
"mulutmu yang bau! kurang ajar!" pekik wanita yang masih Queen apit dengan ketiaknya. Dia marah setelah dikatai oleh gadis kecil ini.
"benarkah?" tanyanya dengan wajah polos. Dia mengangkat satu tangan dan berhenti di depan mulut.
"hah hah"
Mom Emily hampir saja tertawa melihat tingkah Queen yang sekarang tengah mencium aroma mulutnya sendiri. Tindakan konyol Queen benar-benar menghiburnya. Lupa sudah perasaan dongkol setelah bertengkar dengan wanita itu.
"tidak bau sama sekali. Kau berbohong ya? sudah jelas-jelas mulutmu yang bau sampah" ucap Queen sembari menunduk. Dia menatap kesal wanita paruh baya ini.
"cih.." Wanita paruh baya itu berdecih. Ia melengos agar tidak melihat mata gadis tengil ini.
"nona. Biar saya yang pegang wanita pembuat onar ini" seru seorang keamanan sembari memegang lengan wanita tersebut.
Queen melepaskan kepalanya. Lalu bertepuk tangan pelan dan mengusap baju nya yang tadi ditempeli oleh wanita itu. Dia tampak jijik sekali.
Wanita paruh baya itu tampak tersinggung saat melihat hal itu "kau kira aku ini kotoran?! aku ini wanita sosialita kelas atas. Kau bahkan sangat beruntung bisa memegang diriku" ujarnya ketus.
Queen angkat bahu acuh "aku hanya alergi pada orang sombong dan arogant. Apalagi yang mulutnya beracun sepertimu! Apa disini ada desinfektan Renata? aku takut tertular penyakit" ucap Queen sembari menatap managernya.
Wanita cantik yang terlihat dewasa itu menggeleng "tidak ada nona. Tapi kalau anda menginginkannya bisa saya carikan"
"nanti saja. Sekarang kau" Queen menunjuk keamanan yang tengah memegangi tangan wanita itu "ikat dia dikusi"
Pria itu mengangguk dan kemudian melaksanakan perintah Queen.
"hey! kalian semua mau kujebloskan kepenjara hah?! lepaskan aku breng-sek!!"
Queen menggeleng melihat wanita yang sangat bar-bar itu. Lalu ia berjalan mendekati aunty Emily. Meletakan tangan diatas kedua lututnya agar bisa melihat wajah aunty Emily yang saat ini tengah duduk dikursi tunggal. Tangannya terulur untuk mengusap luka cakar yang dilakukan oleh wanita kurang ajar itu. Queen menoleh kearah Renata "ambilkan kotak obatku dibagasi"
"baik nona"
Mom Emily masih saja diam. Dia tahu sekali jika Queen terlihat kasihan dan iba padanya.
"kau bocah tengil! lepaskan aku!"
Queen menggeram mendengar suara wanita paruh baya yang sudah terikat itu "bungkam mulutnya dengan kaos kaki" ucapnya dengan suara tertahan. Gadis itu benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Kalau saja tidak ada calon mertuanya, entah apa yang akan ia lakukan padanya.
Queen kembali menatap wajah mom Emily. Tatapan yang awalnya marah berubah lembut dan penuh kasih sayang.
"kenapa dia bisa secepat itu merubah ekspresi wajahnya?" batin mom Emily heran. Bagaimana tidak heran jika Queen langsung mengubah raut wajahnya ketika menatap kedua matanya. Padahal awalnya tatapan matanya tajam dan terlihat penuh amarah dan kebencian.
"ayo pergi keruangan sebelah aunty. Aku akan mengobati lukamu"
Mom Emily menatap tangan Queen yang terulur tepat didepannya. Dan tanpa ragu mom Emily menerimanya. Kemudian berdiri dengan sedikit ditarik oleh gadis ini.
"hmmmppt-- hmmmppt--"
Mom Emily menoleh kearah wanita yang saat ini benar-benar dibungkam menggunakan kaos kaki. Dia melihat sendiri jika itu adalah kaos kaki yang digunakan oleh salah satu keamanan yang ada disana. Mom Emily bergidig. Antara mual dan juga takut.
"jangan dilihat aunty" ucap Queen membuyarkan lamunan wanita paruh baya itu.
Mom Emily menatap wajah cantik calon menantunya, dia tengah tersenyum polos seperti tidak habis memberikan perintah mengerikan pada bawahannya "dia ternyata sangat kejam" batinnya mengomentari sikap dan perbuatan Queen.
Queen ternyata membawanya kesebuah ruangan. Disana terlihat jelas sekali jika ini adalah ruang kerja owner butik. Karena disini ada sebuah meja kerja dan tumpukan berkas dan beberapa leptop yang terlipat diatas meja.
Queen membantu mom Emily duduk disofa. Dia kemudian menyusul untuk duduk disebelahnya.
__ADS_1
Tok tok tok
Pintu diketuk dari luar, menandakan jika ada seseorang yang ingin masuk kedalam ruangan tersebut "ah itu pasti Renata. Aku ambil dulu obatnya" ujar Queen sembari berjalan mendekati pintu.
Benar kan. Jika yang datang adalah bawahannya, saat ini Queen membawa kotak obat yang selalu tersedia disetiap mobil miliknya. Mom Valey selalu memastikan jika semua mobil anak-anaknya harus memiliki kotak obat, karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi kalau saat terluka jauh dari rumah sakit. Paling tidak kita bisa mencegah menggunakan obat dan peralatan yang tersedia meski tak selengkap dirumah sakit.
Queen duduk disisi mom Emily kembali. Ia memangku kotak obat tersebut lalu membukanya.
"aku bisa sendiri Queen"
Queen yang awalnya menunduk karena sedang memilih apa saja yang ia butuhkan mendongak. Gadis cantik ini tersenyum pada mom Emily "aku akan membantu aunty. Aunty adalah salah satu orang yang kusayangi. Jadi biarkanlah aku berbakti dengan cara mengobati luka aunty"
Mom Emily terdiam setelah Queen mengatakan hal yang menyentuh hatinya. Ia membiarkan Queen mengobatinya.
Queen membasahi kapas menggunakan alkohol. Dengan menggunakan penjempit, Queen mulai menempelkan kapas tersebut ke luka yang ada diwajah mom Emily.
"sakit?" tanya Queen saat melihat raut wajah mom Emily yang meringis.
"kamu rasa?"
"perih" jawab Queen santai. Ia terus membersihkan bekas cakaran tersebut dengan pelan. Karena takut menyakiti wanita paruh baya ini "tapi masih jauh dari hati"
Mom Emily memutar bola matanya mendengar ucapan Queen. Gadis ini memang selalu berkata seenaknya sendiri. Mom Emily memperhatikan wajah cantik Queen, sekarang ia dapat melihat dengan jelas setiap inci wajah Queen.
Wajahnya putih dan halus seperti susu, sepertinya gadis ini selalu merawat kulitnya dengan baik. Terbukti tak ada jerawat atau komedo yang menempel disana.
Garis wajah Queen sama seperti nyonya Valerie, tapi mata serta tatapan nya sama seperti Daddy nya. Tuan Arsenio.
"kenapa kamu mengenal manager tadi?" tanya mom Emily yang sudah tidak tahan akan rasa penasaran yang ia rasakan sedari tadi. Gadis ini dengan lugas dan tegas bisa memerintah manager butik yang ia ketahui melalui internet saat hendak berbelanja untuk oleh-oleh teman-temannya diParis.
Butik ini berada dinomor satu pencarian tempat belanja yang direkomendasikan. Selain tempatnya yang luas dan nyaman serta mudah dicari. Disana juga menjual barang-barang branded serta baju-baju lokal.
Mom Emily mengakui jika butik ini memang sangat bagus dan rekomended sekali.
Queen yang tadi diberi pertanyaan menatap mata biru milik wanita paruh baya ini. Senyum samar tercetak diwajahnya.
"kenapa kau tersenyum seperti itu?"
Queen menggeleng dan terkekeh "aunty. butik ini adalah milikku. Hadiah dari mom Valey saat aku ulang tahun ke lima belas"
Wanita paruh baya ini sedikit terkesiap. Menatap tidak percaya ucapan gadis ini.
"hehehe.. aunty tampak tidak mempercayai ucapanku ya?"
Mom Emily menggeleng "tidak juga" jawabnya santai karena ia tahu latar belakang Queen bagaimana. Jadi tidak heran jika orang tuanya memberikan sebuah butik. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah kenapa mereka memberikan tanggung jawab besar pada anak yang baru saja menginjak usia remaja? apa mereka tidak takut jika butik ini bangkrut dan dibuat hancur oleh anak yang baru menginjak keusia lima belas tahun.
"aku diberi tanggung jawab untuk mengelola butik ini. ini adalah tanggung jawab besar yang orang tuaku percayakan padaku, untuk pertama kalinya"
Mom Emily mengangguk mengerti. Jika dilihat bagaimana pesatnya perkembangan butik ini, seharusnya kedua orang tuanya bangga sekali. Mom Emily yang bukan keluarganya saja merasa bangga melihat hal ini.
Pantas saja anaknya begitu tergila-gila pada gadis ini. Jika diibaratkan Queen adalah sebuah berlian yang sangat berharga.
"Aku masih harus dibimbing oleh Renata sampai aku bisa menjalankan bisnis ini dengan lancar. Dan sampai saat ini butik ini tidak pernah aku buat bangkrut" selorohnya sembari tertawa.
Mom Emily tersenyum mendengar candaan Queen. "tapi yang kulihat sekarang butik ini sangat besar dan terkenal"
Queen kembali terkekeh "benar apa yang aunty bilang. Kalau tidak besar dan terkenal aunty pasti tidak akan sampai disini sekarang kan?"
__ADS_1
Mom Emily mengangguk membenarkan.
"Tapi sebenarnya ini hanya sebuah keberuntungan saja kok"
Wanita paruh baya itu masih saja diam. Tapi sekarang tatapan matanya sangat hangat dan penuh kebanggaan menatap calon menantunya. Apalagi mendengar ucapan rendah diri Queen, ia benar-benar kehilangan kata-kata hanya sekedar untuk menimpali ucapan Queen.
"sudah"
Mom Emily mengangguk "terimakasih"
"sama-sama" ucap Queen sembari membereskan peralatan kotak obatnya kembali. Setelah selesai Queen kembali menatap wajah mom Emily "aunty.. aku lapar sekali. Bagaimana kalau kita makan malam bersama?" tanya Queen dengan raut wajah memohon.
Mom Emily mengangguk dan terkekeh melihat wajah menggemaskan gadis ini. Padahal tadi ia dapat melihat betapa bertanggungjawab dan dewasanya Queen "baiklah.. ayo aunty traktir makan karena kamu sudah membantu dan mengobatiku"
Queen mengangguk dengan semangat. Lalu menarik tangan aunty Emily agar berdiri dari duduknya. Menggandeng lengan wanita paruh baya itu dengan santai. Sama seperti saat ia menggandeng mommy nya.
.
.
"maaf nona. Bagaimana dengan nyonya yang ada didalam ruang kemanan?" tanya Renata saat Queen dan mom Emily keluar dari ruangan.
Queen menoleh kearah manager dan orang yang juga ia percayai itu. Tatapan matanya tajam dan serius "kita bahas nanti"
"baik nona" Menunduk dan membukakan pintu untuk kedua wanita yang sedang bergandengan tangan.
"Aunty mau makan apa?"
"eh-- terserah kamu saja" ucap mom Emily saat Queen bertanya. Tadi ia sedang memperhatikan perubahan sikap Queen saat berbicara dengan manager butik ini. Terlihat ada wibawa yang bisa ia tangkap dari pandangan matanya.
"baiklah..." dengan riang kembali berjalan, tangannya masih menggandeng tangan mom Emily dengan erat.
"gadis ini sangat sulit untuk kutebak bagaimana karakter aslinya" batin mom Emily sembari sesekali mencuri pandang gadis yang berjalan disisinya.
***
Sesampainya disalah satu restoran yang tak jauh dari butik. Queen kembali menggandeng tangan mom Emily. Tak ada penolakan sama sekali dari wanita paruh baya itu.
"bagaimana kalau kita besok jalan-jalan aunty? atau aunty mau berbelanja dibutik lagi? nanti aku akan menyeterilkan pengunjung jika aunty mau berbelanja"
"akan aunty pikirkan nanti"
Queen mengangguk "baiklah.." mereka masuk dan memilih untuk duduk ditempat outdoor lantai tiga. Dari sana terlihat jelas pemandangan hiruk pikuk kota malam ini. Cahaya kelap-kelip yang terlihat dari sana terlihat sangat cantik sekali.
"bagaimana menurut aunty tempat ini? ini adalah salah satu tempat favoritku dan kedua adikku"
Mom Emily tampak menoleh kekanan dan kiri "sangat nyaman dan cantik. Aunty merasa jadi muda lagi saat berada disini" ucapnya karena dibeberapa titik hanya ada anak muda yang berada disana juga.
Queen tergelak mendengar ucapan mom Emily "maaf ya aunty. aku belum tahu selera aunty bagaimana"
"tidak papa. Aunty nyaman berada disini kok"
"Kareeen"
Queen dan mom Emily menoleh kesumber suara. Seorang pemuda tengah berjalan kearah mereka duduk.
**
__ADS_1
maaf slow update kawan-kawan..