
"selamat pagi tuan Darren" sapa seorang wanita paruh baya. Dia adalah istri dari tuan Albert.
Darren mengangguk sebagai jawaban, dia tidak terlalu suka berbasa-basi seperti itu.
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum karena sudah mengetahui sifatnya dari suaminya.
Dia menoleh kearah samping tuan Darren dimana ada seorang gadis cantik tengah menggandeng lengan tuan Darren. Dalam hati bertanya-tanya siapa gadis ini, dia sangat penasaran tapi tak berani bertanya melihat bagaimana tatapan tajam pemuda yang ada dihadapannya.
"Hay nyonya.. selamat pagi" sapa Queen dengan riang, wajah cantiknya merekah seperti bunga saat ia tersenyum dengan tulus dihadapan wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu terkejut saat gadis itu menyapa dirinya "selamat pagi. Nona adalah.." pertanyaannya menggantung.
"saya Karren nyonya. Senang bertemu dengan anda" ucapnya memperkenalkan diri.
Wanita paruh baya itu tersenyum. Dia harus tetap ramah pada gadis yang digandeng oleh tuan Darren itu "senang bertemu denganmu juga nona, perkenalkan saya Natalie"
Queen melirik kesisi nyonya Natalie dimana ada seorang gadis yang berdiri bersisian dengan nyonya Natalie "oh siapa dia nyonya? apa pelayan disini?"
Darren yang sedang meladeni tuan Albert bicara terkejut mendengar ucapan Queen. Dia menoleh. Darren menarik sudut bibirnya sedikit sekali saat melihat wajah geram gadis yang tadi disebut pelayan oleh Queen, dia bahkan mengepalkan tangannya.
Pria tampan itu melirik tunangannya. Sudah bisa dia tebak jika Queen tak akan melepaskan gadis itu dengan mudah setelah melihat rumor dirinya bersama gadis itu. "dia memang pendendam" batinnya.
"bukan nona. Dia adalah aktris dari naungan perusahaan suamiku namanya Alice " jelas nyonya Natalie memperkenalkan.
Queen berpura-pura terkejut dan kemudian menatap tidak enak Alice "maaf nona saya tidak tahu" ucapnya sembari mengatupkan kedua tangannya didepan dada.
Alice yang tadinya kesal bertambah kesal saat melihat wajah gadis yang ada didepannya tersenyum mengejek dan begitu tengil sekilas tadi. Sudah ia pastikan jika gadis itu tidak tulus meminta maaf "nggak papa" ucapnya dengan senyum paksa dibibirnya. Dia berpura-pura ramah hanya untuk menjaga imagenya.
"senang sekali saya bisa melihat aktris didepan mata saya sendiri" ucap Queen sembari menatap nyonya Natalie dan Alice secara bergantian.
Nyonya Natalie terkekeh mendengar ucapan polos gadis yang ada didepannya "oh benarkah? apa nona pernah melihatnya?"
Queen menggeleng "tidak, apa nona Alice aktris yang tidak terkenal ya? aku sama sekali belum pernah melihat wajahmu dilayar televisi"
deg
Seperti ditampar oleh kenyataan. Alice menatap tajam gadis yang sok polos yang ada dihadapannya "sialan! j a l a n g brengsek!!" umpat Alice dalam hati. Dia rasanya kesal sekali setelah dipermalukan olehnya.
Saat melihat air muka Alice, Queen tertawa dalam hati. Rasanya puas sekali bisa menampar wajahnya dengan kata-kata keterlaluan seperti itu.
"hahaha nona sungguh suka bercanda ya?" tanya Alice sembari memaksakan senyum. Dia tak akan terpancing emosi atau nanti citranya menjadi jelek.
"aku tidak bercanda, aku memang serius tidak pernah melihatmu"
"apa nona tidak memiliki televisi dirumah?" tanya Alice dengan santai. Menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
"tentu saja aku punya"
"kalau anda punya, apa anda tidak melihat berita panas akhir-akhir ini? aku sedang menjadi perbincangan panas loh diinternet juga ditelevisi" ucap Alice dengan suara sombong. Dia melirik Darren sekilas.
Queen angkat bahu acuh lalu ia menoleh kearah Darren saat menyadari jika Alice mencuri pandang pada kekasihnya itu "memangnya ada berita apa sayang dinegaramu ini? aku kok nggak tahu" rengek manja Queen sembari melendot manja pada Darren. Dia sengaja memanasi Alice agar terbakar.
Alice mengepalkan tangannya, dia bertanya-tanya dalam hati apa hubungan tuan Darren dengan gadis menyebalkan itu.
"ah nona tuan, lebih baik kita duduk. Mari sarapan" Tuan Albert yang melihat ketegangan itu segera menyuruh semuanya untuk duduk. Apalagi melihat tuan Darren yang hanya diam memperhatikan membuatnya harus segera bertindak atau nanti Alice akan membuat mood tuan Darren memburuk.
Alice menghela nafasnya panjang mencoba bersabar. Jangan sampai citranya rusak akibat bersiteru dengan gadis sialan itu. Alice kembali menatap tidak suka saat Darren menarik kursi untuk Queen.
Beberapa kali ia mencoba mendekati Darren tapi sampai saat ini Darren terus memberi jarak padanya.
Bahkan Alice pernah sampai didorong oleh bodyguard Darren karena mencoba menerobos keamanan yang bodyguard Darren lakukan untuk melindungi tuannya yang memang tidak suka didekati oleh orang-orang apalagi seorang wanita.
__ADS_1
Alice dengan tidak tahu malu melangkah mendekati Darren, dia akan duduk disebelahnya.
Queen yang melihat Alice mendekat segera menatap wajah Darren. Menatap mata biru milik Darren, memberi tahu melalui tatapan tidak suka bahwa dia tidak mau kalau sampai ada seorang gadis duduk disisinya.
Darren yang tahu maksud Queen menatap tuan Albert "tuan, saya tidak suka duduk disebelah orang asing!"
Alice yang hampir menarik kursi tertegun, dia menatap Darren dengan pandangan tidak percaya.
Tuan Albert terkesiap lalu ia menatap tajam Alice "duduk disebelah sini nona Alice!" ujarnya bernada memerintah, dia memang tidak terlalu menyukai gadis itu.
Entah apa yang ia bicarakan dengan istrinya tadi sehingga ia bisa duduk disebelahnya.
"iya nona, kemarilah!" ucap nyonya Natalie ikut geram.
Alice hanya bisa menuruti perintah mereka, dia berjalan dan duduk disisi nyonya Natalie. Tatapan tidak suka ia berikan kepada Queen saat melihat raut penuh kemenangan darinya "awas kau nanti!"
Mereka sarapan sembari mengobrol santai. Sesekali Queen menyuapi Darren sengaja ia melakukan hal itu supaya gadis yang duduk dihadapannya kesal. Rasanya puas sekali.
"apakah nona kekasih tuan Darren?" tanya nyonya Natalie pada Queen saat melihat tuan Darren selalu menuruti apapun kemauan gadis ini.
Queen menoleh kearah Darren, dia bertanya melalui sorot matanya.
Darren menghela nafas panjang lalu ia mengangguk, lagipula sudah terlanjur ia menggandeng Queen saat masuk kedalam restoran. Pasti musuhnya sudah melihat wajah Queen.
Tapi satu hal yang Darren yakin pada gadisnya adalah gadisnya itu akan dengan mudah melindungi dirinya sendiri saat dia tidak berada disisinya. Jadi Darren bisa tenang.
Queen menatap nyonya Natalie sembari tersenyum "ya. Bahkan kami sudah bertunangan" ucapnya sembari mengangkat tangan dimana jari manis Queen tersemat cincin berlian dengan model sederhana.
uhuk
Queen menyeringai saat melihat Alice tersedak karena terkejut akan pengakuannya.
"maaf, saya kebelakang sebentar" ucap Alice karena semua orang menatapnya saat ia tersedak. Dia langsung berdiri dan pergi menuju toilet.
"mau ku antar?"
Queen menggeleng pada Darren saat pria itu menawarkan diri untuk mengantarnya "tidak perlu, selesaikan sarapannya sayang aku akan segera kembali"
Darren mengangguk dan menatap punggung Queen yang sudah pergi. Dia menatapnya dengan pandangan penuh arti.
***
"ahhk--" pekik Alice saat ia keluar dari bilik toilet. Dia didorong oleh seseorang masuk kembali lagi kedalam.
Matanya terbelalak saat menyadari siapa yang mendorong dan membekap mulutnya setelah tadi dia berteriak. Dia adalah gadis yang mengaku sebagai tunangan pria yang sedang berusaha ia kejar. Pria tampan yang sangat ia sukai, Darren.
"kenapa? terkejut?" tanya Queen dengan suara rendah. Dia menatap tajam Alice sembari bibirnya menyeringai tipis. Aura Queen seketika berubah. Sangat kuat dan hampir membuat Alice sesak nafas hanya dengan menatap matanya.
gluk
Alice merasa terintimidasi saat ditatap oleh Queen. Entah kenapa ia merasa takut dan merinding. Dia menghela nafasnya panjang untuk menguasai dirinya yang bergetar ketakutan.
"kau takut?" tanya Queen sembari menatap remeh gadis ini, ternyata nyalinya melempem. Tidak seperti Jane, gadis yang dulu sempat hampir dijodohkan dengan Darren oleh mom Emily dulu jauh lebih bar-bar dari gadis ini.
plak
Queen tergelak saat tangannya ditampik, ternyata boleh juga nyalinya gumam-gumam kecil.
"apa yang kau mau?!" tanya Alice dengan suara menggeram, dia mulai kesal.
"yang kumau?" Queen mendekati wajah Alice, tapi gadis itu segera mundur menghindar "hahahaha ternyata hanya gadis cilik pengecut"
__ADS_1
"aku bukan pengecut!"
"hahahah.. saat aku mendekatimu kau langsung pucat seperti itu, lalu aku harus memanggilmu apa? pecundang?"
"apa?!"
"hahahaha" mendengar pekikan suara Alice Queen malah tertawa.
Alice benar-benar ketakutan saat wanita yang ada dihadapannya tertawa.
Tangan Queen mendorong tubuh Alice sampai membuat gadis itu membentur dinding. Kedua tangan Queen dia letakan dikedua sisi tubuh Alice, mengungkungnya.
"apa yang kau mau?! minggir!" ucap Alice saat ia merasa terancam.
"kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Queen. Cukup menyenangkan mempermainkan gadis ini.
"aku akan mendorongmu menjauh! dan berteriak agar orang-orang tahu jika kau menekanku!"
"coba lakukan! aku ingin mengukur kekuatan mu"
Dan benar saja, Alice langsung mendorong Queen agar menjauh tapi entah kenapa gadis ini sungguh kuat. Alice bahkan tidak bisa menggeser tubuh Queen sama sekali. Barang satu langkahpun. "sial.. apa dia keturunan Hulk?!"
"hahaha.. apa kau sudah menyerah?"
Alice mendengus dan menoleh kesamping, tidak mau bersitatap dengan gadis mengerikan ini.
"ternyata gadis yang lemah! cih.. gadis seperti ini kok bisa-bisanya membuat berita sampah hanya untuk bisa dekat dengan seorang pria! menjijikan!"
"apa?!" pekik Alice tidak terima, dia memberanikan diri menatap netra cokelat gadis yang ada didepannya.
"apa?! aku bicara fakta, jangan berteriak dihadapanku!" Queen tak kalah memekik.
Alice menunduk, dia ketakutan.
"aish.. sudahlah" Queen mundur beberapa langkah memberi jarak "kalau bisa kuberi saran, lebih baik kau buka mata dan telinga saat sedang berbicara dengan pria jelek itu!"
"pria jelek? siapa?" batin Alice, dia masih menunduk tidak berani mendongak.
Tangan Queen bergerak untuk mengambil sesuatu didalam sakunya "aku tahu kau bodoh, tapi gunakanlah ot-akmu yang kecil itu untuk berfikir!"
Pekikan Queen membuat Alice mendongak, dia melihat seringaian dibibir Queen.
sleb
Alice terkesiap, tangannya terangkat untuk mengusap keningnya, ada sesuatu yang menancap dikeningnya "apa ini?"
Queen melipat tangannya didepan dada "satu dua ti--"
gedubrak
Alice jatuh. Dia pingsan dan jatuh ke lantai.
"oh tidak sampai tiga detik, eksperimen Danzel berhasil" ucap Queen dengan riang, dia bahkan sampai bertepuk tangan. Memang keturunan uncle Bas tidak perlu diragukan lagi, gumam-gumam kecil sembari terkikik.
"selamat tidur nona jelek! itu adalah balasan karena kau membuat berita sampah yang membuatku kesal ! saat bangun jangan lupa berendam karena obat bius itu akan membuat tubuhmu panas seperti terbakar!"
Seperti itulah cara kerja obat bius itu, Danzel memang cukup mengerikan karena diusianya yang masih muda, dia sudah bisa menciptakan benda yang bagus seperti ini. Uncle Bastian pasti bangga sekali padanya.
Setelah berbicara meski yang diajak bicara oleh Queen tidak mendengar, dia keluar dari bilik toilet.
Tidak lupa mencuci tangan diwestafel, Queen keluar dengan wajah tenang seperti tidak pernah melakukan apapun.
__ADS_1
greb
Mata Queen terbelalak saat tangannya dicekal oleh seseorang.