
Kenan saat ini sudah menjelma menjadi orang yang tidak tahu diri. Dia terus menunggu Queen di toko roti milik perempuan itu, meski tahu bahwa Queen tidak mungkin mau bertemu dengannya.
Cinta Kenan untuk Queen ternyata belum habis, bahkan mungkin semakin besar saat ini. Sejak perpisahan mereka waktu itu, Kenan benar-benar tidak bisa melupakan Queen meski sudah bersama Nanda.
Sebenarnya sangat wajar jika Queen enggan untuk meladeni orang yang sudah membuatnya patah hati, perempuan itu bahkan harusnya memaki Kenan karena sudah berani mencampakkannya hanya untuk bertanggungjawab pada hal yang tidak diperbuat oleh Kenan. Tetapi, bolehkah Kenan berharap bahwa Queen akan meliriknya sekali lagi?
Kenan rindu Queen yang manja kepadanya. Dia rindu menghabiskan waktu berdua bersama Queen. Dia merindukan pelukan Queen yang sangat hangat.
Jika waktu bisa diulang, Kenan tidak mau bertindak bodoh dengan menikahi Nanda. Dia pasti akan mempertahankan Queen sampai mereka menikah.
Memang dasarnya pada saat itu Kenan tidak bisa berpikir jauh sebab terlalu mencemaskan keadaan Nanda.
Kenan menyesal, tapi penyesalannya itu pasti tidak berguna untuk Queen.
Saat tengah asik merenungkan kesalahannya, mata Kenan tertuju pada pintu toko yang terbuka. Dia bisa melihat Queen dengan kacamata hitamnya baru saja keluar dari sana.
Kenan menahan dirinya sendiri di dalam mobil, karena tahu bahwa jika dia keluar dan menghampiri Queen, pasti dia akan ditolak.
Queen masuk ke salah satu mobil berwarna putih, lalu mobil itu melesat meninggalkan pekarangan toko yang luas. Kenan pun mengikutinya, sembari berharap bahwa tidak ketahuan sedang menguntit.
Kenan penasaran, tujuan Queen saat ini akan ke mana. Dia akan sangat bersyukur jika mengetahui lokasi tempat tinggal Queen.
"Bahkan dia udah bisa bawa mobil," gumam Kenan sembari tersenyum tipis.
Queen yang dulu manja dan bergantung padanya, sekarang menjelma menjadi perempuan yang serba bisa.
Kenan sangat bangga, tetapi sedih juga karena diproses tumbuh kembang Queen, dia tidak ikut andil dan menyaksikannya.
Kening Kenan mengernyit saat mobil Queen berhenti tiba-tiba di pinggir jalan yang sepi. Kenan masih menahan diri bahkan ketika sosok Queen keluar dari mobil dengan wajah kebingungan.
Queen seperti sedang menghubungi seseorang sembari beberapa kali melihat ke arah ban mobilnya.
Sepuluh menit berlalu, tetapi rupanya tidak ada yang datang dan Queen kini sudah bersandar ke pintu mobil dengan raut wajah kesal.
Kenan pun terkekeh pelan, dia keluar dari mobil dan menghampiri Queen.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya to the point.
Queen seperti terkejut melihat keberadaan Kenan, tetapi tak lama kemudian dia bisa menyesuaikan diri. Wajahnya jadi datar dan tangannya terlihat di depan dada.
Angkuh, tetapi di mata Kenan itu sangat seksi.
"My car tire is flat," jawab Queen tanpa menatap Kenan.
Kenan pun melihat ban mobil Queen yang memang kempes. Ini kesempatannya untuk modus.
"Gak ada yang datang? Kamu gak telepon orang?"
"Udah."
Alis Kenan naik sebelah. "But?"
Queen mendengus, merasa bahwa Kenan banyak tanya. "Gak ada yang datang."
Pura-pura Kenan mengecek kondisi ban mobil Queen. Meski di mobilnya ada berbagai alat untuk bisa memperbaiki ban ini, tentu saja Kenan tidak akan memperbaikinya.
Perempuan ini benar-benar sangat cantik sekarang. Dari bawah saja kecantikannya tidak berkurang.
"Yaudahlah biarin aja."
"Terus kamu mau pulang pake apa? Di daerah sini sepi."
Queen mengedarkan pandangannya, memang benar apa yang diucapkan Kenan. Tidak ada satu pun kendaraan umum yang terlihat.
"Aku ... aku gak tau," bisik Queen yang masih bisa didengar Kenan.
Hari ini memang hari keberuntungannya. Kenan pun berdiri dan terkekeh geli saat Queen tak kunjung menatap matanya.
"Aku antar."
"Aku nggak mau. Aku bisa pulang sendiri."
__ADS_1
"Pake apa?"
"Apa aja."
Astaga, rupanya sekarang Queen sangat keras kepala.
"Queen, gak ada kendaraan umum yang lewat. Pulang sama aku aja, dan mobil kamu bakal diambil sama orang-orang aku."
Queen berdecak pelan. Perlahan dia mulai berani membalas tatapan Kenan, yang sialnya langsung membuat dia tercekat.
Kenan terlihat sangat tampan sekarang, mata indahnya sayu ketika menatap Queen.
"Oke."
Akhirnya mereka pun berada di mobil Kenan yang saat ini tengah melaju menuju apartment milik Queen. Rupanya Queen sudah tinggal terpisah dari Papanya.
Selama di mobil, baik Queen mau pun Kenan tidak ada yang bersuara. Jika Queen memang dasarnya malas untuk berbicara, maka berbeda dengan Kenan yang merasa jantungnya tengah berdebar kencang.
Baru di tengah perjalanan, cuaca sudah memburuk. Awan sudah menggelap dan petir mulai terdengar bersahutan. Tak lama kemudian hujan pun turun dengan deras.
"Jarak ke apart kamu masih lumayan jauh, kalau kamu mau tidur gapapa. Nanti aku bangunin," ucap Kenan menginterupsi Queen yang sedang melihat ke luar jendela.
"Aku nggak mau tidur, nanti digrepe-***** sama kamu."
Mata Kenan melotot. "Aku nggak sebrengsek itu pegang-pegang orang yang lagi tidur."
"Siapa tau aja, kan?"
"Kalau pun aku mau *****, kenapa nggak sekarang aja. Mumpung kita lagi berdua dan kamu lagi nggak tidur."
Queen tersenyum miring. "Don't you dare."
Kenan hanya tersenyum sembari fokus menatap ke depan. Jika hujan begini dia harus ekstra hati-hati.
Sepertinya Queen ini tidak boleh terlalu dipaksa, karena kalau dipaksa membahas yang sudah-sudah pastinya dia akan malas dan tidak mau menanggapi Kenan.
__ADS_1
Sekarang, Kenan tahu bagaimana berkomunikasi dengan Queen.