
Liam memicingkan matanya dari bawah tangga ketika melihat di koridor menuju kantin ada gadis yang sangat ingin Liam miliki. Cowok itu mengulum senyumnya saat tahu bahwa Queen sendirian, gadis itu nampak kesusahan saat membawa buku-buku paket yang menumpuk di tangannya.
Cowok itu berjalan ke arah Queen, dia tersenyum semakin lebar ketika Queen menatap ke arahnya.
"Hai Queen! Sendirian aja,"sapa Liam ramah.
Queen tersenyum tipis untuk menyapa balik Liam. Suasana hatinya sedang tidak bagus, dari semalam tidak ada satu pun notif dari Kenan. Biasanya cowok itu akan terus menelpon dan memberi pesan pada Queen hanya untuk menerror Queen agar memaafkannya dan mendengarkan penjelasan cowok itu.
"Gue bantu ya Queen,"ucap Liam lalu tanpa persetujuan Queen cowok itu sudah mengambil semua tumpukan buku di tangan Queen hingga membuat gadis itu kelabakan.
"Eh gak usah Kak, ngerepotin."
Queen berusaha kembali mengambil buku paket tersebut tapi Liam malah berjalan meninggalkan Queen dan mulai menaiki tangga.
"Kapan sih gue ngerasa di repotin sama lo, Queen? Malah gue seneng bantu-bantu lo kayak gini,"ujar Liam santai.
Queen hanya diam, entah kenapa merasa tidak nyaman berduaan seperti ini dengan Liam. Koridor lorong kelas 11 sangat sepi karena KBM sedang di mulai, hanya ada Queen dan Liam yang ada di koridor ini.
"Ke kelas lo kan Queen?"tanya Liam sekedar basa-basi.
Mata Queen terpaku pada seseorang yang tidak ada kabarnya dari semalam. Kenan, cowok itu sedang berdiri menyandar pada tembok ujung koridor yang menghubungkan ke perpustakaan. Kenan menatapnya dengan pandangan tidak bisa artikan, kedua tangan cowok itu di masukan ke dalam saku celananya.
"Queen kenapa gak di jaw–"
"Kak lo duluan ke kelas gue bisa gak? Mendadak gue kebelet,"potong Queen yang membuat Liam menghela nafasnya sambil berlalu dari hadapan Queen.
Setelah Liam tidak terlihat lagi, Queen memutuskan untuk menghampiri Kenan. Kenan masih berada di posisinya dan ketika Queen sudah berada di hadapannya cowok itu masih diam.
"Ken-Kenan..."
"Ngapain nyamperin? Gak temenin Kakak kelas lo itu?"tanya Kenan dengan nada penuh sindiran.
Queen diam, matanya tak lepas dari wajah Kenan yang masih dingin. Dia tahu Kenan marah kepadanya karena berjalan beriringan dengan Liam, apalagi Liam sudah di anggap musuh oleh Kenan pada saat Liam ngotot ingin memiliki Queen.
"Ke-Ken tadi itu... tadi itu Kak Liam nawarin bantuan buat bawa buku-buku paket,"jawab Queen hati-hati.
Kenan memalingkan wajahnya sambil mendengus kesal. Kenan harus bisa menahan emosinya jika tidak ingin kejadian di Apartmen yang mengakibatkan hubungannya dengan Queen terancam lagi karena dasar alasannya adalah Liam.
"Masuk kelas Queen,"suruh Kenan lalu berlalu pergi dari hadapan Queen yang menatap kepergiannya dengan sayu.
...||||...
__ADS_1
Rere berdiri di dalam kubikelnya, gadis itu menyambar map berwarna biru sebelum kakinya melangkah menuju ruangan Papanya yang berada di lantai paling atas.
Dia memasuki lift yang kosong dan memencet angka 30. Selama di lift pikirannya mulai kemana-mana. Rere memikirkan sikap Queen yang sangat aneh akhir-akhir ini, Adiknya itu jarang sekali sarapan bersama dan kesannya selalu menghindar dari keluarga.
"Adek gue kenapa ya?"gumamnya sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding lift yang di lapisi kaca.
Queen selalu menghindar jika David ingin bicara, setiap Rere atau David membicarakan tentang Tiara gadis itu akan memilih masuk ke kamarnya. Dan saat ketika Tiara ikut sarapan, Queen yang awalnya sudah duduk di kursi dan siap untuk makan dengan tiba-tiba saja memilih tidak jadi sarapan dan pergi ke sekolah.
Apa... Queen tidak menyukai Tiara? Atau gadis itu tidak ingin memiliki Mama baru?
"**** Re,"gumamnya lagi sambil memukul kepalanya pelan ketika baru sadar alasan perubahan sikap Queen.
Pintu lift berdenting pertanda bahwa lift ini sudah tiba di lantai tujuan Rere. Gadis itu keluar dari lift dan menyusuri koridor mewah dimana ruang CEO berada. Bibirnya sesekali tersenyum ketika ada orang-orang penting yang menyapanya.
"Mbak, Papa lagi sibuk?"tanya Rere pada Tiara yang sedang fokus pada komputernya.
Tiara mendongak, dia melempar senyum ketika melihat Rere. Wanita yang memakai kacamata agar matanya tidak minus sebab terlalu lama menatap layar komputer itu membenarkan letak kacamatanya yang melorot.
"Ada kok, beliau hanya sedang sibuk membaca berkas-bekas."
"Ya udah kalau gitu. Aku nyamperin Papa dulu ya Mbak,"pamit Rere yang di angguki oleh Tiara.
"Permisi Pa, Rere ganggu gak?"
Kepala David sontak mendongak ketika mendengar suara sedikit serak khas Rere anaknya. Pria itu tersenyum sambil menggeleng, hal itu membuat Rere balas tersenyum dan masuk ke ruangan David.
"Ada apa Re? Tumben datang ke ruangan Papa pada saat jam kerja seperti ini,"tanya David sambil melepas kacamatanya.
Rere tersenyum tipis, tanpa di persilahkan gadis itu duduk di kursi yang berhadapan dengan David, hanya saja meja besar David menghalangi.
"Ini sudah mau jamnya istirahat Papa, dua menit lagi malah istirahat. Ekhem, kedatangan aku kesini... aku mau berbicara tentang Queen, Pa."
David mengernyit, pria berbadan tegap itu membenarkan letak duduknya agar lebih santai dan matanya tidak lepas dari wajah Rere.
"Ada apa dengan Queen?"tanya David santai namun tersirat nada khawatir di dalamnya.
Rere menarik nafas lalu menghembuskannya dengan pelan. Dia memang harus membicarakan hal ini pada David agar Queen tidak bersikap seperti itu lagi. Rere rindu Queen yang pecicilan dan banyak omong.
"Papa sadar gak sih sama perbedaan sikap Queen belakangan ini?"tanya Rere memastikan.
David memicingkan mata, dia mencoba berpikir tentang sikap anaknya akhir-akhir ini. David tanpa sadar menghela nafasnya ketika ingat bahwa Queen seperti enggan untuk mengobrol dengannya.
__ADS_1
"Dia... aneh,"jawab David pelan.
Rere mengangguk setuju. Ternyata David sudah menyadari hal itu dan itu membuat Rere mudah untuk meminta David agar membujuk Queen.
"Queen jarang mau ngobrol sama kita lagi, dia selalu ngedekem di kamar Pa. Queen juga jarang banget buat sarapan, terus kalau mau main gak pernah bilang dulu kayak sebelum-sebelumnya ke Rere atau pun Papa. Apa Papa bisa nebak penyebab sikap Queen akhir-akhir ini karena apa?"
David lagi-lagi menghela nafasnya, dia tahu apa penyebab anaknya menjadi seperti ini. Sebenarnya David mengetahui kedatangan Queen ke kantornya waktu itu. Bukan! Bukan Abi yang memberitahunya, tapi CCTV di depan ruangan David yang memberitahunya, kebetulan bagian CCTV di depan ruangannya di kelola oleh David sendiri.
"Dia marah dan kecewa pada Papa karena... karena Papa menyatakan perasaan Papa pada Tiara,"jawab David lemah.
Rere menjentikan jarinya, tebakannya ternyata benar. Tapi gadis itu sedikit terkejut mendengar jawaban David soal menyatakan perasaan pada Tiara.
"Jadi Papa udah nyatain perasaan sama Mbak Tiara?"tanya Rere antusias.
David tersenyum lalu mengangguk, dia bersyukur karena reaksi senang yang di perlihatkan oleh Rere.
"Terus, terus gimana Mbak Tiaranya?"
"Nerima kok, bahkan dia siap menikah dengan Papa jika anak-anak Papa yang cantik-cantik ini merestui hubungan kami."
"Rere restuin Pa!"ucap Rere senang.
Rere tahu pastinya Queen akan ikut marah kepadanya jika tahu bahwa Rere memberi restu kepada David dan Tiara. Tapi apalah daya, Rere hanya ingin David bahagia.
"Makasih sayang,"ujar David sambil tersenyum tipis.
Rere mengangguk. Dia bisa melihat raut wajah bahagia di pancaran mata David ketika pria itu menyebutkan nama 'Tiara'.
"Back to topic Pa sekarang,"kata Rere berubah menjadi serius.
"So, bagaimana cara Papa jika ingin Queen memberikan restu pada Papa? Papa juga tidak mau jika Queen terus berkepanjangan marahnya terhadap Papa."
"Papa coba ngomong dari hati-kehati sama Queen, dan kalau bisa ngomongnya di depan pemakaman almarhumah Mama Queen. Papa coba kasih pengertian ke Queen, itu sih saran dari Rere."
David tersenyum bangga. Tidak salah dia mengangkat Rere menjadi anaknya. Rere adalah gadis yang selalu berpikiran dengan bijak, dewasa dan tidak ribet. Gadis ini juga sangat care, dan yang membuat David bangga adalah karena Rere yang mandiri.
"Terimakasih atas sarannya sayang. Papa akan menjalankan saran dari kamu mungkin mulai besok, Papa akan mengajak Queen berkunjung ke makam Mamanya. Lagi pula Papa kan ingin memberikan surprise pada Queen karena dua minggu lagi dia ulang tahun."
...||||...
Rere pinter banget yaa, kira-kira Queen kasih restu gak tuh?
__ADS_1