QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
adik i


__ADS_3

Benar apa yang Darren ucapkan, jika dilantai teratas kapal ini pemandangannya sungguh menakjubkan.


Kerlap-kerlip lampu ditepi sungai dan gedung yang terlihat dari sana sangat cantik, bahkan menara yang menjadi icon kota Parispun tampak begitu indah dan mempesona.


Kedua sudut bibir Queen melengkung, menandakan bahwa ia sangat senang. Sumilir angin menerbangkan helaian rambutnya yang terurai dengan indah.


Queen menunduk saat merasakan tangan seseorang melingkari perutnya dari arah belakang, lalu dia menolehkan kepalanya dan dapat melihat dengan jelas wajah tampan seorang Darren Austin Keith itu.


"kamu menyukainya?"


Queen mengangguk "iya, terimakasih telah membawaku melihat keindahan kota Paris dari atas kapal" ucapnya dengan sangat tulus.


"ini tidak gratis Queen"


Alis Queen menyernyit "apa aku juga harus membayar biaya sewa kapal ini?" tanya-nya dengan suara ketus.


Darren tergelak lalu membalik tubuh Queen agar menghadap dirinya. Dia mengusap wajah cantik yang sudah membuatnya tergila-gila. "tentu saja iya"


"ck.. kau perhitungan sekali tuan!" Queen masih memberengut masam.


"oh ayolah Queen.. beberapa saat tadi kamu sangat senang, kenapa sekarang kau memberengut begitu?"


"kau menyebalkan!"


Darren kembali terkekeh, dia sungguh suka sekali menggoda Queen. Menurutnya wajah Queen saat sedang kesal sangat imut. "sebenarnya kamu hanya perlu menciumku untuk membayar semua ini"


"no!! kalau kamu menginginkan aku membayar biaya sewa kapal, aku mampu! ingat tuan aku juga kaya" ucap Queen dengan nada penuh percaya diri.


Darren terdiam, benar apa yang Queen ucapkan bahwa gadis yang ada didepannya ini tidak pernah kekurangan uang.


Queen tidak seperti wanita lain yang hanya menginginkan hartanya tanpa tulus akan perasaan. Ini memang menjadi nilai plus untuk gadisnya yang mencintainya tanpa ada embel-embel memanfaatkan didalam hubungan ini.


Tapi disisi lain dia sangat takut jika Queen akan meninggalkannya karena gadis ini tidak akan bergantung padanya melalui finansial karena dia yakin sekali jika Queen tidak pernah kekurangan uang saat dilihat dari latar belakangnya.


"hey! kenapa diam? cepat katakan berapa yang harus aku bayar?" ucap Queen sembari mengangkat dagu, dia terlihat sangat arogan.


Darren menatap dalam Queen lalu menarik tengkuknya, dia segera menyatukan bibir mereka, melu-mat bibir yang sedari tadi bicara.


Darren terus mencium tanpa jeda, dia sungguh telah kecanduan akan manisnya bibir Queen.


dug dug dug


Queen memukul dada bidang Darren saat merasa hampir kehabisan nafas. Dan Darren segera melepaskan ciuman tersebut untuk memberikan jeda waktu gadisnya untuk bernafas. Selang beberapa saat Darren kembali mencium bibir Queen, ciuman yang sangat dalam sekali. Darren menikmati betapa manisnya bibir ranum yang selalu membuatnya tergoda.


"lunas!" ucap Darren saat tautan bibir tersebut terlepas. Hidung mereka masih menempel satu sama lain.


Queen mendorong dada Darren agar memberinya ruang, Queen merasa dia hampir kehabisan pasokan oksigen yang masuk keparu-parunya karena ciuman Darren barusan tidak memberinya jeda untuk sekedar menarik nafas "kau sungguh ingin membunuhku ya?"


Darren mengangguk dan menatap serius Queen.

__ADS_1


"kau ingin membunuhku?"


"tentu saja! aku ingin membunuhmu dengan panah cintaku" ucap Darren dengan suara yang tegas dan terdengar dingin.


Queen terbelalak dan menatap tidak percaya pria dingin yang ada dihadapannya, lalu selang beberapa saat setelah otaknya terasa nge-blank, wajah gadis itu memerah. Bukan karena blushing tapi dia sedang berusaha menahan tawanya "buahahaha" tapi pada akhirnya tawa tersebut tidak bisa lagi dia tahan.


Darren menatap datar Queen "kau selalu tertawa saat aku merayumu Queen, aku tersinggung!"


"buahahaha" bukannya berhenti, malah tawanya semakin menjadi. Gadis itu sampai memegang perutnya.


"Queen!!"


"oke oke.. aku sudah tidak tertawa lagi" ucapnya dengan sekuat tenaga karena berusaha menahan tawanya. Menarik dan menghela nafas beberapa kali untuk menguasai dirinya. "maaf bukannya aku sengaja tertawa dan tidak menghargai rayuanmu tuan, tapi menurutku rayuanmu itu sangat kuno, tapi wajahmu saat mengatakan itu sangat datar tentu saja aku tidak tahan untuk tidak tertawa"


Darren mendengus, memang ini sebenarnya bukan gayanya. Tapi saat dia mencari tahu diinternet mengenai apa yang disukai oleh wanita salah satunya adalah rayuan, Darren segera mempelajari kata-kata yang biasanya digunakan untuk merayu wanita.


Tapi memang pada dasarnya wajahnya yang datar dan suaranya yang dingin sehingga dia terbiasa dengan ucapan tegas dan berwibawa, dan karena hal itu mungkin yang membuatnya malah terlihat konyol saat merayu Queen.


"oyoyoyo.. marah kah?" goda Queen, ia berjinjit dan menoel-noel pipi Darren. Membuat wajah yang semula memberengut sedikit lebih cerah.


Bahkan sekarang sudut bibirnya tertarik keatas. Lalu mengusap kepala Queen dan sedikit mengacaknya.


"jangan diberantakin" ujar Queen sembari membenarkan rambutnya.


Darren terkekeh pelan, dan kemudian kedua orang itu menikmati keindahan sungai Seine sembari mengobrol santai.


*


*


Darren mengantar Queen kepenthose, dan sesampainya disana Darren juga mengantarnya sampai kedalam.


Saat mereka masuk, mereka dibuat tersentak saat melihat salah satu adik Queen tengah menatap mereka dengan tatapan yang sangat tajam.


"oh astaga Gerald.. kau seperti hantu saja mengagetkan kakak" keluh Queen. Dia berjalan menghampiri Gerald yang tengah berdiri dan melipat tangannya didada.


"kau darimana sampai selarut ini kak?" tanya Gerald dengan wajah yang serius.


"kau kepo sekali" ucap Queen , dia berjalan kearah sofa dan duduk disana.


Darren hendak menyusul Queen tapi dicekal oleh Gerald "terimakasih telah mengantar kakakku tuan, silahkan pulang hari sudah larut!"


Darren mendengus tidak suka "aku tidak mau!" lalu pria itu berjalan kearah Queen kemudian duduk disisinya.


Gerald menatap tajam Darren. Pemuda itu sungguh tidak menyukai Darren karena melihat peringainya yang tampak arogant dan sombong. Membuatnya muak.


(Padahal jika dilihat Gerald juga sama, dia dingin sombong dan arogant. memang ya setiap orang itu paling susah menilai diri sendiri wkwkwk..)


"kak! suruh pria itu pulang!"

__ADS_1


Queen menatap adiknya dengan bingung "kau kenapa sebenarnya sih rald?"


"sudah jelas kan jika aku tidak menyukainya!"


"ck.. mulutmu itu memang beracun ya? bicara berterus terang dan tidak bisa menghargai perasaan orang lain?" ketus Queen berbicara, dia merasa tidak enak pada Darren sekarang.


Darren menyeringai tipis, adik dari kekasihnya ini sungguh terlihat menarik.


"kau juga kenapa membelanya?"


"Rald" ucap Queen dengan nada rendah, dia mulai terpancing emosi.


"jangan bertengkar Queen.. aku akan pulang sekarang, karena apa yang tadi adik ipar bilang benar kalau sekarang sudah larut malam"


Gerald membelalakan matanya saat Darren menyebutnya adik ipar.


Darren berdiri "aku akan pulang sekarang"


Queen ikut berdiri dan mengangguk "hati-hati dijalan"


Darren mengangguk dan segera berjalan kearah pintu, saat melewati Gerald pria itu menepuk bahu Gerald "permisi adik ipar" ucapnya kembali menyebut Gerald adik ipar, dia menikmati raut wajah tidak suka dari adik Queen itu.


Darren melanjutkan jalannya "sepertinya dia memang sulit dihadapi, tapi aku suka akan ketegasannya" batin Darren sembari melirik Gerald sekilas lalu dia benar-benar pergi.


**


plak


"aww.. apa yang kakak lakukan?!" pekik Gerald saat kakaknya dengan cepat memukul lengannya. Terasa pedas dan panas.


"kau itu tidak sopan sekali"


"aku tidak sopan?"


Queen mengangguk.


"tidak sopan bagaimana? aku hanya mengingatkan jika hari sudah larut" ucap Gerald acuh tak acuh.


Queen menjawil kedua pipi Gerald. Mencubitnya dengan gemas.


"kak! jangan mencubitku seperti anak kecil" keluhnya tidak terima, dia bahkan menampik tangan Queen pelan.


"cara bicaramu sangat angkuh pada orang yang lebih tua, apa itu menurutmu sopan?"


Gerald mendengus "sopan-sopan saja" jawabnya cuek dan begitu dingin.


"ck.." Queen berdecak karena merasa kesal. Sikap adiknya yang satu ini sungguh arogan sekali. "sudahlah kakak lelah, mau istirahat" ujarnya ketus lalu ia pergi meninggalkan adiknya yang masih betah berdiri diruang tamu.


"kenapa dia yang kesal? apa aku salah bicara?" batin Gerald bingung. Dia memilih untuk kembali kekamarnya saja.

__ADS_1


__ADS_2