QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
semakin menipis


__ADS_3

brug..


Darren menjatuhkan tubuh Gerrell keatas ranjang, dia mengusap peluh yang menetes didahinya. Karena tadi Gerrell terus merancau, Darren dengan santai memukul tengkuknya agar mudah untuk ia bawa.


Meski dibalas tabokan oleh Queen tapi tak apa dari pada pemuda yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya ini menyusahkan dirinya.


"kau jaga pemuda ini"


Jonathan yang diajak bicara oleh Darren mengangguk "baik tuan"


Darren menggenggam tangan Queen "ayo" ajaknya pada gadis cantik yang sedang memperhatikan adiknya.


Queen menggeleng "aku disini saja" ucapnya menolak ajakan Darren, dia merasa khawatir pada adik kecilnya ini.


"ada Jonathan dan beberapa penjaga diluar kamar ini yang bisa menjaga adikmu itu. Ayo pergi, aku akan membicarakan hal yang penting denganmu"


Queen menghela nafasnya panjang lalu mengangguk "baiklah.. ayo"


Darren mengangguk dan menarik lembut tangan Queen.


"jaga adikku dengan baik kak Jo.." ucap Queen pada asisten Darren sebelum ia keluar dari kamar.


"baik nona.." Jonathan mengangguk dan tersenyum kearah gadis cantik yang saat ini masih digandeng oleh bosnya itu. Tapi saat melihat tatapan tajam tuan Darren ia kembali menunduk takut.


Darren membawa Queen menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuknya.


Gadis cantik itu menengok kekanan dan kiri saat masuk kedalam kamar, terlihat sekali jika gadis ini selalu tertarik dengan hal yang baru. Seperti ruangan yang baru saja dimasukinya ini.


"bagaimana menurutmu tempat ini?"


Queen menoleh kearah Darren "lumayan, mereka cukup menghargai mu" ucapnya santai lalu ia duduk disofa. Diikuti oleh Darren.


"tentu saja, aku salah satu tamu terhormat mereka"


Queen mengangguk karena ia tahu akan hal itu.


"mau kutuangkan anggur untukmu?" tawar Darren pada Queen, udara disana memang cukup dingin sehingga jika mereka minum anggur bisa menghangatkan tubuh.


"boleh"


Darren mengambil gelas dan anggur yang tersedia, dia memberikan satu gelas anggur yang telah ia tuang kedalam gelas untuk Queen "satu gelas saja, aku tidak mau kamu sampai mabuk. Bisa gawat kalau kamu juga melihat tirex disini"


Queen tergelak mendengar ucapan Darren "heh.. adikku memang lucu sekali" ucapnya saat teringat bagaimana ketakutannya Gerrell tadi.


Padahal Gerrell hanya melihat anak buah Darren bisa-bisanya ia mengira jika itu dinosaurus. Menggelikan sekali. "sayang sekali tidak aku rekam tadi. Kalau aku rekam bisa untuk mengerjainya" sambungnya lagi.

__ADS_1


Queen memutar-mutar gelasnya agar aroma dari anggur tersebut keluar. Dengan cara itu juga Queen dapat melihat kadar alkoholnya apakah tinggi atau tidak dengan cara melihat bodi full nya turun dengan cepat tau lambat. Jika cepat berarti kadar alkoholnya tinggi begitupun sebaliknya.


Jika Queen lihat sepertinya kadar alkohol dalam anggur ini cukup rendah.


Lalu Queen mencium aroma anggur tersebut dan kemudian menyesapnya sedikit demi sedikit, memutar-mutar wine dalam mulut selama beberapa detik setelah itu baru ditelan, hal itu ia lakukan agar dapat merasakan tekstur dari anggur tersebut.


"kamu cukup pro.." ucap Darren mengomentari cara minum Queen, dia sedari tadi terus memperhatikan gadis itu.


Queen menoleh dan tergelak "sedikit, aku mempelajarinya agar dapat melihat kadar alkohol minuman yang akan aku minum"


Darren mengangguk, dia menggeser tubuhnya mendekati Queen.


Alis Queen menukik "mau apa kau mendekat?" tanya Queen sedikit tidak nyaman, alarm kewaspadaannya menyala saat Darren mendekatinya. Queen secara refleks mundur.


"kenapa kamu takut? aku tak akan memakanmu, paling aku hanya mencium mencu-mbu atau menj-ilatmu saja.." ucapnya sembari menatap nakal mata cantik Queen.


Mata Queen terbelalak mendengar ucapan Darren "kau mesum sekali ! " ucapnya sembari memukul lengan Darren. Hal itu membuat Darren tergelak.


"jangan takut sayang, aku tidak akan menyakitimu, percayalah" ucap Darren dengan serius, tentu saja ia tidak akan merusak gadisnya ini. Gadisnya sangat berharga untuknya sehingga ia bertekad tidak akan menyentuh Queen sebelum mereka menikah, kecuali jika Queen menginginkannya tentu saja Darren tak akan menolak hehehe..


Queen menghela nafasnya dengan panjang. Dia mengangguk.


"tapi kalau aku memelukmu boleh? aku sangat merindukanmu" ucapnya dengan wajah memohon.


Queen mengangguk lagi, tak tega juga melihat wajah memelas Darren. Lagian hanya peluk saja.


Lalu ia mengangkat tubuh Queen, Darren mendudukkan Queen diatas pangkuannya.


"hey.. kamu bilang hanya memelukku! kenapa sekarang malah memangku aku? kamu pikir aku ini balita apa" gerutu Queen kesal. Dia berusaha turun tapi dicegah oleh Darren, pria tampan ini memeluknya dengan erat.


Darren tergelak "kamu menggemaskan saat marah" lalu ia mencubit pelan pipi Queen.


Queen memutar bola matanya "cih.. kamu benar-benar menganggapku anak kecil ya?"


"Mana ada anak kecil yang sangat sexy seperti ini?" tanya Darren sembari menatap dada Queen, gadis itu masih mengenakan gaun pestanya sehingga masih dapat Darren lihat betapa sexynya Queen saat ini.


Queen melipat tangannya didepan dada "apa yang kau lihat?! dasar cabul!"


"jangan pernah memakai pakaian sexy seperti ini lagi!"


Queen melengos "aku tidak janji" ucapnya acuh.


"kamu memang tidak patuh ya?! mau aku hukum?" Darren mendekatkan wajahnya tapi dengan cepat Queen menahannya.


"jangan mesum.. cepat katakan apa rencana mu besok"

__ADS_1


Darren menggeleng dan menjatuhkan kepalanya dibahu Queen "aku tidak memiliki rencana" ucapnya santai. Dia memeluk pinggang ramping Queen. "pinggangnya kecil sekali, sepertinya sangat rapuh"


Queen mendorong wajah Darren sehingga ia dapat melihat wajah kekasihnya ini "katanya kamu memiliki rencana!"gerutu Queen terdengar kesal.


"aku memang tidak memiliki rencana, terus bagaimana dong?"


Queen mendengus "kau tidak datang kemari untuk menyerahkan nyawamu kan?"


Darren menggeleng "siapa mereka bisa mengambil nyawaku"


"ish.. kenapa bicara denganmu rasanya sulit sekali sih.." keluh Queen.


"kau butuh energi darimu sayang, aku baru bisa berfikir dengan baik" ucap Darren sembari menyeringai.


"energi apa?"


Darren tersenyum dan menunjuk bibirnya. Dia minta dikecup.


"apa? apa? kamu mau aku memukul mulutmu?" meski ia tahu apa yang Darren maksud, dia tak akan mau menuruti keinginan dari kekasihnya ini. Sungguh semenjak mereka menjalin kasih, pria tampan ini selalu bersikap seperti ini jika sedang dekat dengannya. Selalu mesum dan menempel padanya terus.


Darren mengerucutkan bibirnya. Dia berlagak sedih.


"sial.. kenapa dia jadi imut seperti ini?!" batin Queen berteriak.


Walau bagaimanapun sikap ketus Queen tapi dari awal ia memang sudah tergila-gila pada pria tampan ini. Queen sudah bucin sejak awal. Jadi tak heran jika saat ini Queen terpesona saat melihat sisi imut Darren.


Darren menatap mata Queen dengan pandangan mata polos. Dia juga tersenyum dengan begitu lembut.


Bak dipanah oleh panah asmara, Queen bisa mati melihat sisi lain Darren yang hanya ia tunjukan didepannya.


"aku angkat tangan.. menyerah" pekiknya lagi dalam hati. Dia hampir mimisan melihat Darren saat ini.


"boleh aku menciummu?" tanya Darren dengan penuh harap. Dia sekarang tahu apa yang harus dia lakukan.


Queen tanpa sadar mengangguk.


Darren menyeringai kecil saat rencananya berhasil lalu membalik tubuh Queen. Dia mencium bibir kekasihnya ini dengan begitu intens. Suara kecapan terdengar beberapa kali. Bibir mereka saling beradu dan lidah mereka saling membelit satu sama lain.


Saat Queen merasa kehabisan oksigen, Darren dengan cepat melepaskan ciumannya. Nafas mereka naik-turun seperti habis berlari.


Darren mengusap lembut bibir Queen dengan ibu jarinya "aku ingin segera menikahi mu Queen. Pertahanan diriku semakin menipis jika terus seperti ini" ucapnya dengan jujur.


Queen menatap mata kekasihnya yang berkabut gair-ah. Dia tahu sekali jika Darren saya ini menahan has-ratnya mati-matian hanya agar tidak menyakiti dirinya "kita bahas ini setelah masalah ini selesai"


Darren mengangguk dengan senang "oke" Darren membatu Queen duduk dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian membahas apa yang akan mereka lakukan besok untuk menangkap musuh Darren.


Tak ada lagi hal intim yang mereka lakukan karena takut akan kebablasan. Setelah selesai berdiskusi mereka langsung tidur. Ditempat yang sama akan tetapi tak terjadi apapun. Mereka benar-benar tidur.


__ADS_2