QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
penasaran


__ADS_3

Darren menatap tidak percaya gadis yang tengah berlari keluar kamar sembari membawa senjata api ditangannya "di-dia" ucapnya terbata lalu Darren memilih untuk mengikuti Queen keluar.


Queen segera mencari keberadaan adiknya, tadi pekikan Gerrell terdengar jelas sekali karena pintu kamarnya tidak Gerrell tutup dengan sempuna. "Rel.. dimana kau?" pekiknya khawatir, dia takut sekali jika terjadi hal buruk pada adiknya.


Ini bukanlah negaranya, keamanan penthouse tentu saja tidak sama dengan mansion mereka. Karena hal ini lah yang membuat Queen takut jika terjadi sesuatu dengan adinya.


"kak disini.. astaga kak. Tanganku hampir patah!"


Queen melangkah menuju asal suara Gerrell, gadis itu mematung melihat tangan adiknya tengah dipelintir kebelakang oleh seseorang.


"apa yang kau lakukan pada adimu Rald!" ucap Queen segera mendekat, ternyata pelakunya adalah adiknya sendiri. Gerald. Saudara kembar Gerrell.


Entah apa yang terjadi sehingga Gerald menyakiti Gerrell.


Gerald menatap Queen datar "aku sedang memberinya pelajaran!"


Queen berdiri disisi kedua adinya, dia menghela nafasnya kasar "lepaskan! atau nanti tangan Gerrell benar-benar patah"


Gerald menggeleng "tidak!" ucapnya dengan tegas.


Gerrell menoleh kebelakang, wajahnya mengiba saat menatap Gerald "tolong lepasin Rald, ini sakit sekali" ucapnya lemah. Dia memohon.


Gerald yang tidak tega akhirnya melepaskan tangan Gerrell, tapi dia masih menatap tajam adik kembarnya itu.


Queen berdecak "sebenarnya kalian kenapa sih?"


"dia kabur dari rumah dan membuat mom khawatir sampai menangis kak!"


Gerrell menunduk, benar apa yang Gerald katakan jika dia pergi tanpa berpamitan pada mom nya karena marah. Tapi dia sungguh tidak menyangka jika mom nya sampai menangis.


"meski dia salah, jangan saling menyakiti, mengerti!" ucap Queen tegas pada kedua adiknya.


Gerald hanya angkat bahu acuh "aku tidak bisa berjanji"


Queen berdecak kembali, Gerald adalah pemuda tegas dan memiliki pendirian sendiri. Jadi apa yang menurutnya benar untuk mengajari Gerrell dia akan melakukannya.


"baiklah.. paling tidak jangan sampai membuatnya tidak bernafas" putus Queen pada akhirnya.


Gerrell melototkan matanya "kaaaak" rengeknya, dia bahkan menghentakan kedua kakinya kelantai karena kesal.

__ADS_1


"diam kau! pantas Gerald marah, kau telah membuat mom bersedih!" ucap Queen membentak, dia tahu jika Gerrell memang kabur, tapi dia juga tidak menyangka jika momnya akan sekhawatir itu sampai menangis.


Gerrell menunduk lagi "aku memang salah"


"kalau begitu pulanglah dan meminta maaf" ucap Queen tegas.


Gerrell hanya bisa mengangguk. Dia pasrah jika harus pulang.


"kau baru sampai kan Rald?"


Gerald mengangguk saat ditanya oleh Queen.


"beristirahatlah!"


Gerald mengangguk lagi, tapi sebelum pergi Gerald menatap tajam pria yang sedari tadi berdiri dibelakang kakaknya. Ketara sekali jika Gerald tidak menyukai pria itu.


"kau juga kembali kekamar!" tegur Queen pada Gerrell.


Gerrell mengangguk patuh.


"cepat kau bereskan barang-barangmu lalu angkat kaki dari sini. secepatnya!"


Gerrell yang sudah berjalan agak jauh kembali menoleh kearah Queen "kakak tega sekali mengusirku" ucapnya sedih.


"huaaaa... kakak sudah tidak menyanyangiku"


"kau seharusnya berterimakasih padaku karena diusir dari sini oleh kakak, apa kau mau nanti diusir oleh dad karena telah membuat wanita yang dicintai dad bersedih?"


Mata Gerrell membola, benar juga yang kakaknya katakan barusan. Bisa habis dia jika tidak cepat meminta maaf dan membuat dadnya marah akibat membuat mom Valey sedih. Bisa-bisa dia akan langsung dikeluarkan dari kartu keluarga.


"baiklah" ucapnya tidak berdaya. Lalu Gerrell memilih untuk istirahat saja dikamar.


Queen menghela nafasnya panjang, ia hendak memasukan pistol yang tadi dia bawa kedalam saku, tapi sebelum itu tangannya ditahan oleh Darren.


Queen menoleh kebelakang dan menyernyitkan dahinya kearah Darren.


"dari mana asal senjata ini?" tanya Darren. Darren sangat penassran sekali dari mana asal pistol itu.


"kenapa memang?"

__ADS_1


Darren menatap serius Queen "bagaimana kau memiliki senjata api? ini ilegal Queen"


Queen menatap acuh Darren "aku memiliki banyak" ucapnya tampak tidak peduli.


Queen berjalan kearah sofa dan kemudian duduk disana, disusul oleh Darren yang segera duduk disisi Queen "katakan padaku darimana kau menadapatkan senjata ini Queen" ucapnya.


Queen menatap manik biru Darren, pandangannya datar tanpa ekspresi. Bahkan Darren saja tidak bisa menebak apa isi hati gadis yang ada dihadapannya ini.


"kau tidak perlu tahu tuan!"


Darren mendengus "aku hanya mengkhawatirkan dirimu Queen"


Tentu saja apa yang Darren ucapkan jujur, tapi dibanding itu Darren sebenarnya sangat penasaran sekali dengan gadis ini. Darren merasa banyak sekali rahasia yang belum dia ketahui. Bagaimana bisa gadis sekecil Queen sudah memiliki senjata api ini. Yang Darren tahu senjata ini salah satu senjata tercepat didunia.


Queen mengangguk, dia tahu jika Darren memang khawatir padanya. Gadis itu memilih menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.


"katakan padaku. Apa kau bisa menggunakan pistol ini?"


Queen mengangguk mengiyakan pertanyaan Darren.


"bagaimana bisa gadis kecil sepertimu bisa menggunakan pistol ini?"


"tentu saja aku belajar"


Darren menghela nafasnya panjang "dengar Queen, aku tahu kau belajar, tapi dinegaraku memiliki senjata api ini adalah ilegal, kenapa? karena hanya anggota sipil saja yang diperbolehkan memilikinya. Kalaupun ada yang mengkoleksi atau memilikinya mereka harus sudah memiliki izin dan memiliki kemampuan luar biasa saat menembak" jelas Darren panjang lebar, sebenarnya pria itu hanya khawatir jika gadisnya akan terkena masalah nantinya.


"aku tahu" jawab Queen santai. "apa kau bisa memakai pistol ini tua?" tanya Queen sembari mengangkat pistol yang dia pegang. Gadis itu tampak mengalihkan pembicaraan.


"bisa"


"dan kau memiliki senjata seperti ini kan?" tanya Queen. Dia tadi melihat jika Darren tampak memperhatikan dengan seksama pistol miliknya. Sepertinya pria ini tahu jenis pistol yang dia pegang ini.


Darren hanya diam. Dia tidak mengiyakan.


"aku tahu kau familiar dengan senjata ini" ujar Queen, dia menyusuri pistolnya dengan jari. Lalu gadis itu menyerahkan pistol itu ke Darren.


Darren menerimanya dan memperhatikan dengan seksama "Glock 17"


"wooow.. kau tahu? aku memang memilih pria yang tepat" ucap Queen bangga dengan pilihannya, dia tahu jika Darren adalah pria yang sangat luar biasa.

__ADS_1


Darren mendongak dan menatap wajah cantik Queen, sungguh Darren merasa Queen sangat misterius, sama seperti dadnya. Peringai riang gadis ini sungguh berbanding terbalik dengan fakta yang baru saja dia temukan. Bahwa gadis cantik dan ceria ini menyimpan senjata api yang sangat mematikan.


Darren semakin penasaran dengan Queen.


__ADS_2