QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
38. Minta putus


__ADS_3

Queen merintih pelan sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mata gadis itu terpejam dan keningnya mengernyit dengan buliran keringat dingin yang membasahi kening serta pelipisnya.


"Ma, Papa mau pergi kemana Ma? Kenapa Papa gak ajak kita?"


Yura hanya bisa menangis melihat David yang sibuk memasukan semua bajunya ke dalam koper. Queen kecil menatap Mamanya yang menangis lalu berlari ke arah David.


"Pa, Mama nangis Pa! Papa tenangin Mama, itu Mama nangis. Papa denger gak sih? Papa kenapa masukin semua baju Papa ke koper? Papa mau pergi lagi? Katanya Papa gak akan pergi ninggalin Queen dan Ma–"


"Queen kamu bisa diam tidak!?"bentak David sambil menatap marah pada anaknya yang tersentak kaget.


"Mas kamu jangan bentak Queen!"seru Yura sambil memeluk Queen yang menangis.


David membuang nafasnya kasar, pria itu lanjut menutup kopernya lalu meninggalkan Queen dan Yura yang sibuk menangis.


"Ma, Papa mau kemana, Ma? Papa kenapa bentak Queen, Ma? Papa kenapa Ma?"tanya Queen kecil sambil menangis di pelukan Mamanya.


Yura menggeleng, wanita itu tidak bisa menjelaskan secara rinci kepada anaknya bahwa rumah tangganya dan David sudah di ujung tanduk. Dengan setengah membungkuk, Yura memegang kedua bahu Queen kecil.


"Papa mau pergi lama Queen, Papa gak akan tinggal di rumah ini sama kita lagi. Papa mau cari uang yang banyak supaya bisa bahagia–QUEEN!"


Queen berlari menyusul Papanya yang ingin menaiki mobil pria itu, Queen kecil memegang ujung jas yang di kenakan David agar pria itu menghentikan langkahnya.


"Papa hiks ja-jangan pergi lama Pa, Queen pengen ngabisin waktu sama Papa. Papa gak hiks usah cari uang yang banyak, uang Papa kan udah banyak. Papa kenapa? Papa marah sama Queen?"


David mengusap wajahnya, pria itu berjongkok guna untuk menyamai tinggi badannya dengan Queen. Jari-jarinya mengusap air mata di kedua pipi Queen dengan lembut.


"Papa harus pergi, Nak. Papa gak bisa di sini lagi bareng kamu dan Mama kamu, Papa harus pergi ke tempat dimana Papa bisa lupain semua tentang hari kemarin."


Kening Queen kecil bergelombang, hari kemarin adalah hari kematian Adiknya yang masih berada di dalam kandungan. Jika mengingat hari kemarin, rasanya hati Queen sakit karena mengingat bahwa Adiknya meninggal karena dirinya.


"Papa marah sama Queen karena Queen udah ilangin Adik bayi yang ada di perut Mama?"tanya Queen sambil menangis.


David terdiam, mata pria itu berkaca-kaca melihat anaknya menangis. Jika boleh jujur, David memang kecewa karena anak berjenis kelamin laki-laki yang berada di kandungan Yura harus di panggil terlebih dahulu oleh Tuhan, bahkan anak itu belum melihat dan terlahir ke dunia ini.


"Papa harus pergi,"pamitnya lalu masuk ke dalam mobil.


Pria itu menyuruh supirnya untuk menjalankan mobil, air matanya luruh membasahi pipi kala melihat Queen kecil yang berlari berusaha untuk mengejar mobil David.


"PAPA!!!"


"Papa jangan tinggalin Queen, Pa."


Nafas Queen memburu, air matanya mengalir di kedua matanya yang masih terpejam rapat.


"Papa maafin Queen, jangan tinggalin Queen!"


"Queen minta maaf Pa, Queen salah udah ilangin bayinya!"


Kepala gadis itu menggeleng-geleng dan tangannya mencengkram kuat sprey merah di genggamannya.


"PAPA!!!"


Queen segera bangkit dari posisi berbaringnya, dadanya naik turun ketika mengingat bagaimana kejadian di masa lalunya terasa menghantui gadis itu lagi. Tanpa terasa wajahnya sudah di banjiri oleh keringat dan air mata.


"Papa kenapa tinggalin Queen? Hiks hiks."

__ADS_1


Rasa rindu dan kecewa kembali hinggap di hatinya yang rapuh, gadis itu menenggelamkan kepalanya di antara lututnya kala mengingat tangisan Yura yang menangisi kepergian David.


"Queen? Queen lo kenapa?"


Queen masih menangis, dia menghiraukan pertanyaan Rere yang baru saja memasuki kamar. Gadis itu bisa merasakan bahwa Rere memeluknya sambil mengusap punggungnya dengan pelan.


"Ada yang sakit, huh? Apa? Apa yang sakit Queen?"


Kepala Queen menggeleng, tangisannya masih pecah. Rasa sakit itu terasa sangat menyiksanya, bahkan tubuhnya terasa berdenyut nyeri.


"Se-semua hiks salah aku, Teh. Ak-aku yang bikin Papa pergi ninggalin Mama hiks, aku yang bikin Mama dan Papa sedih karena udah ngilangin Adik yang ada di kandungan Mama hiks aku Teh penyebabnya aku hiks!"


Kening Rere mengernyit, dia mencoba merangkai dan mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Queen. Matanya menatap Kenan yang mematung di ambang pintu, cowok tampan itu sibuk menatap Queen yang masih menangis sambil menenggelamkan kepalanya di antara lututnya.


"Queen tenangin diri dulu oke. Minum dulu ayo,"ucap Rere sambil mengambil gelas berisi air putih di nakas.


Tangis Queen sedikit mereda, gadis itu mendongakan wajahnya dan terdiam kala melihat sosok yang kemarin membuat hatinya mencelos tengah berdiri di ambang pintu kamar dengan mata yang terkunci kepadanya.


"Ke-Kenan..."


Kenan berjalan ke arah Queen, cowok itu ikut duduk di samping Rere dengan mata yang tak lepas dari wajah gadisnya.


"Minum dulu Queen,"ujar Rere yang menyadarkan Queen dari lamunannya.


Dengan gugup dan bingung Queen pun meminum air putih yang di sodorkan Rere, setelahnya gadis itu memalingkan wajah ke samping agar menghindari tatapan Kenan.


Rere berdehem pelan, gadis itu berdiri dari duduknya. Sepertinya dua remaja itu butuh waktu berdua, mereka harus menyelesaikan masalahnya.


"Gue keluar dulu. Selesain masalah kalian dengan kepala dingin,"pesan Rere lalu keluar dari kamar.


Hening, baik Kenan maupun Queen tidak ada yang berbicara. Kedua orang itu sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Kenan terdiam, menatap wajah Queen dari samping. Sebesar apa rasa kecewa Queen kepadanya? Dan harus dengan cara apa agar Queen bisa memaafkannya?


"Queen aku mohon sama kamu, kita selesain masalahnya dengan kepala di–"


"Aku mau kita putus Ken,"potong Queen lirih.


Deg!


Kenan terpaku, matanya sedikit terbelalak ketika mendengar permintaan Queen. Cowok itu berdehem pelan, berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri agar tidak kelepasan.


"Queen jangan kayak gini, aku mohon. Aku, aku minta maaf sama kelakuan aku yang udah keluar batas kemarin-kemarin. Ak-aku sumpah gak pernah ada maksud buat ngerusak kamu Queen, itu pengaruh alkohol. Queen, kamu boleh tampar aku sepuas kamu, kamu bahkan boleh pukul aku sampai kamu puas tapi please, jangan putusin aku. Queen, jangan putusin hubungan ini Queen,"ucap Kenan parau, mata cowok itu berkaca-kaca.


Queen menundukan kepalanya, dia kembali menangis kala mendengar suara Kenan yang memohon. Selama Queen pacaran, belum pernah dia mendengar nada pasrah dan memohon yang keluar dari bibir Kenan.


"Ken,"gumam Queen sambil menangis pelan.


Kenan mengusap wajahnya kasar, dia tanpa aba-aba memeluk tubuh Queen dengan erat. Keduanya menangis dalam diam, Kenan menenggelamkan kepalanya di leher gadis itu.


"Gak mau Queen, gak mau putus,"lirih cowok itu sambil mengeratkan pelukannya.


Queen terdiam, dia tidak membalas pelukan Kenan. Gadis itu sibuk memikirkan perasaannya. Dia tidak mau kehilangan cowok ini tapi rasa kecewanya terasa sudah berada di level teratas.


"Ken jangan kayak gini,"pinta Queen saat merasakan lehernya basah karena air mata Kenan.

__ADS_1


"Aku gak mau putus Queen, gak mau."


Queen menggigit bibir bawahnya, dengan ragu gadis itu membalas pelukan Kenan.


"Aku liat kamu sama Givani kemarin, kalian naik motor berdua. Aku tadinya mau nyusulin kamu yang masih diem di atas motor padahal hujan, tapi pas aku hampir sampai dan manggil kamu... tiba-tiba Givani datang dan kalian pergi gitu aja,"kata Queen yang membuat Kenan terdiam.


"Ka-kamu?"


"Aku ngira kalian punya hubungan Ken, aku kira kamu main api d belakang aku sama Givani. Aku sakit hati Ken hiks."


Kenan melepaskan pelukannya, cowok itu mengusap air matanya dengan kasar lalu membingkai wajah Queen.


"Shit! Kamu salah paham, Queen. Emang aku akuin selama satu minggu kemarin aku deket sama Givani, tapi gak lebih karena aku nganggap dia Adik aku sendiri. Aku curhat sama dia tentang kamu, aku selalu minta saran dia supaya kamu bisa maafin aku. Aku gak ada apa-apa sama dia, percaya kan?"


Bibir Queen mengerucut, matanya memicing menatap Kenan.


"Aku percaya sama kamu, tapi gak percaya sama Givani."


Givani menyukai kekasihnya, dan itu sudah sangat jelas terlihat dari pandangan Givani kepada Kenan.


"Givani emang ngakuin suka sama aku, cuma aku nolak dia. Aku bilang supaya dia gak suka aku dan lupain perasaannya sama aku aja. Lagian aku kan udah punya kamu, kenapa harus sama yang lain lagi?"


Pipi Queen memerah, gadis itu membaringkan tubuhnya sambil menghalangi wajahnya dengan bantal. Kenan terkekeh pelan, menatap bantal yang menghalangi wajah gadisnya.


"Jadi udah baikan nih kita?"tanya Kenan.


Queen melepaskan bantalnya, gadis itu menatap Kenan dengan pandangan lugunya.


"Baikan aja, aku udah capek pura-pura gak perduli sama kamu. Aku juga kan pengen bareng-bareng lagi sama kamu,"jawabnya yang membuat Kenan tersenyum senang.


"Jangan marah-marah lagi sayang."


Queen mengangguk, senyumnya mengembang dengan sempurna. Kenan terkekeh geli, lalu ikut berbaring di samping Queen yang sudah menatapnya waspada.


"Ih kok tiduran?"tanya Queen.


Kenan meringis, pasti Queen takut kepadanya karena kejadian di Apartmen waktu itu.


"Bobo bareng sini, aku ngantuk banget sumpah."


Mata Queen memicing, tapi Kenan malah terkekeh geli.


"Nan-nanti kamu macem–"


"Gak bakal sayang, paling cuma satu macem kok!"


"Hah?"


Kenan menarik Queen agar lebih dekat dengannya, cowok itu memeluk tubuh Queen posesif dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Queen.


"Cuma ini doang satu macemnya, peluk kamu."


"Kenan nanti ada Teh Rere gimana?"


Kenan berdehem tidak jelas, lalu tak lama Queen bisa merasakan bahwa nafas cowok itu sudah teratur. Queen menghela nafasnya, dia mengelus rambut Kenan dengan lembut dan tak lama matanya pun ikut terpejam.

__ADS_1


...||||...


Akhirnya damai juga🙃


__ADS_2