
Queen yang saat ini tengah mengobrol dengan kakek Keith selalu tersenyum manis. Dia sangat menyukai pria tua sepertinya karena meningingatkannya akan opa Ibran yang sudah cukup lama tidak berjumpa karena saat ini opanya itu tinggal dibeda kota.
"kakek tampak lelah? mau istirahat?" tanya Queen.
Kakek Keith menggeleng sembari tersenyum "tidak.. tapi sepertinya kakek ingin berjalan-jalan sebentar ditaman belakang "
Queen berdiri dari duduknya lalu menggandeng tangan kakek Keith. Dia membantu kakek Keith berdiri "kalau begitu biar aku temani"
Kakek Keith mengangguk lalu mengelus kepala Queen dengan sayang "baiklah kalau kamu memaksa"
Queen tergelak mendengar selorohan pria tua tersebut. Lalu ia menoleh kearah kedua orang tua Darren "apa kalian ikut juga?"
Dad Edward menggeleng "pergilah.. dad mau mengerjakan sesuatu dikamar"
Queen mengangguk lalu menoleh kearah mom Emily.
"aku tidak ikut. Kamu temani dan jaga kakek dengan baik!"
Queen mengangkat kedua ibu jarinya "oke aunty.. ayo kek kita jalan" ucapnya bersemangat lalu menggandeng tangan kakek Keith dengan erat.
"pelan-pelan Queen! kamu tidak lihat jika kakek sudah tua?"
Queen tergelak mendengar gerutuan pria tua ini "baiklah.. baiklah.. aku akan pelan. Besok kakek olahraga bersamaku ya? agar bugar dan sehat kembali. Aku jamin setelah rutin olahraga kakek akan merasa sepuluh tahun lebih muda. Percaya padaku"
"dasar bocah nakal. Bualanmu itu berhasil membuat kakek bersemangat. Kamu berjanji ya besok ajak kakek berolahraga"
Queen mengangguk dengan semangat "oke.."
Sesampainya ditaman belakang mansion. Queen terkesima melihat betapa rapi dan terawatnya tanaman yang ada disana.
Mirip seperti dimansion milik keluarganya. Bedanya jika dimansion miliknya didominasi oleh bunga mawar, bunga kesukaan momnya. Kalau disini didominasi oleh beberapa pohon yang lumayan rindang. Bunga yang ada disana hanya untuk penghias saja, tidak terlalu banyak tapi cukup untuk memperindah taman ini.
Tapi suasananya sangat nyaman dan sejuk karena pohon-pohon tersebut membuat teduh beberapa titik taman. Queen menyukainya.
"ayo duduk di sana kek" Queen membawa kakek Keith duduk disalah satu kursi taman yang ada dibawah pohon.
Benar-benar terasa sejuk duduk dibawah pohon ini, apalagi angin yang semilir menambah nyamannya tempat ini.
"kamu menyukai tempat ini?"
Queen mengangguk saat kakek Keith bertanya "ini pertama kalinya aku datang kemari, dan ternyata tamannya sangat cantik dan asri"
__ADS_1
Kakek Keith setuju akan apa yang baru saja Queen ucapkan. Dia juga saat pertama kali melihat taman ini ia merasa senang.
Lengang. Mereka berdua asik memperhatikan taman dengan pikirannya masing-masing.
"ceritakan tentangmu Queen"
Queen yang awalnya memperhatikan kolam renang yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatnya duduk menoleh kearah kakek Keith "hidupku biasa-biasa saja kek. Tidak ada yang spesial"
"tapi kakek merasa kamu sangat spesial Queen. Bahkan kakek sangat sulit untuk dekat dengan istri Edward. Berbeda denganmu yang sangat menyenangkan dan bisa langsung akrab. Kamu memiliki pribadi yang mudah dekat dengan siapapun"
"berarti secara tidak langsung kakek mengatai aunty tidak menyenangkan dong?"
"hahaha benar. Dia adalah wanita yang cukup keras kepala. Dan lagi dia sangat suka berfoya-foya dan berkumpul bersama teman-teman nya yang tidak punya pekerjaan. Mereka hanya asik memamerkan hasil keringat suaminya. Menjengkelkan bukan?"
"hahahaha.. Yang benar saja kakek. Jangan membicarakan aunty. Nanti dia marah kalau sampai dengar" ucapnya sembari tertawa. Sebenarnya ia memang tidak mau membicarakan siapapun. Dia bukan tipe tukang gosip, lebih tepatnya karena ia baru kenal dengan pria tua ini. Jika dengan Gerrell ia biasa bergosip dan berghibah ria bersama.
"benar juga. Bisa gawat jika dia marah. Nanti Edward yang akan kena getahnya. kalau begitu cepat ceritakan dirimu Queen! kakek sungguh sangat penasaran"
Queen melirik kan matanya keatas seolah sedang berfikir "aku hanya seorang puteri dari seorang pebisnis kek. Aku juga sudah bekerja sekarang. Membantu dad diperusahaan sebelum adikku mampu untuk memegang perusahaan juga"
"memangnya bukan kamu yang akan mewarisi tanggung jawab tuan Arsenio? kamu kan pewaris utama karena kamu adalah anak sulung dari tuan Arsenio"
Kakek Keith menatap penuh bangga gadis cantik yang ada dihadapannya ini. gadis yang masih terbilang belia ini memiliki pemikiran yang sangat dewasa dan bijak "kamu besar di keluarga yang sangat hebat. Kakek sangat bangga padamu yang sangat bijak ini Queen"
Queen tersipu malu setelah dipuji oleh kakek Keith "kakek membuatku merasa malu tahu" ucapnya sembari menepuk bahu pria tua tersebut. Wajahnya memerah.
bruk
Mata Queen terbelalak saat melihat pria tua yang baru saja ia pukul jatuh terjelembab kebawah "kyaaaaaa... kakek" pekiknya lalu segera membantu kakek Keith untuk duduk dikursi lagi "kakek tidak papa kan?" tanyanya dengan wajah khawatir. Gadis itu memperhatikan tangan dan kaki kakek Keith karena takut adanya lecet.
Pria tua itu mengusap bekas tabokan Queen. "tenagamu lumayan Queen"
Queen meringiskan giginya. Memperlihatkan gigi kecilnya yang rapi dan putih. "maaf kek. Tadi aku tidak sengaja" ucapnya penuh sesal.
"tidak papa. Tadi kakek hanya terkejut dan tak menyangka kamu menepuk dengan kuat. Kakek sedang tidak siap makanya jatuh" ujarnya menjelaskan.
Queen tersenyum canggung penuh dengan rasa bersalah "maafkan aku ya kek"
"tidak papa sayang"
Mereka kembali mengobrol dengan santai setelah kecanggungan itu berakhir. Queen juga sudah kembali ceria dan menimpali ucapan kakek Keith dengan penuh semangat lagi.
__ADS_1
"asik sekali mengobrolnya"
Queen menoleh kebelakang saat mendengar suara bariton Darren. Senyum tipis muncul saat melihat betapa tampan nya Darren setelah membersihkan diri. Dengan kaos dan celana pendek membuat Darren tampak santai. Rambutnya masih tampak basah dan tidak disisir dengan rapi. Hal itu membuat Darren bertambah tampan saja. Terlihat lebih muda dan fresh dari biasanya.
Pantas saja jika Queen sempat tergila-gila padanya. Karena visual Darren memang sudah tidak diragukan lagi. Aroma maskulin semakin tercium saat Darren berjalan semakin dekat.
"apa cucuku setampan itu Queen? sampai kamu mengeluarkan air liurmu?"
Queen terkesiap saat mendengar ucapan dari pria tua yang ada disisinya. Dia menoleh kearah pria tua itu sembari meringis "dia memang sangat tampan. Kalau tidak aku tidak akan mau" ujarnya berseloroh.
Darren berdecak lalu duduk disisi Queen. Menarik pinggang gadisnya agar mendekat.
"hey kenapa kamu menarikku?" tanya Queen sembari menggeser tubuhnya lagi. Menjauhi Darren.
Tapi dengan cepat Darren menariknya kembali "bilang saja kalau kamu takut kehilangan kendali saat melihat ketampananku dari jarak dekat" ucapnya terdengar menggoda. Wajahnya juga tampak tengil membuat Queen mendengus sebal.
"anda memiliki penyakit narsis akut ya tuan?"
"hahaha"
Queen dan Darren menoleh kearah kakek Keith yang tertawa. Sepertinya ia sedang mentertawakan tingkah mereka berdua.
Kakek Keith berdiri dari duduknya "kalian mengobrol lah. Kakek takut menjadi nyamuk nanti"
"bagus jika kakek tahu diri"
Kakek Keith melotot mendengar suara datar Darren "bocah nakal!"
dug
Darren mengusap kepalanya yang baru saja dipukul oleh tongkat yang selalu dipegang oleh kakeknya itu "kek~" ucapnya terdengar merengek sembari menatap kakeknya dengan pandangan kesal. Mau marah tapi tidak tega. Tau lebih tepatnya tidak berani.
"diam atau kakek pukul lagi nih.."
Darren mendengus dan memilih untuk menyembunyikan kepalanya dibalik punggung Queen "kakek merundungku Queen"
Kakek Keith mendengus melihat hal itu "belajar dari mana kau sikap modus seperti itu Ren.." gerutunya saat melihat tangan Darren yang melingkari perut Queen. Memeluk gadis itu.
Mirip sekali dengannya saat muda dulu. Eh---
Kakek Keith menggeleng lalu memilih untuk pergi dari taman tersebut. Meninggalkan pasangan itu.
__ADS_1