
Klek
Queen menoleh kesumber suara saat pintu kamarnya dibuka. Alisnya menyernyit saat melihat Darren lah yang datang "kamu bisa masuk?" tanyanya tidak percaya. Mengingat bagaimana tempramen dad nya Queen yakin sekali jika Darren pasti dilarang masuk kedalam tempat pribadinya.
"Bukan sesuatu yang sulit" ucap Darren santai, karena memang benar Darren tidak kesulitan masuk kedalam kamar ini meski ia harus sembunyi-sembunyi seperti seorang pencuri untuk agar ia bisa masuk kedalam kamar yang ini.
Mata Darren berkeliling meneliti setiap sudut kamar Queen. Kamar dengan desain minimalis ini tidak seperti kamar gadis pada umumnya.
Biasanya kamar seorang gadis akan dihiasi oleh segala pernak pernik feminim dan boneka diatas tempat tidur namun yang ada didalam kamar Queen justru berbeda.
Kamar luas yang didominasi berwarna putih ini hanya berisi rak buku yang cukup besar disisi dinding yang sepertinya berisi file serta buku-buku tebal. Kursi dan meja yang sepertinya digunakan Queen untuk bekerja dengan dua komputer diatasnya, kemudian satu set sofa dan meja lengkap dengan beberapa camilan diatasnya. Kamar ini sangat bersih dan rapi dengan penataan yang sangat pas.
Ada satu pintu yang sepertinya adalah pintu bathroom dan walk in closet, dan satu pintu lagi yang bisa digunakan untuk keluar menuju balkon.
"Kamarmu tidak seperti kamar seorang gadis" komentar Darren setelah dirinya mengeksplor kamar Queen dengan pandangan matanya.
Queen menatap wajah Darren dengan tajam "memangnya kamu sudah pernah melihat kamar gadis lain selain aku?"
Darren yang mendengar ucapan Queen seketika menoleh dan mendapati wajah jengkel Queen "tidak pernah."
Queen berdecak dan menatap tidak percaya Darren. Hal itu membuat Darren melangkah mendekati Queen. Tangannya meraih pinggang ramping Queen lalu mendekatkan wajahnya kearah wajah gadisnya.
Saat Queen melengos Darren menggeram "siapa saja pasti tahu bagaimana bentuk dan desain kamar seorang gadis tanpa harus memasukinya"
Mendengar ucapan Darren itu Queen mendengus.
Melihat gadisnya yang sepertinya sedang kesal, Darren meraih dagu Queen dengan salah satu tangannya "kenapa tiba-tiba marah?"
Queen hanya diam karena malas menyahuti ucapan Darren, saat wajah mereka cukup dekat Queen dapat melihat garis wajah Darren dan menyadari ada yang tidak beres dengan wajah tunangannya ini. Queen menampik tangan yang ada didagu dan mendorong tubuh Darren sehingga pelukannya terlepas.
Darren hanya bingung melihat reaksi Queen, apa dia benar-benar marah sampai-sampai mendorongnya menjauh? Namun detik kemudian Darren melengkungkan senyumnya saat Queen menangkup kedua pipinya kemudian mengusap sudut bibirnya. Sepertinya Queen sudah menyadari jika sudut bibir Darren terluka.
__ADS_1
"Siapa?"
Alis Darren ia kerutkan, sebenarnya Darren paham arah pembicaraan Queen namun ia sengaja bersikap seolah-olah tak paham.
"ck.. siapa yang memukulmu?" tanyanya memperjelas. Queen meringis saat mengusap luka tersebut.
"Tanpa aku bilang kamu pasti tahu siapa pelakunya" jawab Darren dengan disertai dengan senyum penuh arti.
Queen menghela nafas panjang, lalu menuntun Darren berjalan kearah ranjang.
"Kenapa membawaku ke tempat tidur? Kamu mau mengajakku tidur bersama ya?" goda Darren.
"Diamlah!" ketus Queen berucap membuat Darren terkekeh pelan.
Darren duduk diatas ranjang berukuran king ini dengan patuh. Dia melihat Queen berjalan kearah kulkas kecil yang memang berada didalam kamar. Kulkas kecil itu berisi minuman dingin dan juga es batu. Serta beberapa alat kecantikan Queen yang memang harus berada didalam tempat yang dingin.
Queen mengambil es batu lalu handuk kecil serta kotak obat yang tersedia didalam kamarnya. Setelah semua yang ia perlukan ada ditangan Queen kembali mendekati Darren. Berdiri didepan Darren dan memperhatikan sudut bibir Darren yang sepertinya dipukul dengan keras. Masih ada darah sedikit disana.
Queen mendongak sehingga matanya bersitatap dengan Darren, dia yang saat ini tengah berdiri dihadapan Darren namun sedikit menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan wajah Darren itu mendengus "kenapa tidak menghindar?" ucap Queen sembari menempelkan kompresan dengan pelan pada wajah Darren.
"Aku pantas mendapatkan nya"
"maksudmu?" tanya Queen yang merasa kurang mengerti. Namun bukannya dijawab Darren justru tersenyum, hal itu membuat Queen tercenung. Darren akan berkali-kali lipat lebih tampan saat tersenyum seperti ini. Dia selalu terpesona melihat senyum memikat milik pria yang biasanya hanya menunjukan mimik wajah datar saja.
Huff
Queen berkedip beberapa kali saat Darren meniup wajahnya "apa yang kamu kompres Queen?"
Queen terkesiap, dia malah kehilangan fokus dan mengkompres telinga Darren "ah.. maaf" ucapnya pelan karena merasa malu. Dia kembali mengusap sudut bibir Darren pelan.
Darren hampir saja tergelak, tapi karena dia memiliki kendali diri yang kuat sehingga Darren hanya memunculkan senyum yang semakin lebar. Apalagi melihat wajah Queen yang memerah membuatnya terlihat begitu menggemaskan. Kalau saja Darren tidak teringat akan calon mertuanya yang kemungkinan sebentar lagi menemukan keberadaan dirinya dikamar anaknya pasti sekarang Darren akan menarik Queen dan menindihnya diatas kasur.
__ADS_1
Mendapati otaknya yang semakin melantur, Darren memukul dirinya dalam batin agar kembali tersadar dan bisa berfikir lurus lagi.
"Kamu cantik" ucap Darren memuji. Bukan hanya modus namun Darren berbicara yang sebenarnya. Queen terlihat cantik dan begitu segar, sepertinya gadis ini baru saja mandi karena aroma sabun dan sampo yang harum masih menguar dan menggelitik rongga hidung Darren.
"Tolong berhentilah memuji aku, aku rasanya sudah mau melambung keatas atap"
Darren tergelak mendengar ucapan aneh Queen, dia kemudian menarik tangan yang sedang mengompres wajahnya sampai sang empunya jatuh terduduk diatas pangkuan.
Queen yang kaget akibat sentakan tiba-tiba itu mendongak "berhentilah berulah, aku sedang mengobati lukamu" keluh Queen. Pria tampan ini sangat menyebalkan, dan anehnya jantungnya selalu berdetak sangat kencang saat dia berinteraksi dan lebih dekat dengan tubuh besar Darren. Apalagi aroma maskulin Darren begitu memabukkan.
"Kalau seperti ini akan memudahkanmu mengobati aku" Darren kemudian melingkarkan tangannya ditubuh Queen.
Queen hanya bisa pasrah, dia membiarkan Darren berbuat semaunya. Setelah selesai mengompres, Queen mengambil salep dan kemudian mengoleskan pada sudut bibir Darren.
Rasa nyeri yang Darren rasakan terasa nyaman saat salep dingin itu menyentuh kulitnya. Dan sepertinya salep tersebut cukup efektif karena Darren merasa perih yang tadi ia rasakan sudah jauh berkurang "terima kasih"
Queen mengangguk, dia menepuk tangan Darren agar tubuhnya dilepaskan. Queen hendak membereskan bekas kompresan dan kotak obat.
Darren menggeleng, dia malah menarik Queen semakin dekat. Darren bahkan membenamkan wajahnya diceruk leher Queen "sebentar saja, biarkan aku memelukmu"
Queen yang tadi berusaha lepas dengan menggeliatkan tubuhnya akhirnya diam, dia membiarkan Darren memeluknya. Queen mengelus punggung Darren dengan lembut dan itu berhasil mengalirkan rasa nyaman untuk pria yang masih manja memeluknya.
Entah apa yang sudah Darren bicarakan sampai-sampai dad Arsen memukul Darren, dia akan mencari tahu nya nanti.
Brak
Queen terkejut mendengar pintu kamarnya didobrak dari luar dengan kencang.
Berbeda dengan Queen, Darren hanya menghela nafas lelah karena secepat ini pria itu sadar.
"Lepaskan puteriku sekarang!!" pekik seseorang dari ambang pintu. Pria paruh baya yang tak lain tak bukan adalah dad dari Queen itu menatap tajam kearah sepasang kekasih yang sedang berpelukan diatas ranjang.
__ADS_1