QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
memerah


__ADS_3

"hey kau gadis nakal! turun sekarang!!"


Queen terbelalak mendengar suara seseorang, tubuhnya yang terguncang membuatnya kehilangan keseimbangan "ahhhhhkkkkkk---" pekiknya kencang sekali saat tubuhnya melajang hampir jatuh kebawah.


"ya Tuhan.. aku mau nyungsep!" ujarnya sembari menutup matanya dengan tangan. Sungguh Queen merasa berdebar saat tubuhnya semakin dekat dengan tanah.


gedubrak


Queen membuka matanya perlahan "eh.. kok tidak sakit?" ujarnya dengan wajah cengo. "oh syukurlah" gadis cantik itu bersyukur karena dia merasa baik-baik saja setelah jatuh dari atas pohon yang lumayan tinggi.


"apa kau tidak berniat untuk turun dari tubuhku?"


Queen terkesiap saat mendengar suara bariton seseorang, dia menunduk dan kemudian membelalakan matanya "tuan!" ucapnya kaget, dia segera berdiri dari atas tubuh seseorang yang baru saja tertimpa oleh badannya "kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan wajah panik.


"kau pikir?" tanyanya dengan wajah datar.


Queen meringis, dia membantu pria yang tak lain adalah Darren itu untuk duduk "aku rasa punggungmu pasti sakit" ucapnya sembari terkekeh mengingat kembali saat dia jatuh tepat diatas tubuh pria yang tak lain adalah kekasihnya sendiri. Darren.


"kau masih bisa tertawa melihat aku tertimpa oleh karung beras?"


"ya! apa aku seberat itu?! lagian kenapa kau tidak menangkapku sih? biar so sweet kayak di drama" gerutunya sedikit tidak terima.


Darren terdengar mendengus, Darren memang sebenarnya berniat untuk menangkap Queen tapi karena jaraknya yang sedikit jauh, dan Queen memang tidak terjangkauan tangannya sehingga dia memilih untuk lari dan segera mengorbankan tubuhnya agar Queen tidak jatuh diatas tanah.


"tapi terima kasih, karena tuan telah mengorbankan tubuhmu itu untuk menjadi matras untukku, kalau tidak.. aku rasa pinggangku ini bisa patah"


Darren menatap datar Queen "apa yang kau lakukan diatas pohon?! dan lagi kau mengenakan rok seperti ini. Aku penasaran sekali bagaimana kau naik" gerutunya.


Queen tersenyum "aku diatas pohon mau mengambil buah mangga"


Darren mendongak. Memperhatikan pohon tinggi yang tadi Queen panjat "tidak ada buahnya. kau sedang menipu ku kan?"


"hahaha... memang iya, aku iseng saja tadi" ucap Queen santai. Sebenarnya tadi dia merasa kesal dan kecewa sehingga tanpa banyak berfikir dia memanjat pohon mangga itu. "bye the way.. sekali lagi terimakasih banyak"


Darren hanya diam, dia memilih untuk mengusap pipi putih milik kekasihnya itu "aku rela melakukan apapun agar kau tidak terluka"

__ADS_1


Queen tersenyum, dia memegang tangan Darren yang masih bertengger di pipinya "tapi aku mohon, jangan mengorbankan dirimu sendiri"


"why not? aku bahkan rela mengorbankan nyawaku un--"


Ucapan Darren terpotong saat Queen membungkam mulutnya "tolong jangan berbicara sembarangan, ingat tuan setiap ucapan adalah doa!"


Darren mengangguk, dibalik tangan Queen bibir Darren melengkung keatas. Dia bahagia sekali mendengar ucapan Queen barusan, yang berarti gadis yang ada didepannya ini takut kehilangan dirinya.


Tatapan mata Darren melembut saat menatap wajah cantik Queen. Tatapan penuh rindu setelah beberapa hari tidak bertemu.


Gadisnya terlihat dewasa saat memakai riasan seperti sekarang. Darren tahu saat Queen pergi bekerja memang selalu memakai riasan yang lumayan tebal, hal itu kemungkinan untuk menutupi fakta bahwa Queen memang masih terlalu muda saat ini. Tapi meski begitu riasan tersebut menambah kesan dewasa tapi tak mengurangi kecantikan yang dimiliki oleh Queen.


Darren merasa beruntung sekali bisa mendapatkan gadis secantik Queen.


Queen menurunkan tangannya, lalu dia membantu Darren untuk berdiri "apa tubuhmu sakit?"


"hmm.. kamu harus bertanggung jawab Queen"


"baiklah baiklah.. aku akan memijatmu bagaimana?" tanya Queen, dia menggandeng tangan Darren dan membawanya menunju gazebo yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana.Mereka kemudian duduk bersisian disana.


Darren menoleh dan pandangan matanya bertemu pandang dengan pandangan mata Queen "aku ada urusan yang harus aku lakukan" jawabnya terdengar ambigu.


"urusan? urusan apa?" tanya Queen, sebenarnya dia sudah mengetahui maksud kedatangan Darren. Tadi dia memang sempat salah paham akan tetapi saat melihat Darren berada disini itu berarti memang tebakannya tidak meleset.


Queen mendekatkan wajahnya kearah wajah Darren. Mata cantiknya memindai bentuk wajah Darren. Queen selalu takjub akan ketampanan Darren.


"urusan yang sangat penting" Tangan Darren terulur. Darren membelai rambut panjang Queen yang saat ini diikat kuda. "dan aku juga sudah sangat merindukan dirimu"


greb


Darren meletakan tangannya di pinggang ramping Queen. Mendekatkan tubuh gadisnya agar lebih dekat dengannya. "bagaimana dengan nona Queen.. apakah kamu merindukanku?"


Queen membeku. Jantungnya berdetak kencang saat berada sedekat ini dengan Darren. Wajah mereka sangat dekat sehingga membuat Queen dapat merasakan aroma mint dari hembusan nafas Darren. Queen selalu penasaran bagaimana Darren bisa memiliki aroma seperti ini? apakah pria ini memakan permen setiap saat?


"huff"

__ADS_1


Queen mengerjapkan matanya beberapa kali saat Darren meniup wajahnya barusan.


Darren menyeringai saat melihat wajah Queen memerah "kau tidak merindukan diriku? aku jadi sedih loh"


Queen menggeleng "tidak. bukan begitu. Maksudku aku juga merindukan dirimu"


"benarkah?"


deg deg deg


Queen semakin berdebar, dia mengangguk dengan cepat. Hal itu membuat Darren tergelak melihat betapa menggemaskannya Queen saat ini. "wajahmu memerah? kenapa?"


Mata Queen membola, lalu memundurkan wajahnya "apa iya?" tanyanya. Tangan Queen memegang wajahnya sendiri. Memang pipinya saat ini terasa hangat "sial.. aku blushing!" batinnya sembari melengos kesamping. Setelah menyadari jika sebenarnya dirinya blushing akibat tindakan Darren barusan.


Darren meraih dagu Queen, lalu menariknya sampai pandangan mata mereka kembali bertemu.


Tatapan mata tajam Darren selalu berhasil menghipnotis Queen. Dia tidak merasa terintimidasi, karena tatapan mata tajamnya ini menurut Queen begitu memikat hatinya.


"sedang apa kalian?!"


Queen terkesiap, dia yang tengah saling pandang dengan Darren menoleh ke sumber suara. "dad" pekiknya kaget. Apalagi melihat tatapan tajam dari dad nya sekarang tampak begitu menakutkan.


Dad Arsen yang baru saja datang segera menarik tangan Queen "jangan terlalu dekat dengannya" ucapnya terdengar jengkel. Dad Arsen tampak tidak rela puteri nya dekat-dekat dengan Darren.


Dad Arsen menarik tangan Queen "ayo masuk kedalam. Kata Devika kau bahkan belum makan siang" ujarnya. Pria paruh baya itu bahkan mengabaikan Darren.


"tapi dad, tuan Darren" ujar Queen menahan langkah kakinya. Dia menatap Darren yang masih duduk.


"biarkan dia! dia pasti akan mengikuti mu, cih.. dasar pria kecil yang mesum. Dia mencuri-curi kesempatan untuk memegang kamu sayang" ucap dad Arsen. Dia membawa Queen masuk kedalam mansion.


Darren menatap punggung wanitanya yang dibawa masuk oleh calon mertuanya. "ck.. posesif sekali.! kalau Queen sudah menjadi milikku kau tidak akan kubiarkan menyentuh nya!" ucapnya terdengar serius. Lalu dia memilih untuk menyusul Queen karena dia sangat merindukan gadis kecilnya itu.


**


Jangan lupa like komen dan vote. Kasih bunga/coffee juga oke..

__ADS_1


Dukungan kalian semangatku 🤗


__ADS_2