QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
pulang kemansion


__ADS_3

Darren menggandeng Queen meninggalkan pria paruh baya yang cukup aneh menurutnya. Berjalan sedikit lebih cepat agar pria paruh baya itu tidak bisa mengejar mereka berdua.


"hey kalian berdua!! jangan tinggalkan aku!"


Queen memutar kepalanya, tapi dengan cepat Darren memutar kembali kepala tersebut agar menghadap kedepan. "jangan sembarangan menoleh. Nanti kau tersandung!"


Queen mendengus karena tahu sekali jika Darren tidak memperbolehkan nya untuk menoleh kebelakang. Itu hanya alasan dia saja.


Mereka yang berada dilantai lima memilih untuk menggunakan lift agar cepat sampai diloby. Bastian segera lari memasuki lift agar tidak tertinggal.


Pria paruh baya ini berdecak karena ia terus diacuhkan. Apalagi melihat bagaimana Darren menggenggam tangan Queen membuatnya jengah.


plak


Bastian menampik tautan tangan tersebut, lalu berjalan dan mengusal sehingga membuatnya berdiri diantara Darren dan Queen.


Darren menatap nyalang pria paruh baya ini, apalagi melihat wajah tengil pria ini membuat Darren kesal setengah mati.


Begitupun Queen dia menatap kesal uncle nya ini "uncle kenapa sih?"


"ingat sayang.. jangan terlalu dekat dengan dia" menunjuk Darren dengan jarinya "dia itu pria mesum"


Queen memutar bola matanya jengah "kalau itu sih memang benar"


Darren membelalakan matanya mendengar suara Queen "apa yang kamu ucapkan Queen? jangan memfitnah ku seperti itu!"


Queen menelengkan kepalanya agar dapat melihat Darren, terlihat sekali jika Darren tidak terima telah dikatai olehnya "kau memang mesum"


"sudah uncle duga. Karena wajahnya ini benar-benar mirip seperti seorang gigo-lo" ujar Bastian dengan ketus.


Mata Queen terbelalak mendengar ucapan uncle Bastian "uncle sembarangan saja kalau berkata" ujarnya ketus. Meski mengakui jika pria nya adalah pria mesum tapi jika dia dikatai seperti itu, Queen tidak terima.


Bastian yang tadinya kesal bertambah kesal saat melihat seseorang wajah penuh kemenangan dari wajah Darren.


Sangat kesal rasanya melihat wajah Darren yang sekarang menyeringai menatap nya "apa?! mau aku pukul hah?!"


Darren hanya angkat bahu cuek "mana mau saya memukul pria tua seperti mu! aku sikut saja sudah aku pastikan kau akan tersungkur!"


Bastian menggeram. "kau tuli ya?! aku yang akan memukulmu dan lagi mulutmu itu sangat beracun! aku masih muda asal kau tahu!"


pffttt


Queen melipat mulutnya kedalam, saat mendengar uncle Bastian mengatai Darren, apalagi kata-kata itu yang selalu ia sematkan pada Gerald ketika ia sedang bicara ketus padanya. Menurutnya ucapan Gerald memang sangat beracun makanya ia sering kali mengatainya seperti itu.


Saat melihat lift terbuka. Darren menarik tangan Queen. Menggenggamnya dengan lembut lalu membawa Queen keluar dari dalam lift.


Beberapa orang yang melihat Darren dan Queen bergandengan tangan terdiam. Tapi tatapan mereka tergambar jelas jika mereka mengagumi pasangan yang tampak serasi ini.


Darren yang penuh karisma dan tampan. Bersanding dengan Queen yang cantik mempesona. Sungguh pasangan yang tampak ideal.


Queen melirik sekilas wanita-wanita yang memperhatikannya "apa yang mereka lihat?" lalu Queen menoleh kearah Darren. Meski habis dioperasi wajahnya tetap tampan tanpa celah, jadi mereka memperhatikannya sedari tadi? batinnya menggerutu.


Padahal mereka hanya mengagumi mereka berdua yang tampak sangat serasi itu.


"mereka semua memperhatikanmu" gerutu Queen terdengar jengkel.


Darren sedikit menunduk agar dapat melihat reaksi wajah Queen, lalu ia sedikit tergelak melihat wajah Queen yang cemberut dengan bibir yang mengerucut kedepan.


"kamu sedang menggodaku ya? aku jadi ingin menciummu sekarang"


"ehehem hoeeek"


Darren menoleh kebelakang saat mendengar suara Bastian yang berpura-pura muntah. Kenapa pria paruh baya ini selalu mengganggunya sedari tadi. Menyebalkan sekali.


"apa? kenapa menatapku seperti itu? aku tahu aku masih tampan tapi tidak usah terpesona seperti itu!"


Darren mendengus mendengar kenarsisan Bastian "terpesona? cih.. pria keriput sepertimu bagaimana bisa membuatku terpesona"


Bastian mengepalkan tangannya "kau!! menjengkelkan sekali" pekiknya lalu kakinya terayun dan..


dug


Bastian menendang bokong Darren. Hal itu membuat Darren merasa kesal dan bertambah marah. Dia berhenti dan membalik badannya. Menatap tajam Bastian. "anda membuat kesabaranku habis! jangan salahkan aku tuan jika aku membalasmu!"


Queen yang melihat perdebatan ini segera menggenggam tangan Darren. Mengelusnya agar amarah Darren mereda.


Darren menoleh, saat melihat wajah Queen entah kenapa amarahnya yang tadi hampir memuncak perlahan memudar. Tangannya terulur untuk mengelus surai lembut kekasihnya ini. Tatapan matanya pun melembut.


"ayo pulang. abaikan uncle Bastian"


Darren mengangguk dan tersenyum. Lalu mereka berjalan keluar dari rumah sakit.


"dimana mobilnya?" tanya Queen sesaat setelah mereka sampai diluar rumah sakit. Queen menoleh kekanan dan kiri. Mencari supir yang sebelumnya ia suruh untuk menunggu didepan rumah sakit. Seharusnya dia telah sampai dan stand bye didepan pintu.


Tin tin

__ADS_1


Sebuah mobil mewah berhenti didepan Queen dan Darren. Lalu kaca mobil tersebut turun kebawah.


"kalian berdua masuklah!"


Queen menatap pria paruh baya yang saat ini duduk didepan setir "oh ternyata supirku sudah ganti" ujarnya santai. Lalu ia membuka pintu mobil kemudian masuk diikuti oleh Darren.


"kamu ini seenaknya berbicara Queen. Uncle dengan sepenuh hati menjemput kalian berdua kamu malah berkata seperti ini. Uncle merasa kecewa sekali padamu Queen" ujar seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Bastian.


"jangan mendrama uncle. aku tahu sekali jika uncle yang menyuruh supirku untuk pergi dari sini. Dan aku sekarang jadi curiga jika uncle juga yang membuat aunty Emily pergi dari sini"


Bastian menoleh kebelakang dengan raut wajah yang kaget. Dia berpura-pura. "astaga.. semua yang kamu ucapkan benar sayang" ucapnya. Lalu dia tertawa.


"uncle kan memang sengaja menjemput priamu ingin tahu seperti apa dia. Dan setelah melihatnya yang ternyata sebelas dua belas dengan Daddy mu itu uncle jadi menyesal sayang telah menyuruh kedua orang tadi untuk pulang. Dia itu ternyata sangat ketus dan dingin. Hati-hati nanti kamu beku Queen" ucap uncle Bastian. Dia tidak memperdulikan jika orang yang sedang ia bicarakan ada didalam mobil ini juga. Dia sengaja.


Queen tertawa mendengar ucapan dari Bastian. Mengabaikan Darren yang tampak dibuat kesal oleh Bastian.


"cepat jalan pak tua!"


Bastian menatap Darren setelah mendengar dia memerintah dirinya. Dia tatap wajah dingin Darren dengan pandangan ketus "jangan lupa bayar! cih.. aku benar-benar menjadi supir sekarang" gerutunya dan mulai menjalankan mobil.


Darren menghela nafasnya panjang. Dia menyandarkan tubuhnya disandaran jok mobil ini. Lalu dia menoleh dimana Queen tengah bermain ponsel, dia menggeser tubuhnya. Melihat sedang apa Queen saat ini.


Queen yang menyadari hal itu hanya acuh dan membiarkan Darren yang tengah penasaran melihatnya. Dia hanya sedang membalas chat dari Devika, asisten pribadinya diperusahaan, tak ada rahasia disana makanya ia membiarkan Darren melihatnya.


Darren menyandarkan kepalanya di bahu Queen. Bersikap manja pada gadisnya. Darren merasa senang saat Queen mengusap pipinya, tangannya yang halus membelai pipinya dengan lembut. Sangat nyaman sekali sampai ia memejamkan matanya.


"Queen.."


Queen mendongak dan menatap mata orang yang baru saja memanggil namanya melalui kaca spion yang ada diatas kepala uncle Bastian "ya.. kenapa uncle?"


Bastian menatap kesal Darren yang tengah melendoti Queen. Kalau saja ia tidak sedang menyetir, sudah ia pisahkan mereka.


"tolong putarkan musik. Uncle merasa mengantuk"


Queen mengangguk, dia menatap wajah Darren membuat pria itu duduk dengan tegap lagi. Darren tahu apa yang Queen maksud melalui sorot matanya. Meski ia sebenarnya keberatan tapi dia memilih untuk menuruti kemauan Queen.


Queen mencondongkan tubuhnya kedepan.


"kamu duduk didepan sekalian sayang" ucap uncle Bastian saat melihat Queen sedikit kesulitan.


"tidak boleh!" Darren dengan cepat menjawab. Darren menarik tubuh Queen agar kembali duduk. "biar aku saja yang menghidupkan musiknya"


Darren melirik sinis Bastian saat sedang memencet tombol musik yang ada disisi setir.


Darren kembali duduk, dia kembali mendekati Queen dan menyandarkan kepalanya dibahu Queen lagi.


"dasar bocah.. sok-sokan manja padahal sedang modus"


Darren yang tahu sedang disindir oleh Bastian abai "sayang kepalaku sakit. Bolehkah aku tidur diatas pangkuanmu?"


"benar kan...ltu hanya modus seorang pria. Aku paham sekali karena memiliki sahabat playboy" ucap Bastian saat mengingat Tama. Meski sekarang dia sudah bertobat dan tidak lagi mempermainkan wanita. Dia sekarang setia hanya untuk satu wanita saja, sungguh keajaiban tapi itulah yang terjadi pada sahabatnya dulu.


Darren tidak peduli, ia langsung merebahkan kepalanya diatas pangkuan Queen.


Queen hanya pasrah.


"Elus kepala ku sayang!"


Bastian sungguh kesal mendengar suara Darren, sangat manja. Dan hal itu entah kenapa membuatnya kesal. Jiwa seorang Daddy yang memiliki anak perempuan juga seketika meronta-ronta. "duduk dengan tegap atau aku akan menabrakkan mobil ini kepohon!" ucapnya mengancam. Itu ditujukan untuk Darren.


Darren hanya mendengus dan kembali mengabaikan ucapan Bastian.


"apa kau menganggap ucapanku hanya sebuah bualan saja Darren Austin Keith?" ucap Bastian dengan nada suara dingin dan rendah.


Queen menelan saliva nya mendengar suara dari uncle Bastian. Kalau uncle Bastian telah berbicara dengan nada seperti itu Queen tentu saja takut, bagai manapun ia tahu sekali bagaimana karakter uncle Bastian yang menurutnya mengerikan. Ucapannya benar-benar bisa ia realisasi kan.


Queen mendorong kepala Darren agar menjauh darinya. Jangan sampai memprovokasi seorang psycopat! itulah yang Queen ucapkan dalam batinnya.


"sayang" seru Darren tidak terima.


"diam! dan duduklah dengan patuh!"


Darren menghela nafasnya panjang. Dia memilih untuk menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi lagi. Sembari menggerutu dalam hati.


Darren sejujurnya penasaran sekali, bagaimana Queen bisa setakut itu pada pria paruh baya itu. Tapi ia memilih untuk diam karena malas bertanya. Biar nanti saja ia bertanya saat hanya sedang berdua dengan Queen.


**


Bastian mengantar Darren kemansion yang dulu sengaja ia beli saat kerjasama yang ia lakukan bersama dengan perusahaan Global Grup disetujui. Darren keluar dari mobil, begitupun Queen dan Bastian.


"ayo masuk dan sapa dad dan kakekku dulu" ucap Darren sembari menggandeng tangan Queen.


ehem


Darren menoleh kebelakang dimana Bastian tengah berdiri setelah mendengar pria paruh baya itu berdehem "silahkan masuk tuan.."

__ADS_1


Bastian memutar bola matanya "tidak mau! Queen uncle pulang ya.. nanti kamu dijemput oleh supir kemari"


Queen menatap aneh uncle Bastian "kenapa uncle tidak masuk?"


"aku malas.. bye sayang" melambaikan tangannya lalu dia masuk kedalam mobil. Kemudian pergi meninggalkan mereka berdua yang tengah menatap mobilnya.


"aneh sekali" ucap Darren setelah beberapa saat terdiam.


"begitulah.. uncle Bastian memang sangat aneh. Jadi abaikan saja"


Darren mengangguk "siapa dia sebenarnya?"


Alis Queen menyernyit karena tak paham akan ucapan Darren barusan.


"ck.. apa hubunganmu dengan pria tua tadi?"


Queen mengangguk paham akan ucapan dari Darren "oh.. dia sahabat dad ku"


"lalu kenapa dia memelukmu bahkan menciummu? kalian tidak ada hubungan darah ternyata" ucap Darren dengan kesal. Tadinya ia pikir Bastian adalah adik dari mom atau dad Queen. Tapi ternyata ia salah.


Queen berdecak "dia sudah seperti dad ku sendiri. Kalau mau cemburu kau salah tempat!"


"aku tidak peduli, yang jelas kami hanya milikku seorang"


Queen menghela nafasnya panjang "iya iya... aku hanya milikmu seorang, ayo masuk! aku sudah lelah berdiri"


Darren mengangguk dan berjalan masuk kedalam mansion. Darren membawa Queen mencari keluarganya . Setelah sampai diruang keluarga, Darren dapat melihat mom dad dan kakeknya tengah mengobrol.


"ah-- kamu sudah kembali Darren" ucap Kakek Will Smith saat melihat Darren berjalan bersama dengan tunangannya.


"hmm" jawabnya asal. Hal itu membuat pria tua itu mendengus.


"Darren.. tadi mom dan daddy menjemputmu. Tapi ada seorang dokter yang mengatakan jika kamu sudah pulang. Jadi kami langsung pulang kesini dan kamu ternyata tidak ada. Sepertinya pria itu berbohong" ucap mom Emily bercerita.


Queen menahan tawanya. Itu pasti ulah uncle Bastian tadi.


"mungkin dia salah" ucap Darren seadanya. Lalu ia membawa Queen untuk duduk. Meski ia tahu sekali siapa yang mom nya ceritakan, tapi ia terlalu malas untuk menjelaskan jika orang itu adalah pria yang tadi mengantarnya pulang.


"aunty apa dokter tadi berwajah tengil?" tanya Queen memastikan.


"iya benar. Aku baru pertama kali melihat dokter setengil dia"


Queen kembali melipat mulutnya kedalam. Benar tebakannya jika itu adalah uncle Bastian. Bisa-bisanya uncle Bastian membohongi calon mertuanya itu.


Mom Emily menatap wajah Queen dengan curiga "kau sepertinya tahu sesuatu Queen?"


Queen menggeleng dengan cepat "tidak aunty" sanggahnya. Dia tidak mau sampai uncle Bastian mendapatkan masalah.


"atau orang tadi adalah suruhanmu?"


"mana ada aunty. Aku bahkan menanti aunty yang katanya mau menjemput kami"


Mom Emily mengangguk "oh.. berarti itu benar-benar orang iseng. Kalau aunty bertemu dengannya lagi akan aunty pukul wajah tengilnya itu!"


"aku mendukungmu aunty" ucap Queen dengan semangat.


Darren berdiri dari duduknya. Membuat semua orang menoleh kearah dirinya.


"kamu mau kemana?" tanya Queen.


"aku mau mandi. Apa kamu mau ikut?"


Queen menggeleng dengan cepat.


"kamu bisa membantuku mandi Queen, aku sedang sakit ingat?"


"tidak mau!" ucap Queen dengan sedikit memekik. Wajahnya memerah jika membayangkan dirinya membantu Darren mandi. Tubuhnya yang kekar akan dapat ia lihat sepenuhnya. Aw... apa yang kamu pikirkan Queen? kamu benar-benar mesum. Batinnya terus berbicara.


"aish.. berhenti menggoda gadismu! cepat sama mandi, dasar bocah nakal!" ucap kakek Keith.


"padahal aku berbicara serius" ucap nya sembari menatap wajah Queen.


Queen menggeleng sembari bergidig "sudah sana pergi!"


Darren tergelak lalu pergi meninggalkan ruang keluarga. Tubuhnya terasa lengket dia ingin segera membersihkan diri.


"aish.. anak itu benar-benar berubah kan dad?" tanya mom Emily . Meminta pendapat dari suaminya.


Dad Edward yang sedari tadi diam mengangguk membenarkan. Wajah kaku dan dingin Darren semakin terlihat manusiawi semenjak kehadiran Queen dalam hidup anaknya. Hal itulah yang membuat Dad Edward setuju pada keputusan anaknya yang meminta untuk segera melamar Queen.


Dad Edward menatap wajah ayu Queen. Gadis itu tengah mengobrol asik dengan dad nya. Pria tua itu juga entah kenapa bisa langsung akrab dengan gadis ini.


Dapat Dad Edward lihat Queen memang memiliki pesona yang luar biasa. Peringai manja dan menyenangkan dirinya mampu membuat siapa saja menyayanginya dalam kurun waktu yang singkat.


Dia adalah gadis yang tepat untuk mendampingi anaknya yang dingin dan kaku yang seperti kanebo kering itu. Sifat hangat Queen dapat menghancurkan bongkahan es yang ada didalam hati Darren. Karena itulah juga Dad Edward menerima dengan lapang dada Queen masuk kedalam keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2