
Kenan berlari di sepanjang koridor Rumah Sakit. Cowok yang memakai kaos hitam di balut jaket levisnya itu sangat khawatir ketika tahu bahwa Yuna masuk Rumah Sakit, awalnya dia menelpon Queen sekitar jam 11 malam tadi, tapi bukannya Queen yang mengangkat, malah seorang Ibu-Ibu yang mengaku sebagai tetangga Queen yang mengangkat. Ibu itu bilang bahwa posisi Queen sekarang sedang berada di Rumah Sakit.
Nafas Kenan memburu saat dia melihat gadisnya tengah menangis sambil memeluk tubuh Ibu-Ibu berhijab di sampingnya. Dia berjalan untuk lebih dekat dengan Queen, cowok itu berjongkok di hadapan Queen.
"Hey,"panggilnya pelan.
Tangisan Queen terhenti, gadis itu mendongak dan matanya terbelalak ketika melihat Kenan sudah berjongkok di sisinya. Queen tahu bahwa Kenan sedang bingung dengan keadaan Queen, tapi cowok itu menahan rasa penasarannya.
"Kenan,"lirih Queen pelan, air matanya kembali lolos jatuh ke kedua pipi gadis itu.
Kenan tanpa banyak bicara memeluk tubuh rapuh gadisnya, dia mengusap kepala gadisnya dengan sayang. Hatinya nyeri ketika mendengar isak tangis Queen yang pelan namun menyayat hati.
Bu Dalimah yang sedari tadi setia berada di samping Queen pun menjatuhkan air mata yang sedari tadi ia tahan, tapi dengan cepat wanita berhijab itu menghapus air matanya. Dia tahu siapa cowok yang sekarang tengah memeluk Queen.
"Mama, Ken. Mama,"gumam Queen sambil mencengkram kaos Kenan.
Kenan menelan ludahnya, dia tidak tahu apa yang mengakibatkan Yuna masuk Rumah Sakit seperti ini. Dia ingin bertanya apa yang terjadi, tapi dia menahannya.
"Permisi! Dengan sodari Queen Lavinda?"
Queen menegakan tubuhnya, dia berdiri dengan kening mengerut saat dua orang berseragam Polisi memanggil namanya. Kenan yang melihat Queen kebingungan pun ikut berdiri, dia sama bingungnya dengan keberadaan Polisi di sini.
"Sa-saya Queen. Ada apa ya, Pak?"
Salah satu Polisi itu menatap Pak RT di daerah Queen lalu menatap Queen.
"Bisa jelaskan kronologi kenapa Ibu kamu bisa di larikan ke RS?"tanya Pak Polisi tersebut.
Queen tertegun, nafasnya memburu saat mengingat kejadian yang membuat Mamanya di larikan ke Rumah Sakit sekarang. Bu Dalimah mengusap bahu Queen, dia juga ingin tahu apa yang terjadi.
"Nak Queen, anda bisa memberitahu saya kan?"tanya Pak Polisi tersebut.
"D-dia...dia. Dia mu-mukul Mama pake vas bunga, kepala hiks kepala Mama berdarah. Tad-tadinya dia mau mukul Queen, tapi Mama malah dorong Queen dan akibatnya Mama yang kena vas bunga itu. Dia nampar Mama sebelumnya, dia mukul bahkan nendang Mama. Di-dia ngelukain telapak tangan Mama pakek rokok yang masih nyala, hiks hiks ta-tangan Mama luka, tangan Mama berdarah,"jawab Queen sambil terduduk di kursi dan menangis.
Semua yang berada di sana terpaku dengan cerita Queen, terutama Kenan yang sangat terkejut. Dia kira keluarga Queen harmonis-harmonis saja.
"Siapa yang kamu maksud dia, Nak?"tanya Polisi itu.
Lidah Queen kelu untuk menyebutkan nama orang kejam itu. Dia menggeleng dan terus menangis.
"Apa orang ini?"tanya Polisi itu sambil menunjukan foto Amar.
Queen mengangguk, ada perasaan marah serta takut di matanya saat melihat foto Amar.
"Apa Ibu serta Aya–"
"Dia bukan Ayah, Queen!"potong Queen keras.
"Nak tenang ya,"ujar Bu Dalimah sambil merangkul bahu Queen. Wanita itu menatap Polisi.
"Dia Ayah tirinya Queen, Pak. Kebetulan saya tetangganya Queen. Saya kurang tahu apa keluarganya Yuna harmonis apa tidak. Tapi, di setiap malam saya selalu mendengar suara pecahan kaca dan suara orang-orang yang bertengkar di dalam rumah Queen, saya juga beberapa kali pernah melihat lebam seperti bekas tamparan atau pukulan di mata serta pipi Yuna. Tapi setiap saya tanya kenapa, Yuna selalu jawab tidak apa-apa,"papar Bu Dalimah dengan mata berkaca-kaca.
Kedua Polisi itu saling tatap, mereka mengangguk-angguk mendengar ucapan Dalimah.
__ADS_1
"Dimana sekarang keberadaan suami korban?"tanya Polisi tersebut.
"Kami kurang tahu dimana dia sekarang, Pak. Setelah kami masuk ke rumah korban, yang kami lihat hanya Queen yang menangis sambil memeluk Yuna yang terbaring lemah di lantai dalam keadaan bersimbah darah. Kamar Yuna juga sangat berantakan,"jawab Pak RT sambil melirik kasihan kepada Queen yang menenggelamkan kepalanya di bahu Bu Dalimah.
"Baik. Kami akan mencari saudara Amar, betul?"
"Betul Pak,"jawab Bu Dalimah pelan.
"Sebisa mungkin kami akan melacak keberadaannya dan membawa dia untuk ke kantor Polisi agar di mintai keterangan dan pertanggung jawaban beliau jika terbukti bersalah. Kalau begitu kami permisi. Dan Queen, Kamu jaga kesehatan dan tetap sabar ya,"kata Polisi tersebut yang hanya di tanggapi anggukan oleh Queen.
Polisi itu pergi. Queen memejamkan matanya, dia sangat berharap Amar akan mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Nak Ken,"panggil Bu Damilah.
Kenan yang semula sedang termenung pun menengokan wajahnya ke arah Bu Dalimah. Dia bisa melihat mata tetangga Queen itu yang berkaca-kaca.
"Iya, Bu?"
"Tolong ajak Queen untuk mau di periksa luka di keningnya, ya? Dia tidak mau jika di ajak oleh Ibu maupun Pak RT."
Kenan mengernyitkan dahinya, cowok itu mencoba menarik Queen tapi gadis itu malah mempererat pelukannya pada tubuh Bu Dalimah.
"Aku gak mau, Ken! Aku mau di sini."
"Liat dulu luka di kening kamu,"pinta Kenan selembut mungkin.
Queen menggeleng, gadis itu menangis dalam diam.
"Queen!"
Kenan menghela nafasnya, dia tahu kondisi Queen sedang tidak baik-baik saja.
Tak lama dari itu, seorang Pria berusia 30-an keluar dari UGD. Dokter itu yang menangani Yuna. Sontak Queen serta yang lainnya berdiri menghampiri Dokter tersebut.
"Bagaimana, Dok? Bagaimana keadaan Yuna?"tanya Pak RT.
Kenan mengerutkan keningnya ketika melihat ekspresi Dokter yang entah kenapa terlihat tidak enak di mata Kenan. Dia spontan memegang bahu Queen.
"Luka di kepala Bu Yuna sangat parah, banyak darah yang keluar dari kepala, hidung dan mulutnya. Dengan be–"
"Mama bisa sembuh kan, Dok?"sela Queen dengan mata berbinar.
Dokter itu menundukan wajahnya, dia merasa prihatin saat melihat raut wajah Queen yang penuh harapan.
"Maaf, Dik. Dengan berat saya harus mengungkapkan bahwa Bu Yuna..."
"Apa Dok? Mama aku kenapa? Mama baik-baik aja kan ya?"tanya Queen sambil tersenyum senang.
"Maaf. Saya sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan Bu Yuna. Tapi Tuhan sepertinya berkehendak lain. Dengan berat hati saya harus bicara bahwa Bu Yuna telah tiada."
Queen terpaku di tempatnya, gadis itu melepaskan tangan Kenan yang berada di bahunya lalu terkekeh pelan.
"Maksud Dokter apa sih? Mama aku itu baik-baik aja. Mama aku kuat, Dokter.Dan tolong jangan ngomong yang nggak-nggak!"serunya kesal.
__ADS_1
"Inalilahi wainalillahi rojiun,"gumam Bu Dalimah, Pak RT dan Kenan secara bersamaan.
Queen mengerutkan keningnya, dia menatap marah Kenan yang sudah menatapnya dengan prihatin.
"Kalian apa-apaan sih!? Mama aku belum meninggal! Dia wanita yang kuat, dia gak meninggal!"serunya lalu berlari ke dalam ruangan UGD.
Dia membulatkan mulut serta matanya saat melihat Mamanya tengah di tutup oleh kain putih, gadis itu mendorong para suster.
"MAMA GAK MENINGGAL! KALIAN GAK BOLEH TUTUP MAMA KAYAK GINI. Dokter!!! Dokter tanganin Mama lagi! MAMA gak boleh meninggal, MAMA harus tetep di sini sama aku!"
"Mbak tenang, Mbak! Mbak harus tabah dan sabar, terima kenyataan kalau Mama Mbak sudah tidak ad–"
"DIEM SUSTER! Mama saya masih hidup, Dia gak meninggal!"teriaknya sambil mengguncang tubuh Yuna yang terbaring kaku dengan wajah pucat.
Gadis itu menangis histeris saat kedua mata Yuna tidak kunjung terbuka, gadis itu memeluk tubuh Yuna dan dia tidak mendengar detak jantung sama sekali.
Kenan dan Bu Dalimah menatap miris Queen yang sedang menangis sambil memeluk tubuh Yuna. Pak RT sedang menghubungi sekertarisnya agar memberi tahu para warga bahwa Bu Yuna sudah meninggal, dia juga mengurus ambulan yang nanti akan mengantarkan Yuna.
"MAMA, MAMA BANGUN! MAMA GAK BOLEH MENINGGAL!MAMA HARUS TETEP DI SINI SAMA QUEEN. KITA BELUM NGABISIN WAKTU BARENG-BARENG! QUEEN BAHKAN BELUM CERITA BANYAK HAL SAMA MAMA! MAMA BANGUN, JANGAN TUTUP MATA KAYAK GINI. MAMA!"
Kenan memeluk tubuh Queen, cowok itu mengusap bahu Queen untuk menenangkan gadisnya. Mata cowok itu berkaca-kaca, bahkan tenggorokannya terasa perih melihat kejadian yang menimpa Queen ini.
"Kenan... Mama Queen belum meninggal, dia cuma lagi tidur aja. Mama gak mungkin ninggalin Queen sendirian di sini,"lirihnya sambil terisak.
...||||...
Suasana haru terjadi saat jenazah Yuna di masukkan ke tempat peristirahatan terakhir. Yang paling menyayat hati adalah, ketika Yuna akan di masukan ke liang lahat, Queen malah menahannya dan menangis histeris. Berkali-kali Kenan, Kania dan Dea berusaha menenangkan Queen.
Tangis Queen semakin keras ketika tanah mulai memisahkannya dengan Yuna, gadis itu terduduk lemas di tanah sambil meremas tumpukan tanah Mamanya.
"Tenang ya Nak, ada Tante di sini. Kamu boleh anggap Tante ini Mama kamu sayang,"gumam Kania di telinga Queen yang hanya menangis.
Kenan serta Bagas mengucapkan terimakasih kepada semua orang yang sudah datang ke pemakaman Yuna dan mendoakan Yuna. Mereka juga membagikan uang kepada orang yang sudah mengurus pemakanan Yuna.
Biaya Rumah Sakit sudah di bayar total oleh tabungan yang di miliki Queen, gadis itu rela tabungannya habis terkuras.
"Kita pulang ya, Queen. Lo butuh istirahat yang cukup dan kening lo perlu di obatin,"ajak Dea lembut.
Queen menggeleng, dia menangis menatap nisan yang menampilkan nama Mamanya. Gadis itu rasanya putus asa.
"Kalian pulang aja duluan, tunggu di rumah Queen aja. Andra, tolong supirin dulu mobil yang di bawa bokap ya,"ujar Kenan pelan.
Mereka semua setuju, mereka membiarkan Queen berlama-lama di pemakaman Mamanya bersama Kenan.
"Queen,"panggil Kenan pelan.
Queen sama sekali tidak menatap bahkan melirik Kenan, gadis itu sibuk menangis sambil menatap nisan Mamanya.
"Kenapa? Kenapa harus kayak gini, Ken? Kenapa Mama harus di ambil lebih dulu sama Tuhan?"tanya Queen lemah.
Kenan menarik Queen agar menyandar di dadanya, cowok itu mengusap kepala Queen yang masih terisak. Dia mengerti perasaan Queen, dia tahu bagaimana hancurnya gadis itu sekarang.
Lama-lama isak tangis Queen tidak terdengar lagi, gadis itu ternyata pingsan di pelukan Kenan. Dengan sigap Kenan pun membopong Queen dan membawanya ke mobil, dia menidurkan Queen di jok belakang dan menjalankan mobilnya untuk sampai ke rumah Queen.
__ADS_1
...||||...
Aku gatau mau bilang apa🙃