
Mobil berhenti dipelataran mansion. Suasana mansion masih sama seperti terakhir kali Queen tinggalkan.
Tempat yang menurut Queen sangat istimewa karena disinilah dia dibesarkan. Tempat ternyaman yang selalu menjadi pelabuhan untuknya berpulang.
Penjaga disetiap sudut dan beberapa orang yang sedang bekerja menunduk hormat saat Queen dan kedua adiknya melewati mereka.
Mereka menyapa dengan sopan dan hormat.
"haaaay sayaaaang.." pekik seorang wanita paruh baya sembari melambaikan tangannya dengan sangat heboh, saat Queen dan kedua adiknya memasuki mansion utama.
"kesayangan mom sampai, aduh senangnya" ujar mom Valey lalu dia merentangkan tangannya agar ketiga anaknya itu memeluk dirinya.
Queen dan Gerrell dengan senang hati memeluk mom mereka, berbeda dengan Gerald yang stay cool berjalan santai sembari memasukan tangannya didalam saku Hoodie yang ia kenakan.
Mom Valey melerai pelukannya lalu menoleh kearah Gerald, dia menatap sebal anaknya yang tidak mau memeluk nya itu.
Fokus mom Valey kembali teralihkan saat teringat akan sesuatu "kau bocah tengik, berani pulang juga?" tanya mom Valey sembari menatap Gerrell dengan pandangan kesal.
Bagaimana mom Valey tidak kesal jika Gerrell pergi dari rumah tanpa memberi tahu siapapun. Kepergian Gerrell membuat Valey khawatir apalagi yang dia tahu Gerrell pergi dalam keadaan marah.
Gerrell tersenyum kaku "mom dan dad kan sudah memaafkan aku, benar kan?"
Mom Valey memutar bola matanya "hmm"
"jadi.. jangan ungkit hal itu dulu, aku lelah mom" keluh Gerrell.
Melihat wajah lelah anaknya membuat Valey tidak tega "ck, nanti kita bicara lagi"
Gerrell mengangguk sembari tersenyum.
"aku kembali ke kamar dulu mom" ucap Queen, lalu gadis itu menguap. Rasanya lelah sekali. Queen ingin tidur lagi.
Padahal dia sudah tidur belasan jam.
Mom Valey menoleh kembali kearah Queen "istirahatlah sana, kau juga Rel"
Gerrell mengangguk lalu berjalan bersama Queen menuju lantai dua dimana kamar mereka berada.
"eitts... mau kemana kau?" tanya mom Valey sembari menarik hoodie bagian belakang milik Gerald saat pemuda itu juga mengikuti kedua saudaranya.
"tentu saja ke kamar"
Mom Valey berdecak lalu menarik tangan Gerald sehingga sekarang pemuda tampan itu menghadap mom nya.
Gerald menyernyitkan keningnya "ada apa?"
greb
Mom Valey langsung memeluk Gerald dengan erat "bocah es!" ujarnya saat pelukan itu sudah terlepas. Mom Valey gemas sekali melihat anaknya yang karakternya hampir sama dengan suaminya.
"apa yang mau mom lakukan?" tanya Gerald dengan panik saat mom nya menangkup kedua pipinya.
__ADS_1
cup cup
Mata Gerald terbelalak saat mom Valey mengecup kedua pipinya.
"aaakkhh.. kenapa mom mencium ku? aku sudah dewasa mom" protes nya tidak terima. Dia bahkan mengusap kedua pipinya dengan gerakan cepat.
"hahaha.. salah sendiri kamu dingin sekali. Mom jadi gemas tahu" ucap mom Valey tanpa merasa bersalah.
Gerald yang merasa kesal segera pergi meninggalkan mom nya yang masih terkikik geli melihat wajahnya yang terkejut akibat ulahnya.
Gerald menaiki satu anak tangga lalu terkesiap saat melihat ternyata kedua saudaranya masih berada disana.
"bagaimana rasanya Rald?" tanya Gerrell sembari menahan tawanya yang dia tahan sedari tadi.
"tentu saja enak, apa kau tadi tidak melihat bagaimana bahagianya Gerald? " Queen ikut meledek adiknya itu.
Gerald menatap tajam kedua saudaranya itu, jujur dia merasa malu sekali setelah terpergok telah dicium oleh seseorang. Meski itu mom mereka tapi itu benar-benar memalukan mengingat dia yang sudah dewasa.
"anak mami hahahaha" ucap Queen dan Gerrell bebarengan, mereka bertos ria melihat wajah Gerald yang memerah karena marah sekaligus malu.
"kalian mau aku hajar hah?!"
"kyaaaa... lari kak" pekik Gerrell saat melihat Gerald lari menaiki tangga hendak menyusul mereka berdua.
"kemari kalian!"
Gerrell dan Queen lari terbirit-birit saat Gerald benar-benar mengejar mereka berdua.
Valey menarik kedua sudut bibirnya melihat kehebohan anaknya. Rasanya rumah terasa hampa saat tidak ada ketiga anaknya disini. Saat mereka bertiga pulang, rumah terasa hidup kembali.
Karakter ketiga anaknya berbeda-beda.
Queen si cantik yang selalu ceria dan membuat suasana selalu menyenangkan, meski begitu dia memiliki tempramen yang cukup menakutkan jika amarahnya terpancing.
Gerald si tampan yang memiliki sifat tegas dan dingin serta sangat tertutup dengan siapapun. Auranya berwibawa dan sifatnya sama persis seperti dengan dad Arsen yang tampak tidak tersentuh , akan tetapi memiliki hati yang hangat dan sangat perhatian.
Berbanding terbalik dengan Gerald, Gerrell sibungsu justru memiliki sifat yang mudah bergaul, siapa saja bisa menjadi dekat dengan dirinya. Sikapnya hamble dan selalu bersikap random. Pandai mengekspresikan diri. Itu adalah pesona yang dimiliki oleh Gerrell. Pemuda ini memiliki tempramen yang buruk tapi akan menjadi dewasa dan bijaksana saat kedua saudaranya tengah bersitegang.
Meski begitu mereka bertiga selalu saling melindungi satu sama lain. Dan karena hal ini lah yang membuat Valey dan Arsen merasa sangat bahagia.
***
Queen merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur setelah mengunci pintu, takut jika Gerald akan mengejarnya sampai kedalam kamar. Padahal adiknya itu sama sekali tidak berniat untuk mengejarnya.
Gadis cantik yang tengah menutup matanya meraba tas kecil yang tadi dia bawa. Mengambil ponsel. Queen membuka matanya perlahan. Ponsel yang kemarin sengaja dia matikan sekarang dia menghidupkannya kembali.
Matanya terbelalak saat ponsel pintarnya sudah aktif kembali. Bagaimana dia tidak kaget saat melihat banyak sekali panggilan telefon dan ratusan pesan dari Darren.
Queen menghela nafasnya panjang saat tiba-tiba saja ponselnya bergetar, satu panggilan masuk.
Queen menarik icon hijau keatas lalu menempelkan benda pipih itu disisi telinga.
__ADS_1
"hey.. kau gadis menyebalkan!! kenapa baru menghidupkan ponsel hah?! apa kau menganggap ku sebagai kekasih saat pulang tidak memberiku kabar sama sekali?"
Queen menjauhkan ponselnya dari telinga karena Darren terus berbicara tanpa jeda.
Tut
Gadis cantik itu menyeringai setelah mematikan sambungan telepon tersebut. Sudah dipastikan Darren akan kesal setengah mati padanya.
drett dreet..
Ponselnya kembali bergetar, bukan hanya panggilan telefon saja. Kali ini Darren mengubah menjadi panggilan video.
Queen memeluk guling nya sebelum mengangkat panggilan itu "Hay" sapa Queen sembari tersenyum.
"jangan tersenyum seperti itu! aku tidak akan luluh"
Queen tergelak "benarkah?" gadis itu semakin tergelak saat melihat Darren melengos. "jangan marah sayang"
Darren masih belum mau menghadap kearah kamera.
Queen yang tengah terbaring membalik tubuhnya, dia memposisikan diri dengan tengkurap "aku memang salah karena lupa memberitahumu tentang kepulangan ku, maafkan aku, ya?"
"kau bahkan tidak menciumku saat kemarin aku mengantarmu pulang" masih terdengar merajuk, tapi Darren sudah tidak lagi melengos.
"aku juga tidak tahu jika akan pulang, tapi jangan marah ya? aku akan mencium mu saat kita bertemu" janji Queen.
"aku akan berangkat sekarang"
Queen terbelalak "kamu jangan gila ya.. aku tahu kamu sangat sibuk dengan pekerjaanmu disitu"
"aku bisa mengerjakannya dari jauh, aku tidak bisa jauh darimu Queen. Aku sangat hampa sekarang. Aku benar-benar sangat merindukan mu"
blushh
Queen menyembunyikan wajahnya di bantal, dia malu sekaligus senang saat Darren mengatakan hal semanis itu.
"Queen"
"hmm?" Queen kembali menghadap kearah ponsel.
"apa aku boleh datang?"
Queen menggeleng "aku tidak mau membuatmu kesulitan. Kamu kerja saja nanti saat senggang baru kemari"
Darren tampak mende-sah, dia menatap wajah lelah Queen "baiklah.. sesuai dengan apa yang kamu inginkan" ujarnya setelah merasa tidak tega.
Queen tersenyum "ingat! jangan melirik wanita manapun!"
Darren tergelak "aku tidak pernah melihat wanita manapun sayang, sekarang istirahatlah, kamu tampak lelah"
Queen mengangguk "bye.."
__ADS_1
Darren tersenyum dan membalas lambaian tangan Queen. Saat sambungan telefon terputus Darren mengacak rambutnya. Sungguh dia berat jika harus jauh dari kekasihnya.
"tunggu aku Queen" gumamnya pelan.