
Di pagi hari yang cerah ini, suasana di rumah mewah Kenan terlihat sangat ceria dan ramai. Kania sibuk menyisir rambut Keano yang terlihat sedikit basah karena habis di keramas. Anak itu akan pergi ke sekolah, tapi sedari tadi Keano sibuk berlari tak tentu arah bersama Verrel. Sedangkan Bagas, Tegar dan Andra hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Kenan? Cowok itu masih terlelap di kamarnya bersama Queen. Kenan sangat keras kepala menolak ketika Bagas menyuruhnya tidur di kamar tamu saja, cowok itu ingin menjaga Queen. Untungnya dia menurut saat Bagas menyuruhnya tidur di sofa kamarnya saja.
"Keano diem dulu sayang!"titah Kania sambil menahan bahu Keano yang berniat kabur lagi.
"Nggak Ma! Kak Velel pengen di kejar katanya,"ujar Keano sambil mencoba lepas.
Kania menghela nafasnya, dia melotot kepada Verrel yang berdiri tidak jauh dari hadapannya dengan tampang cowok itu yang seolah memancing Keano agar berlari mengejarnya.
"Kak Velel diem dulu bisa ya? Mau Tante gak kasih makan nanti siang?"tanya Kania lembut namun tersirat akan ancaman di dalamnya.
Verrel tersenyum lebar sambil menggaruk pipinya yang tak gatal. Cowok itu berjalan ke arah Bagas dan kedua temannya lalu ikut duduk di sofa bersama mereka.
"Udah ngejailinnya, Kak Velel?"tanya Tegar dengan nada mengejek ketika menyebut nama sebutan Keano untuk Verrel.
"Velel, Velel! Jangan sok cadel lo,"desis Verrel sambil melotot.
"Lah? Kok kesel sih Beb? Kean aja yang gak cadel lo gak keselin waktu tu anak nyebut nama lo dengan sebutan 'Velel'."
Verrel mendengus, dia tersenyum sopan ketika melihat Bagas menatapnya.
"Maaf ya Om. Teman-teman saya memang lumayan unik dan langka sekali Om,"kata Andra sambil membenarkan letak kacamatanya.
Spontan Verrel dan Tegar menoyor kepala Andra dengan pelan. Jika mereka unik dan langka, itu bagus dong ya?
"Eh tapi gak papa deh! Kita kan unik dan langka, jadi jarang ada dan susah di temuin di muka bumi ini. Itu artinya, kita itu adalah makhluk teman yang sangat unik serta langka,"cerocos Verrel dengan senyum lebar khasnya.
Bagas tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. Pria itu sedikit terhibur dengan adanya teman-teman Kenan di rumah ini.
"Unik dan langka, namun hampir punah!"ujar Bagas tanpa dosa.
"Enak aja! Tegar gak akan punah Om, yang punah si Velel ini aja nih. Nanti kan Tegar bakalan nemuin cinta sejati, jadinya gak akan punah. Kalau si Velel bakal punah Om, dia banyak nyakitin cewek,"sahut Tegar sambil menunjuk Verrel yang sudah kesal.
"Gak ada! Verrel yang tampan dan mempesona ini tidak akan musnah. Lagian bukan salah Verrel kok yang bikin sakit hati cewek, mereka aja yang salah. Ngapain coba mau-maunya sama Verrel padahal mereka tau kalau Verrel ini tukang nyakitin cewek yang berkelas?" ujar Verrel sombong.
"Kalian banyak omong banget ya! Udah biar adil nih ya. Kalian yang punah dua-duanya,"timbrung Andra sambil memijat pelipisnya.
"Kalian aneh-aneh ya. Semoga saja anak Om tidak tertular keanehan kalian,"canda Bagas yang berhasil membuat ketiga cowok itu tertawa.
"Mas, ayo berangkat sekarang!"
Bagas mengangguk, dia berdiri di ikuti oleh ketiga teman anaknya yang sudah dia anggap anak sendiri. Pria itu tersenyum ketika tiga cowok tampan itu menyalami tangannya juga tangan Kania.
"Hati-hati di jalan ya! Jangan lupakan aku!"seru Verrel sambil memasang tampang imut.
Kania tertawa, wanita itu menatap Verrel dengan gemas. Dia jadi membayangkan jika Kenan seperti Verrel, pasti akan konyol sekali.
__ADS_1
"Ih! Kak Velel jelek,"ucap Keano polos.
Semuanya tertawa keras, bahkan Tegar sampai menertawakan Verrel tepat di dekat telinga kanan cowok itu.
"Aduh makasih loh pujiannya, sangat terharu Kakak!"ucap Verrel dengan semangat yang di buat-buat.
...||||...
Kenan keluar dari lift yang membawanya ke lantai satu rumahnya itu, dia mengacak rambutnya yang basah karena habis keramas sambil berjalan menyusuri setiap ruangan di rumahnya ini.
Queen sudah bangun, gadis itu tidak menangis histeris seperti kemarin. Dia mulai menerima kenyataan bahwa Yuna telah tiada. Meskipun Queen suka sekali melamun sejak gadis itu baru bangun tidur, tapi dia berusaha terlihat ceria di hadapan Kenan.
Langkah kaki Kenan terhenti ketika melihat keadaan dapur rumahnya yang berantakan, cowok itu mendesis saat melihat Verrel tengah membuat adonan dengan duduk lesehan, di samping Verrel ada Tegar yang sibuk memotong wortel serta kol dan bahan-bahan lainnya yang Kenan tidak tahu dengan asal-asalan. Mata Kenan berhenti tepat di Andra yang hanya diam sambil menyesap rokoknya. Andra bisa terbilang perokok aktif.
"Baru bangun lo?"tanya Andra dengan alis yang naik sebelah.
Kenan mengangguk, dia berjalan lebih dalam ke dapurnya yang berantakan ini. Dia menendang kaki Verrel yang selonjoran di lantai sehingga membuat cowok itu mengumpat.
"Bi Alpa atau Bi Janah kemana? Kok mereka ngebiarin dua bocah itu berantakin dapur?"tanya Kenan sambil menyiapkan dua piring serta dua gelas ke atas meja samping kulkas. Kenan lalu berjalan ke meja makan yang terhubung dengan dapur dan tak lama kembali dengan sebungkus roti juga selai di tangannya.
"Bibi-Bibi itu ada di taman. Mereka lagi ngebantuin tukang kebun buat ngeberesin taman,"jawab Andra sambil memperhatikan apa yang sedang Kenan lakukan.
"Gue gak mau tau ya Rel, Gar! Kalian harus beresin lagi dapur gue tanpa bantuan Bi Alpa atau pun Bi Janah,"ujar Kenan tanpa menatap kedua temannya. Cowok itu sibuk meletakan roti di kedua atas piring dan memberikannya selai lalu menimpanya lagi dengan roti dan roti itu kembali di oleskan selai lalu di tumpuk lagi oleh roti dan selesai.
"Siap, lah!"seru Tegar sambil melirik sekilas punggung tegap Kenan.
Andra berdecak, dia berjalan ke arah kompor gas yang berada di dapur lalu menyalakannya. Setelar mengatur suhu api, cowok itu pun memposisikan tubuhnya agar bisa menatap Kenan yang sekarang sibuk menyeduhkan susu vanilla ke dua gelas tersebut, cowok itu juga mencelupkan marsmellow pada salah satu gelas yang nanti akan di minumnya.
Tanpa di tanya pun Andra sudah tahu untuk siapa Kenan repot-repot menyiapkan ini semua. Tanpa sadar cowok itu tersenyum tipis, baguslah! Kenan berarti benar-benar mencintai Queen.
"Emang Queen mau makan, Ken?"tanya Andra pelan.
"Mau kok. Lagian dia harus minum obat."
"Eh, gimana kondisi Queen sekarang?"timbrung Tegar yang sedang mencuci kedua tangannya di wastafel. Ternyata tugas memotongnya sudah selesai.
"Lebih mendingan. Tapi tadi dia ngeluh kalau telapak kakinya agak sakit,"jawab Kenan sambil tersenyum tipis.
Verrel berdiri dengan sebuah mangkuk besar di kedua tangannya. Cowok itu berjalan ke arah kompor lalu dengan perlahan memasukan setengah adonan yang dia buat ke wajan yang berisi minyak panas.
"Tetep jaga dan rawat Queen dengan penuh kasih sayang ya, Ken. Queen lagi butuh lo banget sekarang buat terus ada di samping dia dan hibur dia. Gue seneng ngeliat lo keliatan bahagia waktu sama Queen, gue juga seneng waktu ngeliat lo ngerangkul Queen waktu cewek itu lagi dalam masa-masa sekarang. Pokoknya gue gak mau nanti kedepannya lo ngecewain gue karena lo nyakitin Queen."
Kenan, Tegar dan Andra terpaku di tempatnya. Bahkan mereka tidak berkedip ketika mendengar ucapan Verrel.
Verrel yang merasa tidak ada respon pun menengokan kepalanya kepada ketiga temannya. Keningnya mengerut ketika melihat ekspresi para teman-temannya.
__ADS_1
"Lah! Kenapa liatin gue kayak gitu sih?"tanyanya risih.
Tegar mengerjapkan matanya.
"Lo aneh. Gue takut ***** tiba-tiba lo ngomong sesuatu yang bener! Apa jangan-jangan... Lo kesurupan jurig adonan ya!?"seru Tegar panik.
Verrel berdecak sebal. Dia sudah menduga bahwa reaksi teman-temannya akan seperti ini jika dia berkata benar dan serius.
"Udah, lah! Gue ngomong seenaknya aja lagi deh, gue ngomong bener juga tetep di anggap aneh!"serunya pura-pura kesal.
Kenan tertawa, dia mengangkat nampan berisi dua piring dan dua gelas itu.
"Thanks buat omongannya. Gue bakal berusaha buat gak ngecewain lo."
...||||...
Bibir pucat Queen tersenyum tipis ketika pintu kamar Kenan terbuka dan menampilkan pemilik kamar tersebut. Dia merasa tenang ketika melihat Kenan berada di dekatnya seperti ini.
"Waktunya makan!"seru Kenan ceria, dia membawa nampan itu ke balkon yang berada di kamarnya, tak lama Kenan balik lagi sambil bersiap menggendong Queen.
"Ken,"tahan Queen saat Kenan sudah melingkarkan tangannya di bawah lutut kaki dan punggungnya.
"Kenapa?"
Queen tersenyum getir, dia menunjuk nampan berisi bubur yang sudah sangat cair di nakas samping kasur Kenan dengan dagunya. Kenan mengikuti arahan Queen, Kenan mengerutkan keningnya. Kenapa Queen menunjuk makanan yang seharusnya Queen makan kemarin?
"Maaf."
Seolah mengerti, cowok itu pun mengecup cepat puncak kepala Queen. Lalu cowok itu mengangkat tubuh Queen dan membawanya ke balkon, dia mendudukan Queen di bangku yang berada disana.
"Gak usah di pikirin, yang penting sekarang kamu makan roti ini ya?"
Queen mengangguk, dia mengambil roti yang berada di atas piring. Lalu dia mulai memakannya dengan pelan. Matanya menatap kepada meja berkaki pendek di hadapannya yang sudah terpenuhi oleh nampan, dua piring berisi roti dan dua gelas tinggi berisi susu vanilla.
"Enak gak?"tanya Kenan sambil menggigit roti berselai coklat bercampur stoberrinya.
"Enak. Makasih ya,"ujar Queen riang. Roti ini memang enak, selainya rasa coklat serta kacang. Kesukaan Queen.
Kenan mengangguk sambil tersenyum senang. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada fakta yang baru dia ketahui kemarin. Cowok itu masih tidak menyangka dengan kenyataan ini. Matanya menatap setiap inci wajah Queen dengan jelas.
"Kenapa, Ken?"tanya Queen pelan, dia malu di tatap seperti itu oleh Kenan.
Kenan menggeleng canggung, cowok itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya kepada wajah Queen. Dia menatap mata indah Queen dari jarak sedekat ini, lalu cowok itu dengan gemas mencium pipi kiri gadisnya.
"Hm... Gemes aku tuh sama kamu. Jangan sedih-sedih lagi ya sayang, ceria terus!"
__ADS_1
...||||...
Aku tuh uwuable:)