
"Kristoffer menelfon tuan"
Darren menatap asistennya dan meraih ponsel yang diulurkan padanya. Dia segera mengusap icon hijau dan kemudian menempelkannya ditelinga.
Setelah beberapa saat hanya deheman dan iya yang diucapkan oleh Darren untuk sekedar menjawab ucapan seseorang yang ada dibalik telefon. "tetap pada posisi kalian. Kita menyerang secara bersama-sama saat aku sampai" dan setelah berucap seperti itu, Darren menutup panggilan tersebut.
"kita hampir sampai. Persiapkan diri kalian!" ujar Darren memperingatkan dua pria yang duduk dibelakangnya.
"iya" jawab keduanya secara bersamaan.
**
"Gerrell"
Gerrell yang dipanggil oleh Darren mendekat, dia mencondongkan tubuhnya kearah depan "ya tuan?"
"bisakah kau memonitoriku saat aku mencari keberadaan kakakmu?"
Gerrell tertegun sebentar, dia menatap wajah Darren yang tengah menatapnya.
"aku tahu kemampuan mu" ucap Darren dengan raut wajah serius, dia akan mempercayai kemampuan Gerrell.
Gerrell akhirnya mengangguk "baiklah.."
"bocah sekecil ini memangnya bisa apa? kau tidak salah memberikan tugas ini Ren? "
Gerrell meluruskan tubuhnya lalu menoleh kearah Edgar. Dia menatap kesal pria yang tadi mempertanyakan kemampuannya, apalagi ia terdengar tidak percaya dan terkesan meremehkan "bosmu saja percaya padaku! kau diamlah!"
"dia bukan bosku!" ucap Edgar dengan menekan katanya.
"cih.. bukan? tapi kau mau diperintah olehnya"
"aku hanya mau membantunya. Apa salahnya dengan itu? aku membantu sahabatku yang sedang kesusahan. Dan lagi, aku tak akan sudi menyebut pria pengecut yang takut cacing itu bos!" ujar Edgar tanpa sengaja membongkar aib sahabatnya.
Gerrell melebarkan matanya kemudian dia terbahak saat teringat beberapa waktu yang lalu, dia pernah iseng melemparkan cacing ketubuh Darren . Pantas saja dulu, Darren tampak ketakutan.
"kau mau mati hah?!"
Edgar tersentak saat mendengar pekikan marah Darren, "aku hanya bercanda kok Ren. Kau kan tak takut apapun" ucapnya dengan nada riang namun terdengar ada getar disuaranya yang menandakan jika Edgar sedikit takut, ia memancarkan aura ceria agar sahabatnya itu tak bertambah murka atau nanti ia yang akan menjadi sasaran amukannya.
"hahaha.."
Edgar menatap jengkel Gerrell yang terus mentertawakan dirinya.
"apa itu namanya kalau bukan ba-wa-han?"
Edgar benar-benar merasa kesal saat Gerrell meledek dirinya. Dia menyadari jika disaat-saat tertentu Darren akan mengeluarkan dominasinya, akan tetapi sahabatnya ini sebenarnya adalah seorang yang baik. Dia akan melindungi orang yang ada didekatnya makanya ia memilih untuk menurut. "awas kau nanti"
Gerrell hanya bisa tertawa melihat kekesalan diwajah Edgar.
**
Setelah beberapa saat Edgar mengambil sesuatu dibawah jok yang ia tempati, kemudian melempar benda itu tepat mengenai wajah Gerrell
__ADS_1
"kau pakai ini!"
Gerrell menatap Edgar dongkol, dia memperhatikan rompi anti peluru yang baru saja mengenai wajahnya "untuk apa benda ini? aku hanya akan membantu didalam mobil. Aku akan meretas cctv dan mengarahkan tuan Darren ketempat kak Queen"
"Ini hanya untuk berjaga-jaga saja. Jangan sampai kau mati, dan menyusahkan." ucap Edgar enteng.
Gerrell berdecak, meski jengkel setelah mendengar ucapan menyebalkan dari mulut Edgar dia menerimanya. Walau bagaimana hebatnya dia, dia harus berhati-hati bukan? "apa aku boleh keluar saat kak Queen sudah ada ditanganmu tuan?"
"boleh" jawab Darren segera.
Gerrell mengangguk setelah mendengar jawaban itu, dia memastikan hal itu terlebih dahulu dari pada ia yang sudah memasang rompi ini namun tak berguna nantinya "ah. syukurlah.. Aku tak hanya menonton saja"
Gerrell melepas kaos yang ia kenakan untuk memasang rompi anti peluru tersebut.
"wow.. tubuhmu bagus! padahal kau masih kecil, kau pasti rajin berolahraga ya?" ucap Edgar terdengar kagum melihat bentuk tubuh Gerrell.
Gerrell secara spontan menutupi tubuhnya, mendorong tubuh Edgar agar menjauh darinya "jangan bilang kalau kau suka pisang" tuduh Gerrell sembari merinding. Dia segera memakai rompi dan kaosnya.
"sialan kau! aku normal!" pekik Edgar tak terima. Jatuh harga dirinya setelah dituduh seperti itu. Ingin rasanya ia meremas mulut menyebalkan pemuda ini.
"Kalau begitu jangan menatapku! kau membuatku takut" ujar Gerrell sembari menyilangkan tangannya didepan tubuh.
"kau bocah sialan! mau ku pukul mulutmu itu hah?!" pekik Edgar kemudian ia menyergah tubuh Gerrell kemudian mengapit kepala pemuda ini dilekukan lengannya.
"aduh.. Lepasin! kau bau sekali"
Darren yang mendengar keributan dijok belakang menghela nafasnya kasar. Kemudian ia memukul kursi yang ada disisinya.
brug
"Kalian bisa diam tidak? kalau tidak aku akan menendang kalian keluar!" ucap Darren yang kemudian memekik diakhir kalimatnya. Lalu ia menoleh kebelakang dengan kilat amarah dimatanya. Matanya memancarkan aura menyeramkan sehingga kedua pria itu membeku. Mereka segera memisahkan tubuh mereka dan mundur sampai membentur sandaran kursi.
"good!" ucapnya memuji setelah mengancam dan membungkam mulut mereka melalui kata-kata dan tatapan tajam.
"itu Kristoffer tuan" ucap Jonathan sembari menunjuk tangan kanan Darren itu. Saat ini mobil sudah menepi.
Darren menyerahkan leptop dan alat komunikasi lainnya pada Gerrell. Dia benar-benar mempercayakan pekerjaan ini pada pemuda itu.
"tuan"
Saat hendak menarik handle pintu, Darren menghentikannya. Dia menoleh kearah pemuda yang memanggilnya. "hmm"
"hati-hati"
Darren menarik sedikit sudut bibirnya lalu mengangguk "kau juga. Jangan sampai terluka atau nanti kakakmu akan menghajar ku!"
Gerrell tergelak kemudian mengangguk.
"kau jaga dia!" ucap Darren sembari menoleh kearah Edgar.
"tentu.." jawab Edgar dengan santai.
Setelah itu Darren segera keluar dan menghampiri Kristoffer.
__ADS_1
"bagaimana?"
"anak buah kita sudah bersiap untuk menyerang. Tuan hanya perlu masuk dan saya akan menghandle anak buah mereka"
Darren mengangguk "tetap waspada. Setiap nyawa anak buah kita sangat berharga, saling melindungi agar tak banyak nyawa yang melayang."
Kristoffer mengangguk mengerti. Selain betapa berkompetennya Darren, pria itu juga begitu menghargai nyawa anak buah mereka. Karena hal ini juga yang mambuat Kristoffer merasa Darren mampu mengemban tanggung jawab sebagai Leader di kelompok ini dengan baik. Bahkan mungkin ia akan melampaui kemampuan tuan Keith suatu hari nanti.
Itu kenapa ia menyetujui pergantian ketua ini, dari pada menentangnya. Darren memiliki aura yang sangat kuat dan dominasi yang hampir mirip dengan kakeknya.
Setelah itu, mereka berjalan menuju markas yang memang terlihat penjagaannya sangat ketat. Setelah melumpuhkan beberapa orang, Darren masuk tanpa kendala. Dia memilih untuk berjalan mencari keberadaan Queen seorang diri.
Sedangkan anak buahnya ia kerahkan untuk membuat keributan agar mengalihkan perhatian mereka semua.
"Gerrell" Setelah berjalan cukup jauh dia akhirnya memanggil Gerrell karena ia sudah tak tahu harus pergi kemana lagi.
"Hello brother... bagaimana kabarmu? apa kau masih hidup?"
"berhenti bicara omong kosong!" ucap Darren sembari menggeram kesal.
"ck.. kau itu tidak bisa diajak bercanda sedikit. Kesabaranmu itu setipis tissue "
"Gerrell Audrick Bramantyo.."
"baiklah baiklah.. aku akan serius. Padahal aku sudah mematikan alarm tanda bahaya sebelum kau masuk loh. Seharusnya kau berterimakasih bukannya menggeram seperti singa!"
Darren menghela nafasnya panjang "thanks untuk itu. Aku akan menambah uang investasi di perusahaan barumu"
"ah benarkah? kau sungguh dermawan." ucap Gerrell terdengar riang, dia sepertinya sangat senang sekali. Setelah berdehem Gerrell kembali fokus "Kau belok kanan kearah lorong. Disana ada dua orang bersenjata lengkap. berhati-hatilah"
Darren segera mengikuti instruksi dari Gerrell. Dia juga segera menghabis dua orang yang dikatakan oleh Gerrell barusan.
"wow.. mesin pembunuh luar biasa" puji Gerrell sebentar sebelum berucap serius lagi "kau lihat ada tangga bukan? naiklah kelantai atas. Disana ada lima orang tengah berjongkok didepan kamar. Entah apa yang sedang mereka lakukan"
Darren berjalan pasti menaiki tangga. Dengan langkah pasti karena ia mengetahui ada berapa musuh disana.
"siapa kau?!" pekik salah seorang yang memiliki insting lebih tajam dibandingkan yang lainnya. Dia langsung mengetahui kehadiran Darren.
"aku adalah malaikat pencabut nyawa!" Setelah berucap dingin Darren langsung mendekat.
"woooh.. kata-katamu keren sekali tuan"
Tak membutuhkan waktu lama Darren dapat melumpuhkan semuanya. Dia berdiri di depan pintu "apa kakakmu ada di dalam sini?"
"yah benar.. apa kau tahu tuan? dia sedang berduaan dengan seorang pria loh~" ucap Gerrell terdengar menggoda Darren.
Darren terkesiap dan darahnya tiba-tiba langsung mendidih mendengar ucapan Gerrell "apa yang kau bicarakan sialan!"
"ck. aku rasa kau harus membersihkan telingamu! cepat masuk, kekasihmu sedang digoda oleh pria lain"
Kemarahannya seketika meluap. Tangannya terkepal erat dengan mata yang semakin tajam. Wajahnya memerah karena amarahnya hampir meluap efek dari kecemburuannya.
Tanpa berbasa-basi lagi Darren menendang pintu kamar dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
braaak..
Pintu terbuka lebar, dan pemandangan pertama yang ia lihat langsung membuatnya kehilangan kendali.