah dia" menunjuk Gerrell yang sedang berdiri memperhatikan mereka berdua. Meski Gerrell diap saja tapi dia siap siaga kalau sampai kakaknya disakiti nanti.


Mom Emily masih diam, dia memperhatikan pemuda yang tadi dia kira adalah kekasih dari gadis ini "oh begitu rupanya, pantas saja mata mereka sama"


"lalu dua pria lagi yang sangat berarti bagiku tentu saja tuan Darrenku yang tampan, dan dad Edward" ucap Queen dengan riang.


Mom Emily terkesiap saat nama suaminya disebut oleh gadis kecil ini. Perasaannya menghangat mendengar penuturan Queen.


"taukah aunty? jika aunty juga sangat berarti untukku, karena aunty adalah mom dari pria yang aku cintai" ucapnya dengan wajah lembut tapi dari suaranya terdengar ketegasan disetiap kata yang terlontar.


Mom Emily masih saja diam, dia mendengar ketulusan dan kejujuran dari apa yang baru saja Queen ucapkan.


Kalau saja egonya tidak tinggi, mom Emily pasti akan segera memeluk tubuh gadis baik ini.

__ADS_1


Mom Emily berdiri "baiklah, aku akan pulang sekarang" tanpa menunggu jawaban Queen, mom Emily segera meninggalkan taman.


Queen diam saja, dia tidak mencegah kepergian wanita paruh baya itu.


prok prok prok


Queen menoleh kearah Gerrell yang sedang bertepuk tangan sekarang, setelah mom Emily pergi.


"akting kakak sangat pro" ucapnya sembari mengacungkan kedua ibu jarinya kearah Queen.


Queen tersenyum dan mengibaskan rambut panjangnya kebelakang "hahaha.. kau menyadarinya Rel?"


Gerrell duduk disisi Queen "aku tahu bagaimana karakter kakak, jadi sudah aku pastikan itu hanya akting agar wanita arogan itu tersentuh kan? bahkan aku tadi meraskan ketulusan dari apa yang kakak ucapkan! kau hebat sekali"


"hahahaha... aku main cantik menghadapinya Rel, sama seperti wanita jala** tadi"


"aku masih merasa kesal padanya! ayo kita tangkap dia dan siksa bersama"


"bagaimana dengan aku? aku yang dia hina habis-habisan sampai mulutnya berbusa, sungguh memuakkan. Tapi jangan terburu-buru Rel. Bermain dulu dengannya bukankah akan lebih menyenangkan?" tanya Queen, seringai muncul dibibir Queen setelah mengatakan hal itu.


"issh.. kau menyeramkan kak" ucap Gerrell, dia bergidik saat melihat senyum jahat kakaknya itu.


"hahaha.. ayo kita cari makan saja Rel! menghadapi wanita ular membuatku lapar lagi" Queen berdiri lalu berjalan.


Gerrell mengikuti Queen, dan mereka kembali menjelajahi kuliner yang ada disana.


Kedua saudara itu sedang memakan ice cream sembari jalan santai, hari semakin malam tapi mereka berdua tampak enggan untuk pulang.


Gerrell merangkul bahu Queen "kak, ke club yuk" ajaknya pada kakaknya itu.


"mau ngapain? kau mau melihat wanita jala** disana?!" ketus menjawab.


"tentu saja tidak, kita hanya minum-minum saja, bagaimana?"

__ADS_1


"aaahhhkkk" pekik Gerrell tiba-tiba, dia merasa kepalanya sakit saat ada seseorang yang menarik rambutnya kebelakang.


__ADS_2