QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
bukan lawan


__ADS_3

Darren menggandeng tangan Queen memasuki mansion milik keluarganya. Hari masih senja jadi untuk makan malam nanti masih ada cukup waktu untuk sekedar memebrsihkan diei dan mengobrol dengan orang rumah.


Alis Queen menyernyit saat melihat sosok wanita tengah duduk disofa ruang tamu. Queen menarik tangan Darren agar menghentikan langkahnya.


Darren mengikuti kemauan Queen, ia berhenti lalu menoleh kearah Queen "ada apa?"


"kenapa wanita ular itu disini?"


Darren angkat bahu "mana aku tahu"


Queen mendengus dan mencubit tangan Darren "jangan bilang dia juga mau makan malam bersama kita?"


"aku tidak tahu sayang, ayo kita kesana agar kau tahu apa yang terjadi"


Queen mengangguk, dia merasa geram sekali melihat Jane yang tengah mengobrol dengan mom Darren itu. Apalagi mereka tampak sangat akrab sekali.


"oh sayang, kau sudah kembali?" tanya mom Emily, dia berdiri dan memperhatikan putranya lalu dia juga melirik Queen sekilas.


"hmm"


"hay honey.." Jane melambaikan tangan kearah Darren tapi jangankan dibalas, dilirik saja tidak. Membuat wanita itu merasa kesal sekaligus malu.


"aku jadi ingin tertawa sekarang" batin Queen merasa senang. Dia menatap wanita yang tampak begitu sexy itu dengan pandangan penuh kemenangan.


"dasar bocah kecil menjengkelkan!" Jane.


"sayang, Jane tiba-tiba datang berkunjung kemari ditengah-tengah kesibukannya, tidak papa kan kalau dia ikut makan malam bersama kita?"


Queen sungguh berharap Darren menolaknya.


"terserah mom saja"


Queen menatap Darren dengan kesal, dia bahkan hendak melepaskan tautan tangan mereka berdua. Tapi tentu saja Darren tidak membiarkan itu terjadi, tangan Queen dia pegang dengan sangat erat.


"mom aku akan membersihkan diri dulu"


"tunggu sayang, apa tidak lebih baik Queen disini? mengobrol dengan kami?" tanya mom Emily pada anaknya yang hendak membawa Queen pergi.


"tid--"


"ah-tentu saja aku mau aunty, aku akan mengobrol dengan auty agar kita bisa lebih akrab" Queen melepaskan tangan yang digenggam oleh Darren "pergilah, aku disini saja"


"tapi-"


"kamu tidak percaya pada mom Ren?" tanya mom Emily dengan raut wajah sedih.


Darren menghela nafasnya panjang "baiklah, aku percaya padamu" bisiknya didekat telinga Queen, sebenarnya dia takut sekali jika Queen ditindas oleh Jane.


Queen menyeringai dan mengangguk.


Darren meninggalkan ruang tamu, tapi sebelum itu dia memanggil salah satu penjaga mansion "jaga gadisku dari jauh!"


"baik tuan"


Meski Darren percaya Queen tidak bisa ditindas, tapi untuk berjaga-jaga saja dia melakukan hal ini. Menjaga keselamatan gadisnya.

__ADS_1


**


Queen duduk diantara kedua wanita itu. Tapi dia hanya diabaikan karena Jane selalu mencari obrolan dengan wanita paruh baya itu.


Jane sengaja agar Queen diabaikan.


Queen yang hanya diam melipat tangannya didepan dada, lama-kelamaan menjadi jengah juga melihat bagaimana Jane menj-ilat dan terus memuji mom Emily.


"apa saat kemari wajah tebal wanita itu ditinggal?" batin Queen saat melihat Jane terus mencari muka didepan mom Emily.


"kau pasti sangat sibuk kan Jane?" tanya mom Emily saat setelah Jane menjelaskan apa yang sedang dia lakukan akhir-akhir ini.


Jane tersenyum manis sekali "tentu saja-"


"tidak!" Queen memotong ucapan Jane. Membuat Jane membelalakan matanya.


"apa yang kau katakan?" tanya Jane dengan pandangan sinis.


"apa? aku tidak mengatakan apapun" jawab Queen dengan acuh.


Mom Emily menoleh dan memandang Queen, gadis itu tampak sangat anggun saat duduk. Terlihat jelas sekali jika gadis itu sangat terpelajar dan dari kalangan kelas atas.


Meski mom Emily melihat mini dress yang Queen kenakan cukup sederhana, tapi percayalah mom Emily dapat mengetahui jika dress tersebut berharga fantastis.


Jane mendengus dan kembali tersenyum manis saat menoleh kearah mom Emily.


"dasar wanita bermuka dua!" batin Queen lagi, dia sungguh kesal sekali melihat Jane. Kalau saja dia tidak sedang menjaga sikap Queen dengan senang hati akan memukul wajahnya yang tampak begitu menyebalkan itu.


"kalau orang bermuka dua nampar nya gimana ya?" benak Queen malah berfikiran konyol.


Mom Emily menoleh kesumber suara, dimana ada seorang maid disana "ada apa?"


Maid tersebut mendekati telinga mom Emily dan membisikan sesuatu.


Mom Emily mengangguk, ia mengayunkan tangannya menyuruh wanita itu untuk pergi.


"ehem.. Jane Queen. Kalian mengobrolah! tante ada urusan sebentar" ucap mom Emily pada kedua gadis itu.


Jane dan Queen mengangguk patuh. Membiarkan wanita paruh baya itu pergi dari ruang tamu.


"kau bit-ch! sebaiknya kau pergi dari kehidupan Darren! kau tidak pantas berada disisi Darren!" ucap Jane pelan, tapi setiap katanya dia tekan agar gadis yang ada didepannya saat ini takut.


"lalu menurutmu siapa yang pantas? kau?" tanya Queen santai, kemudian dia menyeringai saat karakter Jane yang sesungguhnya mulai terlihat.


Jane mengangguk penuh percaya diri "tentu saja iya"


"hahahaha... kau sedang melawak?" ucap Queen santai.


"hey! siapa yang sedang melawak!" pekik Jane, tapi setelah itu dia terkesiap saat menyadari suaranya terlalu keras. Jane menoleh kekanan dan kiri takut mom Emily melihatnya.


"tentu saja dirimu, memangnya disini ada siapa lagi? wanita ular yang sangat pandai menutupi kebusukannya!"


Jane mengepalkan tangannya "kaaau!!"


"apa? aku mengatakan yang sebenarnya" Queen melipat tangannya didepan dada.

__ADS_1


Jane menatap Queen jengah, kalau saja dia tidak sedang berada dimansion keluarga Darren, sudah dipastikan akan Jane jambak rambutnya.


Dan yang membuatnya tak kalah kesal,Queen selalu memperlihatkan wajah yang tenang saat menghadapinya. Malah sekarang dia yang dibuat emosi oleh gadis kecil itu.


Queen menarik kedua sudut bibirnya saat melihat Jane tampak kesal. "hahaha.. mau beradu mulut denganku? kita bukan lawan yang sepadan!! bahkan uncle Bastian saja kalah dariku"


.


Jane melihat dari sudut matanya tante Emily datang mendekat. Dia akan membuat siasat agar gadis ini diusir.


greb


Jane menangkap tangan Queen "kau memang pantas disebut bit-ch karena menggoda priaku, dasar anak ***-***!!" ucapnya pelan dan menekan. tatapan mata Jane menatap jijik Queen.


Jane akan memancing amarah Queen "kau pasti diajari oleh mom-mu kan? bagaimana menggoda pria?"


Queen mengepalkan tangannya, jika hanya dirinya yang dihina Queen masih bisa bersabar, tapi wanita yang ada didepannya ini menghina mom nya. Queen tentu saja tidak terima.


Queen memutar tangannya dan dengan mudahnya sekarang tangan Jane yang dia cengkeram dengan kencang. Matanya menajam. Aura disekitarnya seketika berubah menjadi dingin.


Jane menelan salivanya susah payah "kenapa aku jadi takut melihat matanya?"


Jane menyeringai tipis karena rencananya berhasil tapi dia merasa takut akan aura gadis yang ada didepannya sekarang. Jane sampai menyernyit karena merasa kuku tangan Queen mulai melukai tangannya.


"kenapa dia diam? dan apa tadi, dia menyeringai?" batin Queen, dia mulai mengetahui situasinya. Membaca dari raut wajah Jane.


Dengan gerakan gesit, Queen meletakkan tangan Jane dilengannya. Kemudian dia menjatuhkan tubuhnya kelantai "awwhh.."


Jane terbelalak karena gerakan cepat Queen, dia tidak sempat menghindar, bahkan untuk bereaksi saja tidak bisa. Padahal yag dia harapakan adalah Queen menampar atau mendorong dirinya. Tapi sekarang kenapa jadi berbalik? gadis yanga da dibawah lantai itu sangat licik. Melebihi dirinya.


"Jane!!"


Queen menyeringai, kemudian dia menoleh kebelakang "aunty.. help me" ucapnya lemah, dia besikap lemah agar mendapat simpati.


"kau keterlaluan Jane!" ujar mom Emily sembari membantu Queen berdiri.


"tante.. ini hanya salah paham! dia menjebakku tan" ucap Jane membela diri. "lihatlah.. tanganku pun terluka karena ulah dia!" bentaknya sembari menunjuk Queen. Dia memperlihatkan bekas kuku Queen yang tadi sempat menancap dilengannya.


"aku tanpa sengaja melukai tangannya karena mencari pegangan saat tadi terjatuh aunty, aku sungguh tidak sengaja" ucap Queen dengan mata berkaca-kaca, dia memeluk tubuh mom Emily. "dia sangat jahat, melukai aku dan bahkan dia menghina mom ku"


Queen mencengkeram baju yang dikenakan mom Emily, dia sungguh emosi dan marah.


Mom Emily menatap tajam Jane "lebih baik kau pulang Jane"


"tante.. dia berbohong, percayalah padaku" mohon Jane.


Sekarang untuk membela diri saja Jane tidak bisa karena wanita paruh baya yang biasanya selalu mempercayainya saja menatap tajam dia sekarang.


"Jane!"


Jane menghela nafasnya panjang "baiklah jika itu mau tante, aku pulang!" Jane buru-buru meraih tas, Jane juga menyempatkan diri menatap tajam Queen "awas kau nanti!!"


Kemudian Jane pergi meninggalkan kediaman Keith dalam keadaan kesal dan marah.


Queen menyeringai, dia menatap Jane dengan pandangan meremehkan "mau menjebakku? cih.. kau bukan lawanku!"

__ADS_1


__ADS_2