
David mengetatkan rahangnya kala melihat foto-foto hasil CCTV di sekolah Queen yang di pinta oleh David setiap bulannya untuk mengamati Queen. Pria itu rasanya ingin sekali memukul dinding ruang kerja di rumahnya sekarang melihat bagaimana keadaan anaknya di foto itu.
Dia tahu bahwa Queen di bully di sekolahnya selama ini, tapi dia tidak tahu bahwa anaknya sampai di jatuhkan dan di perlakukan sampai seburuk ini oleh para murid-murid di sekolahnya.
Pria itu menghela nafasnya, jarinya menekan pelipis. Yang menjadi pertanyaannya sekarang, kemana Kenan selaku pacar anaknya di saat-saat Queen di bully di sekolahnya? Apa cowok itu tidak tahu bahwa Queen selalu di hina dan di perlakukan dengan tidak baik?
"Sudah larut malam ternyata,"gumam David ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
David berdiri dan berencana untuk ke kamar anaknya, rasanya sudah lama sekali dia tidak melihat wajah Queen. Pria itu memasuki kamar Queen yang pintunya tidak di kunci, senyum kecil hadir ketika melihat bahwa anaknya sudah tertidur lelap sekali.
"Malam anaknya Papa,"gumam David sambil mencium puncak kepala Queen dengan sangat pelan karena tidak ingin mengganggu Queen yang tertidur lelap.
"Papa rindu kamu Queen. Beberapa hari lagi kamu sudah mau 17 tahun, sudah besar saja. Papa menyesal karena tidak mengikuti pertumbuhan kamu dari kecil Queen, saat bertemu tahunya kamu sudah cantik saja, bahkan sampai sudah memiliki pacar."
David terkekeh miris, matanya sudah berkaca-kaca ketika mengingat prilaku egoisnya yang sudah meninggalkan Queen serta Yura.
"Maafin Papa ya karena lagi-lagi Papa tidak bisa melindungi kamu. Papa tidak tahu dengan perasaan kamu yang terluka akibat perlakuan para murid di sekolah-sekolah kamu. Papa minta maaf Queen,"lirihnya dengan air mata yang menetes jatuh ke kedua pipinya.
Rasa bersalah kini terasa sangat mencekik leher David sehingga membuat dia menjadi lemah seperti ini. Mata David meneliti setiap inchi wajah damai Queen, dia tersenyum saat melihat wajah polos Queen saat tertidur. Dia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa di balik wajah polos itu Queen selalu menyembunyikan seribu luka yang di rasakannya dengan cara tersenyum.
"Papa sayang kamu."
Setelah mengecup puncak kepala Queen kembali David pun berlalu keluar dari kamar Queen.
...||||...
Di tempat lain terlihat dua remaja berpakaian berantakan tengah duduk berhadap-hadapan di kursi yang terbuat dari kayu. Salah satu dari mereka tengah memegangi foto-foto yang di terimanya dari cowok yang duduk berhadap-hadapan dengannya dengan rahang mengetat.
"Ini real?"tanya cowok yang memegangi foto tersebut dengan datar.
Cowok yang duduk santai di kursi itu tersenyum penuh arti, dia menatap lawan bicaranya dengan mata memicing.
"Real. Lokasinya di Club yang biasa lo kunjungin kok."
Cowok yang memegangi foto itu mendengus samar, dia melempar foto tersebut ke meja kayu di hadapannya lalu menatap cowok di hadapannya dengan datar.
__ADS_1
"Liam kan nama lo?"
"Ya. Gue Liam, Raksa."
Liam menyeringai dan Raksa hanya menatapnya datar. Ya! Dia Liam, si wakil ketua OSIS yang sebentar lagi lengser. Cowok itu sedang merencanakan sesuatu yang tidak di ketahui oleh siapa pun, termasuk partnernya yang tak lain adalah Givani.
"Kapan lo fotonya?"
"Dua hari yang lalu, gak sengaja gue liat Givani lagi dance sama Kenan di dance floor."
Raksa menaikan satu alisnya lalu matanya kembali menatap foto-foto yang di ambil secara diam-diam oleh Liam. Di foto itu terdapat Givani yang tengah melingkarkan tangannya pada Kenan–jagoannya SMA Cakrawala.
"Kenan punya pacar, namanya Queen. Mereka udah pacaran hampir ya... satu tahun mungkin. Kali aja lo berminat balas dendam, lo bisa tunjukin foto-foto ini sama Queen,"ucap Liam yang membuat Raksa menatapnya.
"Queen?"
Liam mengangguk, tanpa di suruh cowok itu menunjukan foto Queen yang di simpannya pada Raksa. Dia tersenyum miring ketika melihat Raksa menyeringai ketika menatap foto Queen. Rencanya yang ingin memecah belah hubungan Kenan dan Queen pasti akan berhasil.
"Kirimin kontak cewek ini dan silahkan lo pergi dari basecamp komunitas gue."
Setelah selesai dengan tugasnya akhirnya Liam mengendarai motornya dengan ugal-ugalan. Dia menyalurkan rasa bahagianya lewat gas motor yang dia pacu dengan cepat hingga suara derum motornya memecah keheningan malam.
Kenan gak pantes buat Queen. Queen cuma buat gue seorang.
Rasanya Liam tidak sabar menunggu hari dimana Queen akan memutuskan Kenan. Hari bahagia menurutnya.
TIN! TIN! TIN!!!
Liam tersentak kaget, matanya terbelalak ketika melihat ada truk dari arah berlawanan yang melaju dengan kencang. Cowok itu panik, dia berusaha menghindar tapi naas, truk berisi pasir itu sudah menghantam bagian motor depannya dengan kencang hingga membuat motor serta tubuh Kenan terpental hingga beberapa meter. Mata Liam terpejam lalu terbuka ketika mendengar suara ledakan, ternyata truk itu menabrak pembatas jalan.
Rasanya badan Liam remuk, kepalanya juga sakit dan Liam merasakan bahwa darah menetes dari kepalanya. Pandangannya mulai sayup-sayup ketika mendengar ada kericuhan dan nafasnya mulai tersendat-sendat.
Liam tidak kuat lagi dan akhirnya mata Liam tertutup untuk selama-lamanya.
...||||...
__ADS_1
"Pengumuman-penguman! Di harap seluruh siswa dan siswi di sekolah berkumpul di lapangan outdoor sekolah sekarang juga!!"
Semuanya murid yang sedang beristirahat sontak dengan cepat berlari ke arah lapangan karena penasaran. Kecuali Kenan dan teman-temannya plus Givani, mereka masih sibuk di sudut kantin dengan makanan yang sedang mereka santap.
"Lapangan kuy! Penasaran aing sama apa yang bakal di sampein. Siapa tau kan sekolah bakal di liburin,"ajak Verrel yang mulai penasaran karena seluruh murid di kantin sudah berkumpul di lapangan.
"Ayo lah gue juga udah gak nyaman di sini lama-lama,"balas Tegar sambil melirik Givani.
Akhirnya mereka semua memilih untuk bergabung ke lapangan, mereka berdiri di bagian paling belakang karena datang paling akhir.
Kenan menengokan wajahnya ke samping kiri ketika merasa ada yang mengawasi. Ternyata di sisi kirinya ada Queen, gadis itu menatap sayu ke arah Kenan dan matanya sempat melirik Givani.
Kenan masih terjebak dengan tatapan Queen, perasaan rindu itu semakin membuncah. Saat Queen menundukan kepalanya akhirnya Kenan mengalihkan tatapannya menjadi ke depan.
"PAGI SEMUA! MAAF SEKALI JIKA BAPAK MENGGANGGU WAKTU ISTIRAHAT KALIAN. MENGAPA SAYA MENGUMPULKAN KALIAN SEMUA DI SINI? KARENA JAWABANNYA SAYA INGIN MENYAMPAIKAN KABAR DUKA YANG BARU SAJA DI KETAHUI OLEH BAPAK SERTA IBU GURU SEKITAR JAM 8 TADI. ANAK-ANAK YANG BAPAK CINTAI, HARI INI KITA TELAH KEHILANGAN SATU SOSOK KEBANGGAN SEKOLAH KITA YANG TELAH BERPULANG KE PENCIPTANYA KARENA KECELAKAAN YANG DI ALAMI BELIAU PADA SAAT TADI MALAM SEKITAR PUKUL SETENGAH SATU WIB."
"***** siapa ya? Sosok kebanggaan? Penasaran gue,"gumam Dea yang berada di sebelah Queen.
Suara berbisik-bisik dari para murid yang mulai penasaran pun sontak menjadi bising.
"BAPAK HARUS BERBICARA KEPADA KALIAN BAHWA SOSOK KEBANGGAN ITU ADALAH LIAM VIANDRA DRAYANA. BELIAU SALAH SATU SISWA KEBANGGAAN SEKOLAH DAN JUGA WAKIL KETUA OSIS YANG SANGAT BIJAK SERTA BAIK. LIAM DI KABARKAN TELAH MENINGGAL DUNIA OLEH ORANG TUANYA."
Semua murid terkesiap kaget, bahkan ada yang sudah menangis. Queen hanya mampu menutup mulutnya dengan tangan dan matanya terbelalak, itu semua tak luput dari perhatian Kenan yang juga tadi sempat kaget.
"Inalillahi wainalillahi rojiun,"lirih Queen pelan.
Perasaan terakhir di lihat Liam tampak baik-baik saja saat membantu Queen membawa tumpukan buku, tapi sekarang? Cowok itu di kabarkan meninggal dunia semalam karena kecelakaan?
"Umur gak ada yang tau ya Queen,"ucap Dea pelan. Wajah gadis itu pias.
Queen hanya bisa mengangguk lemah, dia masih tidak percaya.
"MAKA DARI ITU ANAK-ANAK MARI KITA SEMUA DOAKAN LIAM DENGAN SEIKHLAS-IKHLASNYA. DAN UNTUK KELAS 12 IPA 1 DI HARAP UNTUK IKUT BAPAK SERTA IBU GURU SETELAH SELESAI BERDOA KE RUMAH LIAM UNTUK MELAYAT."
Bukannya berdoa Kenan malah memperhatikan Queen dengan terang-terangan. Queen tidak menangis seperti apa yang Kenan bayangkan, malah gadis itu khusuk berdoa dengan kepala sedikit menunduk dan tangan yang menengadah.
__ADS_1
...||||...
Good bye, Liam;)