
Kenan merasa ingkar janji pada Nanda juga pada anak-anaknya selama berada di perjalanan menuju apartemen Queen. Padahal sebelumnya saat di kantin, Nanda sudah agak mencair dan bahkan berterima kasih kepada Kenan karena lelaki itu tidak pergi saat dibutuhkan.
Tetapi sekarang, pada malam hari ini, mobil Kenan berpacu untuk sampai ke tempat Queen. Dia meninggalkan Nanda yang hanya tersenyum tipis ketika Kenan mengatakan bahwa ada urusan mendadak yang mengharuskannya untuk pergi. Kenan berjanji, setelah selesai menghampiri Queen, dia akan kembali pada Nanda juga Alaia.
Lampu merah di persimpangan menahan mobil Kenan untuk beberapa menit. Lelaki itu menghela napas sembari bersandar pada sandaran kursi. Matanya menatap jalanan di depan dengan pandangan menerawang.
Apa kah dia lelaki yang sangat tidak bertanggungjawab sekarang?
Sebelum Kenan menemukan jawaban dari pertanyaannya, ponsel lelaki itu berdering. Menandakan ada telepon yang masuk.
Kenan pun meraihnya dan mengernyitkan kening saat melihat Mama Kania lah yang menelepon.
Tanpa berpikiran apa pun, Kenan lantas mengangkatnya sembari mulai menjalankan mobil karena lampu sudah berubah menjadi hijau.
"Halo, Ma. Ada apa?" tanya Kenan yang memilih untuk menyimpan ponselnya di paha setelah menghidupkan loud speaker agar dia bisa fokus menyetir.
"Kamu pergi kemana?"
Kenan menghela napas. "Ken kan udah bilang ada urusan mendadak, Ma."
"Malam-malam begini? Urusan apa, Ken?"
Sial. Kenan hanya bisa berseru dalam hati.
"Ada urusan sama klien."
"Klien tau waktu pastinya, Ken. Ini bukan lagi jam kerja."
Kenan tidak bisa menjawab atau mengeles lagi. Dia sudah bingung sekarang harus memberikan alasan apa.
"Anak kamu lagi sakit. Gak seharusnya kamu meninggalkan dia kecuali kalau mau ke rumah dulu. Sepenting apa urusan kamu itu?"
Lagi dan lagi Kenan hanya bisa diam.
"Queen, kan?"
__ADS_1
Mata Kenan langsung membulat. Dia mengerem mobilnya secara mendadak sampai-sampai suara klakson di belakangnya terdengar sangat keras. Kenan yakin bahwa dia sedang dikutuk oleh para pengendara di belakang.
Berusaha tenang, Kenan pun kembali menyetir.
"Maksud Mama apa?" Kenan bertanya, tetapi sedetik kemudian dia berdecak karena nada suaranya terdengar sangat grogi.
"Denger Mama, Kenan. Jangan terperangkap masa lalu lagi. Secinta atau sesayang apa pun kamu sama Queen, kamu gak bisa balik lagi ke dia. Kamu punya tanggungjawab yang besar akan Nanda sama anak-anak kamu. Kamu jangan menghancurkan keluarga kecil kamu karena masa lalu. Biarkan kamu sama Queen bahagia dengan jalan baru ini."
Lalu Mama Kania mematikan panggilan sepihak dan tidak berkata apa-apa lagi. Kenan dibuat sangat pusing dengan ucapannya yang menyentil hati.
Queen tiba-tiba datang kembali dan perasaan Kenan yang dulu hampir tenggelam langsung kembali ke permukaan ketika melihat wajah Queen yang sangat dia rindukan.
Meski pun hubungan mereka tidak berakhir baik karena Kenan mengacaukan semuanya, tetapi Kenan tidak bisa memungkiri hatinya kalau dia sangat menginginkan Queen sekarang.
Kenan tidak mau melepaskan Queen, tetapi dia juga tidak mau menyakiti Nanda juga kedua anaknya.
Lelaki itu menggeram lalu memukul setirnya dengan keras.
Pilihan apa yang harus dia ambil sekarang?
Nanda sakit hati? Jelas.
Nanda merasa kecewa? Sangat amat kecewa.
Nanda menangis? Tidak.
Lelah lebih mendominasi hatinya sampai air mata saja enggan untuk turun membasahi kedua pipinya yang terlihat sedikit tirus.
Pikiran yang membebaninya sangat banyak, membuat nafsu makannya hilang dalam sekejap. Berat badannya semakin menurun, namun dia tetap harus terlihat baik-baik saja di hadapan semuanya.
Perempuan itu memutuskan untuk jalan-jalan memutari rumah sakit yang luas ini. Dia membiarkan Mama Kania berjaga di ruangan Alaia.
Padahal sebelumnya Nanda sudah sangat senang karena Kenan bertahan dengan dia dan Alaia tanpa pergi ke mana-mana. Tetapi nyatanya, sekarang lelaki itu kembali terkecoh dan melupakan kebahagiaan yang sudah Nanda tunjukkan secara terang-terangan akibat Kenan menuruti permintaannya untuk tidak pergi ke manapun.
Apakah Kenan sesibuk itu? Apa Nanda dan anak-anak bukan lagi prioritas utamanya?
__ADS_1
Nanda berhenti untuk duduk di koridor yang sangat sepi, di hadapannya ada lahan seperti taman dan kolam ikan. Lampu kuning dari taman dan keadaan yang sepi tidak membuat Nanda takut.
Perempuan itu menunduk, tangannya memeluk dirinya sendiri. Nanda berusaha mencari kekuatan lagi untuk menghadapi Kenan.
Setidaknya jika bukan untuk menghadapi Kenan, dia memang harus kuat demi anak-anaknya.
Perempuan itu menghela napas, lalu saat mendongak dia terkejut luar biasa akibat Gara yang kini sedang berdiri di hadapannya. Raut wajah lelaki itu sukar ditebak.
"Ga...Ra."
Gara terdiam sejenak, meneliti wajah Nanda yang sudah lama tidak dia temui. Beberapa saat kemudian, lelaki itu tersenyum sangat manis dan lembut.
"Ternyata bener itu kamu. Apa kabar?" Gara bertanya sembari mengambil duduk di sisi Nanda.
Berbeda dengan Gara yang nampak sangat santai, Nanda justru terserang rasa grogi juga takut.
"I'm fine. Hidup aku jauh lebih baik sekarang. Aku punya suami yang sangat perhatian dan dua anak lucu," jawab Nanda sembari menatap Gara dengan senyum yang sangat dipaksakan.
Gara tersenyum, matanya menatap lekat Nanda. Kisah mereka dulu tidak sesederhana itu. Susah untuk dilupakan.
"Lucky you. Setidaknya aku lega kalau kamu mendapatkan hidup yang baik."
"How about you?" Ntah kenapa mulut Nanda bertanya begitu saja. Nanda sendiri terkejut karena pertanyaannya.
"Setelah dijodohkan sama pilihan Mama. Aku sama dia cuma bertahan satu tahun. Kita sama sekali gak cocok."
Nanda tidak menjawab apa-apa lagi. Dia terlalu terkejut dengan hal itu.
Tidak mau terlalu berlamaan dengan Gara, Nanda pun berdiri. Begitu pun dengan Gara. Mereka saling berhadapan. Ada rasa yang sulit untuk dijelaskan.
"Aku mau balik ke kamar anak aku," ucap Nanda sembari melewati tubuh tinggi Gara. Tetapi tangannya ditahan Gara sehingga langkah kakinya terhenti.
Sempat hening untuk beberapa saat. Nanda memilih untuk tetap membelakangi Gara yang masih memegangi tangannya.
Seperti ada api yang membayar tubuh Nanda saat tangan Gara menyetuh kulitnya. Api itu berbahaya, maka Nanda pun melepaskan tangan Gara. Kakinya ingin melangkah pergi, tetapi ucapan Gara untuk beberapa saat membuatnya terpaku di tempat.
__ADS_1
"Kalau ada apa-apa, kamu bisa lari ke aku. Aku ada di Rumah Sakit ini."