QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
segera pulang?


__ADS_3

"tuan nona"


Darren melirik kearah maid yang berdiri jauh dari tempatnya duduk.


Begitupun dengan Queen.


"nyonya dan tuan sudah menunggu diruang makan"


"baik. pergilah!"


Maid tersebut segera undur diri setelah mendengar suara dingin Darren.


dug


Darren meringis dan menoleh kearah Queen "sshh.. kenapa kau menyikutku?" keluh Darren sembari mengusap perutnya yang terasa cukup sakit.


"kau dingin sekali tuan"


Darren angkat bahu acuh dan segera berdiri. Pria itu mengulurkan tangannya hendak membantu Queen berdiri. Pria itu mengabaikan ucapan Queen barusan.


"isshh.. dasar ice balok!" ucap Queen mengolok Darren. Tangannya menerima uluran tangan Darren dan dia segera berdiri. Pria tampan itu tak menyahuti perkataan Queen lagi. Membuat Queen mendengus kesal.


Mereka berdua segera berjalan ke dalam mansion. Dan segera menghampiri sepasang suami istri paruh baya itu.


Tuan Edward sedikit melembutkan padangan matanya saat melihat Queen dan Darren mendekat. Begitupun dengan nyonya Emily yang juga sudah menatap Queen dengan lebih bersahabat, tidak seperti biasanya yang selalu menatap sinis Queen.


Kejadian tadi setidaknya merubah sikap nyonya Emily jauh lebih baik.


Darren dengan gantle menarik kursi untuk Queen, dia tersenyum hangat saat Queen menoleh dan memberikannya senyuman manis "terimakasih, kakak"


Darren sedikit terkejut saat pertama kalinya mendengar Queen memanggilnya kakak, terdengar manis dan Darren menyukainya. Kedua sudut bibir Darren terangkat lagi "sama-sama"


puk puk


Darren menepuk kepala Queen pelan sata gadis itu sudah duduk dikursi.


"isshh.. kamu menganggapku keponakanmu ya?" keluh Queen sembari mengusap kepalanya bekas tangan Darren bertengger tadi.


Nyonya Emily tampak menarik kedua sudut bibirnya, apalagi melihat putera pertamanya itu tergelak setelah mendengar gerutuan Queen "dia sangat menyukai gadis ini"


"karena kalian sudah datang, mari kita mulai makan malamnya" ujar dad Edward yang mendapatkan anggukan kepala dari ketiga orang yang ada disana juga.


Darren meraih piring makanan yang terhidang didepan Queen, membuat gadis cantik itu menyernyitkan keningnya.


"biar kupotongkan dagingnya!" ucap Darren tegas tapi penuh perhatian.

__ADS_1


"aaaa.. kakak manis sekali" ucap Queen sembari menautkan tangannya didepan wajah, dia merasa senang saat Darren seperhatian ini padanya.


Queen memperhatikan Darren dengan pandangan lembut "kakak.. kamu sangat tampan"


blusshh


Wajah Darren tiba-tiba memanas saat mendengar pujian manis dari mulut Queen, dia terus fokus memotong daging mengabaikan Queen yang terus menatapnya.


"aku akan bertambah menyukaimu kalau kau terus seperhatian ini padaku" ucap Queen lagi.


hup


Saat mulut Queen terbuka hendak berbicara lagi, Darren menyumpalnya dengan daging "diam dan makanlah!"


Queen mendengus dan kemudian mengunyahnya dengan wajah kesal "aku tarik kata-kataku lagi, kau sangat menyebalkan kak"


Darren tergelak dan kemudian dia mencubit pipi Queen dengan gemas "diam dan makanlah agar pipimu ini berisi" ucap Darren sembari meletakan piring Queen.


Interaksi kedua orang itu selalu diperhatikan oleh orang tua Darren, mereka berdua diabaikan terus oleh pasangan muda itu.


Mungkin benar apa yang selalu orang katakan jika sedang jatuh cinta dunia seperti milik berdua yang lain hanya numpang lewat saja.


Mom Emily menoleh kearah suaminya, dia menarik lengan baju yang dikenakan oleh dad Edward dan kemudian ia mencondongkan tubuhnya "dad" bisiknya memanggil sang suami.


"dia benaran putera kita yang dingin?"


Dad Edward menyernyit, tapi dia tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya saat melihat Darren berubah sikap saat berada disisi Queen "kau lihatlah wajahnya! dia jelas Darren bukan orang lain!"


plak


Mom Emily menepuk lengan suaminya "menyebalkan sekali jadi suami !" keluhnya kesal. Dia menjauhkan tubuhnya dari dad Edward sembari melototkan matanya. Lalu sejurus kemudian kembali menatap Darren dan Queen.


"ehem"


Mom Emily berdehem membuat Darren dan Queen mendongak dan memperhatikannya "Queen.. kamu masih kuliah?"


Queen menggeleng.


Alis mom Emily menyernyit, bukankah gadis ini masih sangat kecil? kenapa tidak kuliah? pikirnya bertanya-tanya.


"aku sudah lulus aunty, dan sekarang aku membantu dad diperusahaan" lanjut Queen mulai bercerita.


Mom Emily terkesiap, apa dia salah menilai usia Queen? karena yang dia lihat gadis ini masih sangat muda. "berapa usiamu?" akhirnya mom Emily bertanya. Dari pada dia mati penasaran.


"sembilan belas tahun"

__ADS_1


"what?! kau tidak sedang membual kan?"


"mom!" Darren segera menegur mom-nya, tapi saat hendak berbicara lagi Queen menahan tangan Darren agar pria itu diam.


Saat ini mom Emily sudah mau bertanya tentang dirinya, berarti Queen sudah memiliki ruang dihati wanita paruh baya itu. Queen senang karena wanita paruh baya itu mau tahu tentangnya, meski ucapannya terdengar tidak enak. "kenapa aunty? aunty tidak mempercayainya?"


Mom Emily mengangguk "tentu saja aunty sedikit ragu" ucapnya berterus terang tanpa memikirkan perasaan gadis yang ada didepannya ini.


Queen tergelak dan tidak menyalahkan mom dari pria nya itu jika tidak percaya "aku menyelesaikan kuliah S2 diusia tujuh belas tahun"


Mata mom Emily membola mendengar penuturan Queen.


"dan aku sudah bergabung dengan perusahaan milik dadku hampir dua tahun sebagai wakil Presdir" jelas Queen kembali.


Mom Emily tidak mempercayainya begitu saja, dia menoleh kearah Darren dan puteranya itu mengangguk membenarkan ucap gadis yang duduk disisinya.


Wanita paruh baya itu benar-benar terkejut mendengar fakta ini. Ternyata gadis yang dia kira adalah anak kecil itu, mungkin adalah salah satu gadis genius didunia.


Lalu mom Emily menatap puteranya kembali, pantas saja Darren menyukai Queen. Selain wajahnya yang menawan ternyata otaknya berisi.


Berbanding terbalik dengan Jane, menurutnya hanya wajahnya saja nilai plus dari Jane. Dan akhir-akhir ini dia mulai tahu bagaimana sifat asli gadis itu.


Setelah makan malam selesai, Queen segera berpamitan untuk pulang "terima kasih makan malamnya dad Edward dan aunty Emily" ucapnya sopan.


"lain kali datanglah lagi Queen" ucap dad Edward.


Queen tampak berfikir sejenak "kita lihat nanti dad, karena sepertinya aku sebentar lagi pulang kenegeraku" jelas Queen.


Saat mendengar hal itu Darren yang tadi tampak acuh segera menoleh "kapan?"


"besok atau lusa"


"jangan!"


Alis Queen menyernyit tidak mengerti "jangan?"


"tinggallah beberapa hari lagi, saat pekerjaanku sudah selesai aku akan mengantarmu"


Queen menghela nafasnya "akan aku pertimbangkan"


Queen kembali terfokus keorang tua Darren "aku pulang dad aunty" gadis itu menyalami dan mengecup punggung tangan kedua orang tua Darren "selamat malam"


"hati-hati bawa mobilnya Ren!" ucap mom Emily memperingati.


Darren mengangguk dan segera menarik tangan Queen keluar dari mansion.

__ADS_1


__ADS_2