QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
sarapan 1


__ADS_3

Cuaca pagi hari sangat ini cerah, matahari bersinar menyinari bumi. Cahayanya memasuki celah-celah jendela. Suara deburan ombak terdengar, kicau burung yang berterbangan diatas kapal juga terdengar.


tok tok tok


Sepasang kekasih yang ada didalam selimut yang sama, masih tertidur dengan nyenyak tiba-tiba saja terkejut ketika mendengar suara ketukan pintu.


Queen membuka matanya sedikit dengan pandangan mata ling-lung dia juga segera duduk begitupun dengan Darren.


Darren dan Queen baru tidur beberapa jam saja setelah membahas hal serius semalam.


"kak... buka pintunya!" terdengar pekikan dari balik pintu.


brak brak brak..


Queen mengusap matanya, lalu menatap jengah pintu yang sepertinya sedang ditendang-tendang oleh adiknya "kalau tak mengingat dia adik tersayang ku. Sudah kupatahkan kakinya sekarang" gumamnya menggeram, kepalanya berdenyut sakit karena tidurnya terganggu.


pffft...


Queen menoleh kesumber suara, saat mendengar suara tawa tertahan "apa yang kamu tertawakan? apa ada sesuatu yang lucu?" tanyanya dengan wajah datar menatap Darren.


"kamu sangat lucu sayang" ucap Darren, dia menarik Queen agar masuk kedalam pelukannya. Lalu Darren mengusal dileher jenjang gadis ini.


brak brak brak..


"buka pintunya atau aku dobrak nih.." ancamnya masih dengan suara keras.


Queen kembali menoleh kearah pintu "lepaskan aku! aku rasanya mau memukul kepalanya sekarang" ucapnya sembari meronta agar pelukan Darren terlepas.


Darren menggeleng "biarkan saja"


cup cup cup


Darren malah mengecupi pipi Queen dengan gemas.


"kamu belum gosok gigi! menjauhlah dariku!" pekik Queen sembari mendorong wajah Darren.


braak


"kaaaak!!"


Queen menutup telinga nya saat mendengar suara Gerrell menggelegar. Pintu sudah dia dobrak karena tak kunjung dibuka oleh Queen.

__ADS_1


"ya ampun.. tuan mari keluar!" ucap seseorang yang menarik lengan Gerrell, dia adalah Jonathan asisten Darren.


Gerrell menampik tangan Jonathan dan kemudian menatap kakaknya dengan pandangan nyalang. "apa yang sedang kalian lakukan?!"


Darren menoleh dan menatap tajam pemuda yang sedang shok melihat dirinya yang tengah memeluk dan mengecup Queen. Tatapannya tajam dan dingin.


"jangan menatapku seperti itu! aku akan melaporkan kalian pada dad!" ancam Gerrell dengan berani.


"laporkan saja! lihat apa yang akan kulakukan padamu nanti bocah jelek!"


Gerrell menatap berani tatapan tajam Darren. Bukan hal baru jika ia ditatap seperti itu, dua dari lima keluarganya. Bersifat sama seperti Darren, dingin dan mengintimidasi. Jadi ia sudah terbiasa dan tak terlalu takut "apa yang mau kau lakukan hah? aku tidak takut" dia berancang-ancang seperti hendak melakukan tinju.


Darren duduk lalu turun dari tempat tidur, dia berjalan mendekati calon adik iparnya itu "benarkah? apa kau tak takut jika aku mencabut investasi yang kuberikan pada perusahaan yang belum berjalan itu?" bisiknya didekat telinga Gerrell. Mengancam pemuda itu.


"kalau kau masih disini, kupastikan kerja kerasmu akhir-akhir ini akan kuhancurkan"


puk puk


Darren menepuk bahu Gerrell, menunjukkan jika ia serius dengan ucapannya.


Gerrell mundur dua langkah "kau memang rubah licik!" ucapnya ketus lalu pergi meninggalkan kamar Darren dengan menghentakkan kakinya. Menyalurkan emosi melalui langkah kakinya itu.


Queen yang hendak turun dari tempat tidur menyernyit melihat adiknya pergi begitu saja "Kau mau kemana Rel? nggak jadi marah?"


Jonathan yang sejak tadi hanya diam mengangguk dan membungkuk lalu berlari mengejar pemuda yang sejak tadi membuat masalah.


Dari rentetan pertanyaan yang ia ajukan, menanyakan dimana kakaknya berada. Entah tahu dari mana pemuda itu.


Dia tiba-tiba langsung lari menuju kekamar tuan Darren.


Jonathan sungguh penasaran bagaimana bisa Gerrell mengetahui letak kamar tuannya karena ia sama sekali tidak memberitahukan informasi apapun. Tadi setelah Gerrell mengotak-atik ponselnya dia langsung pergi menuju kamar tuan Darren, entah apa yang bocah itu lakukan tapi hal itu sungguh membuat Jonathan penasaran.


***


Queen berjalan dengan menggandeng lengan kekar Darren, wajahnya yang cantik ia poles dengan makeup yang natural sehingga aura kecantikan Queen semakin terpancar.


Tadi Queen sempat berdebat dengan Darren masalah wajahnya yang secantik ini, dia tidak mau sampai semua orang menatapnya nanti saat sarapan. Bahkan Darren menyuruhnya memakai topeng semalam. Sungguh konyol sekali.


Tapi Queen berhasil meyakinkan bahwa hanya Darren yang ada dimatanya. Pria yang ada diluar sana tak tampak dimatanya. Tahu kan bagaimana bucinnya seorang Queensha pada pria tampan ini.


"ck"

__ADS_1


Saat masuk kedalam sebuah restoran mewah yang ada dikapal ini Darren langsung berdecak karena benar saja jika semua orang menatap kekasihnya.


Queen yang mendengar decakan kesal Darren menggeleng, dia menggenggam tangannya dengan hangat.


Darren menoleh dan langsung bersitatap dengan netra berwarna cokelat yang sangat cantik milik Queen. Senyum manis gadisnya membuat Darren terhipnotis, pria yang biasanya datar dan dingin sekarang menunjukkan raut wajah hangat dan senyum tipis itu membuat orang-orang terkejut.


Bisik-bisik orang sedikit terdengar oleh indera pendengaran Queen, mereka semua bertanya-tanya siapakah gadis cantik yang bergandengan tangan dengan Darren. Queen menyeringai kecil "kamu membuat orang-orang terkejut" gumamnya pelan tapi dapat Darren dengar.


Darren melirik semua orang lalu ia mendatarkan kembali wajahnya. Lalu ia menatap gadisnya lagi.


"selamat pagi tuan" suara seseorang membuta Darren kembali menoleh.


"hmm?"


Pria yang tadi menyapa Darren adalah pemilik acara pesta, dia adalah tuan Albert. Pria paruh baya itu menatap Queen "dia?"


Darren memeluk pinggang Queen dengan begitu posesif "dia gadisku"


Tuan Albert mengangguk sembari tergelak melihat bertapa posesifnya tuna Darren pada wanita yang dia kenalkan sebagai gadisnya. Dia sedikit terkejut karena ia kira Darren dekat dengan Alice, gadis yang akhir-akhir ini dirumorkan dekat dengan Darren.


Tapi jika dilihat dari manapun gadis yang ada dihadapannya jauh lebih cantik dibandingkan dengan Alice "perkenalkan nona, saya Albert" ucapnya dengan ramah sembari mengulurkan tangannya dihadapan Queen.


Saat Queen hendak membalas jabatan tangan tuan Albert, Darren dengan cepat menyambar tangan tuan Albert.


Queen menyernyit dan menatap heran Darren. Tapi yang ditatap tampak tak peduli. "saya Karren, senang berkenalan dengan anda tuan Albert" ucapnya sembari menatap tuan Albert yang tampak terkejut oleh tindakan tiba-tiba Darren.


"hahaha.. ternyata tuan Darren sangat posesif dengan gadisnya ya?" ucap tuan Albert sembari tertawa. " senang juga berkenalan dengan anda nona, maukah tuan dan nona sarapan bersama saya dan istri saya?" ajaknya dengan penuh harap. Dia menunjuk meja yang dimana istrinya sedang duduk bersama seorang gadis.


Queen menoleh kearah meja, sudut bibirnya tersenyum sedikit melihat gadis yang tengah menatap kearahnya dan Darren dengan tatapan mata yang tajam.


"maaf--"


"ayo sayang sarapan dengan tuan Albert.. bukankah tidak sopan menolak ajakan tuan rumah" ucap Queen segera memotong ucapan Darren.


Darren yang awalnya hendak mengajak Queen sarapan dengan Edgar sahabatnya terdiam, dia menatap wajah Queen yang tampak begitu antusias oleh ajakan rekan bisnisnya ini.


"mari tuan" tuan Albert berjalan lebih dulu menuju mejanya.


"ayo sayang" menarik tangan Darren mengikuti tuan Albert. Dia senang sekali kelihatannya.


Darren mendengus dan menuruti keinginan gadisnya ini "apa yang dia rencanakan?" batinnya berucap.

__ADS_1


Tadi sekilas Darren melihat senyum licik Queen sehingga ia memilih untuk menurut saja. Dia juga penasaran apa yang akan Queen lakukan nanti.


__ADS_2