QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
kecewa


__ADS_3

Queen memasuki mobil yang sudah stay didepan restoran ketika dia baru saja keluar. Selama Devika menjadi asisten nya, semua kegiatan Queen tertata dan terforsir dengan sangat baik. Seperti sekarang ini Queen tidak perlu menunggu mobil.


Sopir membukakan pintu untuk Queen "silahkan nona"


Queen segera masuk kedalam mobil, setelah itu supir langsung mengendarai mobil tersebut keluar dari pelataran restoran.


Queen menatap jalanan melalui kaca jendela. Cuaca hari ini sangat terik dan sangat panas.


"siapa sebenarnya yang datang?" batinnya bersuara, gadis itu menghela nafasnya dengan panjang.


Jika dilihat dari karakter dad dan mom nya, mereka sudah pasti tidak akan memaksa kehendaknya. Mereka berdua akan selalu bertanya karena itu mengenai masa depannya kelak.


Lalu dad dan mom nya juga sudah mengetahui jika dia sangat mencintai Darren seorang. "tapi jika pria itu lebih baik dari Darren,mom dan dad bisa berfikir dua kali bukan?"


Queen meraih ponsel dan menghubungi Gerrell, sudah beberapa kali dia melakukan panggilan telepon tapi Gerrell tidak menjawab nya sama sekali.


"ck.. kemana dia" gerutunya, dia menyandarkan tubuhnya disandarkan jok mobil.


Mobil terus melesat membelah jalanan kota. Sampai dimana mobil memasuki mansion utama. Alis Queen menyernyit saat melihat penjaga didalam mansion bertambah banyak. "ada apa ini?" gumamnya, dia merasa tidak nyaman.


Saat mobil sampai didepan pintu utama, Queen langsung keluar dari mobil dan segera berjalan kearah pintu.


"ahhk" pekik Queen tiba-tiba, saat merasa tangannya ditarik oleh seseorang. Gadis cantik itu menoleh "kau? ada apa hah?" gerutu Queen setelah mengetahui jika orang yang menarik tangannya adalah Gerrell.


"sssttt" Gerrell mendesis dan meletakkan jadi telunjuk nya didepan mulut.


"ada apa?" tanya Queen berbisik. Dia mengikuti ucapan Gerrell yang menyuruhnya diam.


"kenapa kakak pulang?"


"memangnya kenapa? kau bilang kakak dilamar oleh pria tua ban-gka dan menyuruhku untuk segera datang? makanya kakak pulang untuk menolaknya sekarang" ujar Queen menggebu.


"sssttt" lagi-lagi Gerrell menyuruh Queen untuk diam.


"harusnya kakak jangan pulang, dia sepertinya ingin sekali melihat dirimu, kalau benar dia menyukaimu bagaimana?" Gerrell membawa Queen menuju depan pintu setelah itu dia mengintip kan kepalanya sedikit. "lihatlah kak, dia sangat tua"

__ADS_1


Queen yang ikut mengintip membelalakan matanya, benar apa yang Gerrell ucapkan jika pria tersebut sudah sangat tua, bahkan rambutnya sudah hampir memutih semuanya.


Meski Queen tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya karena dia sedang membelakangi Queen, tapi gadis itu yakin sekali jika pria itu jauh lebih tua dari dad Arsen.


"kau mau dengannya?" tanya Gerrell sembari mendongak keatas karena kepala kakaknya itu ada diatas kepalanya sekarang.


"apa dia kaya?" tanya Queen dengan wajah yang polos.


dug


Gerrell menyikut lengan Queen, membuat gadis cantik itu meringiskan giginya yang putih "kenapa kau marah? aku hanya bertanya saja"


"kalaupun dia kaya raya, tapi aku tidak sudi memiliki kakak ipar setua itu kak, aku akan meratapi kemalanganmu setiap hari jika hal itu benar-benar sampai terjadi" ujar Gerrell serius.


"tapi jika dia kaya aku akan mewarisi semua kekayaan nya nanti, saat dia mati" ujar Queen sembari menahan tawanya melihat kegeraman Gerrell. Lalu gadis itu dengan iseng mengacak rambut Gerrell.


"kak!"


Queen terkekeh lalu dia kembali menatap dalam mansion, dimana disana mom dan dad nya sedang berbicara dengan serius pada tamu yang datang.


Kedua orang tua Queen saling tatap sebentar, dapat Queen lihat bahwa kedua orangtuanya mengangguk menandakan jika mereka menerimanya.


Queen mengepalkan tangannya menahan sesuatu yang menurutnya sakit, dadanya bergemuruh.


"kami menerima lamaran anda untuk Puteri kamu"


deg


Mata Queen membola, padahal dia sudah mengetahui jawaban mereka saat melihat gelagat kedua orang tuanya barusan, tapi mendengarnya secara langsung sungguh membuatnya kecewa akan keputusan yang diambil oleh mereka tanpa meminta persetujuan darinya.


Queen mundur dua langkah, dia menatap datar pintu yang memang tidak ditutup dengan rapat itu.


Gerrell yang menyadari jika kakaknya itu kecewa segera mendekati Queen "are you oke kak?"


Queen menggeleng "tentu saja tidak"

__ADS_1


"apa kakak marah?"


Queen kembali menggeleng "tidak, hanya kecewa saja"


Gerrell yang melihat kakaknya berbalik badan segera mencekal tangannya "kakak mau kemana?"


Terdengar gelak kecil dari mulut gadis itu "kakak hanya mau kebelakang Rel, jangan mengira aku akan kabur setelah mendengar sesuatu yang mengecewakan seperti itu" ucapnya remeh.


Gerrell yang mempercayai ucapan Queen melepaskan cekalan tangannya. Dia menatap punggung Queen yang semakin jauh. Dapat dia lihat jika langkah kaki Queen saat ini berjalan menuju ke halaman belakang.


Tangan Gerrell mengepal, dia tidak suka jika kakak yang paling dia sayangi ini sedih "aku akan membantumu kak"


***


Queen berjalan menuju taman belakang, tangannya masih terkepal erat sekali. Matanya yang biasanya lembut dan bersahabat jika sedang berada di rumah sekarang menajam.


Gadis itu berhenti didepan taman, dia memperhatikan taman yang sangat cantik dengan bunga mawar yang menghiasinya. Disana adalah salah satu tempat favorit Queen karena disanalah dia sering kali menghabiskan waktu libur untuk berlatih menembak.


Queen menunduk, dia sekarang tengah mengenakan rok sepan yang lumayan ketat. Langkah kakinya membawanya ke depan sebuah pohon yang rindang. Pohon buah mangga yang dulu sering kali dia panjat ketika masih kecil.


Gadis itu melepaskan heels yang ia kenakan, lalu dia memanjat pohon tersebut. Senyum cantik terukir diwajahnya yang manis saat berhasil memanjat pohon padahal dia mengenakan rok. "rok tidak menghalangiku sama sekali" ujarnya dengan bangga. Queen segera duduk disalah satu dahan.


Menghela nafasnya panjang sekali, sepertinya gadis itu merasa lelah.


Dia mengayunkan kakinya "kenapa dad dan mom berbuat seperti ini padaku? apa mereka memang sudah merencanakan hal ini dari awal? makanya aku disuruh cepat kembali dengan alasan perusahaan yang kolaps?" batinnya mulai menduga-duga. Gadis itu menatap nanar mansion yang telah menampungnya selama sembilan belas tahun itu.


"apa dad dan mom sejahat itu? tapi rasanya aku tidak mempercayai hal ini begitu saja"


Jika dilihat dari karakter kedua orang tuanya seharusnya mereka memilih untuk menanyakan dulu pendapat Queen karena itu adalah tentang masa depan Queen nantinya.


Dan lagi, kedua orang tua Queen telah menerima Darren bukan? tapi kenapa mendadak sekali mereka menerima lamaran dari orang asing? "jangan-jangan..." ucap Queen menggantung saat menyadari sesuatu.


"hey kau gadis nakal! turun sekarang!!"


Queen terbelalak mendengar suara seseorang, tubuhnya yang terguncang membuatnya kehilangan keseimbangan "ahhhhhkkkkkk---" pekiknya kencang sekali saat tubuhnya melayang hampir jatuh kebawah.

__ADS_1


__ADS_2