QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
party


__ADS_3

Gerrell mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mengerti akan apa yang mereka rencanakan. Dia menatap wajah Darren yang hanya datar saja. Tapi dapat ia lihat tatapan matanya berubah, dia seperti sedang memikirkan sesuatu. "katanya kau percaya pada kak Queen. Tapi lihatlah wajahmu itu" ejek Gerrell. Sengaja ia berucap seperti itu agar pria yang adalah tunangan kakaknya itu tak khawatir.


Tentu saja Gerrell tahu, meski Darren terlihat biasa saja tapi dihatinya pasti merasakan takut yang teramat sangat. Jika nanti Queen kenapa-napa.


Darren hanya berdecak dan kembali menatap kedepan. Hamparan laut lepas itu sedikit membuat hatinya tenang.


"hey kalian berdua!"


Gerrell menoleh saat mendengar pekikan seseorang. Alisnya menyernyit melihat pria yang semalam mencekoki dirinya alkohol. Sahabat dari Darren, Edgar.


"apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Edgar sesaat setelah ia sampai diantara Darren dan Gerrell. Dia tatap Darren dan Gerrell secara bergantian.


"kenapa kau berada disini juga?" tanya Gerrell sedikit heran. Pasalnya ia sedari tadi tak melihat batang hidungnya sama sekali.


"aku baru saja bangun, kenapa? kau kelihatannya tak menyukai kehadiran ku?" tanya Edgar sembari menaik turunkan alisnya. Kemudian ia merangkul bahu Gerrell seperti seorang teman.


"Minggir! jangan sentuh aku!" ucap Gerrell ketus. Dia menampik tangan Edgar tapi tak membuatnya tersinggung.


Edgar malah terkikik melihat reaksi kesal dari wajah Gerrell.


"siapa namamu anak kecil? kenapa kau ikut dimisi berbahaya ini? Sana pulang saja dan minum susu"


Gerrell yang tak berhasil menyingkirkan tangan Edgar pada akhirnya pasrah. Dia membiarkan pria yang sok dekat itu berbuat semaunya. Dia tatap jengah pria yang kemudian duduk disisinya. "aku bukan anak kecil! kau saja yang sudah tua!"


Mata Edgar membola lalu menatap penuh luka kearah Gerrell "mulutmu sangat pedas seperti saus sambal. Menyebalkan sekali" ucapnya sembari bergeser dari sisi Gerrell.


Gerrell angkat bahu acuh. Menghina adalah salah satu keahlian nya jadi kalau ada orang yang membuatnya kesal, akan ia hina habis-habisan nanti.

__ADS_1


"sudah mau sampai ya Ren?" Edgar memilih bertanya pada Darren. Dari pada ia harus naik darah meladeni ucapan bocah kecil ini.


"ck.. Kau tidak buta kan? lihatlah pulau itu! sudah jelas sekali kita hampir sampai"


Edgar menoleh sinis kearah Gerrell yang berucap ketus "ck.. kenapa bocah ini kau ajak sih Ren?! sangat menjengkelkan sekali lama-lama"


"ck! diamlah kalian berdua! cepat bersiap untuk turun dari sini" Darren berucap sembari berdiri. Dia menatap tajam pulau kecil yang ada dihadapannya saat ini.


Gerrell juga ikut berdiri. Dia berjalan mendekati Darren, berdiri disisi Darren sembari memasukkan kedua tangannya disaku celana. Dia terlihat cool tapi tatapan matanya yang biasanya terlihat hangat dan usil, sekarang setajam belati.


Gerrell bertekad untuk menghabisi siapa saja yang ada didalam pulau tersebut.


Edgar menatap kedua orang pria yang ada disebelahnya. Jika Darren ia sudah terbiasa akan aura yang ia keluarkan tapi berbeda dengan pemuda yang dua hari ini selalu berdebat dengannya, entah kenapa ia merasa jika aura yang ia keluarkan tak jauh berbeda dengan Darren. Tatapan matanya benar-benar berbeda dari biasanya. "bocah ini menarik juga" batinnya berucap.


Sesampainya ditepi laut, Darren dan anak buahnya langsung berjalan kearah dalam hutan. Dan tak lama mereka menemukan villa yang cukup luas itu.


Darren menoleh kearah Gerrell saat sampai didepan pintu gerbang. Adik iparnya itu sama sekali tak terlihat takut. Sudut bibirnya tertarik sedikit sekali "tak perlu diragukan lagi keturunan dari tuan Arsenio" batinnya sedikit memuji.


Setelah membuka pintu gerbang dengan paksa. Gerombolan anak buah Louis sudah bersiap disana, mereka berusaha menahan Darren dan anak buahnya agar tak masuk.


Tapi karena kekuatan yang dimiliki anak buah Darren, mereka semua hampir dibuat tumbang.


"aku akan masuk kedalam. kalian bereskan sisanya" ucap Darren pada Edgar yang berdiri tak jauh dari dirinya.


"iya. masuklah!" ucap Edgar sembari menendang perut pria yang menjadi lawannya sampai tersungkur.


"jaga Gerrell baik-baik! kalau sampai dia terluka kau akan tahu akibatnya!"

__ADS_1


Edgar menatap mata Darren keberatan. Tapi ia akhirnya mengangguk saat melihat tatapan mematikan dari sahabatnya itu "aku akan menjaganya! kau masuklah sana"


Darren mengangguk dan menepuk bahu Edgar sebagai tanda ia percaya padanya. Lalu Darren masuk kedalam villa.


Edgar menatap punggung Darren yang semakin menjauh. Lalu pria itu menoleh kearah Gerrell yang terlihat brutal pada lawannya "wow.. aku tak menyangka jika bocah itu lumayan juga. Siapa tadi namanya ya? oh iya Gerrell!" ucapnya saat berhasil mengingat nama Gerrell dari ucapan Darren tadi.


"Gerrell!"


Pekikan Edgar membuat Gerrell menoleh, dia bertanya dengan mengangkat dagunya.


"jangan sampai terluka atau nanti aku dihajar oleh kakak iparmu! ayo kita Partyyyy" ucap Edgar sembari mengangkat kedua tangannya.


Gerrell menyeringai mendengar ucapan Edgar. Dia mengangkat ibu jarinya untuk membalas ucapan Edgar.


"lama sekali aku tak membunuh orang! rasanya aku seperti hidup lagi setelah mencium aroma darah yang sangat pekat ini" batin Gerrell dengan senang. Jiwa brutalnya kembali menyala saat melihat musuh yang ada dihadapannya.


"ayo datang padaku! aku akan mengirim kalian keneraka hahahah" tawa Gerrell seperti seorang psikopat. Dia yang tadi merebut katana dari musuhnya mulai menebas tubuh lawannya tanpa ampun.


(duh.. Author ngeri-ngeri sedap membayangkannya)


***


Darren yang baru saja masuk kedalam villa tertegun melihat seseorang yang sedang santai duduk sembari minum wine. Dia duduk dengan angkuh. Melipat salah satu kakinya diatas paha, dia tersenyum miring saat menyadari kehadiran Darren disana.


"selamat datang teman lama... Mari kita minum untuk merayakan pertemuan ini" ucapnya dengan ringan. Seperti ia tak memiliki dendam atau semacamnya pada Darren.


Darren berdecih dan terus menatap tajam pria tersebut. Apalagi jika mengingat apa yang telah ia lakukan padanya membuatnya ingin sekali menghabisinya.

__ADS_1


__ADS_2