
Dea menghela nafasnya kesal ketika Ibu-Ibu warteg tak juga meladeninya. Gadis itu terus menyumpah serapahi guru Olahraganya yang menyuruh Dea untuk membelikannya sarapan di warteg yang tak jauh dari sekolahnya. Gadis itu kesal karena Ibu warteg yang bertubuh gempal itu selalu meladeni orang lain padahal dia lebih dulu datang dari orang itu.
Mood gadis itu sedang tidak baik. Dia sedang di landa amarah dan rasa penasaran. Marah karena Ibu warteg dan Bapak olahraga, lalu penasaran karena Queen tidak masuk sekolah. Dia mencoba menelpon gadis itu, tapi tidak di angkat bahkan nombernya tidak aktif. Dia sempat bertanya pada Kenan tapi jawaban cowok itu hanya membuatnya kesal dan penasaran juga.
"Gue gak tau!"kira-kira itu yang di ucapkan Kenan tadi.
"Bu yang saya kapan sih jadinya? Perasaan dari tadi yang lain mulu."
"Sabar atuh Neng, banyak pelanggan ini,"jawab Ibu warteg sambil menyerahkan piring berisi nasi serta lauknya pada pelanggan.
"Saya dari tadi loh Bu berdiri di sini!"ucap Dea kesal.
"Nanti atuh Neng, sebentar ya."
Dea mendelikan matanya, gadis itu memilih memainkan ponselnya.
"Bu! Beli nasi di rames ya Bu, dua bungkus!"
Dea meringis ketika mendengar seruan milik seorang perempuan. Dia mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa pemilik suara serak tersebut, tapi matanya hanya bisa melotot ketika melihat perempuan–ralat! Bukan perempuan yang berseru tadi yang membuat matanya melotot. Tapi sosok gadis yang sangat di kenalnya yang membuat dia melotot seperti itu. Gadis itu berdiri di samping orang yang tadi berseru.
"Tunggu bentar ya, Neng Rere!"
"Queen!"
Kepala gadis itu menengok kesamping, mata gadis itu juga melotot ketika melihat Dea.
"D-Dea,"cicitnya.
Rere yang sedari tadi hanya melihat mereka dalam heran pun mulai penasaran.
"Kenal Queen?"tanya Rere pada Queen.
"Aku temennya Teh,"jawab Dea sambil menatap Queen.
"Oh."
Queen menelan ludahnya, jelas dia sangat tahu arti tatapan Dea yang penasaran dengan sosok Rere. Dengan cepat Queen menarik tangan Dea keluar warteg, sebelumnya dia berbicara dulu pada Rere yang hanya mengangguk.
"Queen lo kenapa gak sekolah? Terus lo kenapa ada disini? Kenapa bisa sama cewek tadi? Cewek tadi siapa lo? Kok gue gak pernah liat cewek itu selama temenan sama lo?"tanya Dea beruntun.
Queen berdecak kesal, Dea ini banyak bertanya.
"Dea denger! Gu-gue lagi ada masalah sama Kenan, kita berantem hebat dan lo tau penyebabnya apa kan? Intinya semalam gue pergi dari Apartmen Ken, dan gue ketemu sama Teh Rere. Cewek itu nampung gue buat nginep di kontrakannya,"jawab Queen pelan.
Dea terbelalak.
"Lo kenapa gak hubungin gue?"tanya Dea kesal.
"Gue gak mau repotin lo De, gue pergi dari Apart Ken itu malam banget."
"Kenapa pergi dari Apartmen Kenan sih, Queen?"
Queen terdiam. Dia sudah tidak kuat lagi, dia...sudahlah hanya Queen dan Tuhan yang tahu alasannya.
"G-gue belum bisa jelasin kenapa gue harus sampai pergi dari Apartmen Ken. Yang jelas gue sekarang numpang di kontrakan Teh Rere, gak jauh dari sini kok. Dan gue mohon jangan bilang sama Kenan tentang keberadaan gue."
Dea memicingkan matanya, gadis itu memperhatikan wajah sahabatnya. Pandangan Dea berhenti di leher Queen. Keningnya mengerut ketika melihat ada bercak merah.
"Dea apaan sih?"
Dea hanya diam, dia menyingkap kerah kemeja baju Queen dan seketika dia terbelalak. Matanya menatap bercak merah di leher Queen dengan mata yang mulai memanas.
__ADS_1
"Ini kenapa Queen?"tanya Dea pelan.
Queen terdiam, gadis itu sudah tahu bahwa luka merah di lehernya adalah tanda kepemilikan yang di berikan oleh Kenan semalam. Dia tahu dari Rere yang menjelaskan hal itu.
"Di gi-gigit nyamuk De."
"Goblog lo! Gue gak polos dan **** kayak lo Queen. Gue tau bercak merah itu apa, siapa yang ngelakuin ini sama lo Queen? Siapa!?"tanya Dea tajam.
Mata Queen memanas, dia tidak mungkin untuk menjelaskan darimana tanda ini tercipta. Dia malu kepada Dea.
"Gu-gue malu buat jawabnya De,"lirih Queen dengan air mata yang mulai berjatuhan.
Dea menatap tajam Queen. Memang selama ini cowok mana yang dekat dengan Queen? Hanya Kenan! Hanya cowok itu yang dekat bahkan tinggal satu atap bersama Queen.
"Kenan kan?"tanya Dea pelan.
"I-iya De, dia!"
Tangan Dea terkepal. Dia tidak rela sahabatnya di perlakukan seperti itu oleh Kenan. Dea meringis dalam hati ketika melihat tanda itu tidak sedikit di leher Queen.
"Gue bakal bikin perhitungan sama tu cowok brengsek."
"Dea! Dea!"panggil Queen ketika Dea berlari untuk ke sekolah.
"Kenapa tuh temen lo?"
Kepala Queen menengok menatap Rere yang menatap kepergian Dea dengan bingung. Di tangan kanan gadis itu ada keresek berisi sarapannya dan Queen.
"Teh, aku mau cerita."
...||||...
Andra menatap datar sahabatnya yang tengah meninju pohon di taman sekolah dengan keras, cowok itu beberapa kali juga menendang pohon malang yang tidak tahu apapun.
"Dasar sinting!"desisnya pelan.
Dia sudah mendengar cerita Kenan soal kejadian semalam. Cowok itu sendiri yang bercerita di depan teman-temannya yang menatap Kenan dengan pandangan jengah dan kesal.
Queen pergi kan karena ulahnya sendiri.
"Bisa gak sih lo diem, Ken!? Berhenti lukain tangan lo, dan berhenti pukul pohon gak berdosa itu!"bentak Tegar berani.
Tegar memang yang paling dekat dengan Kenan. Dia sudah berteman dengan Kenan saat akan masuk SMP. Dia tahu sifat dan kelakuan Kenan macam apa.
Kenan mengetatkan rahangnya, cowok itu menatap tajam Tegar yang duduk di bangku taman bersama Verrel yang menunduk tidak mau ikut campur dan Andra yang menatapnya datar. Tiba-tiba saja Kenan mencengkram kerah kemeja Tegar dan mengangkat cowok itu agar berdiri.
"Diem lo bilang, huh?" Tegar menatap sebal Kenan dan Kenan menatap tajam Tegar. "GIMANA GUE BISA DIEM KALAU SAAT INI QUEEN PERGI NINGGALIN GUE, ANJING!"
Bugh!
Tegar mengomel kesal saat Kenan memukul bibirnya dengan keras, cowok itu menyeka darah yang mengalir dari bibirnya.
Bugh!
"QUEEN PERGI NINGGALIN LO JUGA KARENA SIKAP LO SEMALAM SAMA DIA GOBLOG! QUEEN PERGI NINGGALIN LO KARENA ELO SENDIRI, KARENA SIKAP LO! SADAR GAK, HAH!?"bentak Tegar yang diam-diam merasa puas karena sudah membalas pukulan Kenan.
Kenan menghembuskan nafasnya kasar, cowok itu duduk di rumput dengan frustasi. Dia bingung harus mencari Queen kemana, gadis itu sekarang entah berada dimana. Semalam dia ingin menyusul Queen tapi rasa pusingnya membuat dia terkapar di lantai kamar Queen.
"Kenan!"
Mata cowok-cowok tampan itu menatap Dea yang saat ini tengah berjalan cepat ke arah mereka. Kening Kenan mengernyit ketika melihat ekspresi Dea yang emosi. Di belakang gadis itu ada Givani yang menatap sahabatnya dengan cemas.
__ADS_1
PLAK!
Hening. Suasana di taman tambah hening ketika Dea dengan tiba-tiba menampar pipi Kenan dengan kuat dan keras. Nafas gadis itu memburu dengan air mata yang mulai berjatuhan ke kedua pipinya. Suasana sepi taman sepertinya mendukung Dea untuk memaki Kenan dengan keras.
"Maksud lo apa nampar gue?"tanya Kenan sambil menatap Dea dengan tajam.
Dea menunjuk wajah Kenan dengan emosi. Givani yang berada di sebelahnya hanya bisa mengelus bahu Dea, dia bingung dengan situasi yang sedang terjadi.
"Lo... lo pantes di tampar, Ken. Brengsek, Bejat, Gak punya hati!"
Kenan dan yang lainnya terdiam, mereka bingung ada apa dengan Dea. Tapi Kenan mulai menyadari, bahwa sepertinya Dea tahu masalahnya dengan Queen.
"De sabar,"ucap Givani sambil mengelus bahu Dea, tapi gadis itu menepisnya.
"Gue gak bisa sabar, Giv! Gue gak terima sama perlakuan Kenan!"
"Kita bicarain ini semua baik-baik, oke?"ajak Andra tenang.
Dea menggeleng, dia menatap Kenan yang hanya menatapnya dengan datar.
"LO APAIN QUEEN BRENGSEK!? LO APAIN SAHABAT GUE? KENAPA LO LAKUIN ITU SAMA QUEEN? APA YANG UDAH LO LAKUIN KE QUE–"
"GUE HAMPIR PERKOSA DIA! PUAS LO!?"
Mata Dea dan Givani terbelalak. Mereka jelas terkejut dengan pengakuan Kenan yang membuat Dea semakin membenci cowok itu.
"GUE NYENTUH DIA SECARA PAKSA! GUE PENGEN MILIKIN DIA SEUTUHNYA, GUE CIUM DAN NYENTUH SAHABAT LO SECARA PAKSA! GUE BUAT DIA NANGIS DAN–"
Plak!
"Dan lo bejat Ken,"potong Dea lemah setelah sebelumnya menampar Kenan kembali.
Kenan mengangguk, dia terduduk lagi di rumput dengan lemah. Tangannya mengacak rambutnya dengan frustasi.
Dia menyesal telah menyentuh Queen secara paksa, dia menyesal telah membuat gadis polos itu menangis, merintih dan memohon di bawahnya semalam.
"Dimana Queen sekarang?"
Dea tersenyum sinis, gadis itu menatap Kenan dengan jijik.
"Gue gak akan mau kasih tau lo."
"Dimana Queen sekarang!?"bentak Kenan.
"Gue gak mau kasih tau lo, Ken! Cewek itu sendiri yang minta!"seru Dea emosi.
"Mending lo kasih tau aja dimana Queen sekarang. Biar Kenan bisa selesain masalahnya secara cepet,"saran Givani pelan.
Dea menatap tajam Givani, sementara yang di tatap hanya menunduk takut.
"Denger gak sih lo kalau Queen sendiri yang gak mau ketemu sama tu cowok brengsek!?"
"Iya maaf,"lirih Givani pelan.
"Makannya, jadi cowok itu jangan terlalu cemburuan dan emosian! Baru kerasa kan gimana rasanya di tinggal cewek pergi!? PUAS LO!? MAMAM TUH KARMA!"
Dan rasanya Kenan ingin sekali mencekik bahkan memukul Dea jika dia tidak ingat bahwa Dea adalah salah satu orang yang sangat di sayangi oleh pacarnya.
...||||...
Tepuk tangan dulu buat Dea👏
__ADS_1