
Gerrell mendekatkan mulutnya ke telinga Queen "kakek Will Smith"
Dan setelah Queen mendengarkan bisikan Gerrell, Queen membelalakan matanya "what?!apa yang kau ucapkan?!" pekiknya kencang sekali.
Queen sungguh tak menyangka dan shok mendengar fakta yang menurutnya begitu mencengangkan.
Gadis cantik ini menatap wajah adiknya dengan mata membelalak dan mulut menganga. Queen masih tidak menyangka nya.
"isk.. reaksimu berlebihan sekali kak" gerutu Gerrell.
Queen terkesiap dan mengembalikan wajahnya seperti sedia kala. Gadis cantik yang baru saja dilamar itu masih menatap wajah Gerrell dengan pandangan aneh "benarkah Rel? kakek tua itu?"
Gerrell mengangguk membenarkan. Pemuda itu kembali menatap layar leptopnya "ya. Dan sekarang sedang terjadi kekacauan karena pergantian ketua mereka"
"siapa yang menjadi ketuanya sekarang? dad Edward?" tanyanya penasaran.
"eits.. mana kunci mobil sport yang kau janjikan? nanti lupa lagi" ujar Gerrell sembari menengadahkan tangan dihadapan wajah Queen. Sebenarnya ia sengaja menggoda kakaknya karena melihat keantusiasan wanita ini.
plak
Queen memukul tangan Gerrell "ck.. kakak tak akan lupa! sekarang jelaskan semuanya"
"awas kalau kau ingkar janji. Kau tahu kak jika aku dan uncle Bastian sangat kesulitan untuk mendapatkan informasi ini. Aku sampai rela melepaskan akun yang selama ini kugunakan gara-gara mereka balik menyelidiki akun yang telah membobol keamanan mereka"
Queen mengangguk "iya-iya.. cepat ceritakan" ucap Queen terus mendesak adiknya. Dia sudah tidak sabar.
"anaknya tidak menginginkan masuk kedunia bawah, jadi sang cucu yang menggantikannya"
Queen kembali terperangah "what?! Darren?!"
Gerrell menutup kedua telinganya menggunakan tangan. Pemuda itu mendengus mendengar pekikan yang melengking tersebut "biasa saja kenapa sih kak. Bisa jebol gendang telingaku ini"
"oh my God.." Queen tidak memperdulikan gerutuan Gerrell. Ia memang masih sangat terkejut mendengar fakta ini. Ternyata calon suaminya terlibat dalam dunia gengster.
Sejujurnya Queen sedikit takut jika Darren tidak menerima latar belakangnya, tapi setelah mengetahui hal ini, Queen sedikit merasa lebih lega. Karena mereka berasal dari latar belakang yang sama.
Tapi jika dipikir-pikir, tatapan Darren menurutnya memang sangat tajam tapi penuh dengan misteri. Walau dia menatap dan menyelaminya tapi ia tak akan mampu untuk mengetahui apa isi pikirannya. Menurut Queen Darren hampir sama dengan dad nya.
Lalu ia juga memiliki aura pemimpin yang sangat kuat. Jadi pantas lah jika kakeknya memilih Darren. Lalu saat ini apa yang sedang terjadi? kenapa tadi Gerrell mengatakan jika sedang terjadi kekacauan akibat pergantian pemimpin. Hal itu wajar saja karena kelompok ini sangat besar dan kuat, sehingga siapa saja pasti ingin menguasainya.
"kak"
"hmm" Queen tersadar dari lamunannya saat tangannya digoyangkan oleh Gerrell. Queen menoleh dan menatap mata Gerrell.
"apa yang kau pikirkan?"
Queen menggeleng "tidak ada. Apakah kekacauan yang terjadi akibat perbedaan pendapat tentang Darren? ada yang tidak menyetujui nya menggantikan kakek Smith?"
Gerrell mengangguk "yang kakak ucapkan benar. Terjadi pro dan kontra karena salah satu orang kepercayaan Black Hold tidak setuju. Bukan tidak setuju karena kemampuan tuan Darren akan tetapi karena dia menginginkan posisi itu. Lalu dia berkomplot dengan kelompok lain untuk memberontak"
"lalu kenapa mereka semua ada disini? bagaimana keadaan diParis?"
Gerrell menggeleng"entahlah.. mungkin mereka mau refreshing sebentar, menghilangkan stress akibat masalah ini"
Queen kembali terdiam. Jika itu yang terjadi, sepertinya memang ada yang sedang mengincar nyawa Darren. Queen tiba-tiba saja terkesiap dan berdiri.
"ada apa kak?"
__ADS_1
Queen tidak memperdulikan ucapan Gerrell, dia memilih untuk pergi mencari seseorang. Dia akan menanyakan hal yang sangat penting.
"kak" panggil Gerrell lagi. Dia yang melihat kepanikan Queen segara berdiri dan menyusul kakak nya itu. "ada apa kak?"
Queen masih diam. Dia memilih untuk berjalan menuju tempat dimana biasanya semua penjaga berkumpul.
Gerrell yang bingung hanya diam dan sedikit heran melihat kakaknya. Dia memilih untuk mengikuti Queen tanpa mau bertanya kembali.
"dimana uncle Jack?!" pekik Queen, dia menoleh ke kanan dan kiri mencari pria paruh baya yang selalu botak itu.
"saya disini nona"
Queen berjalan mendekat lalu menarik tangannya. Queen membawa Jacky keluar dari ruangan itu.
"ada apa sih kak?" Gerrell yang penasaran bertanya kembali. Pemuda itu terus mengikuti kakaknya yang bersikap aneh.
"sssttt" Queen mendesis agar adiknya itu diam.
Gerrell mendengus tapi tetap menuruti ucapan Queen.
"uncle apa tadi uncle melihat beberapa mobil yang mengikutiku?"
"benar nona" jawab Jacky dengan tegas.
"apa dia salah satu musuh dad?"
Jacky menggeleng "sepertinya bukan. Karena saya baru saja melihat ketika nona bersama dengan tuan Darren. Kemungkinan mereka bukan mengintai nona tapi--" ucap Jacky menggantung membuat Queen mengangguk mengerti.
"tapi anda jangan khawatir nona, saya menyuruh salah satu anggota kita untuk menyelidikinya"
Queen menghela nafasnya panjang "bawa pasukan bayangan untuk bersiap. Sepertinya akan terjadi sesuatu"
Queen berjalan menuju mansion, dia akan bersiap untuk melakukan sesuatu. Kalau dugaannya benar, Darren tentu dalam bahaya. Mereka mengincar nyawa Darren.
Ketika berada dinegara lain, tentu penjaga Darren tidak terlalu banyak. Hal ini pasti dimanfaatkan oleh musuh untuk menghabisinya.
"cih.. kenapa harus kesini sekarang sih" gerutunya sedikit kesal.
Kemungkinan Darren melakukan hal itu semata-mata hanya ingin melamar dirinya. Tapi dalam situasi seperti sekarang bukankah dia malah memancing seseorang untuk menghabisi nyawanya sendiri? sungguh konyol.
***
"kamu sudah pulang Queen?"
Queen menoleh kesumber suara, dimana mom nya tengah duduk sembari memegang majalah.
"ya" jawabnya sedikit acuh. Dia berjalan dengan cepat menuju kamar.
Alis Valey menyernyit melihat anaknya yang bersikap seperti itu. Dia yang melihat Gerrell berjalan mengikuti Queen segera mencekal tangannya.
"kenapa mom?"
"kakakmu kenapa?"
Gerrell angkat bahu "entahlah.. berantem mungkin dengan tuan Darren"
Valey mendengus "mana mungkin? Meraka tampak bahagia tadi"
__ADS_1
"mom seperti tidak tahu sifat wanita saja. Mereka selalu berubah-ubah mood nya. Aku saja tidak bisa memahaminya. Wanita sungguh hal misterius yang sulit dimengerti"
"kau tahu kan jika mom juga wanita? mom merasa tersindir Rel?" ucap Valey dengan ketus.
Gerrell terkikik "semua wanita selain mom ku yang cantik dong" ujarnya sembari mengecup pipi mom Valey.
"kau memang bermulut manis Rel"
Gerrell kembali tergelak "tentu saja aku sangat manis, tidak seperti dia" Gerrell menunjuk Gerald yang baru saja masuk kedalam mansion "sangat kaku dan pahit"
Pemuda itu langsung menatap tajam saudara kembarnya itu. Dia berjalan menghampiri kedua orang yang sedang berdiri berhadapan itu "tapi seperti ban-ci kan?" ucapnya menimpali.
Gerrell terkejut mendengar suara ketus Gerald "mom~ dia menghinaku" ujarnya manja mengadu kemom nya.
"Rald.. tolong ya mulutmu dijaga, jangan sampai menyakiti adikmu yang manis ini. Kalian itu saudara jadi jangan saling menghina oke?" ucapnya dengan lembut menegur Gerald.
"cih.. dia juga menghinaku tadi"
"oh benar juga. Kau juga Rel! jangan menghina Gerald. Walaupun kalian lahir hanya selisih lima menit saja tapi dia tetap kakakmu! jadi kau harus menghormatinya"
Gerrell mengerucutkan bibirnya "iya iya.. dia kakakku yang terhormat. kakak yang lebih tua lima menit saja" ujarnya menggerutu. Momnya sungguh sangat menyebalkan, tadi membela by tapi kemudian memarahinya.
Valey tertawa mendengar ucapan Gerrell. Dia sampai mencubit pipinya karena merasa gemas.
Obrolan mereka terhenti saat melihat Queen menuruni tangga dengan tergesa. Gadis itu telah mengganti bajunya dan mengikat kuda rambut panjangnya juga.
Alis Valey menyernyit. Dia paham sekali jika Queen telah berpenampilan seperti itu "Queen"
Queen berjalan mendekati mom nya "aku pergi sebentar mom"
Wajah Valey yang tadinya ceria berubah menjadi khawatir "ada apa?"
Queen menggeleng "nanti aku ceritakan, aku pergi dulu mom"
cup
Satu kecupan mendarat di pipi mom Valey.
Valey menatap sendu langkah Queen. Valey selalu merasa takut melihat anaknya yang berada dalam bahaya.
"mom jangan khawatir, aku akan menemani kakak" ujar Gerald, meski dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi saat melihat tatapan penuh sendu momnya dia tidak suka. Dia lebih suka jika mom nya selalu tersenyum ceria. Dan lagi, dia benar-benar akan melindungi kakaknya.
"iya mom. aku juga akan pergi"
Valey mengangguk "pergilah.. jaga kakak kalian!"
Gerald dan Gerrell mengangguk. Mereka berdua segera menyusul kak Queen.
"kalian berdua!"
Gerald dan Gerrell menoleh kearah momnya.
"kalian harus saling menjaga satu sama lain! ingat.. kembalilah dalam keadaan selamat"
Gerrell tersenyum lebar dan mengangguk. Begitupun Gerald, meski dia tidak tersenyum tapi dia menatap mata momnya dengan pandangan yang lembut sembari mengangguk.
Valey memegang dadanya, dia selalu resah dan khawatir saat anaknya pergi untuk melakukan hal yang berbahaya "lindungi mereka bertiga ya Tuhan" terselip doa kecil mengiringi kepergian ketiga anaknya.
__ADS_1
Valey memilih untuk menemui suaminya yang ada didalam ruang kerja saat ini. Akan ia tanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tentu saja suaminya tahu apa yang akan Queen lakukan, pria itu selalu tahu segalanya kan?