QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
kepribadian yang mirip


__ADS_3

Queen mendekati mom nya dengan pandangan yang sulit dimengerti. Tanpa basa-basi saat sampai didepan momnya Queen langsung memeluk tubuh wanita paruh baya yang sangat ia sayangi. "mommy baik-baik saja?"


Mom Valey mengangguk, dia mengusap air mata yang menganak diujung matanya "tentu saja."


"Lalu kenapa mom begitu emosional?"


Mom Valey melepaskan pelukannya lalu angkat bahu "mom juga tidak tahu. Tiba-tiba saja mom ingin menangis. Perubahan suasana hati ini membuat mom curiga" jelasnya menggantung sembari menatap serius manik mata anaknya.


"Curiga? maksud mom curiga apa?" tanya Queen yang tidak mengerti.


Mom Valey semakin memperlihatkan wajah penuh misterius saat melihat mata anaknya yang menunjukkan sorot penasaran.


"ck.. Mom selalu saja menjengkelkan" keluh Queen. Mom nya itu selalu seperti ini. Suka mempermainkan anak-anaknya.


"Hehehe..." wanita paruh baya itu hanya terkekeh namun detik kemudian kembali menunjukkan ekspresi wajah yang serius "jangan-jangan mom hamil lagi sayang" seloroh mom Valey sembari menahan tawanya saat melihat Queen membuka mulutnya karena terkejut. Gadis itu melongo sembari menunduk dan melihat kearah perut mom Valey saat mendengar ucapan garing dari momnya.


Saat merasa hal itu tidak mungkin, Queen menatap wajah mom Valey dengan wajah datar.


"ck.. Wajahmu sangat menyebalkan sayang" keluh mom Valey, kemudian dia menoleh kearah Darren "Hai calon menantu" sapanya dengan wajah bersahabat. Dia juga tersenyum dan melambaikan tangan meski lawan bicaranya hanya diam saja. Tapi meski begitu mata Darren sedikit berkedut. Dan pemuda itu menunduk untuk menghormati mom Valey.


Sepertinya dia heran melihat wanita antik yang sialnya adalah calon mertuanya itu.


"Jangan dingin-dingin Darren, mom rasanya ingin bersin tahu" seloroh mom Valey.


Plak


Satu pukulan melayang dan mengenai lengan kokoh Darren. Namun, pria itu masih diam dan tidak bereaksi.


Melihat calon menantunya yang hanya diam seperti patung, mom Valey menarik lengan Queen dan membisikan sesuatu "Darren sedang sariawan ya Queen?"


Queen hanya terkikik mendengar ucapan momnya, dan yang dibicarakan hanya mendengus saat mendengar bisikan wanita paruh baya itu.


"Saya tidak sariawan" ucap Darren.

__ADS_1


"Mom kira kamu sariawan loh Ren.. hahaha" tawa Mom Valey menggema. Namun yang menjadi pusat tertawaannya hanya diam dan menatap jengkel mom Valey.


"ehem"


Suara deheman seseorang membuat mom Valey yang tengah asik menggoda calon menantunya diam. Ketiga orang tersebut menoleh bersamaan kearah pintu.


Aura tempat mereka berdiri langsung berubah saat aura kuat yang sedang berjalan kearah mereka.


Yang merasakan betapa mengintimidasi tatapan mata orang yang baru datang adalah Darren seorang. Dia merasa tidak nyaman.


"Sayang~~ Kamu sudah pulang?" panggil mom Valey kemudian dia berlari kearah orang yang tak lain adalah suaminya. Dad Arsen.


Dad Arsen mengangguk dan membiarkan istrinya masuk kedalam pelukannya sebentar. Lalu dia kembali fokus kearah anaknya "kamu sudah pulang?"


Queen mengangguk dan berjalan mendekati Daddy Arsen lalu memeluknya sebentar.


Saat Queen memeluknya, tatapan mata tajam dad Arsen menatap manik milik kekasih anaknya. Dia sebenarnya merasa kesal pada pemuda itu karena dia telah merebut perhatian puteri satu-satunya. Kalau saja dia tidak memikirkan bagaimana perasaan Queen, sudah ia buang pemuda itu ke gurun.


Melihat permusuhan yang tercetak jelas disorot mata tuan Arsenio, Darren menghela nafasnya panjang. Sepertinya ia akan cukup sulit meyakinkan pria paruh baya itu saat nanti ia meminta untuk segera menikahi Queen. "ck.. sepertinya tuan Arsenio akan mempersulitku nanti" batin Darren nelangsa. Dia sudah bisa menebak jika tuan Arsenio pasti akan menjadi batu sandungannya untuk segera menjadikan Queen istri.


Queen mengangguk "Aku mengantuk dan sedikit mual. Aku sepertinya jetlag setelah perjalanan jauh"


"Pergilah kekamar untuk beristirahat"


Queen kembali mengangguk. Gadis cantik itu mengecup pipi kedua orang tuanya terlebih dahulu sebelum berjalan menuju tangga.


"eits... Mau kemana kau?" tanya Dad Arsen sembari menahan baju bagian belakang Darren di saat pemuda itu juga berjalan mengikuti Queen.


"Aku juga lelah dan ingin beristirahat" jawabnya dengan suara datar seperti biasanya.


Mendengar suara Darren Queen menoleh kebelakang. Namun saat melihat dad Arsen memberi kode untuk pergi ia malah menoleh kearah Darren. Pria yang ia cintai hanya mengangguk menandakan jika tak apa Queen pergi. Queen pada akhirnya meninggalkan tempat tersebut meski sebenarnya hatinya takut kalau dad Arsen akan menyulitkan Darren .


Saat Queen sudah tak terlihat lagi, Arsen melepaskan cekalan tangannya yang mencengkeram. "Kamu pergilah kekamar, tunggu aku disana"

__ADS_1


Mom Valey mengangguk "jangan berlebihan" ucapnya mengingatkan.


Dad Arsen hanya angkat bahu acuh, dia tidak mau menjanjikan hal itu padahal istrinya terlihat mengancam melalui sorot matanya.


"ck menyebalkan.." setelah berucap Mom Valey menepuk lengan Darren.


Darren yang diberikan tatapan kasihan merasa khawatir . Dia tidak tahu mengapa calon mertuanya itu menujukan ekspresi semacam itu. Darren merasa sedikit takut apalagi tatapan mata tuan Arsen semakin dingin.


Dad Arsen memberikan kode melalui matanya agar Darren mengikutinya. Dia berjalan dengan tegap dan tegas padahal usianya sekarang tak lagi muda. Pria paruh baya itu masih terlihat bugar dan sehat.


Darren semakin penasaran kemana ia akan dibawa, setelah memasuki sebuah ruangan matanya memperhatikan sekeliling. Ruangan tersebut cukup luas dengan meja dan kursi yang tergeletak di bagian tengah. Rak-rak menjulang tinggi yang ada disisi ruangan penuh dengan buku dan dokumen. Sepertinya ini adalah ruangan kerja milik tuan Arsenio.


Saat sedang mengeksplor pandangannya, Darren dikejutkan oleh serangan tiba-tiba dari calon mertuanya.


bugh..


Tanpa bisa ia hindari. Darren terjatuh saat pria paruh baya itu memukul wajahnya. Darren mengusap sudut bibirnya yang berdarah. "apa saya dibawa kemari untuk dijadikan pelampiasan amarah?" tanyanya saat melihat kilat amarah dari mata Tuan Arsenio.


"Kurang lebih seperti itu" jawab tuan Arsenio terdengar tidak peduli. Dia duduk disofa dan terus memperhatikan Darren yang saat ini tengah berusaha berdiri "itu balasan karena kau tidak becus menjaga Queen"


Darren menghela nafasnya panjang, jadi tuan Arsenio sudah mengetahui pasal penculikan Queen saat diparis. "Aku minta maaf soal itu tuan. Tapi saya sudah berhasil menyelamatkan nya"


Dad Arsenio berdecak jengkel. "Kalau kau tidak bisa menjaga--"


"Saya bisa!" ucap Darren dengan cepat memotong ucapan Tuan Arsenio yang sepertinya akan berbicara hal yang menakutkan.


Pria paruh baya itu hanya diam dan wajah jengkelnya terlihat semakin jelas "Kau juga sepertinya tidur dengan puteriku" sekarang dia menatap mata Darren dengan kilat tajam. Kalau saja Darren tidak memiliki sifat yang sama dengan tuan Arsenio pasti sekarang pemuda itu sudah lari dari ruangan tersebut saat mendapat intimidasi yang sangat kuat.


Tapi untungnya Darren yang cukup terlatih dan sering kali berhadapan dengan orang-orang berkuasa membuatnya lebih santai dalam menghadapi pria arogan dan penuh kuasa ini.


"Tapi aku tidak pernah menyentuhnya! Kalau anda tidak percaya anda bisa mengeceknya kerumah sakit"


Dapat dilihat keseriusan diucapan Darren sehingga dad Arsen sepertinya percaya. Jika pria ini cukup kuat menahan diri sepertinya dia pria yang lumayan. Meski penilaiannya pada Darren menunjukkan peningkatan namun sorot mata Arsen sama sekali tidak berubah. Dia sudah seperti seorang yang siap menerkam musuh "duduklah!" perintahnya.

__ADS_1


Darren mengangguk, dia mengikuti ucapan tuan Arsenio. Darren akan patuh dan menjadi pria penurut agar tuan Arsenio tidak membencinya. Akan sangat menyulitkan jika pria yang sepertinya begitu posesif pada anaknya itu marah. Darren bisa saja tidak diperbolehkan lagi untuk mendekat dan dia pastinya akan kesulitan mengingat betapa berkuasanya tuan Arsenio saat ini.


Dua orang dengan kepribadian yang mirip itu hanya bertukar tatap setelahnya.


__ADS_2