QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
26. Papa


__ADS_3

Ternyata keadaan Queen lumayan parah, kata Dokter yang menangani Queen harus rawat inap sampai keadaannya benar-benar pulih. Tapi sayangnya Queen keras kepala ingin pulang saja, buktinya minggu sore yang cerah ini Queen sudah selesai berganti baju di kamar mandi untuk pulang, dan Kenan lebih memilih membawa Queen ke Apartmennya saja.


Di Apartmen bukan hanya ada Kenan dan Queen, tapi ada juga sahabat-sahabat mereka. Semua berkumpul di sini, dan itu entah kenapa membuat Queen senang. Dia merasa masih banyak orang yang menyayanginya dan menghawatirkannya. Queen hampir saja menitikan air matanya ketika sahabat-sahabat Kenan bertanya dengan cemas tentang keadaan Queen.


"Queen istirahat!"seru Kenan dari arah balkon Apartmen. Cowok itu sedang berkumpul di sana dengan para sahabatnya, entah apa yang Kenan dan sahabatnya lakukan.


Queen yang semula sedang tertawa bersama Givani dan Dea pun mendadak cemberut, dia bosan beristirahat terus. Dari kemarin sampai tadi pagi tubuhnya hanya berbaring di kasur, masa sekarang harus berbaring lagi? Yang ada punggungnya sakit.


"Gak mau, ah! Lagian gak kecapean ini kok!"seru balik Queen.


"Kamu gak nurut sama aku?"tanya Kenan keras.


Mata Queen mendelik, gadis itu bisa mendengar cekikikan dari kedua mulut sahabatnya yang menertawakan Queen.


"Untuk saat ini gak nurut dulu ya, Ken!"


"Harus nurut, Queen!"


"Ih keras banget sih kamu!"


"Aku itung sampai tiga kamu harus udah ada di kamar!"seru Kenan tidak mau di bantah.


"Ke kamar sana. Dari pada tu cowok ngambek nanti,"suruh Dea sambil terkikik geli.


"Ihs! Gak mau, gue mau ngobrol sama kalian,"ucap Queen pelan.


"Turutin apa mau Kenan kenapa sih, Queen?"tanya Givani sambil tersenyum geli.


Bibir Queen mengerucut, gadis itu bisa mendengar seruan Kenan yang sekarang mulai menghitung.


"Satu...dua... ti–Loh!? Kok malah nyamperin ke balkon?"


Kedua halis Queen terangkat ketika melihat bahwa pacarnya dan sahabat-sahabat pacarnya tengah merokok. Biasanya Kenan tidak akan merokok jika ada Queen di sekitarnya.


"Masuk sana, Queen. Disini banyak asap rokok,"titah Andra sambil menghembuskan asap rokoknya.


Queen menggeleng, dia duduk di samping Kenan yang terduduk lesehan di lantai beralaskan karpet rumput sintetik. Balkon Apartmen mewah Kenan luas jadi tidak sempit jika mereka menongkrong disana.


"Gak mau ah,"tolak Queen pelan.


Kenan berdecak, cowok itu menghisap rokoknya lalu menghembuskannya ke samping wajah Queen yang sudah terbatuk akibat terganggu dengan asap rokok tersebut.


"Sana masuk!"


"Gak mau, denger gak sih? Bosen tau istirahat terus! Punggung sakit nih dari tadi terus tiduran,"ketus Queen sambil mendelikan matanya.


"Nanti aku pijit punggung kamu, tapi sekarang masuk kamar terus istirahat ya!"


"Jangan mau di pijitin sama Ken, Queen. Tu cowok cuma modus pasti, bilang aja mau pegang-pegang pungg–"


"Bacod ******!"potong Kenan yang menyela ucapan ngawur Verrel.


Verrel menyengir kuda dengan jari tengah dan telunjuk kanan teracung keatas. Dia mengedipkan sebelah matanya ketika Queen menatapnya bingung.


"Ken gak pernah pegang-pegang Queen kok,"ucap Queen polos.

__ADS_1


Kenan mengulum senyumnya, dia memicingkan matanya sambil menatap gadisnya dari samping.


"Gak pernah tapi belum, Queen. Hati-hati aja lo,"sahut Tegar sambil tertawa.


Kening Queen mengerut, sungguh! Dia tidak mengerti dengan ucapan Tegar.


"Hati-hati? Kenan gak pernah jahat sama Queen, jadi ya gak perlu hati-hati,"ujar Queen yang berhasil membuat Tegar dan Verrel tertawa.


"Cewek lo terlalu polos, *****!"bisik Andra lalu terkekeh pelan.


"Queen! Mau nanya dong,"seru Verrel tiba-tiba.


Kenan hanya memperhatikan saja. Dia juga penasaran apa yang ingin sahabat somvlaknya itu tanyakan pada Queen.


"Boleh! Nanya apa?"


Verrel menyeringai ke arah Kenan hanya yang bisa mendelikan matanya. Kenan sudah merasakan aura jahil dari tatapan mata Verrel.


"Lo selama pacaran sama Kenan ngapain aja?"tanya Verrel jahil.


Kening Queen mengernyit, telunjuk gadis itu ia simpan di dagunya. Bibir pinknya terlihat memiring ke kanan, dan Kenan menahan agar dia tidak mencium pipi Queen saat itu juga untuk menyalurkan rasa gemasnya.


"Emm... cuma pegangan tangan, ngobrol, pelukan, jalan-jalan sih jarang,"jawab Queen di akhiri senyumannya.


Tegar membulatkan matanya, cowok itu mulai tertarik dengan topik pembicaraan antara Verrel dan Queen.


"Gak pernah kissing, Queen?"tanya Tegar penasaran.


"Hah? Suka kok!"


"Sarap,"desis Andra sambil mendelikan matanya.


Queen mengangguk semangat, matanya berbinar ketika menatap Kenan yang hanya menatapnya datar. Queen ini terlalu polos atau kelewatan begonya?? Mau aja di tanya-tanya yang aneh oleh kedua sahabat sablengnya.


"Iya! Kenan suka nyium pipi sama kening Queen,"jawab Queen semangat.


Verrel dan Tegar terkejut. Mereka kira kissing yang sering Kenan lakukan bersama para ex girlfriend nya.


"Yakin pipi sama kening doang?"tanya Andra sambil menyeringai.


"I-iya,"jawab Queen ragu.


"Lo gak pernah gitu ciuman kayak Kenan pacaran sama mantan-mantannya?"tanya Verrel yang membuat tubuh Queen mematung dan Kenan yang tersentak kaget.


Kenapa Verrel harus menyangkut-nyangkutinya dengan mantan sih? Kenan tahu bahwa kata 'mantan' amat sangat sensitif untuk Queen.


"Cium bibir maksud Kak Verrel?"tanya Queen pelan.


Verrel mengangguk, sepertinya dia tidak menyadari tatapan mata Kenan yang tajam. Cowok tengil itu juga tidak menyadari wajah Queen yang tadinya ceria sekarang menjadi muram.


"Queen belum pernah,"jawabnya lesu.


"Kenapa?"tanya Tegar sambil menaikan kedua alisnya.


"Queen takut dos–"

__ADS_1


"Gue yang gak bolehin! Kenapa? Gak suka!?"seru Dea yang tiba-tiba saja datang bersama Givani. Gadis itu menatap sinis Verrel dan Tegar secara bergantian.


"Heh, Nenek lampir! Kenapa lo gak bolehin coba? Ribet amat lo,"ketus Tegar.


"Ya biarin! Lagian Queen masih kecil, gak boleh tau cium-ciuman dulu."


Kenan menghela nafasnya. Dea, Tegar dan Verrel ini memang tidak pernah akur.


"Wah! Cemburu ya lo sama Queen?"tuduh Verrel dengan mata memicing.


"Otak lo benerin, brengsek! Gue cuma mau ngejaga Queen dari Kakak kelas brengseknya Garuda. Gue gak mau sahabat gue ini ngejalanin pacaran yang gak wajar sama Kenan,"jelas Dea yang membuat Kenan serta Queen terdiam.


Givani tersenyum pelan, dia duduk di samping Queen sambil menyodorkan ponsel Queen.


"Tadi ketinggalan di dalem,"ujar Givani pelan.


Queen tersenyum simpul. "Makasih."


"Semuanya gue ke kamar dulu ya! Tiba-tiba ngantuk nih,"pamit Queen sambil berlalu dari balkon.


"Ngambek tu bocah,"gumam Andra sambil meminum kopinya.


Kenan tanpa bisa di tahan melempar kedua sandal jepitnya kearah Tegar dan Verrel yang sudah memekik.


"****** lo berdua! Ngapain harus bahas yang gak perlu kalian tahu sih, hah? Ngapain juga kalian nyebut-nyebut 'mantan' coba?"


...||||...


Queen menenggelamkan wajahnya di guling yang dia peluk dengan erat. Entah kenapa air matanya menetes ketika mengingat ucapan Verrel yang menyangkut-nyangkuti obrolan mereka dengan 'mantan'. Sungguh akhir-akhir ini hati Queen sangat sensitif.


"Kok cengeng sih gue?"gumam Queen sambil terisak pelan.


Queen tahu kok mantan-mantan Kenan rela melakukan apapun demi membuat Kenan nyaman dengan mereka. Kissing lips sudah menjadi hal yang biasa bagi Kenan dan para mantan-mantannya. Apa Kenan merasa diam-diam kesal karena Queen tidak mau di cium?


Kenan memang tidak pernah meminta hal yang aneh-aneh pada Queen, meminta hal yang sama sekali Queen tidak sukai. Mungkin Kenan tidak menyampaikannya tapi cowok itu memberi kode kepada Queen lewat tatapan matanya, contohnya seperti tadi pagi di Rumah Sakit.


Saat tengah menangis dan membayangkan perkataan Verrel tadi, suara dering ponsel Queen membuat gadis itu berdecak sebal.


"Gak ngertiin apa yang nelpon kalau Queen lagi nangis? Sebel!"


Queen mengabaikan deringan ponsel tersebut, dia sibuk menangis dan lama-lama sebal juga karena deringan itu tidak berhenti. Dengan kesal dan tanpa melihat siapa yang nelpon, gadis itu duduk dari posisi berbaringnya lalu mengambil ponselnya di nakas dan mengangkat telponnya dengan kesal.


"Apaan sih? Gak ngertiin apa kalau Queen lagi nangis, lagi sedih hah? Kenapa terus-terusan nelpo–"


"Papa kangen sama Ratunya Papa dan Mama."


Tubuh Queen mematung, dia terpaku ketika mendengar suara berat di ujung telpon sana yang menggema di telinganya. Tangisnya terhenti dengan perasaan kaget luar biasa.


Queen tahu ini suara milik siapa, dia tahu siapa yang memanggilnya dengan panggilan 'Ratu'. Dengan bibir bergetar, Queen berusaha untuk membalas perkataan sang penelpon.


"Pa-Papa?"


Tut, tut, tut!


...||||...

__ADS_1


Hayolo Papa David mulai berani hubungin Queen🙃


__ADS_2