QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
49. Tidak terima


__ADS_3

Mesra dan bahagia.


Itu yang Givani katakan dalam hati ketika melihat postingan Queen yang terbaru. Cengkramannya pada ponsel malangnya yang saat ini ia genggam sudah menunjukkan betapa besar rasa iri serta cemburu yang kini di rasakan oleh Givani.


"Harusnya gue Queen. Harusnya gue yang ada di posisi lo, harusnya gue yang di peluk posesif gitu sama Kenan!"desisnya sambil melempar ponselnya ke atas kasur luas miliknya.


Gadis cantik itu berjalan ke depan cermin rias yang berada di kamarnya, dia menyimpan kedua tangannya di atas meja dan pandangannya tak lepas dari bayangannya di cermin.


"Gue kurang apa sampai lo nolak gue, Ken? Cantik? Jelas cantikan gue dari pada si Queen. Baik? Heh, gue kurang baik apa selalu siap nyandarin bahu kalau lo lagi berantem sama si Queen? Seksi? Jelas gue menang dalam hal yang satu ini, semua orang juga udah tau. Kurang populer? Gak mungkin, semua orang di sekolah tau nama gue dan gak tau nama Queen! Atau gue kurang kejam? Kurang jahat? Cih! Liat aja, gue bakal nunjukin sisi jahat dan kejam gue!"


Bak orang kurang waras gadis itu terus berbicara sendiri sambil menatap tajam bayangannya di cermin. Givani sudah frustasi karena sangat menginginkan Kenan, dia buta mata sampai ingin merebut Kenan dari Queen. Mantan sahabatnya.


Jadi orang jahat, itu yang akan Givani lakukan sekarang. Dia tidak perduli jika sikapnya ini akan merugikan orang lain, akan mengecewakan kedua orang tuanya yang mendidiknya untuk selalu menjadi orang baik. Dia tidak perduli. Karena yang dia perdulikan sekarang adalah memiliki Kenan, menjadikan Kenan hanya miliknya seorang.


"Gue sadar Ken kalau lo ngedeketin gue cuma saat lo lagi berantem sama pacar lo! Lo jadiin gue pelarian lo. Gue bodoh, Ken. Gue bodoh karena terbawa perasaan sama sikap lo yang selalu perhatian sama gue!"ucapnya sambil menitikan air mata.


Selama ini Givani sadar bahwa Kenan hanya menjadikannya pelarian di kala peran utama sedang tidak ada. Cowok itu melampiaskan segala amarah dan kesedihannya kepada Givani, dia menjadikan Givani tempat pelariannya.


Apa Kenan tidak sadar jika dengan cowok itu berprilaku perhatian kepada Givani, akan ada dua hati yang hancur? Hati Givani dan Queen akan hancur dengan sikap Kenan.


"Lo penyebab utamanya Kenan! Lo. Gue terlalu cinta sama lo! Gue udah terlanjur jatuh di hati lo yang udah di penuhin sama nama Queen! *****! Gue tau gue ***** karena udah jatuh cinta sama cowok brengsek kayak lo, cinta sama cowok yang hatinya udah di milikin sama cewek lain, dan parahnya. Parahnya cewek lainnya itu sahabat gue sendiri! Sahabat yang gue anggap bener-bener sahabat dan bakal ngelakuin apa pun demi gue, sahabat yang bener tulus temenan sama gue! Hiks, hiks! Kenapa harus lo, Ken? Kenapa harus lo yang gue cinta?"


Sekarang Givani terisak dengan kepala menunduk. Dia benci melihat bayangannya di cermin yang menunjukan wajah sedih dan terpuruknya. Dia memiliki hidup yang sempurna, dia memiliki kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tuanya, semua keinginannya selalu di kabulkan oleh orang tuanya. Tapi... apa jika Givani menginginkan Kenan kedua orang tuanya akan memberikan apa yang Givani inginkan?


"Gue rela persahabatan gue hancur, Ken! Gue rela kehilangan sahabat sebaik dan setulus Queen. Toh gue gak bakal rugi karena kehilangan dia, gue bisa cari yang lain. Queen cewek munafik! Dia egois! Baik? Tulus? Bullshit. Kalau dia tulus sahabatan sama gue apa dia bakal ikhlasin lo, Ken buat gue? Apa dia bakal masih tetep baik dan tulus saat gue bakal rebut lo dari Queen?"


Tiba-tiba saja kepala Givani mendongak, dia menyeringai pada dirinya sendiri yang berada di dalam cermin.


"Lets see. Sebaik dan setulus apa lo, Queen? Apa kalau Kenan udah jadi milik gue lo bakal tetep pada sikap lo itu, huh? Atau... sisi lain yang lo sembunyiin itu bakal muncul? Lo jahat, munafik!"


Saat tengah asik menatap tajam dirinya sendiri dering ponsel mengganggu aktivitasnya itu. Matanya memicing ketika melihat nama Raksa terpampang di sana.


Raksa. Anak SMK Mekar Jaya yang menjadi musuh sekolahnya. Dia cowok tampan dan anggota komunitas yang selalu meresahkan warga Kota Bandung ini. Givani memang sedang mendekati Raksa untuk mencari pelampiasan.


Raksa cowok kasar dan tidak berperasaan, cowok itu juga tidak pandang bulu. Pernah Givani di tampar karena Givani menolak untuk di ajak minum oleh Raksa di sebuah Club. Dari situ Givani mulai mendapatkan ide untuk menarik perhatian Kenan lagi.


"Halo, ada apa Sa?"


"*******! Lama banget lo ngangkat telpon dari gue, abi ngapain sih hah?"


Givani berdesis sangat pelan ketika mendengar bentakan serta umpatan dari Raksa. Sebenarnya dia tidak sudi sih berhubungan dengan cowok kasar ini, tapi mau bagaimana lagi? Ini salah satu rencananya.


"Iya maaf sayang. Emang ada apa sih?"tanya Givani berusaha selembut mungkin.

__ADS_1


"Hm, lo mau di maafin sama gue, iya?"


Mata Givani mendelik.


"Mau dong Sa."


"Sini join!"


"Join apa? Lo dimana sekarang?"tanya Givani.


"Club biasa, kalau lo gak kesini gue bakal gak maafin lo. Hukuman gue ada buat lo kalau lo gak kesini."


Bossy. Itulah sifat Raksa yang sangat membuat Givani selalu kesal jika dia bertemu dengan cowok itu.


"Iya ini otw kok."


...||||...


Suasana hingar-bingar dan sesak karena lautan manusia yang memenuhi ruangan ini sudah menjadi suatu hal yang biasa bagi Givani. Gadis itu sudah tidak mengernyit heran dan tak nyaman lagi ketika memasuki Club yang selalu Givani kunjungi akhir-akhir ini.


Awal Givani kesini adalah ketika dua hari setelah Kenan menolaknya, gadis itu butuh pelarian dan dia nekat masuk ke tempat penuh dosa ini. Dan dari situ juga Givani bertemu Raksa.


"Hai sayang!"sapa Givani sambil melingkarkan tangannya di leher Raksa yang sedang duduk membelakanginya di kursi bartender.


"Naik apa?"tanya Raksa tanpa menatap gadis di belakangnya.


Givani tersenyum tipis yang sebenarnya dia malas lakukan, dia memilih untuk duduk di kursi kosong samping Raksa.


"Naik taksi tadi."


Raksa menolehkan kepalanya ke samping, matanya menatap penampilan Givani dengan seksama. Penampilan gadis itu bisa di bilang seksi untuk ukuran ingin main ke Club.


"Gak di perkosa tukang taksinya, kan?"


Givani mendelik sebal lalu dia memukul pelan lengan kanan Raksa. Dia kan akan main ke tempat hiburan ini, masa iya dia harus memakai gamis. Yang ada dia di tertawakan nanti.


"Untungnya nggak,"ketus Givani sebal.


Raksa tersenyum miring sambil menyodorkan gelas kecil untuk Givani. Bisa Raksa lihat bahwa Givani menatap ragu gelas kecil berisi wine itu.


"Ambil,"titah Raksa sambil sedikit mengangkat gelasnya.


"Eumm... gu-gue gak bakal min–"

__ADS_1


"Hukuman mau?"tanya Raksa sambil menatap tajam Givani.


Givani terbelalak, gadis itu mengambil gelas kecil yang di sodorkan oleh Raksa dan meminumnya dengan mata terpejam serta kening yang mengerut dalam. Terakhir dia minum alkohol dia langsung muntah di tempat.


"Good,"desis Raksa sambil mengelus kepala Givani ketika gelas itu sudah kosong.


Givani masih baru dalam hal-hal yang seperti ini. Rasa pusing terasa ketika dia sudah meminum wine tersebut, kepalanya dia simpan di meja bartender dan tangannya meremas tangan Raksa yang berada di atas kepalanya.


"Sa pengen muntah,"gumam Givani sambil menatap Raksa.


Raksa terkekeh pelan, kekehan menghina sebenarnya. Karena tidak tega melihat wajah Givani yang sudah berkeringat akhirnya Raksa membawa Givani ke toilet.


Huek, huek!


Raksa meringis pelan, ternyata gadis yang berstatus pacarnya itu sangat lemah. Baru satu gelas kecil dan gadis ini sudah muntah serta teler.


"Lemah,"cibir Raksa sambil menonton Givani yang masih muntah-muntah tanpa berniat membantunya.


Givani menegakan badannya, rasa pusing namun membuatnya terbang itu masih terasa. Matanya sudah sayu dan badannya terasa sangat lembek hingga rasanya dia tidak kuat menopang tubuhnya sendiri. Raksa mengulum senyum ketika melihat mimik muka Givani yang menurutnya sangatlah lucu.


"Rumah gue mau?"tanya Raksa sambil melingkarkan tangannya di pinggang Givani.


"Hm.. iya terserah lo. Gue cinta lo hehe gue sayang lo,"racau Givani sambil mengalungkan tangannya di leher Raksa.


Bukannya risih karena kelakuan Givani justru Raksa malah tambah gemas dengan gadis yang satu ini.


"Kalau gue gak sayang dan cinta lo, gimana?"tanya Raksa berbisik di telinga Givani.


Mendadak raut wajah Givani menjadi cemberut, mata sayu itu menatap Raksa dengan pandangan kesal.


"Lo harus cinta sama gue! Lo harus sayang sama gue! Gak mau tau. Bales perasaan gue,"racaunya lagi kesal.


Seorang wanita malam yang sedang bercermin di kaca pun hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum geli melihat tingkah Givani. Dia pun pergi ketika melihat Raksa sudah memojokan Givani ke dinding.


Raksa mengelus pipi Givani, dia beberapa kali juga mengecup pipi serta bibir Givani hingga membuat gadis itu terkekeh sambil sesekali meracau.


"Diem ya Giv, gue udah gemes sama lo."


Lalu setelahnya hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu apa yang sedang di lakukan.


...||||...


**Hm, rencana Givani apa ya?

__ADS_1


Btw guys aku gak bosen buat ingetin kalian supaya like juga komen cerita ini**:))


__ADS_2